WUDHU’, Hal-Hal Lain yang Terkait


Pada pembahasan kali ini kita akan membahas perkara-perkara yang bersangkutan dengan wudhu, di antaranya:

  • Tertib / Berurutan
  • Jumlah Pencucian (Pengusapan) Anggota Wudhu’
  • Hemat Memakai Air
  • Menyeka Anggota Wudhu’ dengan Handuk dan Semisalnya setelah Wudhu’

TERTIB / BERURUTAN

Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama:

1. Pendapat pertama, sebagian ulama mewajibkan seperti Seperti  Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Abu ‘Ubaid, Qatadah dan madzhab Azh-Zhahiriyah;

2. Pendapat kedua, sebagiannya lagi tidak mewajibkan seperti Malik, Ats-Tsauri, diriwayatkan pula hal ini dari ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Atha bin Rabah, An-Nakha’i, Al-Hasan, Makhul, Az-Zuhri dan Al-Auza’i (Al-Ausath, 1/422-423)

Mereka yang berpendapat wajib berdalil firman Allah ta’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai siku. Usaplah kepala-kepala kalian dan cucilah kaki-kaki kalian sampai mata kaki…”  (Al-Maidah: 6)

Sisi pendalilan ayat ini adalah diselipkannya penyebutan anggota wudhu yang diusap (kepala) di antara anggota-anggota wudhu yang dicuci (tangan, wajah dan kaki). Hal ini bila ditinjau dari ilmu balaghah (ilmu tata bahasa arab -admin) maka keluar dari kaidah yang ada. Sementara Al-Qur’an adalah ucapan yang paling mendalam (dari perkataan-perkataan yang ada), oleh karena itu kita tidak mengetahui satu faidah pun keluarnya ayat ini dari kaidah balaghah kecuali karena ingin menunjukkan wajibnya masalah berurutan ini. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/154)

Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah ketika menjelaskan hadits Humran maula ‘Utsman yang mencontohkan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Ketahuilah, hadits ini memberi faidah adanya ketentuan (kewajiban) berurutan ketika mencuci anggota wudhu yang disebutkan dengan kata penghubung ( ‘kemudian’).”    (Subulus Salam, 1/66)

Sedangkan dalil yang dipakai oleh mereka yang tidak mewajibkan adalah hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berwudhu maka beliau mencuci wajahnya dan kedua tangannya, kemudian mencuci kedua kakinya, lalu mengusap kepalanya dengan sisa air wudhunya.” Al-Imam Ash-Shan’ani berkata tentangnya: “Hadits ini tidak diketahui dari jalan yang shahih sekalipun yang suatu pendalilan bisa menjadi sempurna dengannya.” (Subulus Salam, 1/80)

Dengan demikian, pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran, insyaAllah wajibnya berwudhu secara berurutan sesuai kandungan ayat wudhu’. Wallahu a’lam.

JUMLAH PENCUCIAN (PENGUSAPAN) ANGGOTA WUDHU’

Dalam permasalahan ini, kami tidak akan membahas berapa kali mencuci kepala karena masalah ini telah dibahas dalam edisi yang telah lalu (lihat disini). Yang dibahas adalah pencucian anggota wudhu’ yang lainnya.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam Shahih-nya:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa yang wajib adalah anggota wudhu masing-masing dicuci sebanyak satu kali, dan beliau sendiri pernah berwudhu dengan mencuci anggota wudhunya masing-masing dua kali, pernah pula tiga kali-tiga kali dan tidak lebih dari itu.” (Shahih Al-Bukhari bersama Fathul Bari, 1/293)

Yang dimaksud Imam Bukhari disini adalah mencuci satu kali sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas (HR. Al-Bukhari no. 157), mencucui dua kali sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Zaid (HR. Al-Bukhari no. 158), mencuci tiga kali sebagaimana dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan (HR. Al-Bukhari no. 159 dan Muslim no. 230).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Dikecualikan dalam hal ini apabila ia mengetahui ada bagian dari anggota wudhunya yang tidak terkena air setelah pencucian beberapa kali, maka boleh baginya mencuci sebatas bagian yang tidak terkena air tersebut. Adapun orang yang ragu setelah selesai berwudhu maka tidak boleh ia mencucinya agar tidak mengantarkan dia kepada sifat was-was yang tercela.” (Fathul Bari, 1/295)

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Kaum muslimin telah sepakat bahwa yang wajib dalam mencuci anggota wudhu adalah masing-masing satu kali, sedangkan mencuci sebanyak tiga kali hukumnya sunnah.”

Beliau juga menyatakan dibolehkan berbeda-beda jumlah pencucian anggota wudhu, mungkin ada yang sekali, ada yang dua kali dan adapula yang tiga kali, karena demikianlah yang ditunjukkan dalam hadits-hadits shahih yang berbicara tentang wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Syarah Shahih Muslim, 3/106, 123).

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mencuci anggota wudhunya tidak lebih dari tiga kali. (Al-Majmu’, 1/490, Zadul Ma’ad, 1/48,49, Subulus Salam, 1/73)

HEMAT dalam MEMAKAI AIR

Disunnahkan ketika berwudhu untuk hemat dalam menggunakan dan menuangkan air (Al-Majmu’, 1/490, Fathul Bari, 1/382), karena demikian yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengabarkan:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dengan satu mud6 dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud.” (HR. Al-Bukhari no. 201 dan Muslim no. 325)

Satu mud adalah ukuran yang memenuhi dua telapak tangan orang dewasa yang didekatkan/dirapatkan, tidak terlalu dibentangkan dan tidak pula digenggam, sementara  1 sha’ = 4 mud.

Hadits ini memberi bimbingan untuk sederhana dalam menggunakan air dan mencukupkan diri dengan air yang sedikit. (Subulus Salam, 1/85)

Sebaliknya, dimakruhkan berlebih-lebihan dalam menggunakan air. (Al-Muhalla, 2/72)

MENYEKA ANGGOTA WUDHU’ setelah WUDHU’

Ummul Mukminin Maimunah bintu Al-Harits radhiyallahu ‘anha ketika menceritakan tata cara mandi janabah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia menyebutkan:

“Aku mendatangkan untuk beliau secarik kain (guna menyeka tubuhnya) namun beliau tidak menginginkannya. Beliau mencukupkan dengan menghilangkan air dengan kedua tangannya”. (HR. Al-Bukhari no. 274 dan Muslim no. 317)

Dalam masalah menyeka anggota wudhu ini (baik dengan handuk, kain ataupun sapu tangan), ulama berbeda pendapat tentang boleh ataukah dibenci. Para shahabat dan selain mereka dalam permasalahan ini terbagi dalam tiga pendapat:

1. Pertama, tidak apa-apa melakukannya baik setelah wudhu ataupun mandi dan ini merupakan pendapat Anas bin Malik dan Ats-Tsauri.
2. Kedua, makruh setelah wudhu dan mandi, demikian pendapat Ibnu ‘Umar dan Ibnu Abi Laila.
3. Ketiga, makruh dalam wudhu saja sementara setelah mandi dibolehkan, sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas. (Syarah Shahih Muslim, 3/231)

Sementara Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Shahih Muslim tentang perselisihan ulama madzhab Asy-Syafi’iyyah dalam masalah ini menjadi lima pendapat:

1. Disenangi meninggalkannya namun tidak dikatakan makruh bila melakukannya, dan pendapat ini yang paling masyhur.
2. Perbuatan ini makruh.
3. Mubah (boleh) sama saja antara dikerjakan atau ditinggalkan
4. Disenangi melakukannya karena ada kehati-hatian dari kotoran.
5. Makruh di musim panas dan tidak makruh di musim dingin.

Tarjih: Yang rajih dalam masalah ini adalah hukumnya mubah. Ibnul Mundzir berkata: “Apa yang disebutkan dalam hadits ini (hadits Maimunah) tidaklah menunjukkan larangan dari perkara tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah melarangnya, karena beliau sendiri terkadang meninggalkan sesuatu yang sebenarnya mubah bagi umat beliau.” (Al-Ausath, 1/419)

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Pendapat mubah inilah yang kami pilih karena untuk menetapkan dilarang dan disunnahkan butuh dalil yang jelas.” (Syarah Shahih Muslim, 3/231)

Wallahu ta‘ala a‘lam bishawab.

Sumber:

Titian Tuk Menundukkan Wajahku didepanMu (Seputar Hukum Islam edisi 8) . Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari. http://www.asysyariah.com/syariah/seputar-hukum-islam/875-titian-tuk-menundukkan-wajahku-didepanmu-seputar-hukum-islam-edisi-8.html.

Artikel FiqihTerkait:

  1. WUDHU’, Pengertian, Batasan, dan Hikmahnya
  2. WUDHU’, Keutamaannya
  3. WUDHU’, Syarat-syaratnya
  4. WUDHU’, Niat untuk Bersuci dan Bersiwak sebelum Wudhu’
  5. WUDHU’, Membaca Basmalah
  6. WUDHU’, Mencuci Tangan Mulai dari yang Kanan
  7. WUDHU’, Madhmadhah, Istinsyaq, dan Istintsar
  8. WUDHU’, Mencuci Wajah
  9. WUDHU’, Mencuci Tangan Sampai Siku
  10. WUDHU’, Mengusap Kepala termasukTelinga
  11. WUDHU’, Mencuci Kaki termasuk Mata Kaki
  12. WUDHU’, Hal-Hal Lain yang Terkait
  13. WUDHU’, Doa / Dzikir Setelahnya
  14. WUDHU’, Pembatal-Pembatalnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: