Hindun Bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha


Istri pembesar Makkah adalah sebuah kedudukan yang mulia. Terlebih bila membuka hati untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Islam akan menghapus segala kesalahan yang pernah dibuatnya.

Nasab dan Keturunannya

Istri pembesar Makkah itu adalah Hindun bintu ‘Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf Ummu Mu’awiyah al-Umawiyah al-Qurasyiyah, istri Abu Sufyan bin Harb, ibu sahabat yang mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma.

Ibunya bernama Shafiyyah bintu Umayyah bin Haritsah bin Al-Auqash bin Murrah bin Hilal bin Falij bin Dzakwan bin Tsa’labah bin Bahtah bin Salim.

Hindun adalah seorang wanita yang memiliki sifat yang luhur di antara wanita-wanita di Arab. Dia adalah wanita yang fasih bicaranya, pemberani, kuat, dan berjiwa besar, seorang pemikir, penyair, dan seorang wanita yang bijak, beliau telah mengangkat kemuliaan dirinya dan nasabnya. Putra beliau yang bernama Mu’awiyah binti Abi Sofyan bercerita tentang beliau, ” Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya di masa Jahiliyah dan di dalam Islam menjadi seorang wanita yang mulia dan baik.”

Imam Ibnu Abdil Barr berkata tentang Hindun,”Beliau adalah seorang wanita yang berjiwa besar dan memiliki kehormatan.”

Dia memiliki ambisi yang serius terhadap sesuatu yang dia yakini bahwa dirinya mampu. Di antara bukti yang menunjukkan hal itu adalah bahwa suatu ketika orang-orang melihatnya sedang bersama putranya yang bernama Mu’awiyah, maka ketika itu orang-orang sama bergumam, “Jika anak ini sudah besar, kelak akan memimpin kaumnya.” Pujian tersebut tidak membesarkan hatinya, bahkan dengan rasa tidak puas dan ingin lebih dari itu dia berkata, “Celakalah dia jika hanya menjadi pemimpin kaumnya saja.”

Menikah dengan Hafsh bin Al-Mughirah

Sebelum kehadiran Abu Sufyan dalam kehidupannya, Hindun pernah menikah dengan Hafsh (yang lain mengatakan namanya: Fakihah) bin Al-Mughirah bin Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Dari pernikahan itu, lahir seorang anak laki-laki bernama Aban (ada yang mengatakan dua anak-ed).

Menikah dengan Abu Sufyan bin Harb

Ketika Hindun menjanda, dia meminta kepada ayahnya, ‘Utbah bin Rabi’ah, “Aku seorang wanita yang bisa menentukan urusanku, maka jangan nikahkan aku sebelum engkau beritahukan padaku.” Sang ayah menyetujui permintaannya.

Suatu ketika, ‘Utbah menawarkan pilihan kepada Hindun, “Ada dua orang pria (dari kaummu sendiri) yang meminangmu dan aku tak akan menyebutkan namanya padamu sebelum kugambarkan padamu lebih dulu sifat mereka.”

‘Utbah menceritakan, laki-laki yang pertama adalah orang yang mulia, mudah diatur istrinya karena dia orang yang tak begitu peduli (engkau dapat mempengaruhinya karena kebodohannya-ed), halus budi pekertinya, dia akan mengikuti si istri bila si istri mengikutinya (jika kamu menyimpang maka dia tetap bersama kamu), istrinya pun bisa menguasai hartanya (dan cukuplah kekurangannya engkau tutup dengan kecerdasanmu-ed). Sementara yang lainnya, seorang yang sangat mulia, pandangannya tajam, keturunannya mulia, dia dapat mengatur keluarganya sementara mereka tak bisa mengaturnya, bila keluarganya mematuhinya dia akan memudahkan urusan mereka, namun bila keluarganya menjauhinya dia akan merasa cemburu (itu adalah aib bagi mereka-ed). Dia orang yang emosional (memiliki semangat yang tinggi -ed) dan sangat menjaga kehormatan keluarganya.

Ayahnya berkata, “Telah aku jelaskan kepadamu perihal mereka berdua,” Hindun berkata: “Adapun laki-laki yang pertama, dia adalah tuan yang akan lenyap kemuliaannya, akan membinasakan isteri jika kelak dia tak dapat menjaga untuk senantiasa berlemah lembut dengannya setelah tadinya menolaknya, dia akan merendahkan diri dibawah lambung isterinya, jika menghasilkan keturunan menjadi anak yang bodoh, jika melahirkan maka menjadi salah karenanya.”

Kemudian Hindun melanjutkan, “Urungkanlah laki-laki tersebut dariku dan tidak usah engkau sebutkan namanya kepadaku.”

Adapun yang satunya kelak menjadi suami yang memiliki kemerdekaan yang sebenarnya, sesungguhnya aku tertarik dengan kepribadiaannya dan aku menjadi isterinya, karena aku akan dapat bergaul dengannya dengan kesetiaanku dan sedikit kekuranganku, dan sesungguhnya dilihat dari segi nasab antara aku dengannya maka alangkah pantasnya dan tiada penghalang bagi kami untuk berumah tangga, melindungi hakikat kecantikan yang sebenarnya tanpa perwakilan dan perantara tatkala berbincang-bincang, siapakah laki-laki tersebut?”

Berkatalah ayahnya yang bernama Utbah, “Dia adalah Abu Sufyan bin Harb.” Hindun berkata, “Nikahkanlah aku dengannya, namun jangan tergesa-gesa seperti orang yang “beser”, jangan pula mendiktenya seperti api di tungku dan memintalah pilihan kepada Allah di langit agar memilihkan untukmu dengan ilmu-Nya terhadap qadha.”

Begitulah, kita melihat bagaimana Hindun menghadapi kesulitan, dia angkat kepalanya ke atas puncak, dia tidak mau menikah dengan baik-baik, akan tetapi nantinya suaminya hanya menjadi boneka yang dia permainkan seenaknya, akan tetapi dia menghendaki seoang suami yang memiliki kepribadian, mulia dan kuat, sehingga suami tersebut dapat menjadi pendamping dirinya, bukan dirinya yang menjadi pendamping suaminya.

Hindun menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Abu Sufyan, dan kita melihat bahwa semangat Hindun untuk mendapatkan kemuliaan lebih besar dari sekedar keinginannya dalam menumpahkan syahwat seorang laki-laki terhadap wanita.

Kehidupan Jahiliyah Hindung bintu ‘Utbah bersama Suaminya

Hindun bintu ‘Utbah dan Abu Sufyan bersatu dalam rumah tangga, masih di atas agama nenek moyang mereka. Bahkan mereka turut membela agama itu tatkala perang Badr meletus.

Ketika terjadi perang Badar al-Kubra terbunuhlah dalam peperangan tersebut ayah Hindun dan pamannya yang bernama Syaibah dan saudaranya yang bernama al-Walid. Maka tumbuhlah dihati Hindun rasa dendam yang membara, ketika di pasar Ukazh dia bertemu dengan al-Khansa’ yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Hindun?”, Maka dia menjawab:

Aku menangis karena rasa sakitnya dua luka
Menjaga keduanya dari perusak yang akan membinasakannya
Aku menangis karena ayahku Utbah yang telah berbuat baik
Duhai celakanya?.ketahuilah
Juga karena Syaibah yang telah menjaga yang patut untuk dibela
Mereka itulah keluarga yang mulia di atas rata-rata keluarga
Di saat kewibawaan mulai tumbuh berlipat ganda.

Ketika perang Uhud, Hindun bin Utbah memainkan peranan sebagai juru perang yang handal, yang mana dia keluar bersama kaum musyrikin Qurasy dan ketika itu pemimpin mereka adalah suaminya, yakni Abu Sufyan, Hindun memberikan semangat berperang kepada orang-orang Qurasy bersama wanita musyrikin lainnya sambil memukul rebana dan bersyair:

Kami adalah wanita-wanita jalanan
Yang berjalan membawa bantal yang empuk
Jika kalian maju kami peluk
Jika kalian lari akan kami cerai
Dia juga mengulang-ulang syair:
Wahai Bani Abdi Daar

Wahai para pejuang
Pukullah dengan segala senjata yang tajam

Pada masa itu Hindun tertulis dalam lembaran yang hitam kelam yang tak pernah dilupakan oleh sejarah. Lembaran tersebut berupa perlakuannya terhadap bapak dari para syuhada’ dan penghulunya, yakni Hamzah bin Abdil Muthallib. Dia telah memerintahkan kepada al-Wahsy bin Harb, budaknya, dengan menjanjikan kemerdekaan bagi dirinya jika mampu membunuh Hamzah dan membalas dendamnya, senantiasa berkobar api permusuhan di dadanya dan dia berkata, “Wahai Abu Dasmah obatilah aku?sembuhkanlah luka hatiku.”

Ucapan tersebut tidaklah mengherankan keluar dari mulut seorang yang menyimpan dendam kesumat, akan tetapi yang tidak dapat diterima adalah perlakuannya yang tidak wajar terhadap mayat pahlawan yang syahid –yang telah dibunuh di luar batas kewajaran dengan memotong hidung dan kedua telinganya, kemudian merobek perutnya serta mengambil jantungnya lalu dikunyahnya, hanya saja ia tidak kuasa untuk menelannya maka diludahkan kembali, kemudian dia naik ke atas bukit dengan rasa puas, lalu berteriak dengan suara lantang.

Keislamannya

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak memberikan akhir kehidupan yang baik bagi mereka berdua. Bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah adalah tahun kemenangan, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin memasuki kota Makkah dalam keadaan aman. Keadaan telah berubah. Kaum muslimin yang dulu terusir dari Makkah -tanah air mereka- dalam keadaan tertindas dan terhina, kini menjadi pasukan yang begitu menakjubkan dan disegani oleh kaum musyrikin Makkah. Tidak ada pilihan lain, kecuali mereka masuk Islam.

Demikian pula keadaan Hindun dan Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Mereka pun akhirnya menyongsong kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan lewat Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha bersama para wanita lain yang masuk Islam mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berada di Al-Abthah untuk berbaiat di hadapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Wahai Rasulullah,” kata Hindun, “Segala pujian hanyalah milik Allah yang telah memenangkan agama yang telah dipilih-Nya untuk diri-Nya ini. Sungguh kekerabatanmu akan bermanfaat bagiku, wahai Muhammad. Aku adalah seorang wanita yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya. Aku Hindun bintu ‘Utbah.”

“Selamat datang, wahai Hindun,” sahut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Demi Allah, dulu tak ada seorang pun di bumi ini yang paling kuinginkan kehinaannya selain engkau. Namun kini, tak ada seorang pun di bumi ini yang paling kuinginkan kemuliaannya selain engkau,” ujar Hindun.

“Bahkan lebih dari itu,” kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat Al Qur`an kepada mereka dan mereka pun berbai’at kepada beliau.

Ketika itu Hindun berkata, “Kami mau berjabat tangan denganmu, wahai Rasulullah!”

“Aku tidak berjabat tangan dengan wanita. Ucapanku pada seratus orang wanita sama dengan ucapanku terhadap seorang wanita,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara isi bai’at itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta mereka untuk tidak berzina dan tidak mencuri. “Apakah ada wanita merdeka yang berzina dan mencuri, wahai Rasulullah?” sahut Hindun.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lagi, “Dan tidak membunuh anak-anak kalian.”

“Kami telah mengasuh mereka sejak kecil, tapi ketika besar engkau yang membunuh mereka di Badr,” kata Hindun.

Sepulang dari hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hindun segera menghancurkan berhala di rumahnya dengan kapak hingga berkeping-keping sambil berujar, “Dulu kami tertipu denganmu!”

Pelajaran Dari Kisah Shahabiyah Hindun bin ‘Utbah

Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan kekikiran suaminya, “Wahai Rasulullah, Abu Sufyan itu seorang yang bakhil. Dia tidak memberikan kecukupan padaku dan anakku kecuali apa yang kuambil dari hartanya dengan diam-diam.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasihatkan padanya, “Ambillah apa yang bisa mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik.”

Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha kini menjadi seorang shahabiyah yang mulia.

Wafatnya

Terjadi perselisihan di kalangan ahli sejarah tentang wafatnya Hindun bintu ‘Utbah, pada masa khilafah ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu ataukah khilafah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Hindun bintu ‘Utbah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya.

Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.

Sumber:

  1. Hindun Bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha. Sumber bacaan: Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani (8/155-156) , Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (1/372-373, 4/1922-1923) , Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/235-237) , Mukhtashar Siratir Rasul, karya Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 194)Penulis : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=476.
  2. Hindun Bintu ‘Utbah. http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/13/hindun-binti-amr-bin-haram-wafath/.

Pada suatu hari orang tuanya berkata kepadanya, “Sesungguhnya ada dua orang laki-laki dari kaummu sendiri yang datang melamarmu, aku tidak akan menyebutkan nama salah satu di antara mereka sebelum aku sebutkan ciri-ciri mereka kepadamu. Adapun yang satu adalah seorang yang terhormat, terpandang kemuliaannya, engkau dapat mempengaruhinya karena kebodohannya, halus perangainya, pandai bergaul, penurut, jika kamu mengikutinya, maka dia akan mengikutimu, jika kamu menyimpang maka dia tetap bersama kamu, kamu dapat mengurus hartanya dan cukuplah kekurangannya engkau tutup dengan kecerdasanmu.”
Adapun yang kedua, dia memiliki kehormatan, nasab dan kecerdasan yang tulen, gesit geraknya, berwibawa keluarganya, dia dapat mengatur keluarganya sedangkan keluarganya tunduk kepadanya, ia akan memberi kemudahan bagi mereka untuk mengikutinya, jika mereka menjauhinya itu adalah aib bagi mereka, memiliki semangat yang tinggi dan amat cepat terbangnya (lincah), kecil perutnya, jika lapar itu sudah biasa, jika berdebat tak dapat dikalahkan.

Ayahnya berkata, “Telah aku jelaskan kepadamu perihal mereka berdua,” Hindun berkata: “Adapun laki-laki yang pertama, dia adalah tuan yang akan lenyap kemuliaannya, akan membinasakan isteri jika kelak dia tak dapat menjaga untuk senantiasa berlemah lembut dengannya setelah tadinya menolaknya, dia akan merendahkan diri dibawah lambung isterinya, jika menghasilkan keturunan menjadi anak yang bodoh, jika melahirkan maka menjadi salah karenanya.”

Kemudian Hindun melanjutkan, “Urungkanlah laki-laki tersebut dariku dan tidak usah engkau sebutkan namanya kepadaku.”

Adapun yang satunya kelak menjadi suami yang memiliki kemerdekaan yang sebenarnya, sesungguhnya aku tertarik dengan kepribadiaannya dan aku menjadi isterinya, karena aku akan dapat bergaul dengannya dengan kesetiaanku dan sedikit kekuranganku, dan sesungguhnya dilihat dari segi nasab antara aku dengannya maka alangkah pantasnya dan tiada penghalang bagi kami untuk berumah tangga, melindungi hakikat kecantikan yang sebenarnya tanpa perwakilan dan perantara tatkala berbincang-bincang, siapakah laki-laki tersebut?”

Berkatalah ayahnya yang bernama Utbah, “Dia adalah Abu Sufyan bin Harb.” Hindun berkata, “Nikahkanlah aku dengannya, namun jangan tergesa-gesa seperti orang yang “beser”, jangan pula mendiktenya seperti api di tungku dan memintalah pilihan kepada Allah di langit agar memilihkan untukmu dengan ilmu-Nya terhadap qadha.”

Begitulah, kita melihat bagaimana Hindun menghadapi kesulitan, dia angkat kepalanya ke atas puncak, dia tidak mau menikah dengan baik-baik, akan tetapi nantinya suaminya hanya menjadi boneka yang dia permainkan seenaknya, akan tetapi dia menghendaki seoang suami yang memiliki kepribadian, mulia dan kuat, sehingga suami tersebut dapat menjadi pendamping dirinya, bukan dirinya yang menjadi pendamping suaminya.
Hindun menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Abu Sufyan, dan kita melihat bahwa semangat Hindun untuk mendapatkan kemuliaan lebih besar dari sekedar keinginannya dalam menumpahkan syahwat seorang laki-laki terhadap wanita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: