Qiila wa qala (katanya dan katanya)


Menjaga lisan menjadi kewajiban bagi setiap muslim dari setiap maksiatnya berupa namimah, fitnah, ghibah, dan kedustaan. Selain itu, dalam rangka menyempurnakan penjagaan lisan maka hendaklah seseorang menyaring setiap perkataan yang didengarnya dengan pemikiran yang baik dan cermat. Pembahasan qiila wa qala (katanya dan katanya) mungkin jarang terdengar maka pembahasan ini meliputi:

  • Pengertian QIILA WA QALA, Katanya dan Katanya
  • Bahaya Qiila Wa Qala

PENGERTIAN QIILA WA QALA (Katanya dan Katanya)

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Maknanya, berbicara dengan ucapan-ucapan yang tidak ada faedahnya. Kebanyakannya ghibah, keributan, dan dusta. Barangsiapa yang banyak melakukannya pasti dia tidak akan selamat dari kebatilan, ghibah, dan kedustaan. Wallahu a’lam.” (At-Tamhid, 21/289)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Maknanya adalah dia membicarakan setiap berita yang dia dengar. Dia menyatakan: ‘Telah dikatakan demikian’ dan ‘Fulan mengatakan demikian’, berupa perkara-perkara yang tidak dia ketahui kebenarannya dan tidak pula ia meyakininya.” (Riyadhush Shalihin)

BAHAYA QIILA WA QALA

Sebagaimana pembahasan di atas, maka apabila seseorang mengatakan setiap perkara yang dia dengar yang dia tidak ketahui kebenarannya maupun kedustaan perkara tersebut, maka dia dapat masuk ke dalam ghibah, dusta, fitnah meskipun dia tidak memiliki niat jelek dalam perbuatannya tersebut. Oleh karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara. Dia meridhai bagi kalian agar kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan agar kalian tidak berpecah-belah. Dan Dia membenci bagi kalian qiila wa qala, banyak bertanya (keras kepala), dan membuang-buang harta (tanpa ada faedahnya).” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Barangsiapa yang tidak mau mengendalikan lisannya (dengan kebenaran), niscaya dia akan menggunakan lisannya pada perkara-perkara yang jelek. Lisan ini akan menyeretnya pada kebinasaan. Kalau sebuah kalimat saja terkadang bisa mencelakakan pemiliknya, terlebih lagi bahaya dan dosa yang ditimbulkan oleh lisan yang tidak terbatas jumlah dan macamnya. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah kalimat yang dia belum mendapatkan kejelasan padanya, maka dia tergelincir dengannya ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhudan ini adalah lafadz Al-Imam Muslim)

Sedangkan anggota badan yang lainnya tunduk dan takut terhadap lisan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ahmad, Ath-Thayalisi, dan yang lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تَكْفِي اللِّسَانَ، تَقُولُ: اتَّقِ اللهَ فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Apabila anak Adam masuk waktu pagi hari, sesungguhnya seluruh anggota tubuhnya mencela lisan. Mereka mengatakan: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah! Karena kami tergantung denganmu. Apabila engkau lurus, niscaya kami pun akan lurus. Apabila engkau bengkok (menyimpang) maka kami pun akan menyimpang’.” (Tahdzirul Basyar min Ushul Asy-Syar, hal. 112)

Oleh karena itulah, hendaknya kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lisan kita, sebagaimana perintah-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang lurus, niscaya Allah akan memperbagus amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia memperoleh kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Hanya dengan takwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperbaiki amalan kita dan mengampuni dosa kita.

Wallahu a’lam.

Sumber:

Nikmat Lisan, Untuk Apa Kita Gunakan?. Penulis : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=836.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: