Asma’ binti Abu Bakar, Wanita Dua Ikat Pinggang


Ilustrasi

Seorang sahabat wanita yang terkemuka dan termasuk orang yang memeluk Islam dari sejak dini. Dalam peristiwa hijrah beliau menahankan berbagai penderitaan dengan penuh kesabaran. Dia dijuluki dengan julukan “Dzatun Nithaqain” (Wanita yang memiliki dua sabuk). Dia sempat ikut Perang Yarmuk dan mendapat cobaan. Asma adalah wanita yang fasih berbahasa dan pandai melantunkan syair. Dialah ibu dari Abdullah bin Zubair dia pulalah muhajirin yang terakhir meninggal dunia.

Nasab dan Keturunannya

Wanita ini adalah Ummu Abdillah Al-Quraisyiyah At-Taimiyah, puteri dari orang yang masuk Islam pertama kali, yaitu Syaikhul Islam Abu Bakar Ash-Shidiq . Ibunya bernama Qutailah binti Abdul Uzza Al-‘Amiriyah. Asma’ adalah ibu seorang shahabat yang pemberani yaitu Abdullah bin Zubair dan saudarinya adalah Ummul Mukminin Aisyah. Usianya 13 tahun lebih tua daripada Aisyah. Asma’ merupakan wanita Muhajirah yang wafat paling akhir.

Keislamannya

Asma’ radhiyallahu ‘anha masuk Islam setelah 17 orang lainnya masuk Islam dan ia berbai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta beriman kepadanya dengan keimanan yang kuat. Diantara sikap yang menunjukkan baiknya keislamannya adalah ketika ibunya yaitu Qutailah telah dicerai oleh Abu Bakar di masa jahiliyah datang berkunjung kepadanya, maka ia enggan mempersilahkan ibunya masuk ke dalam rumah ataupun menerima hadiahnya.

Terdapat dalam kitab Shahihain dari Asma’ binti Abu Bakar, ia berkata: “Ibuku yang masih musyrik di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangiku, lalu aku meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku berkata: “Sesungguhnya Ibuku datang dalam keadaan mencintaiku, apakah saya boleh menyambung hubungan dengan ibuku?” Beliau berkata:

“Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu!”(HR Al-Bukhari dalam Al-Hibah bab: Hadiah untuk Kaum Musyrikin dan firman Allahta’ala: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil, ” (Al-Mumtahanah: 8) (3/142), dan Muslim dalam Az-Zakat (1003))

Dzatun Nithaqain (Wanita yang memiliki dua ikat pinggang)

Ia radhiyallahu ‘anha dipanggil dengan Dzatun Nithaqain (Wanita yang memiliki dua ikat pinggang). Karena ia telah membelah ikat pinggangnya menjadi 2 bagian supaya beban yang ada di atasnya menjadi ringan dan bisa menyembunyikan makanan dan minuman yang akan di bawa ke gua Hiro untuk Rasulullah ketika hijrah. Tatkala Rasulullah melihat apa yang ia lakukan terhadap ikat pinggangnya, beliau menjulukinya dengan Dzatun Nithaqain. (Hadits yang berkaitan dengan dinamainya Asma’ radhiyallahu ‘anha dengan Dzatun Nithagain telah dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Manaqib bab: Hijrahnya Nabi dan Para Shahabat ke Madinah (4/ 258) dan Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat (8/ 250))

Perjuangannya sebagai Pemudi Islam

Menenangkan hati Sang Kakek terhadap Perjuangan sang Ayah

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah dari Mekkah menuju Madinah dengan ditemani Abu Bakar, seluruh harta Abu Bakar ikut dibawa dan uang sebanyak 5 ribu atau 6 ribu (dirham). Lalu Asma’ didatangi oleh kakeknya yaitu Abu Quhafah yang telah buta matanya (sampai saat itu belum masuk Islam).

Dia berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar tidak meninggalkan harta maupun jiwanya untuk kalian.”

dalam riwayat lain: “Aku telah menduga bahwa Abu Bakar ra telah menyebabkan kalian susah. Tentunya seluruh hartanya telah dibawa serta olehnya. Sungguh ia telah semakin banyak membebani kalian.”

Tidak ada komentar dari gadis yang suci lagi pemberani kecuali ia berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya dia telah meninggalkan kebaikan yang banyak untuk kita.”

Kemudian Asma’ mengambil beberapa batu-batuan, lalu ditaruh di lantai dan membungkusnya dengan pakaian. Kemudian ia pegang tangan, kakeknya dan meletakkannya di atas pakaian itu, dan berkata: “Ini yang dia tinggalkan untuk kita.”

“Adapun jika ini yang dia tinggalkan untuk kalian, maka tidak mengapa,” kata kakeknya.

Dengan demikian, ia telah menenangkan hati orang yang sangat tua tersebut, memadamkan kemarahannya dan menentramkan jiwanya. (Lihat kisah ini dalam As-Sirah An-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam (1/488) dan Adz-Dzahabi telah menukil darinya dalam kitabnya Siyar A ‘lam An-Nubala’ (2/ 288). Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengisyaratkan keshahihan sanadnya).

Sesudah itu, Asma radhiyallahu ‘anhaberkata, “Demi Allah, sesungguhnya ayahku tidak meninggalkan harta sedikit pun. Aku berbuat demikian semata-mata untuk menenangkan hati kakek, supaya kakek tidak bersedih hati.”

Kekokohan keimanan sejak masih kecil

Dzatun Nithaqain kecil telah menghadapi gangguan dari tangan musuh Allah Abu Jahal, yang mendatanginya dalam rangka menipu supaya Asma’ mau membongkar rahasia yang dipegangnya sehingga Abu Jahal bisa mengetahui posisi bapaknya. Tetapi meskipun masih kecil, ia kokoh di atas tanggung jawabnya. Karena ia tahu bahwa ucapan apapun yang keluar dari mulutnya akan menimbulkan bahaya besar bagi Rasulullah dan bapaknya. Sehingga ia memilih diam dan hanya mengatakan: “Saya tidak tahu.”

Mendengar jawaban tersebut, tidak ada sikap yang muncul dari musuh Allah itu kecuali menampar Asma’ dengan tamparan yang keras sampai anting-antingnya jatuh. Kemudian Abu Jahal pergi dalam keadaan marah. Lihat Sirah Ibnu Hisyam (1/487).

Seperti inilah perbuatan para penakut di setiap masa, tatkala mereka tidak mampu memukul dan membunuh para laki-laki, maka mereka memukul para wanita dan anak-anak.

Keluarga dan Pernikahannya

Hijrah ke Madinah

Suatu waktu, ketika Rasullah dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu telah memerintah Zaid radhiyallahu ‘anhu dan beberapa orang pegawainya untuk mengambil kudanya dan keluarganya untuk dibawa ke Madinah.  Asma radhiyallahu ‘anha berhijrah dengan rombongan tersebut. Sesampainya di Quba, dari rahim Asma radhiyallahu ‘anha, lahirlah putra pertamanya yakni Abdullah bin Zubair. Dalam sejarah Islam, itulah bayi pertama yang dilahirkan setelah hijrah dan merupakan anak pertama yang dilahirkan dalam Islam.

Hidmat kepada Sang Suami

Demikianlah, Dzatun Nithaqain telah memberikan teladan kehidupan dan contoh yang baik dalam kesabaran ketika mengalami kehidupan yang sempit dan penderitaan yang keras. Ia adalah wanita yang sangat taat kepada suami dan sangat mengutamakan keridhaannya.

Pada zaman itu banyak terjadi kesulitan, kesusahan, kemiskinan, dan kelaparan. Tetapi pada zaman itu juga muncul kehebatan dan keberanian yang tiada bandingannya. Dalam sebuah riwayat dari Bukhari diceritakan bahwa Asma’ radhiyallahu ‘anha sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya, sebagaimana perkataannya dalam hadits yang shahih:

“Ketika aku menikah dengan Zubair radhiyallahu ‘anhu, ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. Akulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebut. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.

Ketika Rasulullah sampai di Madinah, maka Zubair ra telah diberi hadiah oleh Rasulullah berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhadap Zubair ra yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair ra tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair ra merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair ra berkata, “Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu.””

Setelah itu Abu Bakar, ayah Asma’ ra, memberikan seorang hamba sahaya kepada Asma’. Dengan adanya pembantu di rumahnya, maka pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan ringan, seolah-olah aku telah terbebas dari penjara.

dalam riwayat lain:

“Az-Zubair telah menikahi aku dan dia tidak memiliki sesuatu selain kuda. Aku yang memelihara serta memberikan makanan dan minuman, demikian pula menumbukkan biji korma, dan aku pula yang mengadoni roti untuknya. Pada suatu kali aku membawa biji-biji korma di atas kepalaku dari tanah Az-Zubair yang merupakan pemberian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jarak dua pertiga farsakh (1 fasakh = ± 8 km) dari tempat tinggalku.

Ketika aku sedang membawa biji-biji korma itu, aku berjumpa dengan Rasulullah dan para shahabatnya, lalu beliau memanggilku. Beliau berkata (kepada keledainya): “Duduklah, duduklah.” Supaya keledai (tersebut) membawaku di belakangnya. Tetapi aku malu dan aku ceritakan (kepada beliau) tentang Az-Zubair dan kecemburuannya.”

Asma’ berkata: “Maka beliau berlalu Tatkala aku telah sampai rumah, aku kabarkan hal tersebut kepada Az-Zubair. Maka dia berkata: ‘Demi Allah, kamu memanggul biji-biji korma itu lebih berat bagiku daripada engkau naik kendaraan bersamanya. Asma’ berkata: “Setelah itu ayahku (Abu Bakar) mengirim pelayan kepadaku, maka aku telah dicukupi dengan seorang pelayan yang mengatur kuda itu. Dengan hal ini, sungguh ayahku telah meringankan bebanku.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam An-Nikah bab: Al-Ghirah (6/156), dan Muslim dalam As-Salam bab: Bolehnya Memboncengkan Seorang Wanita Ajnabiyah (asing) Jika Kendaraannya Mogok di Jalan (no. 2182))

Teladan yang Baik darinya

Istri yang baik dan dermawan

Setelah berada dalam kesabaran, Asma’ bersama suaminya merasakan kenikmatan-kenikmatan sebagai akibat dari usahanya. Tetapi dengan keberhasilannya itu ia tidak membangga-banggakan. Sebaliknya ia menjadi wanita yang dermawan lagi mulia, yang tidak menyimpan sedikitpun kenikmatan itu untuk hari esok. Jika ia sakit, ia menanti hingga sehat, lalu ia memerdekakan setiap budaknya.

Pada mulanya, apabila ia akan mengeluarkan harta di jalan Allah ia akan menghitungnya dan menimbangnya. Akan tetapi, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Janganlah kalian menyimpan-nyimpan atau menghitung-hitung (harta yang akan diinfakkan). Apabila mampu, belanjakanlah (dijalan Allah-admin) sebanyak mungkin.”

Akhirnya setelah mendengar nasihat ini, Asma radhiyallahu ‘anha semakin banyak menyumbangkan hartanya. Ia juga selalu menasehati anak-anak dan perempuan-perempuan yang ada di rumahnya,

“Berinfaklah dan bershadaqahlah kalian dan janganlah kalian menanti-nanti hingga (harta kalian) berlebih.” (Lihat Ath-Thabaqat oleh Ibnu Sa’ad (8/251 dan setelannya)

dalam riwayat lain:

“Hendaklah kalian selalu meningkatkan diri dalam membelanjakan harta di jalan Allah, jangan menunggu-nunggu kelebihan harta kita dari keperluan-keperluan kita (yaitu jika ada sisa harta setelah dibelanjakan untuk keperluan membeli barang-barang, barulah sisa tersebut disedekahkan.) Jangan kalian berpikir tentang sisanya. Jika kalian selalu menunggu sisanya, sedangkan keperluan kalian bertambah banyak, maka itu tidak akan mencukupi keperluan kalian sehingga kita tidak memiliki kesempatan untuk membelanjakannya di jalan Allah. Jika keperluan itu disumbangkan di jalan Allah, maka kalian tidak akan mengalami kerugian selamanya.”.

Wanita Pemberani

Asma’ radhiyallahu ‘anha seorang wanita pemberani yang tidak takut terhadap celaan para pencela tatkala berjuang dijalan Allah. Ketika perang Yarmuk, ia memiliki andil dalam peperangan dan bersikap seperti sikap pahlawan.

Demikian pula ketika banyak pencuri di Madinah pada masa Sa’id Ibnul Ash, maka ia memegang pisau dan diletakkan di bawah bantal, lalu ditanyakan kepadanya: “Apa yang engkau lakukan dengan pisau ini?” Ia menjawab: “Jika ada pencuri masuk rumahku, maka akan aku belah perutnya.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat (8/253) dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak(4/64).)

Kisah Abdullah bin Zubair dan Asma’ dalam fitnah Al-Hajjaj

Kemauan yang teguh dan kejiwaan yang tinggi pada diri Asma’ dapat kita ketahui dari perkataanya kepada anak laki-lakinya, ketika anaknya masuk menemui Asma dalam rangka minta nasehat, pada waktu Al-Hajjaj mengepung Mekkah. Ketika itu Asma’ telah tua renta mendekati usia 100 tahun.

Abdullah berkata: “Wahai ibuku, sesungguhnya manusia, bahkan istri dan keluargaku telah merendahkan aku, dan tidak ada yang tetap bersamaku kecuali sedikit dari kalangan orang yang tidak mampu melakukan perlawanan yang hanya mampu bersabar sesaat, sedangkan orang-orang memberikan dunia kepadaku yang tidak aku inginkan, maka bagaimana pendapatmu?”

Di depan ujian yang sangat menyulitkan bagi ibu tersebut, perasaan yang mendidih (karena marah dengan nasib anaknya) kemudian mencair dan akhirnya perasaan ia yang agung dan mulia yang menang dalam memberi nasehat.

Kemudian dengan bijak ia berkata: “Demi Allah engkau lebih tahu terhadap dirimu sendiri wahai anakku. Jika dirimu di atas kebenaran dan engkau menyeru kepadanya, maka lakukanlah. Sesungguhnya shahabat-shahabatmu telah terbunuh karenanya, dan tidak mungkin anak-anak bani Umayah bermain-main dengan lehermu. Tetapi jika engkau menginginkan dunia maka engkau adalah seburuk-buruk seorang hamba. Engkau telah membinasakan dirimu sendiri dan orang yang berperang bersamamu.”

Kemudian Abdullah berkata: “Wahai ibuku, demi Allah ini adalah sebuah nasehat yang sangat mulia. Tetapi aku khawatir apabila dia telah membunuhku, maka penduduk Syam akan memotong-motong dan menyalib tubuhku.”

“Wahai anakku, sesungguhnya kambing tidak menderita sakit ketika dikuliti usai disembelih, maka berjalanlah di atas bashirahmu dan minta tolonglah kepada Allah,” kata Asma’.

Lalu ia mendekati anaknya untuk melakukan perpisahan dan memeluknya.

Ketika tangannya menyentuh pakaian perang anaknya ia berkata: “Apa ini wahai Abdullah, Apakah seperti ini perbuatan orang yang menginginkan hal itu (yakni mati syahid)!!”

Lalu dia melepas pakaian perangnya dan dia maju melawan dan menyerang Al-Hajaj sampai dia terbunuh.

Kemudian Al-Hajaj memerintahkan mayatnya untuk disalib, lalu dia masuk menemui Asma’ dan berkata kepadanya: “Wahai ibuku, sesungguhnya Amirul Mukminin mewasiatkan aku (agar berbuat baik) kepadamu, apakah engkau memiliki keperluan?”

“Aku bukan ibumu, tetapi aku adalah ibu orang yang disalib di atas pohon Tinah dan aku tidak memiliki keperluan. Akan tetapi akan aku kabarkan kepadamu bahwa aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di Tsaqif akan muncul pendusta dan perusak. Adapun pendusta telah kami ketahui (yakni Musailamah Al-Kadzab) sedangkan perusak adalah engkau,” jawab Asma’.

Dalam sebagian riwayat tatkala Al-Hajjaj menemui Asma’ dia berkata kepadanya: “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang aku lakukan terhadap anakmu wahai Asma’?”

Dengan tenang Asma’ menjawab: “Engkau telah merusak dunianya dan dia telah merusak akheratmu.”(Lihat Ath-Thabaqat oleh Ibnu Sa’ad (8/254), Al-Mustadrak (4/65), Siyar A’lamin Nubala’ oleh Adz-Dzahabi (2/293) dan setelahnya, dan Tarikhul Islam oleh Adz-Dzahabi (3/136))

Wafatnya

Asma’ radhiyallahu ‘anha wafat di Mekkah beberapa hari setelah Abdullah terbunuh, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Sa’ad. Sedangkan Abdullah terbunuh pada tanggal 17 Jumadil Ula tahun 73 H., dalam keadaan giginya (Asma) utuh dan akalnya tetap normal.

Semoga Allah merahmati Asma yang memiliki 2 ikat pinggang. Sesungguhnya ia telah benar-benar menjadi teladan yang diikuti dan permisalan yang baik dalam berbagai sikap yang mulia.

Sumber:

  1. Nisaa’ Haular-Rasul war-Radd ‘ala Muftariyaat Al-Musytasyriqin. Penulis: Mahmud Mahdi Al-Istambuli Msthafa Abu An-Nashar Asy-Syalabi. Penerbit: Maktabah As-Suwadi. Ali bahasa: Maktabah Salafy Press, 2006.
  2. Asma binti Abu Bakar (wafat 73 H.). http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/13/asma-binti-abu-bakar-wafat-73-h/.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: