WUDHU’, Niat untuk Bersuci dan Bersiwak sebelum Wudhu’


DEFINISI NIAT

Niat adalah ketetapan dan kemantapan hati untuk mengerjakan suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala (Taisirul ‘Allam, 1/23). Dan niat ini merupakan syarat seluruh amalan ibadah, tidak sebatas amalan wudhu (asy-Syarhul Mumti’, 1/157). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Hanyalah amalan-amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan….” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas menunjukkan niat itu umum dikenakan pada seluruh amalan dan tidak dikhususkan sesuatu pun darinya, baik itu amalan yang wajib (fardhu) maupun yang sunnah (nafilah).” (al-Ausath, 1/371)

NIAT TELAH MENCUKUPI TANPA DILAFAZHKAN

Namun yang perlu diperhatikan, niat ini tempatnya di hati, bukan dilafadzkan dengan lisan. Bahkan bid‘ah hukumnya bila niat itu dilafadzkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tempat niat itu di hati, bukan di lisan. Hal ini merupakan kesepakatan para imam kaum muslimin dalam seluruh ibadah seperti thaharah (bersuci), shalat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak, jihad, dan selainnya. Seandainya seseorang berucap dengan lisannya namun berbeda dengan apa yang ada di niatannya (hatinya) maka yang teranggap adalah apa yang dia niatkan, bukan yang dia lafadzkan. Seandainya ia mengucapkan niat dengan lisannya sementara tidak terbetik niat itu di hatinya maka hal ini tidaklah teranggap, menurut kesepakatan para imam kaum muslimin.” (Majmu’ Fatawa, 22/217—218)

Pelafadzan niat ini tidak didapatkan riwayatnya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam hadits yang sahih maupun dalam hadits yang dha’if (lemah), baik yang musnad ataupun mursal. Tidak juga dinukilkan dari para sahabat beliau, para imam dari kalangan tabi‘in, dan yang setelahnya dari kalangan imam-imam yang mendapat petunjuk. (Zadul Ma’ad, 1/51)

Seandainya niat itu harus diucapkan dengan lisan, maka tentu akan diterangkan oleh Allah ta’ala lewat Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dengan perbuatan maupun ucapan beliau. (asy-Syarhul Mumti’, 1/159) (baca lebih lengkap tentang pelafazhan niat disini, dan hukumnya disini)

Niat ini bukanlah sesuatu yang sulit, meskipun sebagian orang yang dihinggapi penyakit waswas menganggapnya sulit. Karena setiap orang yang berakal bisa menentukan sesuai dengan kehendaknya sendiri apa yang hendak ia lakukan, ketika melakukan sesuatu tentunya ia telah berniat sebelumnya. Seandainya didekatkan air kepada seseorang, kemudian ia mengucapkan basmalah, mencuci kedua tangannya, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dan seterusnya, maka mustahil dan tidak masuk akal jika hal ini dia lakukan tanpa dilandasi niat.

Menghadirkan Niat Kembali

Sebagian ulama menyukai apabila seseorang yang hendak beribadah menghadirkan kembali niatnya (dalam hati) sesaat sebelum melaksanakan suatu ibadah semisal sesaat berdiri sebelum takbiratul ihram dalam sholat, dan ketika hendak mengambil air untuk memasukkan ke dalam mulut dan hidung dalam wudhu’.

SIWAK dan WUDHU’

Dianjurkan untuk bersiwak / menyikat gigi ketika berwudhu’ sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Seandainya saya tidak menyusahkan umatku niscaya saya akan memerintahkan mereka untuk berwudhu setiap kali mau shalat, dan bersama wudhu ada bersiwak.” (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih sebagaimana dalam Al-Muntaqa)

Pembahasan lebih lanjut tentang siwak dapat dibaca di sini.

Sumber:

  1. Tata Cara Wudhu Nabi (bagian 1). Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari). http://www.asysyariah.com/syariah/seputar-hukum-islam/658-tata-cara-wudhu-nabi-bagian-1-seputar-hukum-islam-edisi-4.html
  2. Sumber lainnya.

Artikel FiqihTerkait:

  1. WUDHU’, Pengertian, Batasan, dan Hikmahnya
  2. WUDHU’, Keutamaannya
  3. WUDHU’, Syarat-syaratnya
  4. WUDHU’, Niat untuk Bersuci dan Bersiwak sebelum Wudhu’
  5. WUDHU’, Membaca Basmalah
  6. WUDHU’, Mencuci Tangan Mulai dari yang Kanan
  7. WUDHU’, Madhmadhah, Istinsyaq, dan Istintsar
  8. WUDHU’, Mencuci Wajah
  9. WUDHU’, Mencuci Tangan Sampai Siku
  10. WUDHU’, Mengusap Kepala termasukTelinga
  11. WUDHU’, Mencuci Kaki termasuk Mata Kaki
  12. WUDHU’, Hal-Hal Lain yang Terkait
  13. WUDHU’, Doa / Dzikir Setelahnya
  14. WUDHU’, Pembatal-Pembatalnya

WUDHU’, Pembatal-Pembatalnya

2 Responses

  1. Assalamualaikum
    m0h0n share?

    • Silakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: