shalat, SUJUD Menghamba kepada ALLAH تَعَالَى


Sujud secara umum merupakan penyebutan posisi kepala yang menyentuh lantai dengan punggung yang terangkat lebih tinggi dengan mengabaikan posisi tangan dan kaki, dan berlaku bagi manusia dan makhluk lainnya. Sujud adalah bentuk penghambaan, sehingga secara mutlak dilarang bagi seseorang untuk meniatkan sujud kepada selain Allah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Namun, pembahasan di sini hanyalah mencakup gerakan sujud dalam shalat, adapun sujud ibadah di luar shalat yaitu sujud syahwi dan sujud syukur akan datang pembahasan tersendiri tentangnya. Pembahasan sujud dalam shalat meliputi hukumnya, sifatnya, i’tidal dan tenang dalam sujud, sujud wanita, dan doa/dzikir sujud. Berikut pembahasannya:


Hukum Sujud dalam Shalat

Sujud dalam shalat merupakan rukun shalat. Belia shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan:

كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يكبر، ويهوي ساجداً

… Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam i’tidal maka beliau bertakbir dan turun untuk sujud. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hal ini juga sebagaimana perintah beliau kepada orang yang salah shalatnya, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى … يقول: (سمع الله لمن حمده) . حتى يستوي قائماً؛ ثم يقول: الله أكبر. ثم يسجد حتى تطمئن مفاصله

“… (sesungguhnya), tidaklah sempurna shalat seseorang manusia sampai…. , mengucapkan: ‘Sami’allahu liman hamidah’ (Allah mendengar semua hamba-Nya yang memuji-Nya), hingga dia berdiri lurus, kemudian berkata: ‘Allahu Akbar’ (Allah Maha Besar), kemudian sujud hingga tenang seluruh persendiannya.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, dan dishahihkannya, serta disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Takbir untuk Sujud

Diwajibkan takbir untuk sujud, dalam hal ini terdapat 2 (dua) cara yang disunnahkan:

1. Pada saat berdiri selesai dari i’tidal sebelum turun sujud

Takbir Mengangkat Tangan

Sebagian ulama, seperti An-Nasa-i, Ibnu Hazm, Imam Ahmad, Malik, Syafi’i, Ibnu Hajar, Syaikh Albani rahimahullah berpendapat disunnahkan pula menjauhkan tangan atau mengangkat tangan ketika bertakbir. Diriwayatkan pula sejumlah shahabat dan tabi’in seperti Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan Al-Bashri, Thawus, dan putranya Abdulllah, Nafi’ maula Ibnu ‘Umar, dan Salim bin Ibnu ‘Umar, Al-Qasim bin Muhammad, Abdullah bin Dinar, dan ‘Atha’ radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

كان إذا أراد أن يسجد؛ كبَّر، [ويجافي يديه عن جنبيه] ، ثم يسجد

“… (dan) apabila hendak sujud, beliau bertakbir (beliau jauhkan tangan beliau dari lambungnya), kemudian sujud.” (HR. Abu Ya’la dalam musnadnya 284/2 dengan sanad jayyid, dan Ibnu Khuzaimah 1/79/2 dari sanad lainnya yang shahih dengan syawahid)

كان أحياناً يرفع يديه إذا سجد

“… terkadang beliau angkat kedua tangannya ketika hendak sujud.” (HR. An-Nasa-i, Ad-Daruquthni, Al-Mukhlash dalam fawaidh 1/2/2)

2. Ketika turun untuk sujud

3. Takbir ketika sujud (sebelum membaca do’a/dzikir sujud).

Cara kedua dan ketiga ini biasanya dilakukan oleh para imam agar tidak ada makmum yang mendahului imam untuk sujud dikarenakan sangat cepatnya gerakan turun sujud oleh sebagian makmum sedangkan mereka tidak mengetahui larangan bagi makmum untuk mendahului gerakan imam.

Turun untuk Sujud

Secara kebiasaan seseorang turun hendak sujud tidak dapat langsung menjatuhkan dirinya untuk sujud. Namun, hendaknya turun bertumpuh sebentar dengan telapak tangan atau lututnya sebelum sujud. Hal ini menunjukkan adab sujud yang baik sebagaimana yang dipahami para ulama. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat mengenai tata cara turun sujud, apakah yang afdhal untuk bertumpuh dengan lutut atau dengan tangan, dan dalam hal ini terdapat 3 (tiga) pendapat:

1. Bertumpuh dengan Kedua Tangan

Bertumpuh dengan Kedua Tangan

Pendapat ini yang masyhur dari pendapat Imam Malik, Al-Auza’i, Al-Qasim As-Samarqandi, dan dikuatkan oleh Syaikh Al-Albani, dan ulama lainnya.

كان يضع يديه على الأرض قبل ركبتيه

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan kedua tangannya ke tanah sebelum kedua lututnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah 1/76/1, 1/318,627, Ad-Daruquthni 131, 1288, Ath-Thahawy dalam ‘Syahrul-Ma’any’ 1/149, 329, no. 1476, Al-Hakim 1/226 berkata: “Shahih menurut syarat Muslim”, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan lainnya dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Syaikh Al-AlBani berkata: “Hadits ini sebagaimana yang dikatakan keduanya (al-Hakim dan adz-Dzahabi-red) (Al-Ashl, 2/714)

إذا سجد أحدكم؛ فلا يَبْرُكْ كما يَبْرُكُ البعيرُ،

ولْيضَعْ يديه قبل ركبتيه

“Jika (hendak) sujud seorang dari kalian, maka janganlah menderum seperti menderumnya unta, dan hendaklah meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lutunya.” (HR. Abu Daud 1/134 no. 840, An-Nasa-i 1/165, Ad-Darimy 1/303, dan selainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Secara lahiriah, perintah dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas memberikan faedah wajibnya meletakkan kedua (telapak) tangan terlebih dahulu sebelum kedua lutut ketika hendak sujud (Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al-Muhalla, 3/44)

2. Bertumpuh dengan Lutut

Bertumpuh dengan Kedua Lutut

Pendapat ini merupakan pendapat jumhur, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Ibrahim bin Yazid an-Nakhai, Muslim bin Yasar, Sufyan ats-Tsauri, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Hanifah rahimahumullah (al-Isyraf ‘ala Madzahibil Ulama lil Imam Ibnul Mundzir 2/30-31, salinan manuskrip al-I’tibar fin-Nasikh wal Mansukh lil Imam Abi Bakr Muhammad bin Musa al-Hazimi 36) , dandikuatkan oleh Syaikh bin Baz, Syaikh Utsaimin rahimahumullah dan selainnya.

Dari Wa’il bin Hujur radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Saat bangkit, beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” (HR. Abu Daud 838, An-Nasa-i 1089, Ibnu Majah 882, At-Tirmidzi 268, dan beliau menyatakannya hasan)

Namun, sanad hadits inidha’if(lemah) karena ada perawi yang bernama Syarik bin Abdillah an-Nakhai (murid ‘Ashim bin Kulaib), yang menurut para ahli hadits, Syarik sayyi’ul hifzh (hafalannya jelek) atau hafalannya tercampur sehingga tidak dapat dijadikan hujjah apabila tidak ada dukungan perawi lainnya atau bahkan bila ia menyelisihi perawi lain yang lebih tsiqah (Kasyif adz-Dzahabi, al-Kawakibun Nayyirat, Syarhu ‘Ilal Ibnu Rajab)

Ad-Daruquthni berkata: “Syarik tidaklah kuat apabila dia berdiri sendiri dalam meriwayatkan.” Dan dalam hal ini dia menyebutkan lafazh yang tidak disebutkan oleh murid-murid ‘Ashim lainnya atau dia bersendiri dalam periwayatannya (tafarrada bihi) sebagaimana yang dinyatakan oleh At-Tirmidzi dan al-Baihaqi (at-Talkhish, 1/413). Wallahu a’lam.

3. Bertumpuh dengan Kedua Tangan atau Lutut

Pendapat ini mengkompromikan hadits yang bertumpuh dengan kedua tangan dan dengan lutut karena mendapati kedua hadits tersebut shahih atau bahkan keduanya dha’if, sehingga boleh bagi seseorang untuk melakukan keduanya sesuai dengan kemampuannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Shalat dengan mendahulukan dua lutut terlebih dahulu atau dua telapak tangan (ketika turun sujud), semuanya boleh menurut kesepakatan ulama. Jika orang yang shalat mau, ia bisa meletakkan kedua lutunya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya. Jika mau pula, ia bisa meletakkan kedua telapak tangannya, baru kedua lututnya. Shalatnya teranggap benar dalam dua keadaan yang disebutkan merurut kesepakatan ulama. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama/afdhal. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama lebih afdhal, sebagaimana madzhab Abu Hanifah, asy-Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu dari dua riwayatnya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang kedua yang lebih afdhal sebagaiamana madzhab Malik dan Ahmad dalam riwayat yang lain. Masing-masing pendapat mendasarkannya kepada riwayat hadits dalam kitab as-Sunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam kitab as-Sunan tersebut dinyatakan bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, (saat sujud) beliau meletakkan kedua lutut, kemudian kedua tangan beliau. Saat bangkit dari sujud beliau mengangkat kedua tangan beliau lalu kedua lutut. Dalam sunan Abu Daud dan selainnya disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian sujud, janganlah ia turun sujud sebagaimana menderumnya unta, dan hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” Telah diriwayatkan kebalikan riwayat ini, ada juga yang menyatakan riwayat ini mansukh (telah dihapus-red). Wallahu a’lam.” (Majmu’ Fatawa, 11/618)

Syaikh bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya 11/151 memandang bahwa dalam masalah ini urusannya mudah, baik mendahulukan kedua lutut maupun kedua tangan sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Hanya saja, yang afdhal (menurut beliau) adalah mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan. Namun tidak ada masalah apabila ada orang yang menyelisihinya karena tidak mempengaruhi keabsahan shalat.

Sifat Sujud

Sujud memiliki tujuh rukun yaitu tujuh anggota tubuh yang menyentuh lantai ketika sujud, sebagaimana sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

 أُمرت (2) أن أسجد (وفي رواية: أُمرنا أن نسجد) على سبعةِ أَعْظُمٍ: على الجبهة – وأشار بيده على أنفه (3) -، واليدين (وفي لفظ: الكفَّين) ، والركبتين، وأطراف القدمين، ولا نكفِت (1) الثياب والشعر

“Saya diperintahkan untuk sujud (riwayat lain: kami diperintahkan untuk sujud) dengan tujuh tulang: pada dahi – beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dengan jarinya yakni sekaligus hidung – , kedua tangan (lafazh lain: kedua telapak tangan), kedua lutut, dan ujung-ujung jari kedua kaki. Dan agar tidak melipat baju dan rambut.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat takhrijnya dalam Al-Irwa’ 310)

Faidah: Larangan (makruh) untuk menahan rambut dan pakaian ketika ruku’ dan sujud (An-Nihayah). Hal ini dikecualikan untuk para wanita. Lihat pembahasannya di bawah.

1. Dahi dan Hidung

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memantapkan posisi hidung dan dahinya ke tanah.” (HR. At-Tirmidzi 2/59 dan dishahihkannya, Abu Daud 1/117 dari shahabat حميد الساعدي radhiyallahu ‘anhu)

“Tidak (berpahala) shalat orang yang hidungnya tidak menyentuh tanah seperti keningnya.” (HR. Ad-Daruquthny 133, Al-Hakim 1/270 dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

2/3. Kedua Tangan

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertumpuh pada kedua telapak tangannya (dan menghamparkannya).” (HR. Abu Daud 1/143, Al-Hakim 1/227 dan dishahihkannya, serta disepakati oleh Adz-Dzahaby),

dan merapatkan jari-jarinya, (HR. Ibnu Khuzaimah 1/324/642, Al-Baihaqi 2/112, Al-Hakim 1/227 dari Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu),

dan menghadapkannya ke arah kiblat. (HR. Baihaqi 3/431 dengan sanad yang shahih, dan selainnya dari shahabat Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu)

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan kedua tangannya setentang dengan kedua pundaknya,(HR. Abu Daud 1/117, At-Tirmidzi 2/59 dan dishahihkannya, Al-Irwa’ 309)

dan kadang-kadang setentang dengan kedua telinga beliau.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dengan sanad shahih).

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membaringkan lengan (bawah) nya (ke lantai).” (HR. Bukhari dan Abu Daud), bahkan Beliau melarangnya.

Faidah: Dilarang meletakkan lengan bawah tangan merapat ke tanah, sebagaimana sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di atas, dan hadits:

Salah! Menghamparkan lengan ke lantai

 ولا يبسط أحدكم ذراعيه انبساط (وفي لفظ: كما يبسط) الكلب

“…, dan janganlah seseorang membentangkan lengannya (seperti) bentangan anjing.” (HR. Bukhari 2/240 no.822, Muslim 2/53 no. 1102, Abu Daud 1/143, dan selainnya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua (tangan) nya (dari lantai), dan menjauhkannya dari kedua pinggangnya hingga tampak putihnya ketiak Beliau (dari arah belakang).” (HR. Bukhari 2/234, Muslim 2/53, An-Nasai 1/166, dari shahabat Abdullah bin Malik bin Buhainah dan Maimunah bintu al-Hadits radhiyallahu ‘anhuma)

Makruh! Merapatkan Siku

“Apabila kalian sujud, letakkan kedua (telapak) tanganmu dan angkatlah kedua sikumu.” (HR. Muslim 2/53 no. 1104, Abu ‘Awwanah 2/183, dari Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu)

Faidah: Syaikh Saleh bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah menyatakan setelah beliau menguraikan dalil-dalil pengecualian menjauhkan siku ketika sujud, “. … Dengan demikian, menjauhkan anggota-anggota sujud hukumnya sunnah, diamalkan dengan syarat tidak berlebih-lebihan, tidak menyempitkan, tidak menyulitkan dan tidak mengganggu orang lain (dalam shalat berjama’ah-admin).” (Tashilul Ilmam bi Fiqhil-Ahadits min Bulughil Maram 2/254)

4/5. Kedua Lutut

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memantapkan kedua lutut dan ujung-ujung jari kakinya (ke lantai).” (HR. Al-Baihaqy dengan sanad yang shahih, Ibnu Abi Syaibah 1/82/2)

6/7. Ujung-ujung Jari Kedua Kaki

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hadapkan punggung kaki dan ujung-ujung jari kaki ke arah kiblat.” (HR. Bukhari 2/245, Abu Daud 1/117)

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menegakkan kedua kakinya.” (HR. Al-Baihaqi 2/116)

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menekuk jari-jari kakinya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan dishahihkannya).

Hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

“Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tadinya beliau bersamaku di atas tempat tidurku. Ternyata aku dapati beliau sedang sujud dengan menempelkan kedua tumit beliau, mengarahkan ujung-ujung jari beliau ke arah kiblat. …” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim 1/228, ia mengatakan “Shahih menurut Syaikhain (Bukhari Muslim-admin), namun keduanya tidak mengeluarkannya.” Hal ini disepakati adz-Dzahabi. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Khuzaimah 654, dan menurut beliau “Shahih sesuai syarat Muslim” dalam Al-Ashl 2/737)

Tata Cara Sujud Wanita sama dengan Pria

Abu Daud dalam Marasil-nya (hal. 116-118, no. 87) meriwayatkan dari Yazid bin Abi Habib rahimahullah (seorang tabi’in-admin), ia menyebutkan, Nabi shallallahu ‘alaihi waallam melewati dua orang wanita yang sedang shalat. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Apabila kalian berdua sujud, tempelkanlah sebagian tubuh kalian ke bumi karena wanita tidak sama dengan pria dalam hal sujud.”

Hadits ini mursal yaitu seorang tabi’in (bukan shahabat-admin) yang tidak bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung menyandarkan haditsnya kepada Nabi, tanpa menyebutkan perantara keduanya. Hadits mursal bukanlah hujjah, dan tetap masuk dalam kategori hadits lemah ketika dia berdiri sendiri sebagaimana pembahasan kelemahannya oleh Syaikh al-Albani dalam adh-Dha’ifah 2652.

Dengan demikian, tata cara sujud wanita tidak berbeda dengan pria, berdasarkan keumuman hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Tidak Dapat Menyempurnakan Sujud

Hal ini terjadi misalnya karena masjid penuh sesak dan orang-orang berdesakan saat mengerjakan shalat berjama’ah, seperti yang terjadi di Masjidil Haram. Kalaupun sujud, maka jatuhnya di punggung orang yang shalat di depannya, bukan di tanah. Tentang hal ini, ada tiga pendapat ulama:

  1. Ia tetap sujud di atas punggung saudaranya atau di atas kaki saudaranya apabila memang jama’ah penuh sesak. Ini yang masyhur dalam madzhab Imam Ahmad rahimahullah.
  2. Ia telah dicukupkan dengan memberikan isyarat.
  3. Ia menunggu sampai orang di depannya bangkit (atau sampai ada tempat untuk sujudnya-admin), barulah ia kemudian sujud ke lantai setelahnya.

Tarjih: Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah dengan memberi isyarat karena ada asalnya dalam syariat, yaitu orang yang tidak mampu sujud maka ia berisyarat. Sementara itu, orang yang disebutkan di atas, hakikatnya ia tidak mampu sujud karena tidak ada tempat berupa lantai untuk meletakkan anggota sujud.

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa orang yang shalat disuruh sujud di atas punggung orang yang di depannya, tentu akan menimbulkan masalah, yaitu ia mengganggu kekhusyukan orang lain. Lagi pula, sujud yang dilakukannya tetap tidak bisa sempurna karena ia sujud di atas sesuatu yang tinggi (yakni punggu orang lain, sehingga tidak dapat adil untuk sujud di atas 7 tulang, dan posisi kepala yang mungkin lebih tinggi-admin). Sementara itu, pendapat yang mengatakan menanti orang yang di depan selesai sujud, berarti orang tersebut akan tertinggal dari amalan imamnya, walaupun ada sisi kebenarannya karena adanya sebuah udzur. Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat adalah dengan memberi isyarat. Wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah 13/189-190 fatwa no. 525

Demikianlah, sifat sujud dalam shalat yang sempurna insya-Allah. Adapun sifat sujud untuk orang yang sakit saat shalat duduk atau lainnya, akan dibahas secara ringkas dalam pembahasan shalat untuk orang yang sakit, dsj.

Larangan Menahan Rambut bagi Pria

Selain pada hadits di atas, terdapat hadits-hadits lain yang melarang untuk menahan rambut.  Rasulullah juga mengatakan:

“Ikatan rambut seperti itu (yakni di saat shalat) adalah tempat duduk setan.” (HR. Abu Daud 646, at-Tirmidzi 384, lihat Shahih Abu Daud dan Shahih at-Tirmidzi karya Syaikh al-Albani)

Imam At-Tirmidzi mengatakan, “Yang diamalkan oleh ahlul ilmi adalah mereka membenci seseorang shalat dalam keadaan rambutnya terikat.” (Sunan at-Tirmidzi 1/238)

Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Suatu ketika ia melihat Abdullah bin Harits shalat dalam keadaan rambut kepalanya terikat ke belakang. Ibnu ‘Abbas lalu bangkit melepaskan ikatan tersebut. Ketika Abdullah bin Harits selesai shalat, ia menghadap Ibnu ‘Abbas seraya bertanya, “Ada apa dengan rambutku?” Ibnu ‘Abbas kemudian menyampaikan hadits yang pernah didengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:

“Permisalah orang yang demikian (mengingkat rambutnya-admin) hanyalah seperti orang yang shalat dalam keadaan terikat kedua tangannya.” (HR. Muslim 1101)

Ibnu Atsir rahimahullah menerangkan: “Makna hadits ini adalah apabila orang yang shalat, rambutnya digerai (tidak diikat) maka rambut tersebut akan jatuh ke tanah saat sujud sehingga pemiliknya akan diberikan pahala sujud dengan rambutnya. Namun, apabila rambutnya terikat, jadilah ia termasuk dalam makna orang yang tidak sujud. Ia diserupakan dengan orang yang terikat kedua tangannya, karena kedua tangan tersebut tidak bisa menyentuh tanah di saat sujud.” (an-Nihayah fi Gharibil Hadits)

Mengikat Rambut bagi Wanita dalam Shalat

Diperkenankan dan diizinkan bagi wanita untuk mengikat rambutnya dalam shalat. Imam al-Iraqi asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Larangan mengikat rambut itu khusus bagi laki-laki dan tidak berlaku bagi wanita karena rambut wanita adalah aurat yang wajib ditutup saat shalat. Apabila dilepas ikatan rambutnya bisa jadi tergerai (keluar disela-sela kerudung) dan tidak bisa ditutup (karena panjangnya) sehingga bisa membatalkan shalatnya. Selain itu, melepaskan ikatan rambut untuk mengerjakan shalat akan menyulitkan mereka. Di saat mandi saja (yaitu mandi wajib/janabah-admin) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan bagi mereka untuk tidak melepas ikatan rambut padahal ketika itu ada kebutuhan untuk membasahi seluruh rambut. (Nailul Authar 2/228)

Hukum Shalat dengan Menahan Rambut dan Pakaian

Ulama berselisih pendapat tentang hukum mengikat rambut dan menahan pakaian (dengan menggulung lengan baju, atau kain sarung dibawah-admin), a.l. yaitu:

1. Shalat tidak sah dan harus diulang. Hal ini sebagaiamana yang dinukilkan dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah.

2. Shalat tetap sah. Hal ini merupakan pendapat jumhur di antaranya ‘Atha dan asy-Syafi’i mengatakan sah, dan ini merupakan pendapat yang kuat, dan bahkan dinukilkan kesepakatan ulama dalam hal ini dari Muhammad bin Ja’far ath-Thabary rahimahullah. (al-Isyraf ‘ala Madzahibil Ulama li Ibnul-Mundzir 2/34, al-Majmu’ 4/30)

Tenang (Thuma’ninah) dalam Sujud

Wajib tenang dalam sujud, sebagaimana dalam rukun-rukun shalat lainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jika engkau sujud, mantapkanlah wajahmu dan tanganmu, sampai tenang semua tulangmu pada tempatnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah 1/80/1 dengan sanad hasan)

I’tidal dalam Sujud

I’tidal yang dimaksud disini bukanlah i’tidal berupa rukun gerakan shalat setelah ruku’, melainkan i’tidal secara bahasa ketika sujud. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اِعْتَدِلُوْا فِى السُّجُوْدِ
“Luruslah kalian dalam sujud!” (HR. Bukhari 882 dan Muslim 1102)”

Yang dimaksud lurus dalam sujud, kata al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi rahimahullah dalam ‘Aridhatul Ahwadzi 2/66-67, adalah seimbang tumpuan pada kedua kaki, kedua lutut, kedua tangan, dan wajah. Jadi, tidak ada satu anggota sujud yang mendapat beban lebih dari yang lain. Dengan demikian terwujudlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku diperintah untuk sujud di atas tujuh tulang.” Sementara itu, apabila kedua lengan dibentangkan seperti larangan meniru anjing membentangkan kedua kaki depannya, niscaya yang jadi tumpuan adalah lengan bawah bukan wajah.

Ibnu Daqiqil Id rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud i’tidal /lurus adalah melakukan tata cara sujud sesuai dengan apa yang diperintahkan/ditetapkan oleh syariat. (Ihkamul Hadits no. 96).

Faidah: Yakni bukanlah yang dimaksud adalah dengan meluruskan punggung. Hal ini tidak pernah dinukil dari seorang sahabat pun yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meluruskan punggungnya saat sujud, namun yang benar adalah meluruskan punggung ketika ruku’. Yang diajarkan dalam as-Sunnah hanyalah perut dijauhkan dari kedua paha, tidak menempel sehingga punggung dalam posisi tinggi/terangkat. Perbuatan meluruskan punggung saat sujud, selain berlebih-lebihan juga memberikan kesulitan bagi orang yang shalat karena berat badan bertumpuh pada leher sehingga sangat memayahkan. (Majmu’ fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah 13/188 dan 379, asy-Syarhul Mumti’ 3/121)

Do’a / Dzikir ketika Sujud

Salah satu bentuk do’a ketika sujud adalah:

1. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُوْلَ فِيْ رُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ: سُبْحاَنَكَ اللَّهُمَّ رَبَّناَ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak membaca di dalam ruku’ dan sujudnya yang artinya “Maha Suci Engkau ya Allah Rabb kami, dan dengan puji-Mu ya Allah ampunilah dosaku.” (HR. Al-Bukhari no. 794 dan Muslim no. 1085)

2. Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ -يَعْنِي النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُولُ فِي رُكُوْعِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ؛ وَفِي سُجُوْدِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى

“Adalah Nabi dalam rukuknya membaca ‘subhana rabbiyal-azhim’ (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung); dan dalam sujudnya subhana rabbiyal a’la (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi).” [Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Ahmad. Dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 333; Shahih Sunan Abu Dawud no. 871]

Sujud di Atas Tanah dan Alas Tikar

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah berkata.” Asalnya, sujud dilakukan dengan meletakkan anggota sujud langsung bersentuhan dengan tanah.bumi tanpa penghalang. Demikian yang afdhal karena menunjukkan puncak ketundukan/menghinakan diri kepada Allah ‘azza wajalla. Namun, apabila seseorang sujud di atas sesuatu yang menjadi alas atau penghalang antara dia dan tanah, tidak apa-apa dan tidak ada larangannya. Shalatnya sah. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sujud dengan apa yang mudah bagi beliau. Beliau pernah sujud di atas bumi (tanpa alas), dan terkadang sujud di atas tikar. Ulama mengatakan, “Alas yang dipakai untuk sujud orang yang shalat ada tiga macam:

  1. Ia sujud di atas alas yang terpisah dari dirinya, seperti hamparan (tikar atau permadani atau khumrah yang sekadar mengalasi wajah atau yang semisalnya). Yang seperti ini tidak apa-apa walaupun yang afdhal adalah langsung di atas tanah/lantai.
  2. Alas yang bersambung dengan orang yang shalat, seperti imamah/sorbannya dan ujung bajunya (pada lengan untuk pria/wanita, dan juga pada kaki khusus untuk wanita-admin). Ini juga tidak mengapa karena para shahabat pernah melakukannya saat shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Waktu itu, mereka merasakan tanah begitu panas sehingga mereka kesulitan sujud di atasnya. Boleh juga memakai alas ini untuk menghindari duri atau kerikil.
  3. Alas tersebut bersambung dengan orang yang shalat yang merupakan anggota-anggota sujudnya. Hal ini menyebabkan shalatnya tidak sah. Misalnya, ia membentangkan kedua telapak tangannya di atas tanah lantas sujud dengan meletakkan dahinya di atas telapak tangannya tersebut. (Tashilul Ilmam, 2/253)

Perbanyak Do’a Ketika Sujud

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan memperbanyak do’a ketika sujud, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Adapun ruku’, maka agungkanlah di dalamnya Ar-Rabb (Allah) ‘azza wajalla, dan adapun dalam sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, sebab akan lebih cepat dikabulkan do’a kalian.”(HR. Muslim 479, An-Nasa-i 1120, Abu Daud 876, Ahmad 1/219, dan Ad-Darimi 1325)

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb (Pencipta-admin)-nya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah do’a (ketika sujud).” (HR. Muslim 482, An-Nasa-i 1137, Abu Daud 875, dan Ahmad 2/421)

Faidah:

Terdapat kekeliruan di kalangan muslimin yang melakukan sujud selesai shalat dengan tujuan untuk berdo’a di dalamnya. Hal ini merupakan kebodohan karena yang dimaksud Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sujud di dalam shalat, sedangkan apabila diluar shalat maka hendaknya berdo’a dengan membentangkan kedua belah tangan ke atas meminta kepada Allah ta’ala sebagaimana yang diajarkan Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Diperbolehkan berdo’a dengan segala do’a-do’a yang baik sesuai dengan kebutuhan, baik yang sudah dicontohkan atau pun tidak, karena dalam hal ini tidak ada pembatasan melainkan pelarangan membaca Al-Qur-an dalam sujud dan ruku’. Untuk itu, sebagian ulama ada yang menyarankan seseorang yang ingin berdo’a dengan do’a dalam Al-Qur-an untuk merubah sedikit kata-kata di awal dengan tidak merubah makna seluruhnya agar tidak hilang faidahnya.

Sebagian ulama juga seperti salah satu pendapat Imam Ahmad, dan dikuatkan oleh Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan, memperbolehkan berdo’a untuk kebutuhan dengan menggunakan selain bahasa arab, misalnya dengan bahasa Indonesia. Wal ‘ilmu ‘indallah.

Bekas Hitam di Dahi karena Sujud adalah Tanda Orang Shalih?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hal itu bukan tanda orang-orang shalih. Yang menjadi tanda justru cahaya yang tampak pada wajah (wajah tampak bercahaya/tidak suram dan menghitam), dada yang lapang, akhlak yang baik, dan yang semisalnya. Adapun bekas sujud yang tampak pada dahi, terkadang juga tampak pada wajah orang-orang yang hanya mengerjakan shalat fardhu karena kulitnya yang tipis, sementara itu pada wajah orang yang banyak mengerjakan shalat dan sujudnya lama terkadang tidak tampak.” (Majmu’ Fatawa, fatawa no. 523, 13/188)

Wallahu a’lam

Sumber:

  1.  أصل صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم, Syaikh Al-Albani rahimahullah, cetakan pertama.
  2. Dzikir dalam Ruku’ dan Sujud. Penulis : Al Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=271.
  3. Rubrik Seputar Hukum Islam. Majalah Asy-Syariah edisi 77, 79, dan 80.
  4. Lainnya.

5 Responses

  1. Bismillah,
    Afwan ustadz, saat berdoa didalam sujud, apakah boleh pengucapannya dgn dilafadzkan (diucapkan dgn lirih) ? karena dalam beberapa riwayat (yg ana juga belum yakin kebenarannya) ada yg melarang kita utk membaca/mengucapkan ucapan2 lain selain yg dituntunkan dlm rukun sholat.

    jazaakallohu khoir,

    Abu Bilqis, Bangil

    • Afwan, saya bukan ustadz, baru belajar, dan mencoba mengamalkan pengetahuan a.l. dengan membagi ilmu.
      Anjuran nabi dlm hadist di atas tidak membatasi dlm berdoa kecuali membaca Alquran dlm rukuk dan sujud. Wallahu a’lam, saya sependapat bahwa tidak mengapa membaca dgn jelas/lafazh do’a. Adapun dzikir do’a yg lain tetap dengan bahasa arab, sebagaiman perintah nabi, “sholatlah kalian sebagaimana aku sholat.”

  2. terimakasih ilmunya……..

  3. saya mohon izin untuk mengcopy sebagian isi blog anda untuk keperluan tugas kuliah. Apakah anda keberatan?

    sebelumnya terima kasih atas ilmu yang dibagikan, semoga diberikan berkah Allah yang melimpah..

    • Silakan, semoga bermanfaat. Apabila tidak mengurangi nilai tugas, agar dapat menyebutkan sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: