KEJUJURAN lawan KEDUSTAAN


Kejujuran dan lawannya kedustaan/kebohongan adalah bagian dari perbuatan lisan setiap manusia, dan hampir semua manusia yang normal lisannya pernah berkata dusta. Dalam rangka menjaga lisan, maka pembahasan disini meliputi:

  • Mengenali Kejujuran maka Tersingkap Kedustaan
  • Keutamaan Kejujuran dan Bahaya Kedustaan

MENGENALI KEJUJURAN maka TERSINGKAP KEDUSTAAN

Kejujuran adalah memberitakan sesuatu sesuai dengan kenyataan yang diketahui atau pengetahuan yang dimiliki.

KEDUSTAAN dan JENIS-Jenisnya

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata: “Kadzib maknanya adalah seseorang memberitakan sesuatu yang menyelisihi kenyataan atau kebenaran. Ketahuilah bahwasanya kedustaan itu bermacam-macam.

a. Dusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini adalah kedustaan yang paling besar (dosa dan bahayanya). Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?” (Al-An’am: 21)

Hal ini terbagi menjadi dua bagian:

– Seseorang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan demikian atau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan demikian, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala atau Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan demikian itu.

– Dia menafsirkan Kalamullah atau Sunnah Rasul-Nya dengan tafsiran yang tidak seperti yang dimaukan Allah Subhanahu wa Ta’ala atau Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berarti telah membuat kedustaan atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala atau Rasul-Nya. Seperti orang yang dengan sengaja menafsirkan ayat atau hadits dengan tafsiran tertentu yang sesuai dengan hawa nafsunya, atau demi mendapatkan keuntungan duniawi. Dan betapa banyak orang yang terjatuh dalam perkara ini.

b. Kedustaan yang terjadi di kalangan umat

Di antara bentuknya:

– Seseorang menampakkan diri sebagai orang yang baik, berilmu, bertakwa, dan beriman, padahal hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya dia adalah orang yang jahil, zalim, dan kufur. Hal ini adalah kemunafikan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan tentang perbuatan orang-orang munafik:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 8)

– Menisbatkan suatu ucapan, perbuatan atau pendapat, kepada seseorang, padahal orang tersebut tidak menyatakan atau melakukan hal tersebut atau perbuatan tersebut tidak pernah terjadi.

– Menceritakan suatu perkara yang lucu agar orang-orang tertawa, padahal dia berdusta. Dari Mu’awiyah bin Haidah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ ثُمَّ وَيْلٌ لَهٌ

“Celaka orang yang menceritakan suatu perkara (yang dusta) untuk membuat suatu kaum tertawa dengannya. Celaka dia, kemudian celaka dia.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: “Kedustaan itu tidak pantas digunakan untuk suatu keseriusan, dan tidak pula dalam senda gurauan. Jika engkau mau, bacalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُوْنُوا مَعَ الصَّادِقِيْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur1.” (At-Taubah: 119)

Kemudian beliau katakan: “Apakah dalam ayat ini engkau dapati adanya satu keringanan bagi seorang pun (untuk berdusta, pent.)?”

KEUTAMAAN KEJUJURAN dan BAHAYA KEDUSTAAN

Dengan kejujuran maka seseorang senantiasa dalam perlindungan Allah ta’ala dan selamat dirinya dunia dan akhirat.

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Jujurlah engkau dan pegang erat-erat kejujuran itu. Niscaya engkau akan menjadi orang yang jujur dan selamat dari hal-hal yang membinasakanmu. Dan niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan untukmu kelapangan berikut jalan keluar bagi (segala) urusanmu.”

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Jika engkau ingin dikelompokkan dalam golongan orang-orang yang jujur, maka wajib bagimu untuk zuhud2 dalam dunia ini dan menahan diri dari (menyakiti) manusia.”

Sumber:

  1. Jujurlah. Penulis : Al-Ustadz Zainul Arifin. Maraji’: Tafsir Ibnu Katsir (2/525-526). http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=380.
  2. Nikmat Lisan, Untuk Apa Kita Gunakan?. Penulis : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=836.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: