IHDAD , Berkabung atas Kematian Yang Disayangi


Meninggalnya suami ataupun orang dekat yang dikasihi jelas menggoreskan luka dan duka di dalam hati. Karena suasana hati yang berkabung, tak ada hasrat berhias diri, menyentuh wewangian, ataupun berpakaian indah. Syariat Islam yang mulia pun tidak mengabaikan keadaan ini. Maka dibolehkanlah ber-ihdad, bahkan wajib bagi seorang istri bila suaminya meninggal dunia, disebabkan besarnya hak suami terhadapnya. Mungkin timbul tanya, apakah ihdad itu?

PENGERTIAN IHDAD

Ihdad maknanya meninggalkan perhiasan dan wangi-wangian di waktu tertentu, oleh seseorang yang ditinggalkan oleh orang dekat yang dikasihinya karena kehilangan dan kesedihan yang mendalam. Perlu ditekankan disini, ihdad berbeda dengan ‘iddah, meskipun terkadang masa ihdad sama dengan masa ‘iddah. Pembahasan ‘iddah akan datang tersendiri Insya-Allah.

Bila dikatakan seorang istri berihdad atas kematian suaminya, maknanya si istri yang sedang menjalani masa ihdad karena meninggalnya suaminya, menahan diri dari mengenakan perhiasan seluruhnya baik berupa make up, wewangian (parfum), dan selainnya serta segala hal yang menjadi pendorong untuk melakukan jima’. (Al-Minhaj 9/350, Fathul Bari 9/600, Asy-Syarhul Mumti’ 5/712, Nailul Authar 6/343.)

Sebagian ulama melekatkan pengertian ihdad pada istri dengan pengertian: ihdad adalah istilah bagi tenggang waktu yang dijalani seorang istri di mana dalam masa itu ia harus menahan diri/menunda untuk menikah lagi setelah wafatnya sang suami atau setelah bercerai dengannya, baik perhitungannya dengan kelahiran kandungan, dengan quru`, atau dengan bulan. (Fathul Bari, 9/582, Subulus Salam 3/307)

HUKUM IHDAD

Zainab bintu Abi Salamah berkata, “Aku masuk menemui Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat datang berita kematian ayahnya Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu dari negeri Syam. Pada hari ketiga setelah meninggalnya sang ayah, Ummu Habibah meminta minyak wangi lalu mengusapkannya pada kedua sisi wajahnya dan kedua pergelangannya. “Demi Allah!”, katanya, “Aku sebenarnya tidak berkeinginan terhadap wewangian. Hanya saja aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar:

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ تُحِدُّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ، أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berihdad terhadap mayat lebih dari tiga hari kecuali bila yang meninggal itu suaminya, maka ia berihdad selama empat bulan sepuluh hari.”

Zainab berkata lagi, “Kemudian aku masuk menemui Ummul Mukminin Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha ketika saudara laki-lakinya meninggal dunia. Lalu ia minta diambilkan minyak wangi untuk diusapkan pada dirinya.Ia pun berkata, ‘Aku sebenarnya tidak berkeinginan terhadap wewangian. Hanya saja aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar:

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berihdad terhadap mayat lebih dari tiga hari. Kecuali bila yang meninggal itu suaminya, maka ia berihdad selama empat bulan sepuluh hari’.”

Zainab melanjutkan penjelasannya, “Aku pernah mendengar ibuku, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, berkata, ‘Datang seorang wanita menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, suami putriku telah meninggal dunia. Sementara putriku mengeluhkan rasa sakit pada matanya. Apakah kami boleh memakaikan celak pada matanya?’ ‘Tidak,’ jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak dua atau tiga kali. Setelahnya beliau bersabda: “Masa ihdad itu hanyalah empat bulan sepuluh hari. Adapun dulu di masa jahiliah salah seorang wanita dari kalian menjalani masa iddahnya selama satu tahun.” (HR. Al-Bukhari no. 1281, 1282, 5336 dan Muslim no. 3709)

Ihdad Bagi Istri Yang Ditinggal Suami

Berihdad atas kematian suami wajib dijalani seorang istri selama empat bulan sepuluh hari (sama dengan masa ‘iddahnya -admin). Demikian pendapat mayoritas ulama bahkan hampir seluruh mereka, kecuali pendapat berbeda yang dinukilkan dari Al-Hasan Al-Bashri [1] dan Asy-Sya’bi. Namun pendapat keduanya ganjil, menyelisihi sunnah hingga tak perlu ditengok. Kata Al-Imam Ahmad rahimahullahu, “Tersembunyi perkara ihdad ini bagi keduanya.”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata, “Dalam hadits di atas ada dalil wajibnya berihdad bagi wanita yang menjalani ‘iddah karena wafatnya suami. Perkara ini secara umum disepakati walaupun ulama berselisih dalam perinciannya. Ihdad ini wajib bagi setiap wanita yang menjalani ‘iddah karena kematian suami, baik ia telah ‘berkumpul’ dengan suaminya atau pun belum, si wanita masih kecil atau sudah besar, perawan (ketika dinikahi suaminya) atau sudah janda, wanita merdeka atau budak, wanita muslimah atau wanita kafir. Ini merupakan madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dan jumhur. Abu Hanifah rahimahullahu [2] dan selainnya dari kalangan ulama negeri Kufah, Abu Tsaur rahimahullahu, dan sebagian Malikiyah menyatakan, “Tidak wajib berihdad bagi seorang istri dari kalangan ahlul kitab (Yahudi atau Nasrani, –pent.). Karena ihdad hanya khusus bagi istri yang muslimah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ…  ‘Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah….’ Dalam hadits di atas dikhususkan penyebutan wanita yang beriman (mukminah).”

Al-Qadhi rahimahullahu berkata: “Wajibnya ihdad bagi wanita yang meninggal suaminya diketahui dari kesepakatan ulama yang membawa hadits tentang ihdad kepada hukum wajib. Walaupun dalam lafadz hadits tersebut tidak ada yang menunjukkan wajibnya, akan tetapi mereka sepakat membawa hadits tersebut kepada hukum wajib. Bersamaan pula adanya pendukung dari sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain seperti hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha [3], hadits Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha tentang celak, minyak wangi, dan pakaian perhiasan, serta pelarangan beliau darinya. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 9/351-352)

‘Iddah seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya adalah 4 bulan 10 hari, sebagaimana tersebut dalam ayat:

وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri-istri maka hendaklah para istri tersebut menangguhkan dirinya (ber’iddah) selama empat bulan sepuluh hari….” (Al-Baqarah: 234)

Adapun bila si istri yang ditinggal mati oleh suaminya itu dalam keadaan hamil, tentang masa ‘iddahnya ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama sendiri berpendapat ‘iddahnya sampai dengan melahirkan. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 3/115)

Bila seorang wanita yang berstatus budak dinikahkan oleh tuannya dengan seorang lelaki, lalu si lelaki meninggal dunia maka wanita tersebut wajib berihdad berdasarkan keumuman ayat Al-Baqarah: 234. Permasalahan ihdad ini berkaitan dengan hak suami. Dan ihdad merupakan perkara yang mengikuti iddah. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/717)

Juga bagi istri kafir yakni dari kalangan Yahudi atau Nasrani. Apabila ada wanita Yahudi atau Nasrani yang dinikahi oleh seorang muslim, lalu si suami meninggal dunia maka si istri wajib berihdad. Karena ihdad itu mengikuti ‘iddah walaupun si istri kafir. Dalilnya adalah keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Baqarah: 234) [Asy-Syarhul Mumti’, 5/715]. Jumhur (yakni yang berpendapat bahwa ihdad berlaku bagi setiap istri yang ditinggal mati suaminya, baik si istri muslimah ataupun non muslimah-red) memberi jawaban dengan menyatakan bahwa dalam hadits disebutkan orang yang beriman karena hanya orang berimanlah yang bisa mengambil buah dari pembicaraan sang penetap syariat, mengambil manfaat dengannya dan terikat padanya. Karena itulah, sasaran pembicaraan dalam hadits dikaitkan dengannya.

Dalam Fathul Bari disebutkan, jawaban jumhur dalam hal ini adalah bahwa lafadz beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala disebutkan sebagai penekanan untuk menyatakan sangat dicercanya hal tersebut (berihdad lebih dari tiga hari karena kematian selain suami). Sehingga tidak bisa difahami bahwa ihdad hanya berlaku bagi wanita yang beriman. Sebagaimana kalau kita menyatakan, “Ini adalah jalan kaum muslimin .” Sementara jalan tersebut terkadang dilalui pula oleh selain kaum muslimin. (9/602). Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menyatakan bahwa yang dimaukan dengan hadits:  لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ  adalah untuk memberi hasungan dan anjuran kepada wanita agar tidak melakukan perbuatan demikian. Bukan maksudnya membatasi hukumnya hanya untuk wanita beriman saja sementara yang lain tidak masuk di dalamnya. Sebagaimana kalau kita mengatakan, “Tidak mungkin seorang yang dermawan menghinakan tamunya.” Kita maksudkan dengan kalimat ini sebagai hasungan untuk memuliakan tamu. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/716)

Tidak ada Ihdad Bagi Ummu Walad

Ulama sepakat tidak ada ihdad bagi ummul walad (budak perempuan yang telah melahirkan anak untuk tuannya, –pent.), tidak pula bagi budak perempuan yang tuannya meninggal. Karena mereka tidak berstatus istri dan si mayat bukan suami mereka. Sementara dalam hadits disebutkan dengan lafadz:  إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ  “…kecuali bila yang meninggal suaminya….” (Al-Mughni, kitab Al-‘Iddah, fashl La Ihdada ‘ala Ghairiz Zaujat)

Tidak ada Ihdad Bagi Wanita yang Di-Talak

Ulama sepakat tidak ada ihdad juga istri yang ditalak raj’i (talak satu dan dua atau talak yang bisa dirujuk kembali oleh suaminya, –pent.).

Adapun terhadap istri yang ditalak tiga (talak ba’in), mereka berbeda pendapat. ‘Atha`, Rabi’ah, Malik, Al-Laits, Asy-Syafi’i, dan Ibnul Mundzir rahimahumullah berpendapat tidak ada ihdad baginya. Sedangkan Al-Hakam, Abu Hanifah, ulama Kufah, Abu Tsaur, dan Abu Ubaid rahimahumullah berpendapat ada ihdad bagi istri yang ditalak tiga. Asy-Syafi’i rahimahullahu juga memiliki pendapat seperti ini, namun merupakan pendapat yang lemah dari beliau.

Mereka yang berpendapat tidak ada ihdad bagi wanita yang ditalak tiga, berdalil dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ تُحِدُّ عَلَى مَيِّتٍ …

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berihdad terhadap mayat….”

Kata Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu, “Dalam ucapan Nabi: عَلَى مَيِّتٍ  ada dalil tentang tidak adanya ihdad bagi istri yang ditalak. Bila talaknya raj’i maka perkaranya disepakati. Adapun kalau talaknya ba’in, jumhur ulama berpendapat tidak ada ihdadnya.” (Subulus Salam, 3/313)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan kebolehan berihdad hanya disebabkan kematian seseorang (عَلَى مَيِّتٍ) setelah mengharamkannya.

Ihdad Kematian bagi Selain Kematian Suami

Dalam hadits di atas juga terdapat dalil bolehnya berihdad karena kematian kerabat (yakni selain kematian suami, baik kematian ayah, ibu saudara laki-laki, anak dan sebagainya) selama tiga hari dan tidak boleh (haram) jika lebih. Batasan waktu tiga hari ini dibolehkan karena syariat memerhatikan keadaan jiwa dan tabiat seorang manusia yang jelas berduka bila ditinggal mati oleh orang yang dikasihinya hingga ia tak berselera berdandan, memakai pakaian bagus dan sebagainya. Karena itulah Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha dan Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha memakai wewangian untuk keluar dari ihdadnya. Dan secara jelas keduanya menyatakan bahwa mereka memakai wangi-wangian bukan karena suatu kebutuhan. Ini sebagai isyarat bahwa bekas-bekas kesedihan masih ada pada mereka, namun karena syariat tidak membolehkan berihdad lebih dari tiga hari, maka tidak ada yang melapangkan mereka kecuali berpegang dengan perintah agama. (Fathul Bari 9/601, 602, Asy-Syarhul Mumti’ 5/712, Nailul Authar 6/3434, Zadul Ma’ad 4/220, Subulus Salam 3/312)

Waktu tiga hari tersebut hukumnya tidak wajib namun sekedar mubah saja, yakni asalnya diharamkan akan tetapi diperbolehkan semata-mata untuk waktu tiga hari saja. Bahkan bila si wanita meninggalkannya karena ingin menyenangkan suaminya maka hal itu lebih baik, sehingga ia tetap berdandan dan berpenampilan bagus di hadapan suaminya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata, “Ihdad karena kematian selain suami tidaklah wajib karena adanya kesepakatan mereka (ahlul ilmi) dalam hal ini, sehingga bila suaminya mengajaknya jima’, tidaklah halal baginya untuk menolaknya dalam keadaan seperti itu.” (Fathul Bari, 3/146)

Berikut ini ada pelajaran dari kisah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha sebagaimana diceritakan oleh putranya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

ماَتَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لِأَهْلِهَا: لاَ تُحَدِّثُوْا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَنَا أُحَدِّثُهُ. قَالَ: فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ، فَقَالَ: ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَتْ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا، فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا، قَالَتْ: يَا أَبَا طَلْحَةَ، أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوْا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ، أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوْهُمْ؟ قَالَ: لاَ. قَالَتْ: فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ: فَغَضِبَ وَقَالَ: تَرَكْتِنِي حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِي بِابْنِي! فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَارَكَ اللهُ لَكُمَا فِي لَيْلَتِكُمَا. قَالَ: فَحَمَلَتْ

Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia. Maka Ummu Sulaim berpesan kepada keluarganya, “Jangan kalian sampaikan kepada Abu Thalhah berita kematian anaknya hingga aku sendiri yang akan menyampaikannya.” Anas berkata: Datanglah Abu Thalhah, Ummu Sulaim pun menghidangkan makan malam untuk suaminya. Suaminya pun makan dan minum. Kemudian Ummu Sulaim berhias untuk suaminya dengan dandanan paling bagus dari dandanan yang pernah dilakukan sebelumnya. Hingga suaminya tertarik untuk menggaulinya. Tatkala Ummu Sulaim melihat suaminya telah kenyang dan telah selesai dari hasratnya, ia membuka pembicaraan, “Wahai Abu Thalhah, apa pendapatmu bila ada suatu kaum meminjamkan barang mereka kepada suatu keluarga, kemudian kaum tersebut meminta kembali barang yang dipinjamkannya. Apakah keluarga tersebut berhak menahan barang pinjaman itu?” “Tentunya tidak,” jawab Abu Thalhah. “Kalau begitu, bersabarlah dan harapkan pahala atas kematian putramu,” jelas Ummu Sulaim. Kata Anas: Marahlah Abu Thalhah dan ia berkata, “Engkau biarkan aku hingga berlumuran janabah seperti ini baru engkau ceritakan tentang kematian anakku!” (Keesokan harinya) Abu Thalhah pergi menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas menceritakan kejadian yang telah menimpanya. “Semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam kalian itu,” doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ternyata Ummu Sulaim mengandung (dari hubungannya dengan suaminya malam itu).” (HR. Muslim no. 6272)

Kematian anak jelas menggoreskan duka yang teramat dalam. Tapi lihatlah apa yang dilakukan seorang wanita shalihah yang diberitakan sebagai ahlul jannah oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha. Ia tetap berdandan untuk suami serta melayaninya, karena itulah yang wajib dilakukannya sebagai seorang istri.  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْفَةً، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوْا: هَذِهِ الْغُمَيْصَاءُ بِنْتُ مِلْحَانَ، أُمُّ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ

“Aku masuk ke dalam surga, lalu aku dengar suara orang berjalan, maka kutanyakan, “Siapa itu?” Mereka menjawab, “Al-Ghumaisha’ bintu Milhan, ibu Anas bin Malik.” (HR. Muslim no. 6270)

Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata, “Ummu Sulaim namanya Ar-Rumaisha` dan Al-Ghumaisha`. Namun yang masyhur Al-Ghumaisha`. Sedangkan Ar-Rumaisha nama Ummu Haram saudara perempuannya.” (Al-Minhaj, 15/229)

LAMA IHDAD WANITA YANG DITINGGAL MATI SUAMINYA

Wanita yang tidak hamil

Lamanya masa ihdad adalah selama masa ‘iddah seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, yaitu empat bulan sepuluh hari (malam dan siangnya-admin) sebagaimana ditunjukkan dalam hadits di atas. Dan sepuluh hari yang disebutkan dalam hadits: وَعَشْرًا mencakup pula malam-malamnya. (Fathul Bari 9/603)

Kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, “Ini merupakan madzhab kami dan madzhab ulama secara keseluruhan. Kecuali pendapat berbeda yang dihikayatkan dari Yahya ibnu Abi Katsir dan Al-Auza’i yang menyatakan lamanya empat bulan sepuluh malam dan si wanita telah halal (tidak lagi berihdad) pada hari yang kesepuluh (karena menurut pendapat ini, yang terhitung hanyalah malam tidak menyertakan hari-red). Sementara pendapat kami dan jumhur, si wanita tidak halal hingga ia masuk malam yang kesebelas (setelah berlalu hari kesepuluhnya-red).” (Al-Minhaj, 9/352)

wanita hamil

Bila si istri dalam keadaan hamil, maka masa iddah dan ihdadnya berakhir dengan melahirkan kandungannya, walaupun ia melahirkan sesaat sebelum jenazah suaminya dimandikan. Iddahnya saat itu telah berakhir dan halal baginya untuk menikah. Demikian pendapat jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 3/115, Al-Hawi 11/235, Al-Minhaj 9/348, Al-Mughni kitab Al-‘Iddah, fashl Aqsamul Mu’tadat, Al-Muhalla bil Atsar 10/41), dengan dalil ayat berikut ini:

وَأُولاَتُ اْلأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Dan istri-istri yang sedang hamil waktu iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (Ath-Thalaq: 4)

Dan juga berdalil dengan kisah Subai’ah Al-Aslamiyyah radhiyallahu ‘anha. Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan:

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَسْلَمَ يُقَالُ لَهَا سُبَيْعَةُ كَانَتْ تَحْتَ زَوْجِهَا تُوُفِّيَ عَنْهَا وَهِيَ حُبْلَى. فَخَطَبَهَا أَبُو السَّنَابِلِ بنُ بَعْكَكِ فَأَبَتْ أَنْ تَنْكِحَهُ. فَقَالَ: وَاللهِ مَا يَصْلُحُ أَنْ تَنِكِحِيْهِ حَتَّى تَعْتَدِّي آخِرَ اْلأَجَلَيْنِ. فَمَكَثَتْ قَرِيْبًا مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ ثُمَّ جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: انْكِحِيْ

Ada seorang wanita dari Aslam bernama Subai’ah. Ia sedang hamil saat suaminya meninggal dunia. Setelah melahirkan ia dipinang oleh Abus Sanabil bin Ba’kak, namun Subai’ah menolak untuk menikah dengannya. Lalu Abus Sanabil berfatwa kepada Subai’ah, “Demi Allah, tidak sepantasnya engkau menikah dengannya [4] sampai engkau beriddah dalam waktu yang paling akhir (paling panjang) dari dua waktu yang ada [5].” Maka Subai’ah pun berdiam selama sepuluh malam. Kemudian ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk bertanya tentang perkaranya dan ternyata Nabi bersabda, “Menikahlah.” (HR. Al-Bukhari no. 5318)

Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud mengabarkan bahwa ayahnya menulis surat kepada ‘Umar bin Abdilllah Ibnul Arqam Az-Zuhri memerintahkannya agar bertanya kepada Subai’ah Al-Aslamiyyah tentang haditsnya dan tentang apa yang difatwakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkaranya ketika ia minta fatwa. Maka Umar bin Abdillah pun membalas surat Abdullah bin Utbah mengabarkan bahwa Subai’ah berkisah,

dulunya ia bersuamikan Sa’d bin Khaulah yang bernisbah kepada Bani Amir bin Lu`ai. Suaminya termasuk shahabat yang ikut dalam perang Badar. Ketika haji wada’, suaminya meninggal dunia dalam keadaan ia sedang mengandung. Tidak berapa lama setelahnya ia melahirkan. Sesucinya dari nifasnya, ia pun berdandan untuk menerima orang-orang yang mau melamarnya. Ketika itu masuk Abus Sanabil bin Ba’kak, seorang lelaki dari Bani Abdid Dar, menemuinya sambil berkata memberi fatwa, “Kenapa aku melihatmu berdandan? Mungkinkah engkau ingin menikah lagi? Padahal demi Allah, engkau tidak boleh menikah hingga berlalu waktu empat bulan sepuluh hari.” Subai’ah berkata, “Mendengar ucapan demikian darinya, maka pada sore harinya aku menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang hal tersebut. Ternyata beliau memfatwakan bahwa aku telah halal (selesai dari masa iddah) ketika aku melahirkan kandunganku, dan beliau memerintahkan agar aku menikah jika ada keinginan ke sana.” (HR. Al-Bukhari no. 3991, 5319 dan Muslim no. 3706)

Sepanjang masa iddahnya, si istri harus berihdad hingga selesai melahirkan kandungannya, sama saja baik masanya pendek atau panjang. Bila ia telah melahirkan maka tidak ada ihdad setelahnya (Al-Minhaj 9/352, Al-Muhalla 10/72, Asy-Syarhul Mumti’ 5/714).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa Subai’ah telah selesai iddahnya dan halal untuk menikah tatkala ia telah melahirkan dan Nabi tidak mensyaratkan agar Subai’ah suci dulu dari nifasnya, karena nifas sebagaimana haid bukanlah penghalang untuk melangsungkan akad nikah. Ibnu Syihab rahimahullahu berkata, “Aku memandang tidak apa-apa si wanita menikah seselesainya dari melahirkan, walaupun darah nifasnya masih keluar. Hanya saja suaminya yang baru tersebut tidak boleh menggaulinya sampai ia suci dari nifasnya.” (Al-Minhaj 9/349)

Masa iddah disertai ihdad yang harus dijalani seorang istri yang ditinggal mati suami ini terhitung masa yang pendek bila dibandingkan dengan keadaan wanita di masa jahiliahnya bangsa Arab. Di mana seorang istri yang ditinggal mati suami harus berkabung selama setahun, sebagaimana telah disinggung dalam hadits tentang ihdad di atas.

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang iddah wanita di jaman jahiliah dengan pernyataan:

قَدْ كَانَتْ إِحْدَاكُنَّ تَكُوْنُ فِي شَرِّ بَيْتِهَا فِي أَحْلاَسِهَا – أَوْ: فِي شَرِّ أَحْلاَسِهَا فِي بَيْتِهَا – حَوْلاً، فَإِذَا مَرَّ كَلْبٌ رَمَتْ بِبَعْرَةٍ فَخَرَجَتْ …

“Dulunya salah seorang wanita dari kalian menjalani masa iddahnya dengan menetap di rumahnya yang paling buruk dengan mengenakan pakaiannya yang paling jelek –atau: ia mengenakan pakaiannya yang paling jelek di dalam rumahnya– selama satu tahun. Apabila lewat seekor anjing, ia melempar kotoran hewan kemudian ia keluar….” (HR. Al-Bukhari no. 1280 dan Muslim no. 3711)

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu menyatakan, dalam hadits di atas ada isyarat pendeknya waktu ihdad seorang istri bila dibandingkan dengan iddah dan ihdad para istri di masa jahiliah, sehingga sepatutnya si istri lebih bersabar menjalaninya. (Ihkamul Ahkam, kitab Ath-Thalaq, bab Al-‘Iddah)

Sebenarnya masa iddah dan ihdad selama setahun tersebut terus berlanjut setelah datangnya Islam, dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ

“Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri-istri, hendaklah mereka berwasiat untuk istri-istrinya, yaitu diberi nafkah hingga setahun lamanya…” (Al-Baqarah: 240)

Namun kemudian ayat ini dihapus dengan ayat yang sebelumnya, yaitu:

وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri-istri, hendaklah para istri itu menangguhkan diri mereka (beriddah) selama empat bulan sepuluh hari …” (Al-Baqarah: 234)

Lihat Tafsir Ibni Katsir 1/388, Al-Hawil Kabir 11/232.

SIFAT-SIFAT IHDAD: YANG HARUS DITINGGALKAN DAN DIJAUHI

Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كُنَّا نُنْهَى أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا، وَلاَ نَكْتَحِلَ وَلاَ نَطَّيَّبَ وَلاَ نَلْبَسَ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا إِلاَّ ثَوْبَ عَصْبٍ. وَقَدْ رَخَصَ لَنَا عِنْدَ الطُّهْرِ إِذَا اغْتَسَلَتْ إِحْدَانَا مِنْ مَحِيْضِهَا فِي نُبْذَةٍ مِنْ كُسْتِ أَظْفَارٍ…

“Kami dilarang berihdad atas mayat lebih dari tiga hari kecuali bila yang meninggal itu suami maka istrinya berihdad selama empat bulan sepuluh hari. Selama ihdad itu kami tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai wangi-wangian, dan tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian ‘ashbin. Rasulullah memberikan rukhshah bagi kami ketika suci dari haid, apabila salah seorang dari kami mandi suci dari haidnya ia boleh memakai sedikit kust azhfar….” (HR. Al-Bukhari no. 313, 5341 dan Muslim no. 3722)

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا لاَ تَلْبَسُ الْمُعَصْفَرَ مِنَ الثِّيَابِ وَلاَ الْمُمَشَّقَةَ وَلاَ الْحُلِِّي وَلاَ تَخْضَبُ وَلاَ تَكْتَحِلُ

“Wanita yang ditinggal mati suaminya tidak boleh mengenakan pakaian yang mu’ashfar dan pakaian yang dicelup dengan tanah berwarna merah (mumasysyaqah). Tidak boleh pula mengenakan perhiasan, tidak boleh menyemir rambut (ataupun memacari kuku), dan tidak boleh bercelak.” (HR. Abu Dawud no. 2304, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)

Ibnu Qudamah rahimahullahu menyebutkan ada tiga macam yang harus dijauhi wanita yang berihdad.

Pertama: Bersolek/menghiasi dirinya seperti memakai pacar, memakai kosmetik pada wajah, memakai itsmid (celak).
Kedua: Pakaian perhiasan seperti pakaian yang dicelup agar menjadi indah misalnya mu’ashfar, muza’far, celupan berwarna merah, dan seluruh warna yang memperindah pemakainya seperti biru, hijau, dan kuning.
Ketiga: Perhiasan seluruhnya seperti cincin dan yang lainnya. Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata, “Perkataan ‘Atha` rahimahullahu, ‘Dibolehkan memakai perhiasan dari perak karena yang dilarang adalah perhiasan dari emas’, tidaklah benar. Karena larangan yang disebutkan dalam hadits sifatnya umum, dan juga perhiasan akan menambah kebagusan si wanita dan memberi dorongan untuk menggaulinya.” (Al-Mughni, Kitab Al-‘Idad, Fashl Ma Tajtanibuhul Haddah)

Wanita yang ber-ihdad tidak boleh memakai celak, minyak wangi/wewangian, pakaian yang dicelup kecuali kain ashb, semir, pacar kuku, pakaian yang dicelup dengan warna merah (mu’ashfar), dan yang dicelup dengan tanah merah (mumasysyaqah) serta perhiasan.

Tidak Boleh Bercelak secara Mutlak

Zainab bintu Abu Salamah mengabarkan dari ibunya, Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha:

جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ ابْنَتِي تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا، وَقَدِ اشْتَكَتْ عَيْنَهَا، أَفَتَكْحِلُهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ- مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا، كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ: لاَ.

Datang seorang wanita menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ”Wahai Rasulullah, suami putriku telah meninggal dunia. Sementara putriku mengeluhkan rasa sakit pada matanya. Apakah ia boleh mencelaki matanya?” ”Tidak,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak dua atau tiga kali.” (HR. Al-Bukhari no. 5336 dan Muslim no. 3709)

Ibnu Hazm rahimahullahu berkata, “Wajib bagi wanita yang berihdad untuk tidak memakai celak baik karena ada ataupun tidak ada kebutuhan darurat, sekalipun hilang kedua matanya (buta). Larangan ini berlaku malam dan siang.” (Al-Muhalla, 10/63)

Ada hadits yang membolehkan memakai celak bila darurat sebagaimana berita dari ibu Ummu Hakim bintu Usaid. Ketika suaminya wafat dan masih dalam masa ihdad ia mengeluhkan sakit pada matanya, maka ia pun memakai celak itsmid. Lalu diutusnya bekas budaknya untuk menanyakan hal itu kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pun berkata, “Janganlah engkau bercelak dengannya kecuali bila memang terpaksa karena sakit yang sangat. Engkau boleh bercelak pada malam hari namun harus engkau hapus pada siang hari”. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهُِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ تُوُفِّيَ أَبُوْ سَلَمَةَ وَقَدْ جَعَلْتُ عَلَى عَيْنِي صَبْرًا، فَقَالَ: مَا هذَا يَا أُمَّ سَلَمَةَ؟ فَقُلْتُ: إِنَّمَا هُوَ صَبْرٌ يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَيْسَ فِيْهِ طِيْبٌ. قَالَ: إِنَّهُ يَشُبُّ الْوَجْهُ فَلاَ تَجْعَلِيْهِ إِلاَّ بِاللَّيْلِ وَتَنْزِعِيْهِ بِالنَّهَارِ وَلاَ تَمْتَشِطِي بِالطِّيْبِ وَلاَ بِالْحِنَاءِ فَإِنَّهُ خِضَابٌ. قَالَتْ: قُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَمْتَشِطُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: السِّدْرُ تُغَلِّفِيْنَ بِهِ رَأْسَكِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempatku ketika Abu Salamah wafat sementara aku memakai shabr (jenis celak) pada kedua mataku. Beliau bertanya, “Apa yang kau pakai pada matamu, wahai Ummu Salamah?” “Ini cuma shabr, wahai Rasulullah, tidak mengandung wewangian,” jawabku. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Shabr itu membuat warna wajah bercahaya/menyala, maka jangan engkau memakainya kecuali pada waktu malam dan hilangkan di waktu siang. Jangan menyisir (mengolesi) rambutmu dengan minyak wangi dan jangan pula memakai hina` (inai/daun pacar) karena hina` itu (berfungsi) sebagai semir (mewarnai rambut dan kuku, –pent.).” Ummu Salamah berkata, “Kalau begitu dengan apa aku meminyaki rambutku, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Daun sidr dapat engkau pakai untuk memolesi rambutmu.” (HR. Abu Dawud no. 2305)

Akan tetapi hadits ini dha’if jiddan (sangat lemah) karena sanadnya munqathi’ (terputus) dan di antara para perawinya ada orang-orang yang majhul. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mendhaifkannya dalam Dha’if Abi Dawud.

Dengan demikian, larangan memakai celak merupakan larangan yang mutlak sekalipun wanita tersebut sedang menderita sakit pada kedua matanya. Adapun pembolehan memakainya ketika malam lantas dihilangkan pada siang hari, sandarannya adalah hadits yang sangat lemah sebagaimana diterangkan di atas. Kalaupun ada keluhan sakit pada mata, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan obat-obatan selain celak yang bisa dipakai untuk menyembuhkan sakit tersebut dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala? Seperti obat tetes mata, salep, dan selainnya. Bila demikian, tidak ada alasan bagi yang berihdad untuk memakai celak dengan dalih sakit mata karena sakit mata Insya Allah bisa diobati dengan obat-obatan yang lain. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Tidak Boleh Berwangi-wangian

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu berkata, “Dari ucapan Ummu ‘Athiyyah, ‘Kami tidak boleh memakai wewangian’ menunjukkan haramnya minyak wangi bagi wanita yang sedang berihdad. Yang terlarang di sini adalah segala yang dinamakan wewangian dan tidak ada perselisihan pendapat dalam hal ini.” (Nailul Authar, 6/346)

Pengecualian yang disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyyah adalah كُسْتِ أَظْفَارٍ  yakni semacam buhur/dupa/wewangian dan sebagian ulama mengatakan, Azhfar adalah nama kota yang ada di Yaman. Ada pula yang mengatakan nama buhur (Fathul Bari, 1/537). Menggunakan buhur setelah mandi suci dari haid dibolehkan karena tujuannya untuk menghilangkan bau yang tidak sedap di sekitar daerah yang terkena darah haid, bukan tujuannya untuk berwangi-wangi. (Al-Minhaj, 10/357)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu menyatakan bahwa hadits Ummu ‘Athiyyah di atas menjadi dalil dibolehkannya menggunakan sesuatu yang dapat menghilangkan aroma tidak sedap bila memang sifatnya bukan untuk berhias atau berwangi-wangi seperti menggunakan minyak pada rambut kepala atau selainnya. (Fathul Bari, 9/609)

Al-Imam Malik rahimahullahu menyatakan bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya boleh berminyak dengan zaitun dan semisalnya selama tidak mengandung minyak wangi. (Al-Muwaththa`, 2/599)

Tidak Boleh Mempercantik Diri dengan Bersolek

Dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/720-721), Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu mengatakan bahwa di antara yang dilarang bagi wanita yang berihdad adalah, “At-tahsin yaitu mempercantik diri dengan memakai hina` (inai/daun pacar) atau dengan bunga mawar, pemerah pipi/bibir, celak, atau yang lainnya. Apa saja yang dapat mempercantik (anggota) tubuhnya, tidak boleh dipakainya sampaipun membaguskan kuku dengan kutek misalnya. Apa saja yang teranggap mempercantik dan memperbagus dirinya tidak boleh dipakai/digunakannya (sampai selesai ihdadnya, –pent.).”

Batasan berhias atau tidak berhias kembalinya kepada ’urf (adat kebiasaan) setiap zaman dan tempat. Sehingga tidak bisa diberi ketentuan pakaian yang bentuknya bagaimana dan penampilan bagaimana yang teranggap berhias. (Taisirul ‘Allam, 2/354)

Tidak Boleh Berpakaian yang Menarik / Dicelup agar Menjadi Indah

Ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ummu ‘Athiyyah di atas: لاَ تَلْبِسُ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا  merupakan dalil dilarangnya seluruh pakaian yang dicelup dalam masa ihdad, dengan warna apa saja terkecuali apa yang dikecualikan dalam hadits, yaitu ثَوْبُ عَصَبٍ. Demikian yang dinyatakan Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu dalam Subulus Salam (3/314).

ثَوْبُ عَصَبٍ adalah kain bergaris dari Yaman yang diikat benang tenunnya kemudian dicelup, setelahnya ditenun dalam keadaan terikat. Hasilnya berupa kain berwarna namun masih tersisa warna putih tidak terkena celupannya (Fathul Bari, 9/608). Pada kain ini ada warna hitam dan putih. (Ihkamul Ahkam fi Syarhi ’Umdatil Ahkam, kitab Ath-Thalaq, bab Al-’Iddah)

Terkadang dari hadits di atas diambil pengertian bolehnya memakai pakaian yang tidak dicelup dalam masa ihdad, yaitu pakaian yang berwarna putih. Sebagian pengikut mazhab Malikiyah melarang pakaian putih yang mahal yang digunakan untuk berpenampilan, demikian pula warna hitam yang bagus. (Ihkamul Ahkam fi Syarhi ‘Umdatil Ahkam, kitab Ath-Thalaq, bab Al-‘Iddah)

Pakaian yang dilarang الْمُعَصْفَرَ  (mu’ashfar) yaitu pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur (safflower). Menurut Asy-Syaukani, warnanya menjadi merah sebagaimana dalam Nailul Authar (syarah hadits 560, Kitabul Libas, Bab Nahyur Rijal ‘anil Mu’ashfar…). Sedangkan menurut sebagian sumber, terkadang menjadi kekuningan. (ed)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

كاَنَ يَنْهَى الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا عَنِ الطِّيْبِ وَالزِّيْنَةِ

“Nabi melarang wanita yang suaminya meninggal, memakai minyak wangi dan berhias.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya 5/204 dan Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 7/43)

‘Atha` bin Abi Rabah rahimahullahu berkata, “Adalah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma memerintahkan wanita yang suaminya meninggal agar menjauhi minyak wangi/wewangian.” ‘Atha` juga mengatakan, “Wanita yang suaminya meninggal dilarang memakai minyak wangi dan berhias. Maka hati-hati si wanita dari mengenakan setiap pakaian yang bila dilihat akan dikomentari, ‘Ia telah berhias’. Dan tidak boleh baginya mengenakan pakaian yang dicelup, tidak pula perhiasan.” (Riwayat Abdurrazzaq no. 12111)

Bila dikatakan, “Ini pakaian biasa”, berarti tidak wajib untuk ditinggalkan, boleh dikenakan selama ihdad, walaupun pakaian tersebut memiliki model atau berwarna/bercorak. Tapi bila dikatakan, “Ini pakaian untuk berhias”, berarti wajib dijauhi selama ihdad, baik pakaian tersebut meliputi seluruh tubuh atau hanya untuk menutupi sebagiannya seperti celana panjang, rok, syal, dan sebagainya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/720)

Tidak Boleh Memakai Perhiasan

Al-Imam Malik rahimahullahu berkata, “Wanita yang sedang berihdad karena kematian suaminya tidak boleh mengenakan perhiasan sedikitpun baik berupa cincin, gelang kaki atau yang selainnya.” (Al-Muwaththa`, 2/599)

Sama saja baik perhiasan itu dikenakan pada kedua telinga, pada kepala, leher, tangan, kaki atau di atas dada, seluruh macam perhiasan tidak boleh dikenakannya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/721)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Seluruh yang dipakai wanita sebagai perhiasan dalam rangka mempercantik diri tidak boleh dipakai oleh wanita yang sedang berihdad. Ulama dalam mazhab kami tidak menyebutkan permata jauhar, yaqut, dan zamrud, namun semuanya itu masuk dalam makna perhiasan. Wallahu a’lam.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 3/119)

Bagaimana bila Perhiasan Sudah Ada pada Tubuhnya Saat Suaminya Meninggal?

Bila si wanita dalam keadaan berperhiasan saat suaminya meninggal dunia maka ia harus melepaskannya, seperti gelang dan anting-anting. Adapun bila ia memakai gigi emas (gigi palsu dari emas) dan tidak mungkin dilepaskan maka tidak wajib baginya melepasnya, namun ia upayakan untuk menyembunyikannya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/721)

Berdiam di Rumahnya

Dalam Majmu’ Fatawa (17/159), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menjelaskan keharusan wanita yang berihdad untuk tidak berhias dan memakai wewangian pada tubuh serta pakaiannya. Ia harus berdiam dalam rumahnya, tidak boleh keluar di siang hari kecuali ada kebutuhan dan tidak boleh pula keluar di waktu malam kecuali darurat. Ia tidak boleh memakai perhiasan, tidak boleh mewarnai rambut dan kukunya dengan inai atau selainnya.

Kebiasaan Memakai Pakaian Hitam saat Berkabung

Memakai busana hitam saat berkabung/menjalani masa ihdad, tidak keluar ke teras/halaman rumah, tidak naik ke teras atas rumah (balkon), tidak mau melihat bulan saat purnama dengan anggapan karena bulan adalah laki-laki dan berbagai anggapan khurafat lainnya, merupakan perkara yang tidak disyariatkan. Bahkan termasuk bid’ah bila si wanita melakukannya dengan niat ta’abbud (beribadah). Demikian penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/723-724)

Yang Tidak Terlarang bagi Wanita yang Sedang Berihdad

Tidak dilarang baginya untuk memotong kuku, mencabut rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan, mandi dengan daun bidara, atau menyisir rambut karena tujuannya untuk kebersihan bukan untuk berwangi-wangi/berhias. (Al-Mughni, Kitab Al-‘Idad, Fashl Ma Tajtanibuhul Haddah)

Demikian pula mencium minyak wangi karena bila sekedar mencium tidaklah menempel pada tubuh. Sehingga bila seorang wanita yang sedang berihdad ingin membeli minyak wangi, tidak menjadi masalah bila ia menciumnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/720)

Tidak diharamkan baginya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mubah dan dibolehkan pula baginya berbicara dengan laki-laki sesuai keperluannya, selama ia berhijab. Demikianlah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan oleh para wanita dari kalangan sahabat apabila suami-suami mereka meninggal. (Majmu’ Fatawa libni Taimiyah, 17/159)

HIKMAH IHDAD OLEH WANITA

Hikmah Larangan Wanita Mengenakan Perhiasan dan Sebagainya saat Berihdad karena Kematian Suami

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan, “Hikmahnya adalah untuk menghormati hak suami dalam masa ‘iddah karena meninggalnya, hingga tidak ada seorang pun yang berkeinginan untuk menikahi si wanita dalam masa ‘iddah tersebut. Adapun bila si wanita ber-’iddah karena bercerai dengan suaminya yang masih hidup, tidaklah wajib baginya menjauhi hal-hal tersebut karena suaminya masih hidup (tidak ada kewajiban ihdad, –pent.). Seandainya ada seseorang ingin berbuat melampaui batas pada si wanita (istrinya) dalam masa ‘iddah tersebut dan bermaksud meminangnya misalnya, niscaya sang suami dapat mencegahnya (karena selama dalam masa ‘iddah dialah yang paling berhak terhadap si wanita -pent). Inilah, wallahu a’lam, hikmah mengapa seorang istri harus berihdad dalam masa iddahnya yang disebabkan kematian suami, dan tidak wajib dilakukannya dalam masa iddah yang disebabkan cerai hidup dengan suaminya.” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/723)

Suami, selama dalam masa ‘iddah adalah yang paling berhak terhadap si wanita. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَبُعُوْلَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاَحًا

“Dan suami-suami mereka paling berhak merujuki mereka dalam masa ’iddah tersebut, jika mereka menghendaki ishlah.” (Al-Baqarah: 228)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

[1] Al-Qadhi rahimahullahu menghikayatkan satu ucapan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu yang menyatakan tidak wajibnya ihdad bagi wanita yang ditalak, bahkan juga bagi wanita yang suaminya meninggal dunia. Namun pendapat ini ganjil dan aneh.

[2] Abu Hanifah rahimahullahu juga berkata menyelisihi pendapat jumhur, “Tidak ada ihdad bagi istri yang masih kecil. Tidak pula bagi istri yang berstatus budak.”

[3] Tentang seorang wanita yang memintakan izin putrinya yang baru ditinggal mati suaminya untuk memakai celak karena keluhan sakit pada matanya. Hadits ini menunjukkan wajib berihdad bagi wanita yang wafat suaminya. Karena kalau tidak wajib, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan melarang seseorang berobat dengan pengobatan yang mubah seperti mengobati penyakit mata dengan bercelak. (Fathul Bari, 9/601)

[4] Dalam Muwaththa` Al-Imam Malik rahimahullahu (no. 1286) disebutkan bahwa ada dua orang lelaki yang meminang Subai’ah. Seorang anak muda (Abul Basyar) dan seorang lagi lelaki berusia antara 30-50 tahun (Abus Sanabil). Subai’ah cenderung dan lebih terpikat kepada Abul Basyar. Maka Abus Sanabil mengatakan, “Engkau belum halal untuk menikah.” Ia mengatakan demikian karena berharap sekembalinya keluarga Subai’ah dari bepergian, mereka akan mengedepankannya dari yang lain untuk menikahi Subai’ah.

[5] Demikian pendapat yang diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dengan mengumpulkan dua firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu:

وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri -istri, hendaklah para istri itu menangguhkan diri mereka (beriddah) selama empat bulan sepuluh hari .…” (Al-Baqarah: 234)

dan ayat:

وَأُولاَتُ اْلأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Dan istri-istri yang sedang hamil, waktu iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (Ath-Thalaq: 4)

Menurut pendapat ini, iddah si wanita adalah masa yang paling akhir/paling panjang dari dua waktu yang ada, waktu 4 bulan 10 hari atau waktu melahirkan.

Misalnya bila ia melahirkan 2 bulan setelah suaminya wafat, iddahnya belumlah berakhir karena waktu yang paling panjang adalah 4 bulan 10 hari. Sehingga ia harus menunggu sampai selesainya 4 bulan 10 hari tersebut. Contoh lain, bila sampai 4 bulan 10 hari ia belum juga melahirkan, maka iddahnya belumlah selesai meski sudah berlalu 4 bulan 10 hari tersebut. Ia harus menunggu hingga melahirkan kandungannya, karena itulah masa yang paling panjang dari dua waktu yang ada. Misalnya ia baru melahirkan setelah 9 bulan suaminya wafat, maka itulah akhir masa iddahnya. Wallahu a’lam. (lihat Ihkamul Ahkam kitab Ath-Thalaq, bab Al-’Iddah, no. hadits 320, Asy-Syarhul Mumti’, 5/674)

Pendapat ini ditolak oleh hadits Subai’ah yang shahih (dan penjelasan-penjelasan setelahnya -admin), sebagai nash yang menunjukkan Subai’ah telah halal dengan melahirkan kandungannya (selesai dari iddah). Dengan demikian dari hadits Subai’ah tersebut kita dapatkan keterangan bahwa yang ditujukan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri-istri, hendaklah para istri itu menangguhkan diri mereka (beriddah) selama empat bulan sepuluh hari .…” (Al-Baqarah: 234)

Adalah para istri yang tidak sedang mengandung. Hadits Subai’ah merupakan pengkhusus dari keumuman ayat ini dan menerangkan bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأُولاَتُ اْلأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Dan istri-istri yang sedang hamil waktu iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (Ath-Thalaq: 4)

berlaku umum, baik bagi istri yang ditalak ataupun istri yang meninggal suaminya. (Al-Minhaj 9/348, Fathul Bari, 9/587)

Sumber:

  1. Ihdad Bagi Wanita. Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=547.
  2. Masih Tentang Ihdad. Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=569.

Ibnu Qudamah rahimahullahu menyebutkan ada tiga macam yang harus dijauhi wanita yang berihdad.

Pertama: Bersolek/menghiasi dirinya seperti memakai pacar, memakai kosmetik pada wajah, memakai itsmid (celak).
Kedua: Pakaian perhiasan7 seperti pakaian yang dicelup agar menjadi indah misalnya mu’ashfar, muza’far, celupan berwarna merah, dan seluruh warna yang memperindah pemakainya seperti biru, hijau, dan kuning.
Ketiga: Perhiasan seluruhnya seperti cincin dan yang lainnya8. Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata, “Perkataan ‘Atha` rahimahullahu, ‘Dibolehkan memakai perhiasan dari perak karena yang dilarang adalah perhiasan dari emas’, tidaklah benar. Karena larangan yang disebutkan dalam hadits sifatnya umum,9 dan juga perhiasan akan menambah kebagusan si wanita dan memberi dorongan untuk menggaulinya.” (Al-Mughni, Kitab Al-‘Idad, Fashl Ma Tajtanibuhul Haddah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: