WUDHU’, Mencuci Tangan Sampai Siku


HUKUM MENCUCI TANGAN / LENGAN

Adapun mencuci lengan dinyatakan dengan ayat:

“Dan (basuhlah) lengan-lengan kalian sampai siku.” (al-Maidah: 6)

Demikian pula hadits Humran, maula (bekas budak) ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, yang menyebutkan tentang pencucian lengan sampai ke siku. Sehingga dipahami dari ayat dan hadits ini bahwa mencuci lengan itu dimulai dari ujung jari hingga siku dan termasuk rukun wudhu‘.

MENCUCI TANGAN / LENGAN termasuk SIKU

Namun ada perselisihan pendapat di kalangan ulama tentang batasan mencuci lengan ketika berwudhu ini, yakni apakah siku termasuk bagian yang dicuci atau tidak.

Perselisihan mereka timbul karena perbedaan memaknakan huruf jar dalam firman Allah ta’ala, apakah huruf jar tersebut bermakna الْغَايَةُ وَالْاِنْتِهَاءُ (akhir/sampai) atau bermakna مَعَ (bersama/beserta). (al-Muhalla, 2/51, al-Ausath, 1/390, Fathul Bari, 1/366)

1. Pendapat Pertama, Mazhab Dzahiriyyah, sebagian pengikut al-Imam Malik rahimahullah 1, serta selainnya memaknakan dengan الْغَايَةُ وَالْاِنْتِهَاءُ. Sehingga mereka menyatakan bahwa siku tidak wajib disertakan dalam pencucian karena yang wajib dicuci hanyalah lengan sampai batas siku (dan siku tidak termasuk di dalamnya). Hal ini sama dengan firman Allah ta’ala:

“Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam hari.” (al-Baqarah: 187)

2. Pendapat Kedua, Sementara jumhur ulama termasuk imam yang empat memaknakan إِلَى dengan مَعَ. Dengan demikian, siku pun ikut dicuci saat berwudhu. Sehingga huruf jar tersebut maknanya seperti dalam firman Allah ta’ala:

“Dan janganlah kalian memakan harta mereka bersama dengan harta kalian.” (an-Nisa’: 2)

[Fathul Bari, 1/366, al-Ausath, 1/391, Bidayatul Mujtahid, hlm. 15]

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Jumhur ulama sepakat tentang wajibnya mencuci mata kaki dan siku. Sementara Zufar dan Dawud adz-Dzahiri bersendirian dalam pendapat keduanya dengan menyatakan tidak wajib. Wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 3/107, al-Majmu’, 1/430)

Demikian pula yang dikatakan asy-Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar (1/207).

Tarjih: Namun dari kedua pendapat yang ada, pendapat kedua (yang menyatakan siku ikut dicuci) inilah yang kuat dari sisi dalil, seperti ditunjukkan dalam riwayat Muslim rahimahullah dari hadits Nu’aim bin Mujmir rahimahullah yang pernah melihat Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berwudhu dengan mencuci lengannya hingga melewati sikunya 2. Di akhir hadits tersebut Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demikianlah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu.” (HR. Muslim no. 246) [al-Majmu’, 1/430, Bidayatul Mujtahid, hlm. 15, asy-Syarhul Mumti’, 1/150, Ijabatus Sa’il, hlm. 29]

Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata, “إِلَى dalam ayat bisa dimungkinkan bermakna الْغَايَةُ dan bisa pula bermakna مَعَ, tetapi As-Sunnah menjelaskan bahwa huruf tersebut bermakna مَعَ.” (Fathul Bari, 1/366, Subulus Salam, 1/65)

MENYELA-NYELA JARI-JEMARI

Disunnahkan untuk menyela-nyela jari-jemari ketika mencuci berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

وخلل بين الأصابع

” dan menyela-nyela di antara ruas jari-jemari.

BOLEH MENGGERAK-GERAKKAN CINCIN

Ulama berbeda pendapat tentang menggerak-gerakkan cincin ketika berwudhu. Di antara yang berpendapat menggerakkannya adalah ‘Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin ‘Amr, Muhammad bin Sirin, ‘Amr bin Dinar, ‘Urwah bin Zubair, ‘Umar bin Abdul ‘Aziz, Al-Hasan, Ibnu ‘Uyainah dan Abu Tsaur. Sementara Al-Imam Malik dan Al-Auza’i berpendapat tidak disyariatkan menggerak-gerakkan cincin ini, dan diriwayatkan bahwa Salim bin Abdullah pernah berwudhu tanpa menggerakkan cincinnya. Ada juga di kalangan ahli ilmu yang berpendapat dengan merinci, apabila cincin itu sempit maka digerak-gerakkan namun bila longgar maka tidak perlu digerakkan. Pendapat ini dipegangi Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Abi Salamah, Al-Imam Ahmad bin Hambal dan Ibnul Mundzir. (Al-Ausath, 1/388-389)

Tentang menggerakkan cincin ini disebutkan dari jalan Ma’mar bin Muhammad bin ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya dari kakeknya dari buyutnya (Abu Rafi’):

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berwudhu, beliau menggerak-gerakkan cincinnya.” (HR. Ibnu Majah no. 449)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Hadits ini dha’if (lemah) karena Ma’mar dan bapaknya adalah dua perawi yang lemah. Demikian juga disebutkan oleh Al-Imam Ad-Daraquthni.” (Zadul Ma’ad, 1/50)

Dengan demikian, tidak disunnahkan menggerakkan cincin ketika berwudhu terkecuali bila cincin itu sangat sempit sehingga menghalangi sampainya air ke jari tangan tersebut, maka disenangi untuk menggerak-gerakkannya sebagaimana pendapat yang merinci yang telah disebutkan di atas. Inilah pendapat yang dipegangi oleh penulis, wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

MENCUCI BAGIAN UJUNG TANGAN yang TERPOTONG

Apabila bagian wudhu’ tangan (yaitu ujung jari tangan hingga siku) terpotong, maka bagian yang dicuci adalah bagian yang tersisa dari bagian wudhu’ tangan. Adapun bila terpotong semuanya maka yang dicuci cukup bagian ujungnya saja.

Sumber:

  1. Tata Cara Wudhu Nabi (bagian 2). Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari. http://www.asysyariah.com/syariah/seputar-hukum-islam/685-tata-cara-wudhu-rasulullah-bagian-2-seputar-hukum-islam-edisi-5.html
  2. Titian Tuk Menundukkan Wajahku didepanMu (Seputar Hukum Islam edisi 8) . Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari. http://www.asysyariah.com/syariah/seputar-hukum-islam/875-titian-tuk-menundukkan-wajahku-didepanmu-seputar-hukum-islam-edisi-8.html
  3. صفة الوضوء .http://www.saaid.net/rasael/wadoo/index.htm

Artikel FiqihTerkait:

  1. WUDHU’, Pengertian, Batasan, dan Hikmahnya
  2. WUDHU’, Keutamaannya
  3. WUDHU’, Syarat-syaratnya
  4. WUDHU’, Niat untuk Bersuci dan Bersiwak sebelum Wudhu’
  5. WUDHU’, Membaca Basmalah
  6. WUDHU’, Mencuci Tangan Mulai dari yang Kanan
  7. WUDHU’, Madhmadhah, Istinsyaq, dan Istintsar
  8. WUDHU’, Mencuci Wajah
  9. WUDHU’, Mencuci Tangan Sampai Siku
  10. WUDHU’, Mengusap Kepala termasukTelinga
  11. WUDHU’, Mencuci Kaki termasuk Mata Kaki
  12. WUDHU’, Hal-Hal Lain yang Terkait
  13. WUDHU’, Doa / Dzikir Setelahnya
  14. WUDHU’, Pembatal-Pembatalnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: