WUDHU’, Membaca Basmalah


HUKUM MEMBACA BASMALAH

Dalam permasalahan tasmiyah (membaca basmalah) ini, sering dibawakan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ

“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah ketika mengerjakannya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dengan sanad yang dha’if (lemah).” At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan yang semisal dengan hadits ini dari Sa’id bin Zaid dan Abu Sa’id. Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Dalam permasalahan ini tidak ada satu pun hadits yang kokoh (yang bisa jadi hujjah/pegangan).” (Bulughul Maram, hlm. 26)

Ulama berselisih pendapat tentang hukum membaca basmalah ini. Ada yang berpendapat wajib, ada pula yang berpendapat sunnah.

1. Pendapat Pertama, Mereka yang berpendapat wajib di antaranya Ishaq bin Rahawaih, mazhab Dzhahiriyah, salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad, al-Hasan al-Bashri, Abu Bakar serta asy-Syaukani rahimahumullah (Tamamul Minnah, hlm. 89, al-Mughni, 1/73).

Mereka berdalil dengan hadits di atas. Menurut pendapat ini, apabila ada orang yang meninggalkan membaca basmalah dengan sengaja, maka tidak sah wudhunya karena ia meninggalkan perkara yang wajib dalam wudhu. Namun apabila ia tidak mengucapkannya karena lupa atau meyakini tidak wajib, wudhunya tidak batal. (al-Majmu’, 1/387)

2. Pendapat Kedua, Ibnul Mundzir rahimahullah (al-Ausath, 1/367—368) berkata, “Ahlul ilmi berbeda pendapat dalam permasalahan wajibnya tasmiyah sebelum berwudhu. Mayoritas ahlul ilmi menganggap sunnah/disenangi bagi seseorang untuk menyebut nama Allah apabila ia hendak berwudhu, sebagaimana mereka menganggap sunnah, tidak wajib membaca basmalah sebelum makan dan minum, tidur, serta yang lainnya. Kebanyakan mereka mengatakan tidak apa-apa bagi seseorang untuk meninggalkan tasmiyah saat hendak wudhu, karena sengaja ataupun lupa. Demikian pendapat Sufyan ats-Tsauri, asy-Syafi’i, Ahmad ibnu Hambal, Abu ‘Ubaid, dan ashabur ra’yi.” Ini juga pendapat yang dipegangi jumhur ulama, Abu Hanifah, dan lainnya. (al-Majmu’, 1/386)

Adapun riwayat lain Imam Ahmad, beliau berpendapat sunnah dan ini yang zhahir (tampak) dari pendapat beliau, kata Ibnu Qudamah rahimahullah dalam al-Mughni (1/73)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku menyenangi bagi seseorang untuk menyebut nama Allah ta’ala saat hendak berwudhu. Bila ia lupa, maka ia mengucapkannya ketika ingat selama ia sedang menunaikan wudhunya. Bila ia meninggalkan tasmiyah karena lupa atau sengaja, maka tidak akan merusak wudhunya, insya Allah.” (al-Umm, 1/31)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan tasmiyah sebelum wudhu, dalam seluruh ibadah dan juga perbuatan-perbuatan lainnya, sampaipun dalam bersenggama (jima’).” (al-Majmu’, 1/386)

Beliau juga menyatakan bahwa tasmiyah ini termasuk sunnah-sunnah wudhu, bila meninggalkannya dengan sengaja maka tidak membatalkan wudhu.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Disenangi mengucapkan tasmiyah ketika hendak berwudhu, bila ada seseorang yang meninggalkannya maka wudhunya tetap sempurna.” (al-Muhalla, 2/49)

Tarjih: Dengan pemaparan di atas, maka yang kuat di antara pendapat-pendapat yang ada adalah pendapat yang mengatakan sunnah, bukan wajib, karena dalil yang dijadikan sandaran yang mengisyaratkan wajibnya tasmiyah adalah dha’if/lemah. At-Tirmidzi rahimahullah berkata menukilkan ucapan al-Imam Ahmad rahimahullah, “Aku tidak mengetahui dalam bab ini satu hadits pun yang memiliki sanad yang jayyid/bagus.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/21)

Walaupun di kalangan ahlul ilmi ada yang mensahihkan hadits ini, namun al-Bazzar rahimahullah mengatakan bahwa pengertian hadits itu dibawa kepada makna ‘tidak ada keutamaan wudhu bagi orang yang tidak mengucapkan nama Allah’, bukan maknanya ‘tidak boleh wudhu bagi orang yang tidak membaca basmalah’.” (at-Talkhis, 1/112)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah ketika ditanya, “Apakah mengucapkan tasmiyah (membaca basmalah) itu wajib di dalam berwudhu?” Beliau menjawab, “

*** Tasmiyah saat mulai berwudhu tidaklah wajib akan tetapi sunnah karena hadits masalah tasmiyah ini ada pembicaraan di dalamnya (fihi nazhar).

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, ‘Tidak ada satu hadits pun yang kokoh dalam masalah ini.’

Padahal telah diketahui oleh semua orang bahwa al-Imam Ahmad rahimahullah termasuk salah seorang imam dalam ilmu hadits dan salah seorang yang mencapai puncak hafalan dalam hadits. Apabila beliau mengatakan [tidak ada satu hadits pun kokoh dalam masalah ini], maka keberadaan hadits tasmiyah menyisakan ganjalan di hati. Apabila penetapan terhadap hadits ini ada pembicaraan tentangnya, maka tidak boleh seseorang mengharuskan/memaksakan orang lain berpegang dengan sesuatu yang tidak pasti datangnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Karena itulah aku memandang tasmiyah dalam wudhu itu sunnah. Akan tetapi, orang yang menetapkan kokohnya hadits tasmiyah ini wajib untuk berpendapat dengan apa yang dikandung oleh hadits tersebut yaitu bahwa tasmiyah ini wajib karena ucapan Nabi: لاَ وُضُوءَ (tidak ada wudhu) yang sahih maknanya adalah menafikan (meniadakan) sahnya wudhu, bukan menafikan kesempurnaan wudhu (maka, ia wajib menjalankan sesuai keilmuan dan keyakinannya yang lebih kuat tersebut -admin).” *** (Majmu‘ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4/116—117)

Catatan (admin):

  1. Hukum membaca basmalah adalah sunnah, tidak merusak wudhu’ apabila tidak dilakukan, sedangkan bagi yang mengatakan wajib (baca: rukun) maka rusak wudhu’nya dan tidak sah;
  2. Basmalah yang dimaksud cukup dengan membaca “bismillah” sesuai konteks hadits, Insya-Allah tidak mengapa bila membaca “bismillahir-rohmanir-rohim”;
  3. Dianjurkan membaca basmalah sebelum wudhu’, dan ketika di tengah proses berwudhu’ jika lupa.
  4. Apabila berwudhu’ di WC (kamar kecil/kamar mandi) hendaknya membaca basmalah untuk wudhu’ sebelum masuk WC (baca: di luar WC), meskipun ada pendapat yang membolehkan berdzikir secara mutlak di mana saja.

Sumber:

  1. Tata Cara Wudhu Nabi (bagian 1). Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari). http://www.asysyariah.com/syariah/seputar-hukum-islam/658-tata-cara-wudhu-nabi-bagian-1-seputar-hukum-islam-edisi-4.html
  2. Wajibkah membaca Bismillah Saat Mulai Berwudhu?. http://www.asysyariah.com/syariah/seputar-hukum-islam/659-wajibkah-membaca-bismillah-saat-mulai-berwudhu-seputar-hukum-islam-edisi-4.html.

Artikel FiqihTerkait:

  1. WUDHU’, Pengertian, Batasan, dan Hikmahnya
  2. WUDHU’, Keutamaannya
  3. WUDHU’, Syarat-syaratnya
  4. WUDHU’, Niat untuk Bersuci dan Bersiwak sebelum Wudhu’
  5. WUDHU’, Membaca Basmalah
  6. WUDHU’, Mencuci Tangan Mulai dari yang Kanan
  7. WUDHU’, Madhmadhah, Istinsyaq, dan Istintsar
  8. WUDHU’, Mencuci Wajah
  9. WUDHU’, Mencuci Tangan Sampai Siku
  10. WUDHU’, Mengusap Kepala termasukTelinga
  11. WUDHU’, Mencuci Kaki termasuk Mata Kaki
  12. WUDHU’, Hal-Hal Lain yang Terkait
  13. WUDHU’, Doa / Dzikir Setelahnya
  14. WUDHU’, Pembatal-Pembatalnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: