Nabi Ayyub ‘Alaihissalam


Beliau ‘alaihisalam termasuk nabi dari keturunan Bani Israil dan hamba Allah yang pilihan. Allah ta’ala menyebut namanya dalam Kitab-Nya dan memuji dengan pujian yang baik, terutama terhadap kesabarannya dalam menghadapi ujian yang beliau alami.

Nasab dan Keturunannya

Nabi Ayyub ‘alaihissalam adalah, wallahu a’lam, putra dari Aish bin Ishaq ‘alaihissalam bin Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Nabi Yaqub ‘alaihissalam, Aish adalah saudara kembar Nabi Yaqub ‘alaihissalam, jadi Nabi Ayyub masih kemenakan Nabi Yaqub ‘alaihissalamdan sepupu Nabi Yusuf ‘alaihissalam.

Nabi Ayyub ‘alaihissalam adalah salah seorang nabi yang terkenal kaya raya, hartanya melimpah, ternaknya tak terbilang jumlahnya. Namun demikian ia tetap tekun beribadah, gemar berbuat kebajikan, suka menolong orang yang menderita, terlebih dari golongan fakir miskin. Diperkirakan beliau ‘alaihissalam tinggal di dataran Hauran (saat ini sekitar Syria dan Yordania) sekitar 1500 SM.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya menukilkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Ayyub ‘alaihissalam dinamakan demikian karena beliau selalu kembali (dari kata ) kepada Allah ta’ala segenap keadaannya.

Keraguan iblis terhadap ketaatan Nabi Ayyub Alaihissalam

Para malaikat di langit terkagum-kagum dan membicarakan tentang ketaatan Ayyub ‘alaihissalam dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah. Iblis yang mendengar pembicaraan para malaikat ini merasa iri dan ingin menjerumuskan Ayyub ‘alaihissalam agar menjadi orang yang tidak sabar dan celaka.

Mula-mula iblis mencoba sendiri menggoda Nabi Ayyub ‘alaihissalam agar tersesat dan tidak bersyukur kepada Allah, namun usahanya ini gagal, Nabi Ayyub tetap tak tergoyahkan. Lalu iblis menghadap Allah, meminta agak ia diizinkan untuk menguji keikhlasan Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Allah ta’ala yang Maha Mengetahui memberitahukan kepada iblis bahwa Ayyub alaihissalam adalah hamba-Nya yang sangat taat, sesorang mu’min sejati.

Sesungguhnya iblis tidak rela melihat hamba-hamba-Nya, anak cucu Adam ‘alaihissalam, berada di atas jalan yang lurus. Untuk menguji keteguhan hati Ayyub ‘alaihissalam dan keimanannya pada takdir Allah ta’ala, maka Allah ‘azza wajalla mengizinkan iblis untuk menggoda dan mencoba memalingkannya dari Allah ta’ala. Iblis mengerahkan seluruh pembantu-pembantumu untuk menggoda Ayyub ‘alaihisalam melalui harta dan keluarganya, menceraiberaikan keluarganya yang rukun damai sejahtera itu untuk melihat sampai dimana kemampuan iblis untuk menyesatkan Nabi Ayyub ‘alaihissalam.

Ujian dan cobaan Allah terhadap Nabi Ayyub Alaihissalam

Demikianlah, iblis dan para pembantunya mulai menyerbu keimanan Nabi Ayyub ‘alaihissalam.

Kehilangan Harta dan Kekayaan

Mula-mula mereka membinasakan hewan ternak pemeliharaan Ayyub ‘alaihissalam, disusul lumbung-lumbung gandum dan lahan pertaniannya yang terbakar dan musnah.

Iblis mengira Ayyub akan berkeluh kesah setelah kehilangan ternak dan pertaniannya, namun ternyata Ayyub tetap berhusnuzhon (berbaik sangka) kepada Allah. Segalanya ia pasrahkan kepada Allah. Harta adalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat saja diambil kembali.

Kehilangan Keluarga Yang Dicintai

Berikutnya iblis mendatangi putra-putra Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang sedang berada di sebuah gedung yang besar dan megah. Mereka menggoyang-goyangkan tiang-tiang gedung sehingga gedung itu roboh dan anak-anak Ayyub ‘alaihissalam yang berada di dalamnya mati semuanya.

Iblis mengira usahanya kali ini akan berhasil menggoyahkan iman Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang sangat menyayangi putra-putranya itu, namun sekali lagi mereka harus kecewa. Nabi Ayyub ‘alaihissalam tetap berserah diri kepada Allah. Ia memang bersedih hati dan menangis, tapi jiwa dan hatinya tetap kokoh dalam keyakinan bahwa jika Allah ta’ala yang Maha Pemberi menghendaki sesuatu, tak ada seorang pun yang mampu menghalangi-Nya.

Kehilangan Kesehatan dan Kehidupan Sosial

Iblis yang masih belum puas, lalu menaruh baksil di sekujur tubuh Ayyub ‘alaihissalam sehingga beliau menderita penyakit kulit yang sangat menjijikkan. Ibnu Katsir menceritakan dalam tafsirnya, Nabi Ayyub ‘alaihissalam diuji melalui tubuhnya. Ada yang menyebutkan berupa penyakit lepra yang menyerang selu-ruh tubuhnya tan-pa menyisakan seujung jarumpun dari tubuhnya. Tidak ada yang selamat dari ang-gota tubuhnya kecuali hati dan lisannya, yang dengan keduanya beliau berdzikir mengingat Allah ‘azza wajalla.

Oleh karena itu, ia dijauhi sanak famili dan tetangganya. Istri-istrinya banyak yang lari meninggalkannya, hanya seorang saja yang tetap setia mendampinginya, yaitu Rahmah. Lebih parah lagi, para tetangga Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang tidak mau ketularan penyakit yang diderita Nabi Ayyub ‘alaihissalam, mengusirnya dari kampung mereka. Maka pergilah Nabi Ayyub ‘alaihissalam dan istrinya Rahmah ke sebuah tempat yang sepi dari manusia.

Kehilangan Istri Shalihah yang Dicintainya

Waktu 7 tahun dalam penderitaan terus-menerus memang merupakan ujian terberat bagi Ayyub ‘alaihissalam dan Rahmah, namun Nabi Ayyub ‘alaihissalam tetap bersabar dan berzikir menyebut Asma Allah. Diriwayatkan bahwa istrinya berkata, wallahu a’lam,

“Hai Ayyub, seandainya engkau berdoa kepada Tuhanmu, niscaya dia akan membebaskanmu.”

Namun Nabi Ayyub ‘alaihissalam malah menjawab, wallahu a’lam,

“Aku telah hidup selama 70 tahun dalam keadaan sehat, dan Allah baru mengujiku dalam keadaan sakit selama 7 tahun. Ketahuilah, itu amat sedikit dibandingkan masa 70 tahun.”

Begitulah, Nabi Ayyub ‘alaihissalam menerima ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sabar dan ikhlas. Ia telah hidup dalam kenikmatan selama puluhan tahun, maka ia merasa malu untuk berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kesengsaraan yang hanya beberapa tahun. Sakit Nabi Ayyub ‘alaihissalam membuat tidak ada lagi anggota badannya yang utuh kecuali jantung/hati dan lidahnya. Dengan hati dan lidahnya ini, Nabi Ayyub ‘alaihissalam tak pernah berhenti berzikir kepada Allah ta’ala, baik di waktu pagi, siang, sore dan malam hari.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Rahmah terpaksa bekerja pada suatu pabrik roti. Pagi ia berangkat, sorenya ia kembali ke rumah pengasingan. Namun lama-kelamaan majikannya mengetahui bahwa Rahmah adalah istri Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang memiliki penyakit berbahaya. Mereka khawatir Rahmah akan membawa baksil yang dapat menular melalui roti, oleh sebab itu mereka kemudian memecatnya.

Rahmah yang setia ini masih memikirkan suaminya. Ia meminta agar majikannya berkenan memberinya hutang roti, tetapi permintaannya ini ditolak. Majikannya hanya mau memberinya roti jika ia memotong gelung rambutnya yang panjang, padahal gelung rambut itu sangat disukai suaminya. Namun demi untuk mendapatkan roti, Rahmah akhirnya setuju dengan usul majikannya itu.

Ternyata, perbuatannya itu membuat Ayyub ‘alaihissalam menduga bahwa ia telah menyeleweng. Akhirnya pada suatu hari, mungkin karena sudah tidak tahan dengan penderitaan yang terus-menerus dihadapi, Rahmah pamit untuk meninggalkan suaminya. Ia beralasan ingin bekerja agar dapat menghidupi suaminya. Nabi Ayyub ‘alaihissalam melarangnya, tapi Rahmah tetap bersikeras sembari berkeluh kesah. Sesungguhnya tindakan Rahmah ini pun tak lepas dari peranan iblis yang menghasutnya untuk meninggalkan suaminya Ayyub.

Mendengar keluh kesah istrinya, berkatalah Ayyub ‘alaihissalam, wallahu a’lam,

“Kiranya kau telah terkena bujuk rayu iblis, sehingga berkeluh kesah atas takdir Allah ta’ala. Awas, kelak jika aku telah sembuh kau akan kupukul seratus kali. Mulai saat ini tinggalkan aku seorang diri, aku tak membutuhkan pertolonganmu sampai Allah menentukan takdir-Nya.”

Turunnya Pertolongan Allah ta’ala

Dengan demikian tinggallah kini Nabi Ayyub ‘alaihissalam seorang diri setelah ia mengusir Rahmah istrinya. Di tengah kesendiriannya, Nabi Ayyub ‘alaihissalam bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih-Nya. Allah ta’ala berfirman:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: ‘(Ya Rabbku), sesung-guhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya`: 83-84)

Dalam dua ayat yang mulia ini, Allah ‘azza wajalla memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar mengingat Nabi Ayyub ‘alahissalam ketika beliau berdoa kepada Rabbnya: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Doa tersebut dikabulkan oleh Allah ta’ala yang kemudian melepaskan beliau dari semua musibah yang menimpa beliau. Allah ta’ala berfirman:

ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

“Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. Shaad: 42)

Beliaupun menghantamkan kakinya, lalu memancarlah mata air yang segar. Kemudian dikatakan kepada beliau, “Minumlah dari air itu dan mandilah!”

Setelah itu Allah ta’ala memberikan keluarga beliau kepada beliau dan yang seperti mereka sebagai rahmat serta peringatan bagi orang-orang yang mengabdikan diri kepada Allah ta’ala, karena hanya merekalah yang dapat memetik manfaat dari semua peringatan ini.

Setelah meminum dan mandi dengan air itu, Ayyub pun sembuh seperti sedia kala. Sementara itu Rahmah istrinya yang telah pergi meninggalkannya, rupanya lama-kelamaan merasa kasihan dan tak tega membiarkan suaminya seorang diri. Ia datang untuk menjenguk, namun ia tak mengenali lagi suaminya, karena kini Nabi Ayyub ‘alaihissalam tampak lebih sehat, lebih segar, dan lebih tampan. Nabi Ayyub ‘alaihissalam sangat gembira melihat istrinya kembali, namun ia teringat sumpahnya yaitu ingin memukul istrinya seratus kali. Ia harus melaksanakan sumpah itu, tapi ia bimbang karena bagaimanapun istrinya telah turut menderita sewaktu bersamanya 7 tahun ini.

Allah mengetahui kebimbangan yang dirasakan Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Maka datanglah wahyu Allah kepada Nabi Ayyub,

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ ۗ

“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput ilalang atau sejenisnya sejumlah seratus batang), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. …” (QS. Shad: 44)

Nabi Ayyub merasa lega dengan jalan keluar yang diwahyukan Allah itu. Dengan lidi seratus, dipukulnya istrinya dengan satu kali pukulan yang sangat pelan, maka sumpahnya telah terlaksana.

Berkat kesabaran dan keteguhan imannya, Nabi Ayyub ‘alaihissalam dikaruniai lagi harta benda yang melimpah ruah. Dari Rahmah, ia kemudian memperoleh anak bernama Basyar yang kemudian hari menjadi seorang nabi yang dikenal dengan nama Zulkifli.

Beberapa Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Ayyub ‘alaihisalam

1. Salah satu pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah ini adalah bahwa kesabaran yang dimiliki seorang hamba ketika menghadapi sebuah musibah, akan senantiasa menghasilkan kebaikan. Karena memang sudah menjadi kepastian dari Allah ta’ala bahwa ketika seorang hamba mampu bersikap sabar atas sebuah musibah yang menimpanya, maka Allah ta’ala akan memberikan banyak kebaikan kepadanya. Sebagaimana Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang ditimpa penyakit kulit yang demikian hebat, namun beliau senantiasa bersabar dan ridha dengan apa yang menimpanya. Akhirnya Allah ta’ala pun menyembuhkannya dan mengganti musibah itu dengan berbagai kenikmatan.

2. Asy-Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah dalam tafsirnya (4/514) menerangkan bahwa ** dalam ayat-ayat tersebut muncul satu pertanyaan, bagaimana bisa dikatakan Nabi Ayyub ‘alaihissalam sebagai orang yang sabar sebagaimana dalam firman Allah ta’ala:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ

“… . Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. …” (QS. Shaad: 44)

Padahal beliau mengatakan, sebagai-mana dalam firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Dan firman-Nya:

أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

“… . Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan. (QS. Shaad: 41)”

Ucapan beliau  (Aku telah ditimpa penyakit), bukanlah keluhan, karena Allah sudah menyatakan beliau adalah orang yang sabar:  (Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar). Bahkan ucapan beliau ini tidak lain adalah doa. Karena mengeluhkan sesuatu yang dirasakan itu dilakukan kepada makhluk bukan kepada Allah ta’ala, sedangkan doa tidaklah menggugurkan rasa ridha terhadap musibah yang dialami. Apalagi Allah ta’ala menyatakan:  (Maka Kami perkenankan seruannya itu). Dan ijabah terjadi karena adanya suatu doa, bukan keluhan. **

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menerangkan (Al-Fatawa, 22/382): *** “Doa itu tidak disyariatkan kosong begitu saja, tetapi harus disertai pujian. Adapun pujian atau sanjungan dengan hanya semata-mata menyebutkan sanjungan adalah disyariatkan, tidak makruh. Dan sanjungan atau pujian itu sendiri mengandung tujuan atau maksud suatu doa. Maka apabila seseorang yang berdoa memuji atau menyanjung yang diserunya dengan sesuatu yang mengandung tercapainya tujuannya, berarti dia telah sempurna dalam menyebutkan apa yang diinginkannya. Hal ini seperti yang diucapkan oleh Nabi Ayyub ‘alaihissalam, sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Ucapan beliau itu lebih indah dan sempurna daripada kalimat  (Rahmatilah aku). Doa beliau: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”, datang dalam bentuk berita yang mengandung permintaan. Dan ini merupakan salah satu etika dalam berdoa dan meminta. Menerangkan keadaan dan kebutuhan adalah permintaan yang tampak melalui keadaan lahiriah. Ini lebih sempurna dalam menerangkan dan lebih jelas dalam hal maksud dan keinginan.” ***

3. Dalam kisah ini juga terdapat dalil bahwa kaffaratul yamin (tebusan sumpah) belum disyariatkan dalam agama-agama sebelum kita. Dan kedudukan sumpah ini sama seperti nadzar bagi mereka, artinya harus ditunaikan secara sempurna. Dalam peristiwa tersebut (Nabi Ayyub mencambuk istrinya-admin) juga terdapat dalil bahwa orang yang tidak sanggup untuk menerima hukuman had karena kelemahan atau hal-hal lainnya (sakit dan sebagainya), boleh mengganti dengan sesuatu yang setara nilainya. Sebab, tujuan diberlakukannya hukuman had itu bukanlah untuk merusak atau membinasakan.

Penutup

Kisah Nabi Ayyub Alaihissalam ini merupakan teladan bagi hamba-hamba-Nya dalam hal kesabaran dan keteguhan iman. Dan ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu:

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang seperti mereka dan yang seperti mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila dien-nya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau dien-nya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar dien-nya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi)

Riwayat Nabi Ayyub Alaihissalam terdapat dalam surat Al-Anbiyâ: 83-84 dan surat Sâd: 41-44.

Sumber:

  1. Nabi Ayyub Alaihissalam. http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/15/ayyub-zulkipli-syuaib/.
  2. Kisah Nabi Ayyub. Majalah Asy-Syariah Ed. 9 . Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar.Sumber Rujukan: Diambil dari Taisir Al-Lathifil Mannan fi Khulashah Tafsiril Qur’an karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah. http://www.asysyariah.com/syariah/jejak/1108-kisah-nabi-ayyub-ibrah-edisi-19.html.

2 Responses

  1. Assalamualaikum, mohon ijin untuk repost tulisannya di blog saya. terimakasih. Wassalamualaikum.

    • Wa’alaykumussalam warahmatuLLAH, silakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: