Kedudukan Sanad Dalam Islam


Sanad memiliki peranan yang sangat penting dalam menukilkan wahyu, baik Al-Qur’an Al-Karim maupun Sunnah Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam. Demikian pula menukilkan berita dari kalangan salafus saleh dari para sahabat, tabi’in, dan yang setelahnya. Karena tanpa sanad, satu berita tidak bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam dengan sanad akan memberikan beberapa faedah yang sangat agung. Di antaranya adalah sebagai berikut.

 1. Ilmiah dalam Penukilan

Dengan sanad, seseorang menukil wahyu Allah ta’ala dan hadits Rasul-Nya secara otentik sebagaimana asalnya, sehingga memberikan kekuatan hujjah bagi seorang muslim dalam berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan:

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad itu bagian dari agama. Kalaulah tidak ada sanad, orang akan sesukanya mengatakan apa saja yang dia inginkan.” (Diriwayatkan Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya, 1/15)

Yahya bin Sa’id al-Qaththan rahimahullah mengatakan, “Jangan kalian memerhatikan hadits, namun perhatikanlah sanadnya. Jika sanadnya sahih maka amalkanlah. Namun, jika tidak, jangan engkau tertipu dengan hadits yang sanadnya tidak sahih.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 9/188)

Ishaq bin Rahuyah rahimahullah juga mengatakan, “Jika Abdullah bin Thahir—seorang amir di Khurasan—bertanya kepadaku tentang satu hadits, lalu aku menyebutnya tanpa sanad, dia bertanya kepadaku tentang sanadnya seraya mengatakan, ‘Meriwayatkan hadits tanpa sanad merupakan perbuatan orang-orang sakit! Sesungguhnya sanad hadits merupakan kemuliaan dari Allah ta’ala untuk umat Muhammad shallallhu ‘alaihi wasallam’.” (Fathul Mughits, 3/4)

Karena pentingnya mengetahui sanad sebuah riwayat, para ulama sangat perhatian dalam meriwayatkan hadits-hadits tersebut dengan sanadnya. Termasuk kisah yang menakjubkan dalam hal ini adalah yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far at-Tustari sebagai berikut.

Kami hadir di sisi Abu Zur’ah ar-Razi di Masyahran ketika beliau akan meninggal. Di sisinya ada Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Mundzir bin Syadzan, dan sekelompok ulama lainnya. Mereka pun menyebutkan hadits tentang masalah talqin, yaitu sabda Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Tuntunlah orang yang akan meninggal di antara kalian untuk mengucapkan La ilaha Illallah.”

Mereka pun merasa malu dan segan kepada Abu Zur’ah untuk menuntunnya. Lalu mereka berkata, “Mari kita sebutkan haditsnya.” Lalu Muhammad bin Muslim berkata, “Adh-Dhahhak bin Makhlad memberitakan kepada kami, dari Abul Hamid bin Ja’far, dari Shalih….” lalu beliau berhenti dan tidak dapat melanjutkan.

Berikutnya, Abu Hatim mengatakan, “Bundar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ashim memberitakan kepada kami dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih…” lalu beliau pun tidak dapat melanjutkan.

Adapun yang lain diam. Abu Zur’ah yang dalam keadaan hendak meninggal berkata, “Bundar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ashim memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Hamid bin Ja’far memberitakan kepada kami, dari Shalih bin Abu Arib, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir ucapannya La ilaaha Illallah maka dia masuk jannah (surga).” (HR. Abu Dawud no. 3116)

Lalu beliau rahimahullah meninggal.

Abu Hatim berkata, “Seketika rumah pun bergemuruh oleh tangisan orang-orang yang hadir.” (Taqdimah al-Jarh wat Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 345)

2. Mencegah Pemalsuan Hadits

Sebagaimana telah dijelaskan, ketika bermunculan hawa nafsu dan bid’ah, semakin merebak pula orang-orang yang mendustakan hadits lalu menyandarkannya kepada Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam. Namun, para imam al-jarh wat-ta’dil (kritikan dan pujian terhadap perawi) juga mengerahkan segala kemampuan untuk berusaha melakukan penjernihan syariat, dengan menyingkap kedok para pemalsu hadits tersebut.

Ibnul Mubarak rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana kita menyikapi hadits-hadits palsu?” Beliau menjawab, “Para cendekia hadits hidup menghadapinya.” (Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, hlm. 21)

Ad-Daruquthni rahimahullah juga berkata, “Wahai penduduk Baghdad, jangan kalian menyangka bahwa seseorang mampu berdusta atas nama Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam sementara saya masih hidup.” (Al-Maudhu’at hlm. 21)

Ibnu Khuzaimah rahimahullah mengatakan, “Selama Abu Hamid asy-Syarqi rahimahullah (salah seorang murid Al-Imam Muslim rahimahullah, red.) masih hidup, tidak ada kesempatan bagi seorang pun untuk berdusta atas nama Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam.” (Al-Maudhu’at hlm. 21)

3. Memelihara Kemurnian Islam

Ahli bid’ah (penyebutan ahli bid’ah biasa digunakan untuk seseorang yang menyimpang jauh dalam hal aqidah, lihat pembahasan bid’ah-admin) selalu berusaha menyusupkan berbagai bid’ahnya ke dalam Islam dan menyandarkannya kepada Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, dengan sanad akan jelas dan tersingkap makar para pemalsu hadits Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam. Seperti pengakuan seorang syaikh Khawarij yang berkata, “Sesungguhnya kami dahulu jika menghendaki satu hal, kami membuatnya menjadi hadits.”

Demikian pula halnya kaum Syi’ah Rafidhah yang menjadikan dusta sebagai syiar agama mereka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:

لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ

“Aku tidak melihat seseorang yang paling berani bersaksi dusta selain kaum Rafidhah (Syi’ah).” (Al-Baihaqi dalam Al-Kubra, 10/208, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 9/114, Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil, 2/460, Al-Kifayah, 1/336)

Sebagian pengikut hawa nafsu ada yang menghalalkan dusta atas nama Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam dengan alasan untuk mengajak manusia kepada kebaikan. Contohnya adalah Nuh bin Abi Maryam. Al-Hakim meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Ibnu Ammar al-Marwazi, bahwa dikatakan kepada Nuh bin Abi Maryam, “Dari mana engkau mendapatkan riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang keutamaan setiap surat dalam Al-Qur’an, padahal murid-murid Ikrimah tidak memiliki riwayat itu?” Nuh menjawab, “Sesungguhnya aku melihat manusia berpaling dari Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan fikih Abu Hanifah serta kitab Al-Maghazi Ibnu Ishaq. Aku pun memalsukan hadits ini dengan tujuan mengharap ridha Allah ta’ala.”

Oleh karena itu, dia dijuluki Nuh al-Jami’ (si pengumpul). Ibnu Hibban rahimahullah berkata, “Dia memiliki segala sesuatu, kecuali kejujuran.” (Tadrib ar-Rawi, As-Suyuthi, 1/282)

Oleh karena itu, Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:

بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْقَوَائِمُ -يَعْنِي الْإِسْنَادَ

“Antara kami dan kaum (yakni ahli bid’ah dan yang semisalnya) ada penegaknya, yaitu sanad.” (Muqaddimah Shahih Muslim, 1/15—16)

Ketika menjelaskan ucapan Abdullah bin Mubarak rahimahullah, “Sanad merupakan bagian dari agama…,” Al-Hakim rahimahullah mengatakan, “Kalaulah tidak ada sanad dan usaha sebagian umat untuk mencarinya, serta seringnya mereka menghafalnya, niscaya akan hilang petunjuk Islam, sekaligus membuka pintu bagi orang-orang mulhid (yang menyimpang) dan ahli bid’ah untuk memalsukan hadits-hadits serta melakukan perubahan dalam sanad-sanadnya, karena riwayat-riwayat yang tidak disertai sanad adalah riwayat yang terputus.

Sebagaimana yang telah diberitakan kepada kami oleh Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub, ia berkata, “Al-Abbas bin Muhammad ad-Duri memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr bin Abil Aswad telah memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim Abu Ishaq at-Thaliqani telah memberitakan kepada kami, ia berkata: Baqiyyah telah memberitakan kepada kami, ia berkata: Utbah bin Abi Hakim telah memberitakan kepada kami bahwa tatkala beliau berada di dekat Ishaq bin Abi Farwah, dan di dekatnya ada Az-Zuhri, Ibnu Abi Farwah (Ishaq bin Abi Farwah, red.) pun berkata, ‘Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda…, Rasulullah bersabda….’

Az-Zuhri lalu berkata kepadanya, ‘Semoga Allah ta’ala memerangimu, wahai Ibnu Abi Farwah! Alangkah lancangnya engkau terhadap Allah ta’ala! Engkau tidak menyandarkan haditsmu dengan sanad! Engkau memberitakan kepada kami hadits-hadits yang tidak memiliki tali kekang (sanad)?’.” (Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits, Al-Hakim an-Naisaburi hlm. 6)

4. Memberi Ketenangan dalam Mengamalkan Agama

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan:

الْإِسْنَادُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ فَإِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ سِلَاحٌ فَبِأَيِّ شَيْءٍ يُقَاتِلُ؟

“Sanad adalah senjata mukmin. Jika tidak memiliki senjata, dengan apa dia berperang?” (Diriwayatkan al-Khathib dalam Syaraf Ashabul Hadits hlm. 42)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Perumpamaan orang yang mencari hadits tanpa sanad adalah seperti pencari kayu bakar di malam hari. Dia membawa sekumpulan kayu bakar dan mendapatkan seekor ular dalam keadaan dia tidak tahu.” (Fathul Mughits, karya as-Sakhawi, 3/331)

Ar-Ramahurmuzi rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Syu’bah bin al-Hajjaj, ia berkata, “Setiap hadits yang tidak terdapat padanya ‘haddatsana’ (telah mengatakan kepada kami, red.) dan ‘akhbarana’ (telah mengabarkan kepada kami, red.) maka ia tidak bernilai sama sekali.” (Al-Muhaddits al-Fashil baina ar-Rawi wal-Wa’i, ar-Ramahurmuzi hlm. 517)

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, inti hadits adalah sanadnya. Padanyalah nampak kesahihannya dan bersambung riwayatnya.” (al-Ilma’ hlm. 191)

5. Memperjelas Kondisi Sebuah Riwayat

Dengan mengetahui jalur sanad sebuah riwayat serta berupaya mengumpulkan setiap jalur yang menyebutkan riwayat tersebut, akan memperjelas kondisi riwayat itu, baik menafsirkan maknanya yang kurang jelas dalam riwayat lain, atau menjelaskan satu lafadz yang lemah yang tidak diriwayatkan para perawi yang lebih tsiqah atau yang lebih banyak jumlahnya. ‘Ali bin al-Madini rahimahullah mengatakan, “Apabila sebuah hadits tidak dikumpulkan jalur-jalur sanadnya, tidak akan tampak kekeliruannya.” (Al-Jami’ li Akhlaqi ar-Rawi, al-Khathib al-Baghdadi hlm. 1641)

Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga mengatakan, “Jika engkau tidak mengumpulkan jalan sebuah hadits, engkau tidak akan memahaminya. Hadits itu saling menjelaskan.” (Al-Jami’ hlm. 1640)

Al-‘Iraqi rahimahullah mengatakan:

وَالْحَدِيثُ إِذَا جُمِعَتْ طُرُقُهُ تَبَيَّنَ الْمُرَادُ مِنْهُ وَلَيْسَ لَنَا أَنْ نَتَمَسَّكَ بِرِوَايَةٍ وَنَتْرُكَ بَقِيَّةَ الرِّوَايَاتِ

“Jika sebuah hadits dikumpulkan jalur-jalur sanadnya, akan jelas maksudnya. Kita tidak boleh berpegang kepada satu riwayat dan meninggalkan riwayat yang lainnya.” (Tharhu at-Tatsrib, al-Iraqi, 7/169)

Sebagai contoh, hadits Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan tentang terpecahnya umat beliau shallallhu ‘alaihi wasallam menjadi 73 golongan dan semuanya masuk neraka kecuali satu. Beliau shallallhu ‘alaihi wasallam menjelaskan satu golongan yang diselamatkan itu adalah:

هِيَ الْجَمَاعَةُ

“Dia itu adalah al-jama’ah.” (HR. Ibnu Majah no. 3993, al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah, 7/90, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anahu. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4597, al-Hakim dalam al-Mustadrak, 1/218, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3992, dari Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 204)

Penjelasannya yang merinci makna al-jama’ah disebutkan dalam riwayat lain dengan lafadz:

هِيَ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“Yaitu siapa yang berjalan di atas jalanku dan jalan para sahabatku pada hari ini.” (HR. Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah, 7/277, Ath-Thabarani, 8/152, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma oleh At-Tirmidzi no. 2641)

Karena pentingnya mengenal jalur-jalur hadits, para ulama salaf mempelajari dan menghafal riwayat-riwayat dari Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan tabi’in, dengan berbagai jalannya. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Abu Zur’ah berkata kepadaku, ‘Ayahmu—yaitu Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah—menghafal 1.000 x 1.000 hadits (maksudnya satu juta hadits)’.” (Tarikh Baghdad, 4/419, Siyar A’lam an-Nubala’, 11/187)

Adz-Dzahabi ketika mengomentari ucapan Abu Zur’ah rahimahullah ini mengatakan, “Ini adalah riwayat sahih yang menjelaskan keluasan ilmu Abu Abdillah (Al-Imam Ahmad rahimahullah). Mereka menghitung riwayat yang terulang (yang berbeda jalur), seperti atsar dan fatwa tabi’in berikut penafsirannya, serta yang semisalnya, karena jika tidak demikian, hadits-hadits yang marfu’ (sampai kepada Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam) yang kuat tidak mencapai seperseratus jumlah itu.” (As-Siyar, 11/187)

Ini juga seperti yang dikatakan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, “Aku menghafal seratus ribu hadits sahih dan mengetahui dua ratus ribu hadits yang tidak sahih.” (Tarikh Baghdad, 2/25, Al-Kamil, Ibnu Adi, 1/131)

Wallahu a’lam.

Sumber:

Kedudukan Sanad Dalam Islam. Penulis:  Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal. Kajian Utama edisi 61. http://www.asysyariah.com/kajian-utama/94-kajian-utama-edisi-61/826-kedudukan-sanad-dalam-islam-kajian-utama-edisi-61.html.

Rangkaian Artikel:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: