NABI SHALIH Alaihissalam


أَلاَ إِنَّ ثَمُودَ كَفرُواْ رَبَّهُمْ أَلاَ بُعْداً لِّثَمُودَ

Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” (Hud: 67)

Kondisi Kaum Tsamud

Al-Hijr Archaeological Site (Madâin Sâlih) - World Heritage List. UNESCO

Bangsa Tsamud ternyata lebih pandai daripada kaum Aad. Setelah kaum Aad binasa, negeri mereka menjadi tandus dan kering. Kemudian negeri ini dibangun kembali oleh kaum Tsamud, sehingga bagai disulap menjadi negeri yang hijau dan makmur. Mereka tinggal di daerah bernama Al Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang terletak di pinggir jalan di Wadi Qura antara Madinah dan Syam (Syria).

Akan tetapi seperti kaum pendahulunya, kaum Tsamud pun menjadi sombong dan lupa diri. Hukum rimba berlaku lagi, mereka yang kuat menekan mereka yang lemah. Allah ta’ala mengisahkan tentang keadaan mereka:

Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Al-A’raaf: 74)

Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut. Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin. (As-Syu’araa: 146-149)

“dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman.” (Al-Hijr: 82)

“dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” (Al-Fajr: 9)

Sifat Nabi Shalih ‘alaihissalam

Nabi Shalih atau Saleh ‘Alaihissalam, menurut silsilah, beliau adalah putra dari ‘Ubaidah bin Tsamud bin ‘Amir bin Iram bin Sam bin Nuh Alaihissalam. Ia diutus ke tengah-tengah bangsa Tsamud yang hidup di bekas reruntuhan kaum Aad. Tentang Nabi Shalih diterangkan dalam ayat-Nya:

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabb-mu. (al-A’raaf: 73)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy berkata dalam Qashahsul Anbiya’: “Shalih, yang berasal dari kabilah mereka sendiri. Mereka mengenal nasab dan keturunannya, keutamaan dan kesempurnaannya, serta kejujuran dan amanahnya.”

Nabi Shalih ‘alaihissalam Mengajak Kepada Tauhid

Nabi Shalih ‘Alaihis Salam berkata kepada kaumnya (Tsamud) :

“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”   (QS. Hud : 61)

“Mengapa kamu tidak bertakwa?  Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (Asy-Syu’araa: 142-145)

Mereka pun tidak mau mendengarkan dakwah Nabi Saleh Alaihissalam. Kaum Tsamud berkata kepada nabi mereka, nabi Shalih ‘alaihissalam, mereka berkata:

“Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Huud: 62)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy berkata dalam Qashahsul Anbiya’: “yakni, ‘ Kami berangan-angan bahwa engkau akan mengungguli kami semua dengan kesempurnaanmu, kesempurnaan akhlakmu, serta adab-adabmu yang baik.’ Ini justru merupakan pengakuan mereka terhadap keutamaan-keutamaan ini sebelum beliau berdakwah. Menurut mereka, tidak ada yang menjatuhkan beliau dari derajat ini kecuali menyeru dari penyembahan kepada hamba ke penyembahan kepada Sang Pencipta, juga karena beliau berdakwah kepada kebahagiaan abadi. Di sisi mereka, tidaklah ada kesalahan beliau kecuali karena beliau menyelisihi ayah-ayah mereka yang sesat, dan mereka sendiri lebih sesat dari ayah-ayah mereka.”

Nabi Saleh berkata kepada mereka:

“Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian. (Huud: 63)

Mereka pun membantah perintah Allah dengan bantahan yang berasal dari akal dan nafsu mereka. Mereka berkata:

“Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?” Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. (Al-Qamar: 24-25)

Nabi Shalih mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat Allah kepada mereka, kemudian berkata:

maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan. (Asy-Syu’ara: 150-151)

Allah memberikan hidayah kepada mereka yang tidak menyombongkan diri dan mengenali tanda-tanda kekuasaan Allah ta’ala, kelemahan dan kemiskinan tidak menhalangi keimanan mereka ketiak pemimpin-pemimpin kaum tsamud mengolok-olok Rasul-Nya:

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya. (Al-A’raf: 75)

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu. (Al-A’raf: 76)

Mereka yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya berkata:

“Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir. Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar” (Asy-Syu’araa: 153-154)

Mukjizat Nabi Shaleh ‘alaihissalam

Kaum Tsamud menantang Nabi Saleh Alaihissalam menunjukkan mukjizat yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Menghadapi tuntutan yang demikian, tak ada jalan lain bagi Nabi Saleh kecuali memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar memberikan mukjizat kepadanya. Allah mengabulkan doanya. Nabi Saleh Alaihissalam kemudian mengajak kaumnya pergi ke kaki gunung. Orang-orang itu mengikuti ajakan Nabi Saleh, tapi sebenarnya bukan karena mereka mempercayai Nabi Saleh, melainkan karena mereka berharap agar Nabi Saleh tak dapat mengeluarkan mukjizat, dengan demikian mereka dapat mengolok-olok dan menghina Nabi Saleh. Allah ta’ala berfirman:

Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (al-A’raaf: 73)

Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah. (Al-Qamar: 27)

Kami berikan kepada Tsamud, unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (Al-Israa’: 59)

Tetapi betapa terkejutnya orang-orang kafir itu. Tak lama setelah mereka berkumpul di kaki gunung, muncullah seekor unta betina dari perut sebuah batu karang besar. Unta itu besar dan gemuk, belum pernah mereka melihat unta sebagus itu. Allah ta’ala mengisahkan:

Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran) (Al-Qamar: 54)

Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat. (Hud: 64)

“Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar. “(Asy-Syu’araa: 155-156)

Nabi Saleh kemudian berpesan pada kaumnya,

“Inilah unta mukjizat dari Tuhanku. Unta ini boleh kalian peras susunya setiap hari. Susunya tidak akan habis-habis. Tetapi perhatikan pesanku, unta ini harus dibiarkan berkeliaran bebas, tak seorang pun boleh mengganggunya. Unta ini berhak meminum air di sumur, bergantian dengan penduduk. Jika hari ini unta ini minum, maka tak seorang pun dari penduduk boleh mengambil air sumur. Sebaliknya esok harinya, para penduduk boleh mengambil air sumur dan unta ini tidak minum air itu sedikit pun juga.”

Mereka pun memanfaatkan unta tersebut dengan memerah susunya, semua yang keluar dari kantong susunya memenuhi gelas-gelas mereka. Mereka melaksanakan nasihat Nabi Shalih dengan baik hingga waktu yang ditetapkan oleh Allah

Kedurhakaan Kaum Tsamud: Membunuh Unta Allah Ta’ala

Tetapi rupanya keberadaan unta yang membawa berkah air susu ini membuat orang-orang kafir menjadi iri kepada Nabi Saleh. Allah ta’ala mengisahkan:

Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (An-Naml: 48)

Ketika Nabi Shalih ‘alaihissalam melihat munculnya sikap kesombongan dan antipati mereka terhadap kebenaran (melalui mukjizat tersebut), beliau memperingatkan mereka untuk tidak menyembelih unta tersebut. Maka yang pertamakali yang dilakukan oleh gembong kejahatan (sembilan orang tsb) ialah mengadakan pertemuan terbuka.

Mereka lalu mengadakan sayembara, siapa yang berani membunuh unta Nabi Saleh akan mendapatkan hadiah berupa gadis cantik. Tersebutlah dua orang pemuda yang nekad mengikuti sayembara ini. Mereka sudah sepakat akan menikmati hadiah gadis cantik itu bersama-sama. Sungguh mesum niat kedua pemuda ini. Allah ta’ala berfirman:

“Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka” (Asy-Syams: 12)

Demikianlah ketika unta itu baru saja minum di salah satu sumur penduduk, salah seorang dari pemuda itu melepaskan anak panah, tepat mengenai kaki unta. Unta itu berlari kesakitan, namun pemuda yang seorang lagi yang sudah siap dengan golok di tangan segera menghabisi unta itu. Mereka berhasil membunuh unta itu, dan memperoleh hadiah yang sudah dijanjikan.

Firman Allah ta’ala:

Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya (Al-Qamar: 54)

Setelah unta itu mati, orang-orang kafir merasa lega. Nabi Shalih juga mengajak umatnya (artinya):

“Maka mohonlah ampun kepada Allah, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan (do’a hamba-Nya).” (Hud: 90)

Namun mereka malah bersukaria atas keberhasilan mereka mencelakai Unta Allah dan mereka merasa hal itu sebagai kemenangan berhala-berhala mereka karena mereka tidak langsung merasakan ‘adzab Allah ketika berhasil membunuh unta Allah. Berkata Nabi Saleh:

“Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (Hud: 65)

Waktu 3 hari itu sebenarnya adalah kesempatan bagi bangsa Tsamud untuk bertobat, tetapi mereka malah mengejek Nabi Saleh dan menganggapnya hanya membual. Belum sampai 3 hari mereka datang lagi kepada Nabi Saleh dan berkata,

Mereka dengan berani menantang Nabi Saleh,

“Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).”  (Al-A’raf: 77)

Nabi Shalih menasehati perkataan mereka yang kufur, seraya berkata:

“Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (An-Naml: 46)

Mereka (kaum tsamud) menjawab:

“Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.” (An-Naml: 47)

Nabi Shaleh berkata:

“Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.” (An-Naml: 47)

Rencana Pembunuhan Terhadap Nabi Shalih ‘alaihissalam

Diam-diam orang-orang kafir itu merasa takut. Bukankah ucapan Nabi Saleh selalu terbukti kebenarannya? Bagaimana kalau siksa itu benar-benar datang kepada mereka? Maka untuk mencegah datangnya siksa itu, sehari sebelum waktu yang dijanjikan, mereka mengadakan rapat gelap. Mereka bermaksud membunuh Nabi Saleh agar siksa itu tak jadi diturunkan. Sungguh bodoh akal mereka dan sungguh keji tindakan mereka. Apakah mereka mengira siksaan Allah dapat dibatalkan hanya karena mereka membunuh utusan-Nya?

Mereka berkata di antara mereka:

“Bersumpahlah kamu dengan nama Allah (keyakinan mereka bahwa Allah yang menciptakan tapi tidak harus diibadahi-ed), bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, … ” (An-Naml: 49)

Mereka berusaha menyembunyikan rencana tersebut dan melakukannya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak dihalang-halangi oleh keluarga besar Nabi Shalih ‘alaihissalam karena beliau termasuk keluarga yang terpandang lagi terhormat. Dan seandainya mereka dituduh membunuhnya, maka mereka bersumpah dan:

“… kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar (tidak berdusta-admin).” (An-Naml: 49)

Allah Maha Pemberi Makar menggagalkan makar mereka, Allah ta’ala berfirman:

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (An-Naml: 50)

Ketika mereka bersembunyi di atas gunung menunggu kesempatan untuk mencelakai Nabi Soleh, Allah ta’ala pun menjadikan mereka pendahulu bagi kaumnya mendapatkan adzab sehingga batu dari atas gunung jatuh dan menimpa mereka, maka mereka pun terbunuh secara mengerikan. Maha Suci Allah yang Maha Pengasih, Dia melindungi hamba-Nya, Nabi Saleh Alaihissalam. Beliau selamat dari rencana pembunuhan yang keji itu.

Adzab Bagi Kesombongan Kaum Tsamud

Sedang untuk kaum Tsamud sendiri, akibat kedurhakaan mereka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan azab yang sangat mengerikan. Bangsa Tsamud disambar petir yang meledak dan menggelegar membelah angkasa.

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi. maka tak dapat menolong mereka, apa yang telah mereka usahakan. ” (Al-Hijr: 83-84)

“… maka mereka disambar petir sebagai adzab yang menghinakan disebabkan perbuatan mereka (sendiri).” (Fushshilat: 17)

“Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan.  ” (Adz-Dzariyaat: 44-45)

“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang” (Al-Qamar: 31)

“lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (Asy-Syams: 14)

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya seolah-olah mereka belum pernah berdiamdi tempat itu.” (Hud: 67)

Demikian cepatnya mereka dihancurkan oleh guntur itu, sehingga mereka hancur lebur oleh guntur itu, tanpa bekas, seakan-akan mereka tidak pernah ada.

Bumi juga ikut murka atas kesombongan bangsa yang ingkar itu. Gempa yang dahsyat telah menghancurkan dan memporak-porandakan tempat tinggal mereka yang megah dan besar.

“Oleh sebab itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.” (Al-A’raf: 78)

“Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh. …” (An-Naml: 52)

Sebelum azab diturunkan, atas kuasa Allah Nabi Saleh Alaihissalam dan keluarnya mengungsi ke Ramlah, sebuah tempat di Palestina.

“Maka Nabi Shalih meninggalkan mereka seraya berkata: “Wahai kaumku sesungguhnya saya telah menyampaikan kepada kalian amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasehat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (Al A’raf: 79)

Dan Allah menyelamatkan Nabi Shalih dan para pengikutnya. Allah ta’ala berfirman:

“Maka tatkala datang adzab kami, kami selamatkan Shalih beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Hud: 66)

Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa. (Fushshilat: 18)

Beberapa Pelajaran dan Hikmah dari Kisah Nabi Shalih ‘alaihisalam

1. Seluruh dakwah Nabi adalah sama, maka mendustakan salah satu dari mereka, berarti dia telah mendustakan seluruh Nabi dengan mendustakan kebenaran yang dibawa setiap mereka. Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman pada seluruh kisah:

“Kaum Tsamud telah mendustakan para Rasul.” (Asy-syu’ara: 141. Lihat pula firman Allah ta’ala dalam Asy-Syu’ara 105 dan 123)

2. Hukuman Allah kepada umat yang berbuat aniaya terjadi ketika memuncaknya keaniayaan dan kejahatan mereka. Kekufuran dan pendustaan mereka menyebabkan kebinasaan. Akan tetapi, pembinasaan ditetapkan tatkala kejahatan telah mencapai puncaknya. Maka dari itu, kemungkinan terbesar jatuhnya adzab pada orang yang dzalim dan orang-orang yang jahat adalah ketika kejahatan mereka mencapai puncaknya. Karena Allah ta’ala senantiasa mengintai, menunda dan menunda, hingga ketika Dia menghendaki untuk menghukum mereka, maka Dia mengadzab dengan adzab dari Dzat Yang Maha Lagi Maha Berkuasa.

3. Aqidah-aqidah (keyakinan dan kepercayaan) sesat yang berakar dan diambil dari orang-orang yang dianggap memliki reputasi yang baik seperti ayah-ayah (nenek moyang) dan semisalnya merupakan salah satu penghalang terbesar dari menerima kebenaran. Padahal itu bukan merupakan standar ataupun patokan, tidak pula memiliki dasar hujjah yang sahih yang menunjukkan pada kebenaran. Karena itulah, hujjah terbesar kaum Nabi Shalih ‘alaihissalam untuk membantah dakwah beliau adalah dengan perkataan mereka:

“Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah olah bapak-bapak kami?” (Hud: 62)

Begitu pula seluruh umat yang mendustakan para Rasul serta menolak dakwah mereka. Mereka mengatakan:

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Az-Zukhruf: 23)

Ini adalah jalan yang senantiasa ditempuh para ahli batil yang dipropagandakan oleh setan untuk menghalangi para hamba dari jalan Allah ta’ala. Padahal, telah diketahui bahwa jalan para Rasul itulah jalan petunjuk dan kebenaran. Maka apalagi setelah kebenaran kecuali pasti itu adalah kesesatan.

Sumber:

  1. Qashashul Anbiyaa’. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy rahimahullah.
  2. “Nuh-Hud-Shaleh”. http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/15/nuh-hud-shaleh/.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: