AIR , Asalnya Suci Menyucikan


Di negeri kita, alhamdulillah, air mudah dijumpai. Salah satu manfaat terbesar dari air adalah untuk bersuci. Banyaknya jenis air yang ada menuntut kita untuk memahami mana air yang bisa dipakai untuk bersuci dan yang tidak.

NIKMAT YANG BESAR BAGI MANUSIA & MAKHLUK BUMI

Air merupakan salah satu nikmat Allah ta’ala yang sangat besar nilainya bagi kehidupan. Hampir seluruh makhluk di muka bumi membutuhkan air untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, sehingga sering kita mendengar orang mengatakan air adalah sumber kehidupan. Allah ta’ala sendiri telah berfirman:

“Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air.” (al-Anbiya’: 30)

Yakni segala sesuatu yang hidup baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, membutuhkan air demi kehidupan dan pertumbuhannya serta tidak dapat lepas darinya, sehingga tidak ada kehidupan di muka bumi tanpa air. (Ruhul Ma’ani, 17/36)

Air sebagai Penyuci

Sementara di dalam syariat yang mulia ini air juga digunakan sebagai alat bersuci (baca pembahasan menghilangkan najis dengan air dan selain air disini), untuk mandi, berwudhu, dan yang selainnya. Air juga merupakan asal yang digunakan dalam thaharah (bersuci).

PENGERTIAN AIR (MUTLAK)

Adapun pembahasan air yang kita bawakan di sini adalah air mutlak, bukan air yang telah berubah namanya karena adanya benda suci (semisal teh, gula dan zat pencampur yang suci lainnya-admin) yang bercampur atau dimasukkan ke dalamnya. Air mutlak inilah yang bisa digunakan untuk menghilangkan hadats, sedangkan benda cair lainnya tidak bisa menghilangkan hadats (tidak bisa digunakan untuk bersuci, wudhu, dan mandi). (Syarhul ‘Umdah, 1/61—62)

Air mutlak meliputi seluruh air yang keluar dari dalam bumi atau yang turun dari langit yang tetap sebagaimana asal penciptaannya, ataupun berubah karena tersimpan lama atau karena kemasukan/kejatuhan benda-benda yang suci, walaupun mengalami banyak perubahan (selama tidak mendominasi). Contohnya adalah air laut (meskipun bercampur kotoran hewan laut selama tidak mendominasi), air hujan, air danau (meskipun bercampur lumut dan semisalnya), air sungai (meskipun keruh karena bercampur tanah).

Allah ta’ala berfirman:

“Lalu jika kalian tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan menggunakan tanah/debu yang bersih.” (al-Ma’idah: 6)

Dalam ayat di atas, Allah ta’ala memerintahkan untuk menggunakan tanah (tayammum) bila tidak mendapatkan air untuk wudhu atau mandi janabah/haid, sekalipun kita masih bisa mendapatkan benda cair atau benda yang mengalir lainnya (semisal susu perahan ternak, getah/lendir tanaman-admin). (asy-Syarhul Mumti’, 1/22, 38)

Air bila telah bercampur dengan teh telah berubah namanya menjadi teh bukan lagi air mutlak. Begitu pula jika bercampur dengan susu ataupun sirup (tidak lagi disebut air). Dengan demikian, air (yang keluar dari kemutlakannya) ini tidak bisa digunakan untuk bersuci. (al-Muhalla, 1/202)

Ini merupakan pendapat Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, Dawud, dan selain mereka. Pendapat ini pula yang dipegangi oleh al-Hasan, ‘Atha ibnu Abi Rabah, Sufyan ats-Tsauri, Abu Yusuf, Ishaq, Abu Tsaur, dan selain mereka rahimahumullah. (al-Muhalla, 1/202, 220)

HUKUM ASAL AIR (MUTLAK) ADALAH SUCI MENYUCIKAN

Setelah kita mengetahui pengertian air (mutlak), maka sesungguhnya hukum asal air adalah suci mensucikan.

Air yang suci itu bisa digunakan untuk bersuci sekalipun kemasukan atau bercampur dengan benda yang suci selama masih melekat padanya nama air, belum berganti kepada nama lain, dan benda yang mencampurinya itu tidak mendominasi air tersebut. (Majmu’ Fatawa, 21/25, al-Muhalla, 1/199, al-Mughni, 1/22, Sailul Jarrar, 1/58)

Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam:

الْمَاءُ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

‘Air itu suci tidak ada sesuatu pun yang dapat menajisinya’.” (HR. Ahmad 3/16, 31, an-Nasa’i no. 324, Abu Dawud no. 60, dan at-Tirmidzi no. 66. Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih an-Nasa’i no. 315, Shahih Abu Dawud no. 60, dan Shahih at-Tirmidzi no. 56)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: Hadits yang sahih ini menunjukkan asal air secara keseluruhan itu suci, bisa digunakan untuk thaharah dan selainnya. Kecuali air yang berubah warna, rasa, ataupun baunya karena kemasukan benda-benda yang najis, sebagaimana hal ini disebutkan pada sebagian lafadz hadits. (dalam kitabnya Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar hlm. 24—25)

Penting untuk diketahui disini perbedaan antara najis dan kotor, semisal ingus dan luda apakah dianggap kotor atau merupakan najis. Pengertian tentang najis dan jenis-jenisnya dapat dibaca disini.

Keraguan tentang Kesucian Air yang Dijumpai

Bila kita ragu terhadap air, apakah ia suci atau najis, maka kita kembali kepada hukum asal bahwa air itu suci. Adapun keraguan yang timbul setelah adanya keyakinan, apakah airnya ternajisi atau tidak, maka tidak perlu dihiraukan karena hukum air tersebut tetap suci. (Syarhul ‘Umdah, 1/83, al-Furu’, 1/61, Sailul Jarrar, 1/59—60)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata setelah membawakan hadist Abu Sa’id Al-Khudry tentang “air itu suci …” : Hadits ini menunjukkan pula bahwasanya hukum asal air itu suci, demikian pula hal-hal selain air. Maka kapan pun terjadi keraguan, apakah didapatkan padanya sebab kenajisan atau tidak, maka kembalinya pada hukum asal yaitu sesuatu itu tetap suci. (dalam kitabnya Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar hlm. 24—25)

Keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan (al-Mughni, 1/43).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan di dalam al-Majmu’ (1/224) bahwa dalil dalam hal ini adalah hadits ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu tentang seorang laki-laki yang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ia mendapatkan angin yang berputar di dalam perutnya ketika sedang shalat. Namun ia bingung, apakah angin itu keluar dari duburnya ataukah tidak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:

“Jangan ia berpaling dari shalatnya (membatalkannya) hingga ia mendengar suara (kentutnya) atau mencium baunya.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361)

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang tersebut untuk membangun keyakinannya di atas hukum asal yaitu asalnya dia dalam keadaan suci (berwudhu). Adapun ia kentut atau tidak maka itu adalah keraguan yang muncul belakangan. Hukum asal thaharah-nya itu baru hilang bila ia yakin akan keluarnya angin dari duburnya, baik dengan mendengar suaranya maupun mencium baunya.

AIR (MUTLAK) YANG SUCI DAN MENYUCIKAN

Telah jelas dan gamblang bagi masyarakat secara umum mengenai air seperti apa yang dapat mensyucikan, mereka memilih-milih air untuk mensucikan pakaian dan badan mereka, di antaranya mengambil air sungai, danau, air tanah, dsb. Hal ini berdasarkan dalil umum sebagaimana yang disebutkan di atas begitu pula firman-Nya:

“Dia menurunkan bagi kalian air dari langit untuk menyucikan kalian dengannya….” (al-Anfal: 11)

“Dan Kami menurunkan air dari langit sebagai penyuci.” (al-Furqan: 48)

Dua ayat yang mulia ini menerangkan bahwasanya air yang turun dari langit itu suci dan dapat menyucikan najis serta dapat menghilangkan hadats baik hadats besar terlebih lagi hadats kecil. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 13/28, Tafsir Ibnu Katsir, 2/304, Syarhul ‘Umdah, hlm. 60—61)

Namun ada baiknya kita mengetahui beberapa dalil-dalil khusus tentang air yang mensucikan:

1. Air yang turun dari langit

2. Air yang keluar dan permukaan bumi

Air yang menyucikan ini tidak sebatas air yang turun dari langit, tetapi juga air yang keluar dari permukaan bumi seperti air sungai, air sumur, dan sebagainya. (al-Ausath, 1/246)

Hal ini sebagaimana dikatakan pula oleh al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsir-nya, “Air yang turun dari langit dan tersimpan di bumi itu suci, dapat menyucikan sekalipun berbeda-beda warna, rasa, dan baunya….” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 13/29)

3. Air laut

Demikian pula air laut, suci dan dapat menyucikan, bisa digunakan untuk wudhu dan mandi (al-Muhalla, 1/220, al-Mughni, 1/23, Tuhfatul Ahwadzi, 1/188, ‘Aunul Ma’bud, 1/107). Walaupun dalam permasalahan ini ada perselisihan pendapat di kalangan ahlul ilmi, namun telah datang berita yang pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya oleh para sahabatnya tentang berwudhu dengan air laut, beliau bersabda:

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Laut itu airnya suci dapat menyucikan dan halal bangkainya.”

Demikian dinyatakan oleh al-Imam Ibnul Mundzir rahimahullah. (al-Ausath, 1/247)

Kata الطَّهُوْرُ dalam hadits di atas bila ditinjau secara bahasa Arab diambil dari wazan (timbangan) فَعُولٌ yang merupakan sighah mubalaghah (bentuk kata dalam bahasa Arab untuk menyatakan berlebih-lebihannya sesuatu) dari kata طَاهِرٌ dan maksudnya adalah kesucian air laut itu melampaui dirinya, yakni ia dapat menyucikan yang selainnya (Syarhul Bulughul Maram, asy-Syaikh Shalih Alusy-Syaikh)

4. Air Musta’mal

Lihat pembahasan lengkapnya dibawah.

MASUKNYA NAJIS KE DALAM AIR

Pada satu keadaan, terkadang kita dapatkan air yang semula suci tercampur dengan sesuatu yang najis. Dari sini timbul pertanyaan, bagaimana keberadaan air tersebut? Apakah tetap suci dan dapat menyucikan atau air itu menjadi najis?

Ada perbedaan pendapat dalam permasalahan ini (yakni perbedaan dalam kadar dominansi najis yang masuk-admin). Namun yang rajih (kuat) adalah pendapat yang mengatakan air yang tercampur dengan najis tidaklah menjadi najis melainkan jika berubah sifatnya secara mutlak, warna, bau, ataupun rasanya, baik air itu banyak maupun sedikit. (Sailul Jarrar, 1/54)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Ulama telah bersepakat tentang najisnya air yang mengalami perubahan akibat kemasukan benda najis. Al-Imam Ahmad rahimahullah dan selainnya mengambil dalil tentang perkara ini dari firman Allah ta’ala:

“Diharamkan bagi kalian memakan bangkai, darah, dan daging babi, daging hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, hewan yang mati karena tercekik, yang dipukul dengan benda berat, yang jatuh dari tempat yang tinggi, yang ditanduk oleh hewan lain, yang diterkam oleh binatang buas kecuali yang sempat kalian sembelih, dan diharamkan pula bagi kalian hewan yang disembelih untuk berhala dan diharamkan bagi kalian untuk mengundi nasib dengan anak panah….” (al-Ma’idah: 3)

Sehingga kapan pun terlihat sifat-sifat dari benda-benda yang diharamkan ini di dalam air maka air tersebut menjadi najis.” (Dalam kitabnya Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar hlm. 24—25)

Dalil lain dari pendapat ini antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

الْمَاءُ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

“Air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajisinya.” (HR. Ahmad dan selainnya, lihat takhrij di atas)

Maksud hadits di atas, selama air tersebut belum berubah salah satu sifatnya karena bercampur/kemasukan benda yang najis maka ia tetap dalam kesuciannya. Adapun bila mengalami perubahan maka air tersebut bisa menjadi najis. (Majmu’ Fatawa, 21/32—33, al-Ikhtiyarat hlm. 298, al-Ausath, 1/260, Nailul Authar, 1/56, al-Mughni, 1/30, al-Majmu’, 1/163)

Ini merupakan pendapat Ibnu ‘Abbas dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma dari kalangan sahabat, serta pendapat al-Hasan al-Bashri, Ibnul Musayyab, ‘Ikrimah, Ibnu Abi Laila, ats-Tsauri, Dawud azh-Zhahiri, an-Nakha’i, Jabir bin Zaid, Malik, dan yang lainnya rahimahumullah. (Nailul Authar, 1/56)

PEMBAGIAN JENIS AIR UNTUK BERSUCI

Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama, yang mashyur tentang pembagian air ini adalah dua pendapat:

1. Air terbagi menjadi DUA, yaitu (a) air yang suci menyucikan dan (b) air yang najis.

Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan di atas. Air untuk bersuci adalah air mutlak (suci menyucikan), dan yang masuk padanya tidak lepas dari dua golongan suci atau najis. Apabila yang masuk pada air benda suci maka ia tetap suci mensucikan selama tidak mendominasi sehingga air tersebut telah berganti nama. Apabila yang masuk benda najis maka air tetap suci selama najis tidak mendominasi dengan merubah warna, rasa, dan baunya.

Pendapat ini merupakan mazhab Zhahiriyah dan sekelompok ahlul hadits, dan pendapat ini yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (Syarhul Bulughul Maram, asy-Syaikh Shalih Alusy-Syaikh).

2. Air terbagi menjadi TIGA, yaitu (a) air yang suci menyucikan, (b) air yang najis, dan (c) air yang suci namun tidak dapat menyucikan.

Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama.

Tarjih: Namun, wallahu ta‘ala a‘lam, yang menenangkan hati dalam permasalahan ini adalah pendapat yang membagi air hanya dua macam. Karena menetapkan adanya air suci namun tidak menyucikan perlu mendatangkan dalil, sementara tidak ada dalil dalam hal ini.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang benar air itu terbagi dua saja, suci menyucikan dan najis. Sedangkan air yang suci namun tidak menyucikan tidak ada wujudnya dalam syariat ini. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, dalilnya adalah karena tidak adanya dalil dalam masalah ini. Kalau air jenis ini ada dalam syariat niscaya urusannya akan diketahui serta dipahami dan terdapat hadits-hadits yang jelas serta gamblang menyebutkannya. Karena urusan ini bukanlah permasalahan yang remeh, namun berkaitan dengan pilihan apakah seseorang harus shalat dengan berwudhu menggunakan air atau ia harus tayammum karena tidak mendapatkan air yang dapat menyucikannya (wudhu).” (asy-Syarhul Mumti’, 1/44)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Adapun menetapkan jenis air yang ketiga, yaitu air yang suci tapi tidak menyucikan dan bukan pula air yang najis, tidaklah ada dalil syar‘i yang menunjukkannya, sehingga air tersebut tetap di atas asal kesuciannya (yaitu suci dan menyucikan).  Yang mendukung keumuman hal ini adalah firman Allah ta’ala:

“Jika kalian tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan menggunakan tanah/debu yang bersih.” (al-Ma’idah: 6)

Penyebutan air yang dalam ayat ini disebutkan secara umum, karena penyebutannya datang dalam bentuk nakirah (bentuk umum) dengan konteks penafian (kalimat negatif). Dengan demikian, masuk di dalamnya seluruh air kecuali air yang najis karena adanya ijma’ tentang hal ini. (Dalam kitabnya Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar hlm. 24—25))

AIR MUSTA’MAL

Pengertian Air Musta’mal

Air musta’mal adalah air yang telah dibasuhkan pada anggota badan kemudian berjatuhan atau bertetesan dari anggota badan tersebut, bukan air yang telah diciduk ataupun sisanya. Misalnya engkau mencuci wajahmu, maka air yang bertetesan dari wajahmu itu adalah air musta’mal. (asy-Syarhul Mumti’, 1/28)

Air Musta’mal adalah Suci

Hukum air yang musta’mal ini diperselisihkan oleh ulama, suci atau tidaknya. Namun yang rajih adalah pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama, yaitu air musta’mal ini suci, kecuali bila berubah salah satu dari tiga sifatnya karena benda najis. Adapun dalil jumhur sebagai berikut.

1. Perbuatan para sahabat yang mengambil air yang berjatuhan dari air wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mereka mengusapkannya ke badan mereka (Sahih, HR. al-Bukhari no. 187).

Seandainya air tersebut najis niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan membiarkan perbuatan tersebut.

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mandi janabah bersama istrinya dalam satu bejana, sebagaimana disampaikan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ  مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ نَغْتَرِفُ جَمِيْعًا

“Aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mandi dari satu bejana, kami menciduk air dari bejana tersebut secara bersama-sama” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 273 dan Muslim no. 321)

Sementara diketahui bila seseorang mandi pasti ada air dari tubuhnya yang jatuh kembali ke tempat penampungan air (bak ataupun bejana). Bila air tersebut najis niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan menggunakan air tersebut untuk mandi.

3. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ الْمُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ

“Sesungguhnya seorang muslim itu tidaklah najis.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 283 dan Muslim no. 371)

Bila seorang muslim itu tidak najis, maka air yang bertetesan dari tubuhnya atau sekadar disentuhnya tidak mungkin menjadi najis.

Sementara Abu Hanifah rahimahullah menyelisihi pendapat jumhur ini dalam satu riwayat darinya. Demikian pula Abu Yusuf muridnya. Mereka berpendapat najisnya air musta’mal ini dengan bersandarkan dalil yang lemah. (Majmu’ Fatawa, 1/204, Nailul Authar, 1/43, 46)

Ibnu Hazm rahimahullah di dalam al-Muhalla (1/186) membantah keras pendapat Abu Hanifah dan Abu Yusuf yang mengatakan najisnya air musta’mal.

Air Musta’mal dapat menyucikan

Jumhur ulama kemudian berselisih, apakah air musta’mal yang suci itu dapat menyucikan atau tidak? Yang mashyur terbagi menjadi pendapat:

1. Kelompok pertama, berpendapat air musta’mal itu suci tapi tidak menyucikan, sebagaimana dinukilkan satu riwayat dari Ahmad, asy-Syafi’i, dan Malik, serta merupakan pendapat al-Laits, al-Auza‘i, dan selain mereka.

2. Kelompok kedua, sebagaimana pendapat al-Hasan, ‘Atha, an-Nakha’i, az-Zuhri, Makhul, ahlu zhahir, juga satu riwayat dari al-Imam Ahmad, dan asy-Syafi’i serta Malik, mengatakan bahwasanya air musta’mal itu suci dan menyucikan.

Pendapat kedua inilah yang rajih dengan dalil antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang bisa menajisinya.” (al-Mughni, 1/28, Nailul Authar, 1/47—48)

Adapun pendapat kelompok pertama dijawab dengan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ  كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُوْنَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mandi dengan sisa air (istrinya) Maimunah radhiyallahu ‘anhuma.” (Sahih, HR. Muslim no. 323)

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Bolehnya berwudhu dan mandi junub dengan air musta’mal dan kebolehannya di sini adalah sama saja baik didapatkan air lain yang bukan air musta’mal maupun tidak didapatkan.” (al-Muhalla, 1/183)

Allah ta’ala berfirman:

“Apabila kalian sakit, sedang safar (bepergian jauh), atau salah seorang dari kalian datang dari tempat buang air besar atau kalian menyentuh wanita (jima’) lalu kalian tidak mendapatkan air untuk bersuci maka bertayammumlah dengan menggunakan debu yang bersih/suci.” (al-Ma’idah: 6)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah ta’ala menyebutkan air secara umum, tidak mengkhususkannya.” (al-Muhalla, 1/184)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah menyatakan, “Tidak ada dalil yang menunjukkan larangan untuk bersuci dengan menggunakan air yang diistilahkan dengan air musta’mal. Karena air tersebut tidaklah keluar dari air mutlak hanya karena telah digunakan oleh orang lain. Sehingga kesimpulannya air itu suci dan menyucikan. Oleh karena itu, siapa yang menyatakan air tersebut telah keluar dari kesuciannya atau tidak dapat menyucikan lagi maka pernyataannya itu tidak bisa diterima kecuali bila ia bisa mendatangkan dalil terhadap permasalahan ini….” (Sailul Jarrar, 1/57)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata setelah membawakan hadist Abu Sa’id Al-Khudry tentang “air itu suci …” : “Hadits ini dan selainnya menunjukkan bahwa air yang berubah karena kemasukan benda-benda yang suci tetap dihukumi suci dan menyucikan. Juga menunjukkan tidak dilarangnya menggunakan air sisa seorang wanita secara mutlak, serta menunjukkan sucinya air bekas celupan tangan orang yang bangun dari tidur malam. Adapun larangan mencelupkan tangan yang datang dalam masalah ini ditujukan kepada orang yang bangun tidur tersebut, ia dilarang mencelupkan tangannya ke dalam air sebelum mencucinya sebanyak tiga kali. Sedangkan pelarangan menggunakan air bekas celupannya tidak ditunjukkan dalam hadits ini. (Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t dalam kitabnya Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar hlm. 24—25)

MENYUCIKAN AIR YANG NAJIS

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa air yang najis bisa menjadi air yang suci dan menyucikan bila telah hilang kenajisan yang mencampuri dan mengubah air tersebut dengan menggunakan cara apa pun, sama saja baik airnya sedikit maupun banyak. Ketika najis hilang pada air tersebut maka airnya menjadi suci. (asy-Syarhul Mumti’, 1/47)

Hal ini lah yang dilakukan manusia dalam upaya membersihkan air yang telah terpolusi (sehingga disebut air limbah yang beracun), dan air yang kotor (baca= najis), karena bertumpuknya kotoran manusia dan bangkai hewan yang tercium dari adanya bau yang tidak sedap dari air. Dari air tersebut sampailah ke rumah-rumah di kota-kota besar untuk dikonsumsi dan menyucikan pakaian dan badan mereka.

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Sumber:

  1. Air yang Menyucikan (Seputar Hukum Islam edisi 2). Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari. http://www.asysyariah.com/syariah/seputar-hukum-islam/610-air-yang-menyucikan-seputar-hukum-islam-edisi-2.html.
  2. Penjelasan Air Suci Tidak Menyucikan (Seputar Hukum Islam edisi 2). Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari. http://www.asysyariah.com/syariah/seputar-hukum-islam/611-penjelasan-air-suci-tidak-menyucikan-seputar-hukum-islam-edisi-2.html.
  3. Editan susunan dari admin tanpa membuang sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: