WUDHU’, Mencuci Kaki termasuk Mata Kaki


MENCUCI KEDUA KAKI

Allah ta’ala berfirman dalam ayat wudhu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai siku. Usaplah kepala-kepala kalian dan cucilah kaki-kaki kalian sampai mata kaki….” (al-Maidah: 6)

Adapun dalil dari As-Sunnah antara lain dalam hadits Humran, maula (bekas budak) ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu yang melihat bagaimana cara ‘Utsman mencontohkan wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلىَ الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ

“Kemudian ia (‘Utsman) mencuci kakinya yang kanan beserta mata kaki sebanyak tiga kali, lalu mencuci yang kiri dengan cara yang semisalnya.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 164 dan Muslim no. 226. Lafadz hadits ini menurut lafadz Muslim rahimahullah)

Tumit termasuk bagian yang dicuci

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertinggal dari kami dalam sebuah safar (perjalanan). Kemudian beliau dapat menyusul kami dan ketika itu kami berada di akhir waktu shalat Ashar. Maka kami pun bersegera untuk berwudhu dan mengusap kaki-kaki kami. Melihat hal tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan suara yang keras:

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

“Celakalah tumit-tumit itu dari api neraka.” Beliau mengulangi ucapan ini dua atau tiga kali. (Sahih, HR. al-Bukhari no. 60, 96, 163, dan Muslim no. 241)

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata, “Tumit termasuk bagian yang dicuci, sehingga batillah pendapat orang yang mengatakan cukup mencuci bagian bawah tumit.” (Ihkamul Ahkam bi Syarhil ‘Umdatil Ahkam, 1/67)

Mata kaki termasuk bagian yang dicuci

Ketika mencuci kaki ini, kedua mata kaki ikut disertakan dalam pencucian karena Allah ta’ala berfirman:

“Dan cucilah kaki-kaki kalian sampai mata kaki.”

Yakni beserta mata kaki. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 6/61, al-Majmu’, 1/472)

Penjelasan tentang mencuci mata kaki ini sama dengan penjelasan mencuci lengan sampai ke siku (Fathul Bari, 1/367) (lihat pembahasannya di sini). Demikian pula disebutkan dalam Subulus Salam (1/66), Sailul Jarrar (1/136), dan kitab-kitab lainnya.

Hukum Mencuci Kaki

Hukum mencuci  kaki ini (yakni dengan mengguyurkan air ke kaki, bukan mengusap -admin) wajib bahkan termasuk rukun dalam berwudhu. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Ulama bersepakat tentang wajibnya mencuci wajah, kedua lengan, dan kedua kaki (di dalam berwudhu).” (Syarah Shahih Muslim, 3/107)

Kedua Kaki diCuci, Bukan diUsap

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam bab “Wajibnya Mencuci Kedua Kaki Secara Keseluruhan”: “Keinginan Al-Imam Muslim rahimahullah membawakan hadits ini (hadits Muslim no. 241 di atas -admin) di sini sebagai pendalilan wajibnya mencuci kedua kaki dan tidak cukup hanya dengan mengusapnya.” (Syarah Shahih Muslim, 3/129)

Faedah: al-Imam an-Nawawi rahimahullah lah yang menyusun bab-bab dalam Shahih Muslim karena al-Imam Muslim rahimahullah hanya menyebutkan kitab per kitab tanpa membaginya dalam bab-bab.

Ibnu Khuzaimah mengatakan tentang hadits ini (hadits Muslim no. 241 di atas -admin), “Seandainya orang yang mengusap kakinya itu telah menunaikan apa yang diwajibkan, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan mengancamnya dengan api neraka.” (Fathul Bari, 1/334). Demikian pula yang ditunjukkan dalam hadits Humran yang telah lewat penyebutannya ketika ia melihat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berwudhu.

Kerancuan memahami ayat wudhu

Pentingnya permasalahan mengusap dan mencuci ini disebabkan adanya kelompok yang berpendapat bahwa kaki tidak dibasuh, namun cukup diusap. Hal ini seperti dinukilkan dari pendapat orang-orang Syi’ah (Syarah Shahih Muslim, 3/107). Namun pendapat ini tidak memiliki sandaran dalil, bahkan dalil yang mereka bawakan dapat dipatahkan (Ihkamul Ahkam, 1/84).

Jumhur ulama telah sepakat wajibnya mencuci kaki ini (Nailul Authar, 1/141), bahkan ini merupakan pendapat semua ahli fiqih dari kalangan ahli fatwa di seluruh dunia dan setiap zaman. (Syarah Shahih Muslim, 3/129)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Tidaklah didapatkan periwayatan yang kokoh dari seorang sahabat pun yang menyelisihi hal ini terkecuali dari ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, dan Anas radhiyallahu ‘anhum, namun semuanya telah ruju’ (kembali) dari pendapat mereka (kepada pendapat bahwasanya kaki dicuci bukan diusap).” (Fathul Bari, 1/334)

Ada baiknya kita singgung di sini lafadz dalam ayat wudhu. Lafadz ini (وَأَرْجُلَكُمْ -admin) ada tiga bacaan yang datang penyebutannya:

1. dengan dhammah (rafa’) pada huruf lam, ini adalah bacaan al-Hasan al-Bashri dan al-A’masy rahimahumallah, namun bacaan ini syadz (ganjil).
2. dengan fathah (nashab) pada huruf lam, ini adalah bacaan Nafi’, Ibnu ‘Amir, dan al-Kisa’i rahimahumullah. Berdasarkan bacaan ini maka ‘amil (yang menjadikan lafaz ini nashab) darinya adalah kata فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ (cucilah) yakni kembalinya pada mencuci wajah dan kedua lengan sehingga kedua kaki juga dicuci tidak boleh sekadar diusap. Demikian mazhab jumhur dan juga ditunjukkan dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
3. dengan kasrah (khafdh atau jarr) pada huruf lam, demikian bacaannya Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, dan Hamzah rahimahumullah. Bacaan inilah yang dijadikan dalil oleh Syi’ah untuk menyatakan kaki itu diusap sebagaimana kepala karena ‘amil dari kedua kaki adalah huruf ba (yang terletak sebelum lafadz رُؤُوسِكُمْ) sementara kepala disebutkan dengan وَامْسَحُواْ (usaplah).

Namun yang kuat dalam hal ini, sebagaimana yang telah disinggung di atas, kedua kaki dicuci dan bukan diusap. Adapun bacaan dengan khafdh atau jarr bila memang mau diamalkan maka tetap menunjukkan kedua kaki itu dicuci dengan beberapa keterangan. Di antaranya:

1. Bila memang kembalinya lafadz وَأَرْجُلَكُمْ (kaki-kaki kalian) kepada fi’il (kata kerja) وَامْسَحُواْ (usaplah), maka dalam bahasa Arab lafadz وَامْسَحُواْ memiliki dua makna, terkadang bermakna mengusap dan terkadang bermakna mencuci. Sementara As-Sunnah menunjukkan kaki itu dicuci. Dengan demikian yang terambil dari makna dalam hal ini adalah mencuci kaki, bukan mengusapnya (yakni ayat ditafsirkan dengan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu HR. al-Bukhari no. 164 dan Muslim no. 226 di awal pembahasan admin).
2. Bila diambil makna mengusap untuk lafadz وَامْسَحُواْ maka yang diusap bukanlah kaki tapi khuf (semacam sepatu dari kulit) yang dikenakan pada kaki, sehingga yang diusap adalah khufnya bukan kakinya. Wallahu ta’ala a’lam. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 6/61—64, Tafsir Ibnu Katsir, 2/26, Subulus Salam, 1/89, Sailul Jarrar, 1/232—235)

MENYELA-NYELA JARI-JEMARI

Disunnahkan untuk menyela-nyela jari-jemari ketika mencuci berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

وخلل بين الأصابع

” dan menyela-nyela di antara ruas jari-jemari.

MENCUCI BAGIAN UJUNG KAKI YANG TERPOTONG

Apabila bagian wudhu’ kaki (yaitu ujung jari kaki hingga tumit dan mata kaki) terpotong, maka bagian yang dicuci adalah bagian yang tersisa dari bagian wudhu’ kaki. Adapun bila terpotong semuanya maka yang dicuci cukup bagian ujungnya saja.

MENGUSAP KHUF

Khuf adalah alas kaki yang terbuat dari kulit untuk membungkus kedua kaki (termasuk di dalamnya sepatu dan kaos kaki). Bila seseorang yang berwudhu dalam keadaan mengenakan khuf, maka ia tidak perlu membuka khufnya untuk mencuci kakinya. Sebagai gantinya, ia cukup mengusap bagian atas khufnya. Demikian sunnah yang datang dalam permasalahan ini. Adapun hadits yang menerangkan masalah ini mencapai derajat mutawatir. Lebih rincinya masalah mengusap khuf ini pembahasan yang khusus (lihat disini).

Sumber:

  1. Titian Tuk Menundukkan Wajahku Dihadapan-Mu bagian 3 (Seputar Hukum Islam edisi 6. Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari. http://www.asysyariah.com/syariah/seputar-hukum-islam/708-titian-tuk-menundukkan-wajahku-dihadapan-mu-bagian3-seputar-hukum-islam-edisi-6.html
  2. صفة الوضوء .http://www.saaid.net/rasael/wadoo/index.htm

Artikel FiqihTerkait:

  1. WUDHU’, Pengertian, Batasan, dan Hikmahnya
  2. WUDHU’, Keutamaannya
  3. WUDHU’, Syarat-syaratnya
  4. WUDHU’, Niat untuk Bersuci dan Bersiwak sebelum Wudhu’
  5. WUDHU’, Membaca Basmalah
  6. WUDHU’, Mencuci Tangan Mulai dari yang Kanan
  7. WUDHU’, Madhmadhah, Istinsyaq, dan Istintsar
  8. WUDHU’, Mencuci Wajah
  9. WUDHU’, Mencuci Tangan Sampai Siku
  10. WUDHU’, Mengusap Kepala termasukTelinga
  11. WUDHU’, Mencuci Kaki termasuk Mata Kaki
  12. WUDHU’, Hal-Hal Lain yang Terkait
  13. WUDHU’, Doa / Dzikir Setelahnya
  14. WUDHU’, Pembatal-Pembatalnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: