Ghibah , Haram dan Halalnya


Ghibah atau membicarakan orang lain (bisa juga diistilahkan dengan ngerumpi) adalah aktivitas yang ‘mengasyikkan’. Tak sedikit orang, yang secara sadar atau tidak, terjatuh dalam perbuatan ini. Karena memang setan telah menghiasi perbuatan ini sehingga nampak indah dan menyenangkan. Tahukah anda bahwa Allah mengibaratkan ghibah dengan perbuatan memakan daging saudara kita yang telah mati? Untuk itu ada baiknya pembahasan disini mencakup:


KEUTAMAAN MENJAGA LISAN ↑ up

Bani Adam adalah makhluk yang lemah, serba kekurangan, dan menjadi tempat kesalahan. Demikianlah fakta yang akan dijumpai bila setiap orang jujur akan hakikat dirinya. Ia lemah dari semua sisi: tubuhnya, semangatnya, keinginannya, imannya, dan lemah kesabarannya. Dengan keadaan seperti ini, Allah dengan kemahabijaksanaan-Nya memberikan beban syariat sesuai dengan kesanggupannya. Demikian yang dikatakan Asy-Syaikh Sa’di dalam Tafsir-nya.

Terkadang kelemahan ini menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam perbuatan dosa dan maksiat. Mendzalimi diri sendiri, orang lain, bahkan mendzalimi Allah. Keadaan demikian banyak terjadi pada manusia khususnya yang tidak mendapat hidayah dan rahmat dari Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)

Banyak sekali faktor yang mendorong manusia untuk berbuat kesalahan atau kemaksiatan. Terkadang dorongan itu datang dari dalam diri sendiri dan terkadang dari luar. Berbahagialah orang yang mengerti kelemahan dirinya. Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu berkata: “Termasuk wujud ilmunya seorang hamba adalah dia mengetahui imannya bertambah atau berkurang. Dan termasuk dari barakah ilmunya seorang hamba adalah dia mengetahui darimana setan akan menggelincirkannya.” (Asbab Ziyadatul Iman, hal. 10)

Salah satu bagian tubuh yang paling mudah menjerumuskan manusia ke dalam kemaksiatan adalah lisan (baca pembahasan menjaga lisan secara lengkap dan perkataan ulama seputar pentingnya menjaga lisan klik disini). Sungguh betapa ringan lisan ini digerakkan untuk bermaksiat kepada Allah. Serta betapa berat untuk diajak berdzikir kepada Allah. Demikan hakikat lisan sebagaimana ucapan Abu Hatim: “Lisan memiliki peraba tersendiri yang tidak hanya digunakan untuk mengetahui asin atau tidaknya makanan dan minuman, atau panas dan dingin, atau manis dan pahit. Lisan sangat tanggap apabila telinga mendengar sebuah berita, baik atau buruk dan benar atau salah. Dan sangat tanggap pula bila mata melihat suatu kejadian, baik atau buruk. Lisan dengan mudahnya bercerita dengan mengumbar apa saja yang menyentuhnya. Ingatlah, lidah itu tak bertulang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Namun bukan berarti engkau diam dari suatu kemungkaran dan diam untuk mengucapkan kebenaran. “Setan bisu” itulah gelar dan panggilan seseorang yang diam dari kemungkaran dan tidak mau menyuarakan kebenaran.

PENGERTIAN GHIBAH ↑ up

Tidak ada penafsiran terbaik tentang makna ghibah selain penafsiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits beliau. Bila ada penafsiran para ulama tentang ghibah maka tidak akan terlepas dari penafsiran beliau meski dengan ungkapan yang berbeda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan makna ghibah ini dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa ghibah itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau menceritakan tentang saudaramu perkara yang dia benci.” Beliau ditanya: “Bagaimana kalau perkara yang aku katakan itu memang ada pada dirinya?” Beliau menjawab: “Kalau apa yang engkau katakan itu ada pada dirinya, sungguh engkau telah mengghibahinya. Apabila tidak ada padanya, sungguh engkau telah memfitnahnya.” (Shahih, HR. Muslim no. 2589, Abu Dawud no. 4874, dan At-Tirmidzi no. 1435)

Berkata Imam Nawawi rahimahullah tentang sabda beliau di atas yaitu kata بَهَتَّهُ (engkau telah berdusta tentangnya) – dengan fathah pada huruf ha’ -, “saya katakan: termasuk padanya buHtaan (kedustaan) yaitu suatu kebatilan.”

Dari keterangan di atas, diambil kesimpulan bahwa makna ghibah adalah menceritakan tentang sesuatu yang benar-benar ada pada diri seseorang kepada orang lain dan orang yang dijadikan objek pembicaraan tidak menyukai apa yang dibicarakan. Bila apa yang diceritakan tidak ada pada orang tersebut, ini merupakan dusta atas namanya dan tentu saja dosanya lebih besar dari yang pertama.

GHIBAH termasuk DOSA BESAR ↑ up

Para ulama berbeda pendapat apakah ghibah termasuk dosa besar atau dosa kecil. Yang nampak dan kuat dari dalil yang ada dari Al-Qur-an dan Hadits bahwa ghibah termasuk dosa besar sebagaimana pembahasannya berikut ini.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Ghibah adalah haram secara ijma’ dan tidak dikecualikan (boleh dilakukan) melainkan (dalam hal yang) maslahatnya lebih kuat, seperti dalam jarh dan ta’dil (menerangkan perawi hadits) dan nasehat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika seseorang yang jahat meminta izin kepada beliau untuk bertemu beliau, maka beliau berkata: Izinkan dia, sesungguhnya dia adalah orang yang paling jelek di kaumnya.’ Juga seperti sabda beliau kepada Fathimah binti Qais saat dipinang oleh Mu’awiyah dan Abu Jahm. (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan) bahwa Mu’awiyah adalah orang yang sangat miskin dan Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/215)

Ghibah jelas perbuatan terlarang. Bahkan ia termasuk perbuatan dosa besar. Allah subhanallahu ta’ala berfirman:

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“… .  Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)

Syaikh Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: وَلَا تَجَسَّسُوا (dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain) “Jangan mencari-cari aurat kaum muslimin dan jangan kamu menelusurinya. Biarkanlah seorang muslim pada keadaannya. Dan lalailah dari keadaannya yang apabila engkau mencari-cari, akan tampak dari keadannya yang tidak pantas.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkan harga diri seorang muslim dalam khutbah yang mulia dan di waktu yang mulia (yakni di hari Arafah), di tempat yang mulia pula (di Arafah). Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

فَإِنَّ دِمَائَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، وَفِي بَلَدِكُمْ هَذَا، وَفِي شَهْرِكُمْ هَذَا

“Maka sesungguhnya darah kalian haram, harta kalian haram, dan kehormatan kalian pun haram, sebagaimana haramnya (terhormatnya) hari kalian ini, di negeri kalian ini, dalam bulan kalian ini.” (Muttafaqun ‘alaih, Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sehingga, merendahkan dan menjatuhkan harga diri/kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang benar adalah haram hukumnya. Barangsiapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membongkar aibnya dan mempermalukannya. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

صَعِدَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْمِنْبَرَ فَنَادَى بِصَوْتٍ رَفِيعٍ: يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لَا تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتبعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحُهُ اللهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan belum masuk ke dalam hatinya. Jangan kalian menyakiti kaum muslimin. Jangan kalian menjelek-jelekkan mereka dan jangan kalian mencari-cari kekurangan mereka. Karena barangsiapa mencari-cari kekurangan saudaranya yang muslim, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencari-cari kekurangannya. Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala cari-cari kekurangannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membongkar aibnya dan mempemalukannya, walaupun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. At-Tirmidzi. Syaikh Al-bani rahimahullah berkata: “Hadits hasan shahih”)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendekatkan ghibah dengan riba, sebagaimana sabdanya:

إِنَّ مِنْ أَربَي الرِّبَا الإِسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar adalah terus-menerus melanggar kehormatan seorang muslim tanpa (alasan) yang benar.” (HR. Abu Dawud dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu)

Ketahuilah, ghibah adalah salah satu dosa besar yang akan menyebabkan pelakunya mendapat azab kubur apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengampuninya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

Tatkala aku di-mi’raj-kan (dinaikkan ke langit) aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku tajam dari tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka. maka aku bertanya: “Siapa mereka ini, wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang suka makan daging manusia (menggunjing/ghibah) dan menjatuhkan kehormatan mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4878, dan disebutkan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4082 dan dalam Ash-Shahihah no. 533)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Ghibah itu haram hukumnya berdasarkan ijma’. Tidak ada pengecualian selain terhadap orang-orang yang jelas kemaslahatannya, seperti dalam al-jarh wat ta’dil (mencela/ memuji para perawi hadits), dalam nasihat sebagaimana nasihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha.”

Aisyah mengisahkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya. Suatu kali ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, cukuplah Shafiah itu begini dan begitu.” Yang dimaksudkan bahwa Shafiah radhiyallahu ‘anha itu pendek badannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegurnya seraya berkata:

لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ

“Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang apabila dicampurkan dengan air laut niscaya akan merubah warnanya atau rasanya (HR. Abu Dawud, 13/151)

Masih banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang keharaman ghibah dan bahwa ghibah termasuk dosa besar.

PENGECUALIAN GHIBAH ↑ up

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Ghibah adalah haram secara ijma’ dan tidak dikecualikan (boleh dilakukan) melainkan (dalam hal yang) maslahatnya lebih kuat, seperti dalam jarh dan ta’dil (menerangkan perawi hadits) dan nasehat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika seseorang yang jahat meminta izin kepada beliau untuk bertemu beliau, maka beliau berkata: Izinkan dia, sesungguhnya dia adalah orang yang paling jelek di kaumnya.’ Juga seperti sabda beliau kepada Fathimah binti Qais saat dipinang oleh Mu’awiyah dan Abu Jahm. (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan) bahwa Mu’awiyah adalah orang yang sangat miskin dan Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/215)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Ketahuilah bawa ghibah itu dibolehkan untuk tujuan syar’i, yang mana tidak mungkin tujuan tersebut tercapai kecuali dengan ghibah itu. Hal ini ada pada enam perkara.” (Riyadhush Shalihin)

Dibolehkah ghibah pada enam perkara:
1. Ketika terdzalimi.
2. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.
3. Meminta fatwa.
4. Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasihati mereka.
5. Ketika seseorang menampakkan kefasikannya.
6. Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu.
(Riyadhus Shalihin, bab “Apa-apa yang Diperbolehkan untuk Ghibah”)

Keenam hal tersebut terkumpul dalam ucapan seorang penyair:

الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيْبَةٍ فِي سِتَّةٍ
مُتَظَلِّمٍ وَمُعَرِّفٍ وَمُحَذِّرٍ
وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ
طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرٍ

Ghibah itu tidak tercela pada enam perkara
Orang yang dizalimi, yang mengenalkan, dan yang memperingatkan
Orang yang menampakkan kefasikan, peminta fatwa
Orang yang minta tolong untuk menghilangkan kemungkaran

BAHAYA GHIBAH sesuai MUDHARATnya ↑ up

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata: “Ketahuilah, ghibah itu akan bertambah kejelekannya dan dosanya sesuai dengan siapa yang disakiti dengan ghibah tersebut. Ghibah terhadap orang biasa tidak seperti ghibah terhadap orang yang berilmu. Tidak pula seperti ghibah terhadap pemimpin negara, pejabat, menteri, dan sejenisnya. Karena ghibah terhadap pejabat baik pejabat rendah maupun pejabat tinggi lebih besar dosanya daripada ghibah terhadap orang yang tidak memiliki jabatan kepemimpinan atau kedudukan. Hal itu disebabkan bila engkau ghibah terhadap orang biasa, engkau hanyalah berbuat jelek terhadap pribadinya. Namun bila engkau ghibah terhadap orang yang memiliki jabatan atau kedudukan, sungguh engkau telah berbuat jelek terhadap pribadi dan kedudukannya yang terkait dengan kepentingan kaum muslimin.

Contohnya, apabila engkau berbuat ghibah terhadap salah seorang ulama, perbuatan ini berarti permusuhan dan kebencian terhadap pribadinya. Engkau juga telah berbuat kejelekan atau kejahatan yang besar terhadap ilmu syariat yang dibawanya. Seorang yang berilmu adalah pengemban syariat. Apabila engkau menggunjingnya maka akan jatuh kewibawaannya dalam pandangan umat. Apabila telah jatuh wibawanya, umat tidak akan mendengarkan ucapannya dan tidak mau merujuk kepadanya dalam urusan agama mereka. Akibatnya, ilmu yang dimiliki orang alim tersebut diragukan kebenarannya karena engkau menggunjingnya. Ini adalah kejahatan yang besar terhadap syariat.

Demikian juga para pemimpin/pejabat. Apabila engkau melakukan ghibah terhadap seorang pejabat, raja, presiden, atau yang semisalnya, dampak jeleknya bukan hanya menimpa pribadinya. Bahkan ghibah itu akan menjatuhkan pribadinya sekaligus merusak kewibawaan serta kedudukannya. Ini berarti engkau telah menyusupkan kebencian dan kedengkian ke dalam hati rakyat terhadap penguasanya. Apabila engkau berhasil menanamkan kebencian dan kedengkian di hati mereka terhadap penguasanya, sungguh engkau telah melakukan kejahatan yang besar terhadap mereka. Hal ini juga merupakan sebab munculnya berbagai kekacauan, perselisihan, dan perpecahan dalam kehidupan (masyarakat). Bila hari ini ghibah telah berhasil menyebarkan berbagai macam ucapan, boleh jadi besok hari akan menyebarkan tembakan-tembakan. Karena apabila hati telah benci dan dengki terhadap penguasanya, dia tidak akan mau tunduk dan patuh terhadap perintahnya. Apabila dia diperintahkan untuk melakukan suatu kebaikan, dia akan melihat sebaliknya. (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/46-47)

CARA BERTAUBAT DARI GHIBAH ↑ up

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, orang yang telah berbuat ghibah tidak harus mengumumkan taubatnya. Cukup baginya memintakan ampun bagi orang yang dighibahi dan menyebutkan segala kebaikannya di tempat-tempat mana dia mengghibahinya. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah dalam kitabnya Nashihati lin Nisa’ (hal. 31).

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib (hal. 131) menyebutkan sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kaffarah ghibah (penghapus dosanya) adalah dengan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang digunjing, dengan mengucapkan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلَهُ

“Ya Allah, ampunilah kami dan dia.”

Al-Baihaqi rahimahullahu menyebutkan hadits tersebut dalam Ad-Da’watul Kabir, dan mengatakan bahwa di dalam sanadnya ada kelemahan.

Haruskah Meminta Maaf kepada Orang yang Dighibahi?

Dalam permasalahan ini, para ulama berbeda pendapat di antaranya:

1. Pendapat bahwa taubat dari ghibah tidak membutuhkan pemberitahuan kepada orang yang dighibahi. Bahkan cukup dengan memohon ampunan baginya dan menyebut kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang dahulu dia mengghibahinya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dan selainnya, dan salah satu riwayat pendapat dari Al-Imam Ahmad rahimahullahu.

2. Pendapat bahwa Adapun sebagian ulama (dan salah satu riwayat dari pendapat Al-Imam Ahmad rahimahullahu juga-red) yang mengharuskan pemberitahuan kepada orang yang dighibahi sebagai bentuk taubatnya, mereka menganggap ghibah seperti hak-hak harta yang dizalimi. Padahal jelas perbedaannya. Dalam hak-hak yang terkait dengan harta, dengan dikembalikan hartanya atau yang setara dengannya, maka orang yang dizalimi akan mendapatkan manfaat darinya. Dia bisa mengambilnya atau menyedekahkannya. Yang seperti ini tidak mungkin terjadi pada ghibah. Yang akan terjadi pada orang yang dighibahi ketika dia diberitahu tentangnya, justru berlawanan dengan apa yang dimaksud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal tersebut justru akan menyakiti dan menyalakan kemarahannya. Boleh jadi dia akan membangkitkan permusuhan yang tidak akan bisa dipadamkan. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya yang seperti ini tentu tidak akan diperbolehkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi memerintahkan dan mewajibkannya

3. Pendapat yang benar adalah perlu dirinci:

a. Pertama, bila orang tersebut mendengar ghibahnya, maka dia harus datang kepada orang tersebut meminta kehalalannya (minta maaf).

b. Kedua, jika orang tersebut tidak mendengar ghibahnya maka cukup baginya menyebutkan kebaikan-kebaikannya dan mencabut diri darinya di tempat ia berbuat ghibah.

Al-Qahthani rahimahullah dalam kitab Nuniyyah beliau (hal. 39) menasihati kita:

“Janganlah kamu sibuk dengan aib saudaramu dan lalai dari aib dirimu, sesungguhnya yang demikian itu adalah dua keaiban.”

Wallahu a’lam. ↑ up

Sumber:

  1. Kekejian Berupa Memakan Bangkai Daging Sendiri. Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=136.
  2. Nikmat Lisan, Untuk Apa Kita Gunakan?. Penulis : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=836.
  3. Dosa besar ghibah. Penulis: Al-Ustadz Nashr Abdul Karim. Akhwat Shalihah. Vol.9/1432 H/2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: