NAMIMAH (ADU DOMBA)


Mengadu domba, sesuatu yang akrab dilisan manusia, betapa tidak Indonesia menjadi korban dari adu domba (devide at impera) yang merupakan siasat politik panjajah. Meskipun telah diketahui dahsyatnya akibat dari adu domba, tetapi masih banyak dari kalangan muslimin yang tidak segan-segan untuk mengadu domba dan lalai menjaga lisannya (baca pembahasan menjaga lisan klik disini). Maka disini, akan sedikit diulas agar kita semua dapat teringat kembali pelarangan dan bahayanya. Pembahasan disini meliputi:


PENGERTIAN NAMIMAH ↑ up

Namimah adalah menukil (memindahkan) ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan atau persaudaraan di antara keduanya.

Dari pengertian ini, terkandung didalam namimah dua keadaan yaitu lafazh ucapan yang disampaikan dan maksud hati untuk mengadu domba. Dari sisi kandungan ucapan, maka seseorang yang mengadu domba terkadang menyampaikan ucapan yang jujur yang dapat masuk kepadanya pula dosa ghibah dan terkadang menyampaikan ucapan dusta yang masuk kepadanya dosa fitnah dan kedustaan. Sungguh sangat jahat orang yang berbuat namimah ditengah-tengah kaum muslimin dan berlipat-lipat dosanya, na’udzubillahi min dzalika.

NAMIMAH termasuk DOSA BESAR ↑ up

Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah mencela orang yang berbuat namimah dan melarang kita mendengarkan ucapannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ. هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ. مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah namimah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (Al-Qalam: 10-12)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga, orang yang qattat (yakni ahli namimah).” (HR. Al-Bukhari dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam sebuah riwayat dalam Shahih Muslim:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk surga, ahli namimah.”

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ﯣ ﯤ , maknanya adalah orang yang berjalan di antara manusia untuk mengadu domba di antara mereka, dengan cara menukil ucapan dengan tujuan merusak hubungan dan persaudaraan di antara mereka. Ini adalah perbuatan yang membinasakan.”

Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu berkata: “Dalil-dalil yang mengandung ancaman seorang muslim tidak akan masuk surga bila melakukan dosa besar (seperti hadits ini, pen.) dipahami bahwa di dalamnya ada sesuatu yang mahdzuf (dibuang). Maksudnya adalah apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin membalasnya, atau maknanya dia tidak akan masuk surga secara langsung, di mana dia akan diazab sesuai kadar dosanya (apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, pen.), namun akhirnya ia masuk surga. Sedangkan bila menghalalkannya, maka dia telah kafir karena telah mendustakan nash-nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Sama saja apakah dia melakukan perbuatan itu ataupun tidak. (Nashihati lin Nisa’, hal. 39)

Namimah adalah dosa besar yang akan menyebabkan pelakunya diazab dalam kuburnya, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengampuninya. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang masyhur. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu ketika melewati dua makam atau kuburan, beliau mengatakan:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَتَنَزَّهُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ

“Sesungguhnya kedua orang yang dikubur ini sungguh sedang disiksa (di alam kubur, ini adalah kejadian ghaib tertentu yang Allah khususkan hanya untuk Nabi-Nya-admin) dan tidaklah keduanya disiksa karena perkara yang besar (dalam pandangan orang). Adapun salah satunya (dia disiksa) karena sebab tidak berhati-hati dari terkena najis saat buang air kecil dan yang lainnya (dia disiksa) karena sebab mengadu domba.”

Disamping itu, namimah adalah perbuatan yang sangat tercela lagi berbahaya, yang akan merusak persahabatan dan persaudaraan. Bahkan namimah bisa merusak kecintaan antara sepasang suami istri, bapak dengan anaknya, atau seseorang dengan saudaranya, serta bisa merusak persaudaraan di antara kaum muslimin. Bahkan peperangan bisa terjadi karena namimah. Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam pelakunya tidak akan masuk surga.

Sebagian ulama, seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu menggolongkan namimah ke dalam jenis sihir. Karena namimah bisa merusak persaudaraan dan kecintaan antara dua pihak, sebagaimana pengaruh yang ditimbulkan sihir. Bahkan sebagian ulama yang lain mengatakan: “Sungguh ahli namimah itu bisa merusak dalam sekejap sebagaimana tukang sihir merusak dalam waktu satu bulan.”

Ummu Abdillah berkata: “Ketahuilah, orang yang melakukan namimah untuk kepentinganmu, maka dia akan melakukan namimah untuk membinasakanmu juga. Oleh karena itu, nasihatilah orang yang berbuat demikian dengan lemah lembut dan pengarahan yang baik berulang kali. Apabila dia tidak mau meninggalkannya maka peringatkanlah saudara-saudaramu darinya. Jauhilah dia, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka mengalihkan pada pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)

BAHAYA NAMIMAH dalam DAKWAH ↑ up

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah berkata: “Jauhilah faktor-faktor yang akan menumbuhkan kebencian, permusuhan, perselisihan, dan perpecahan. Jauhilah perkara-perkara ini. Karena perkara ini telah tersebar pada masa ini melalui usaha orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui keadaan dan tujuan mereka. Benar-benar tersebar dan meluas. Perkara-perkara ini telah mencabik-cabik para pemuda di negeri ini (Arab Saudi), baik di universitas Islam maupun tempat lainnya. Bahkan di seluruh dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena yang terjun di medan dakwah bukanlah orang-orang yang ahli, baik dari sisi ilmu maupun pemahamannya. Boleh jadi, musuh-musuh dakwah ini telah menyusupkan orang-orang yang akan mengacaukan dan memecah-belah di tengah-tengah salafiyyin. Ini bukanlah perkara yang mustahil, bahkan betul-betul telah terjadi. Maka bersemangatlah kalian untuk menjaga persaudaraan dan persatuan.” (Al-Hatstsu ‘alal Mawaddah, hal. 39-40)

Wallahu a’lam. ↑ up

Sumber:

Nikmat Lisan, Untuk Apa Kita Gunakan?. Penulis : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=836.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: