Laa Ilaaha Illallah, Hakekat Tauhid dan Maknanya


Banyaknya praktik kesyirikan yang terjadi di tengah umat menandakan ada yang salah dalam pemahaman umat akan makna tauhid. Terlebih cara memaknainya dilatari sudut pandang kelompoknya masing-masing. Maka yang terjadi tauhid dipahami secara beragam sesuai “selera” masing-masing, kesyirikan bisa dinamakan tauhid dan tauhid malah dihukumi syirik.

PENGERTIAN TAUHID

Dalam hadits yang shahih (HR. Bukhari dan Muslim, baca disini) disebutkan bahwa Islam menyeruh kepada tauhid dengan lafazh: عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللهُ  Maknanya: “Agar Allah ditauhidkan.”

secara bahasa diambil dari kata:

وَحَّدَ الشَيْءَ إِذَا جَعَلَهُ وَاحِدًا  Maknanya: mentauhidkan sesuatu, jika menjadikannya satu.

Secara syariat bermakna:

Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap segala sesuatu yang menjadi kekhususan-Nya, baik pada perkara Rububiyah (mengesakan dalam penciptaan, kepemilikan dan pengaturan), Uluhiyyah (tidak menyetukutan-Nya dalam ibadah), maupun Al-Asma` was Shifat (menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta meniadakan nama-nama dan sifat-sifat yang ditiadakan oleh Allah dan Rasul-Nya) (lihat Al Qaulul Mufid 1/hal 9,14,16 oleh Syaikh Ibnu Utsaimin).

Inilah tauhid hakiki yang dibawa oleh para Rasul-rasul Allah. Namun banyak orang yang menyelewengkan dari makna yang hakiki ini sebagai contoh :

  1. Orang-orang ahli filsafat menamakan ilmu kalam atau filsafat dan mantiq Yunani yang dipakai untuk mempelajari permasalahan-permasalahan aqidah sebagai tauhid (lihat Al Haqiqatus Syariyyah, oleh Bazmuul hal :73). Kaum falasifah (penganut filsafat, yakni para pengikut Aristoteles dan Ibnu Sina) mendefinisikan tauhid dengan makna: menetapkan adanya (sesuatu) yang terlepas dari hakikat dan sifat. Dengan makna ini mereka berada pada puncak kekufuran dan penyimpangan.
  2. Orang-orang Jahmiyyah, tauhid adalah tidak menetapkan keberadaan nama-nama dan sifat-sifat Allah, meskipun ditetapkan Al-Qur-an dan Hadits shahih. Dengan demikian, mereka ingkar terhadap ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas makhluk-Nya dengan Dzat-Nya yang berada di atas ‘Arsy, mengingkari nama dan sifat-sifat-Nya, serta pengingkaran terhadap tauhid yang dengannya diutus para rasul.
  3. Orang-orang Mu’tazilah mendefinisikan kata tauhid dengan pembahasan seputar sifat-sifat Allah, apa yang wajib untuk-Nya, dan apa yang tidak. Walaupun pada akhirnya mereka mengingkari semua sifat Allah yang kemudian hal ini menjadi salah satu dari 5 prinsip mereka (lihat Firaq Mu’asirah 2/1032).
  4. Orang-orang Qadariyah, tauhid mereka tercela karena adanya pengingkaran terhadap takdir (kekuasaan) Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kehendak-Nya yang mencakup segala sesuatu.
  5. Orang-orang Jabriyah, tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara penciptaan dan perbuatan. Manusia bukanlah pelaku secara hakiki dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah berbuat karena adanya suatu hikmah dan tidak pula karena adanya suatu tujuan.
  6. Orang-orang Ittihadiyyah mendefinisikan tauhid dengan makna: kebenaran yang disucikan adalah yang diserupakan. Karenanya, antara Al-Khaliq (pencipta) dengan makhluk (yang diciptakan) adalah sama, tidak ada bedanya. Dari definisi ini, Fir’aun dianggap sebagai seorang yang beriman dan sempurna imannya. Para penyembah patung dan berhala berada pada posisi yang benar. Tidaklah berbeda antara perintah dan larangan, antara air minum dan minuman keras.
  7. Orang-orang penganut tarekat Tasawuf khususnya ekstrem mereka, justru meyakini tauhid sebagai “wihdatul wujud “ , yakni bersatunya Allah dengan makhluk Nya. Menurut mereka tauhid ada 3 tingkatan:
    1. Tauhid orang awam yaitu hanya beribadah kepada Allah tidak mempersekutukan-Nya.
    2. Tauhidnya orang-orang khusus, hakekatnya adalah tenggelam dalam tauhid Rububiyyah yakni meyakini Rububiyah Allah dan meniadakan sebab atau hikmah (penciptaan mahkluk) sebagaimana keyakinan orang-orang Jabriyah. (Minhaju Sunnah Nabawiyah 5/3588 355).
    3. Tauhidnya Khashatul Khasshah (orang khususnya orang-orang khusus) yaitu wihdatul wujud (pemahaman ini serupa dengan pemahaman orang-orang ittihadiyyah di atas-admin). (lihat Madhahil Inhirafat Aqadiyah 1/ 228-230)

Sudah menjadi perkara yang diketahui di kalangan ahlul ilmi –dahulu maupun sekarang– bahwa tauhid yang diseru oleh para rasul adalah tauhid yang mengandung itsbat (penetapan) bahwa ibadah itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah dengan cara yang benar kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Demikian pula tauhid yang mengandung itsbat (penetapan) terhadap apa-apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya, berupa nama dan sifat-sifat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ

“Sesembahan kalian adalah Sesembahan Yang Maha Esa, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 163)

Pada ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاسْئَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُوْنِ الرَّحَمْنِ آلِهَةً يُعْبَدُوْنَ

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: ‘Adakah Kami menentukan sesembahan-sesembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?’.” (Az-Zukhruf: 45)

Pasti, tidak akan didapatkan salah seorangpun dari mereka yang menyeru untuk menjadikan adanya sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, setiap rasul dari awal hingga yang terakhir, semuanya menyeru kepada: “Beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.” Maka, orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mempunyai dasar dan sandaran serta pijakan atas perbuatannya. Baik dari akal sehat maupun dari ajaran para rasul.

Dan bukanlah maksud dalam mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sekedar meyakini Rububiyyah-Nya semata, yaitu bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya Dzat Pencipta, Pengatur segala urusan, Pemberi Rizki, Dzat yang menghidupkan, mematikan, menyembuhkan, menolak petaka, dan mendatangkan manfaat. Jika ini semata yang dimaksud, maka orang-orang kafir musyrikin Quraisy telah mencapai gelar Ahlut Tauhid. Adakah orang yang berakal akan mengatakan bahwa orang-orang kafir musyrikin Quraisy telah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar?! Akankah merasa aman (dari azab dan siksaan), jika mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya sebatas pada Rububiyyah-Nya saja?!

Benar! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan bahwa kebanyakan mereka telah beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu, mengimani (mentauhidkan) Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal Rububiyyah-Nya. Akan tetapi, ikrar mereka dalam perkara ini menjadi tidak berguna dan tidak bermanfaat, manakala tercampuri kesyirikan.

Seperti yang dipahami oleh ahlul kalam (penganut filsafat) dan tasawwuf (sufi), tauhid menurut mereka adalah sekedar Tauhid Rububiyyah. Maknanya, keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya pencipta alam. Mereka menyangka, apabila telah menetapkan perkara ini dengan dalil berarti telah menetapkan puncak segalanya dalam perkara tauhid. Apabila telah menyaksikan dan tahu secara detail berarti telah membidangi puncak segalanya dalam perkara tauhid.

Kebanyakan orang mengira, makna ilah ialah Yang mampu menciptakan, membuat yang tak pernah ada sebelumnya. Inilah makna yang paling khusus terhadap sifat ilah. Mereka menjadikan penetapan seperti ini sebagai puncak segalanya dalam perihal tauhid. Jika demikian, mereka sama sekali tidak mengetahui hakikat (inti) perkara tauhid, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para rasul.

Tidakkah seorang memahami dan menyadari bahwa mengikrarkan seperti yang telah diikrarkan oleh orang-orang musyrikin, tidak menjadikan imannya bermanfaat? Orang-orang musyrikin Arab telah mengikrarkan hal ini, namun bersamaan dengan itu mereka menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ayat yang menunjukkan dalam hal ini adalah:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللهِ إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُوْنَ

“Dan kebanyakan dari mereka tidaklah beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan mempersekutukan Allah.” (Yusuf: 106)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Meskipun mereka mengikrarkan dalam rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni bahwa Dia adalah Pencipta, Pemberi rizki, Pengatur segala urusan, namun mereka juga mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perihal uluhiyah dan pentauhidan-Nya. Orang yang berada pada keadaan ini (yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya sebatas dalam rububiyyah-Nya saja), dan merasa aman dengannya, tidaklah tersisi bagi mereka kecuali tinggal ditimpakan kepada mereka azab dan siksaan yang datang secara mendadak.”
Hadits lain yang menjadi dalil tauhid adalah hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ تَعَالَى

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Maka, pertama kali seruanmu kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan (mengesakan) Allah….” (HR. Al-Bukhari dalam At-Tauhid no. 6937 dan ini adalah lafadznya, Muslim dalam Al-Iman nomor khusus 30 dan 31 dan pada no. 19)

Tidak mungkin pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz agar menjadikan tauhid sebagai seruan yang harus diutamakan dalam dakwah, jika hanya bermakna tauhid rububiyyah.

PEMBAGIAN TAUHID

Terdapat perbedaan dalam pembagian tauhid oleh para ulama. Ada yang membagi menjadi tiga pembagian:

1. Tauhid Ar-Rububiyyah. Maknanya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala (beriman bahwa Ia adalah Dzat Yang Esa) dalam perbuatan-perbuatan-Nya (penciptaan, perintah, pemberian rizki, pengatur urusan atas hamba-hamba-Nya) dengan kehendak-Nya, berdasarkan ilmu dan kekuasaan-Nya. Pembahasan lengkap disini.
2. Tauhid Al-Uluhiyyah. Maknanya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatan para hamba (seluruh jenis ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya Dia yang berhak diibadahi, dan tidak ada sekutu bagi-Nya). Pembahasan lengkap disini.
3. Tauhid Al-Asma` was Shifat. Maknanya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menetapkan nama yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menetapkan sifat yang telah Ia tetapkan untuk diri-Nya, atau yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya, tanpa mentakyif (mereka-reka atau menanyakan bagaimana), menyerupakan, memalingkan (baik lafadz maupun makna) dan tidak pula menta’thil (menolak, meniadakan). Pembahasan lengkap disini.

Ada pula yang menambahkan sehingga menjadi empat:

1. Tauhid Ar-Rububiyah
2. Tauhid Al-Uluhiyyah
3. Tauhid Al-Asma’ was Shifat
4. Tauhid Al-Mutaba’ah (menjadikan satu-satunya yang diikuti dan diteladani adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Ada pula yang membagi dua, pembagian ini disandarkan kepada Ibnul Qayyim, sebagaimana tersebut dalam kitab Madarijus Salikin dan Ijtima’ Al-Juyusy. Demikian pula Ibnu Abil ‘Izz dalam kitabnya Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, yaitu:

1. Tauhid fi Al-Ma’rifat wal Itsbat (tauhid dalam mengenal dan menetapkan) yaitu mengimani nama-nama Allah, sifat-sifat dan Dzat-Nya. Juga mengimani penciptaan, pemberian rizki, dan pengaturan urusan hamba-hamba-Nya. Sehingga tauhid ini mengandung dua jenis tauhid, Rububiyah dan Asma` wash Shifat.
2. Tauhid fi Al-Qashd wa Ath-Thalab (tauhid dalam tujuan dan meminta). Maknanya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam tujuan (niat) permintaan, shalat, puasa, dan seluruh ibadah. Tidaklah engkau bermaksud dengan ibadahmu kecuali wajah-Nya. Demikian pula sedekah dan seluruh amalanmu yang engkau dengannya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah ditujukan kecuali mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tauhid Al-Uluhiyyah juga mempunyai beberapa nama lain: Tauhid fil Qashd wat Thalab, Tauhid fil Iradah wal Qashd, At-Tauhid Al-Qashdi wal Iradi, At-Tauhid fil Iradah wal ‘Amal, Tauhidul ‘Amal, At-Tauhid Al-‘Amali, At-Tauhid Al-Fi’li, At-Tauhid Al-Iradi Ath-Thalabi.

Demikianlah macam-macam tauhid. Tidaklah bertentangan antara satu dengan yang lain. Istilah dan ungkapan yang berbeda dalam hal ini tidak perlu dipermasalahkan. Tujuan kita hanyalah untuk mengetahui apa itu tauhid yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab, dan karenanya terjadi pertentangan antara para rasul dengan umatnya, yaitu tauhid ibadah (Tauhid Al-Uluhiyyah).

Pembagian ulama dalam hal ini tidaklah dikategorikan kepada perkara yang bid’ah (baru), yang tidak dikenal oleh para sahabat. Di antara alasan yang menjadikan para ulama untuk membagi tauhid adalah adanya pengikraran terhadap salah satu jenis tauhid oleh orang-orang musyrikin yaitu Tauhid Ar-Rububiyah. Sehingga bagi siapapun yang telah mengikrarkan tauhid tetapi hanya sekedar Tauhid Ar-Rububiyah, tidakah dianggap menjadi seorang yang telah menghambakan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak kepada selain-Nya, berdoa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak kepada selain-Nya, berharap dan takut hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak kepada selain-Nya.

Demikian pula berdasarkan pengkajian dan pendalaman terhadap Al-Qur`an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, didapatkan pembagian tauhid seperti tersebut di atas. Pembagian ini juga pendekatan kaidah sebagaimana muslim mengetahui kaidah-kaidah fiqih seperti macam-macam rukun haji, jenis-jenis haji, macam-macam rukun shalat, wajib-wajib shalat, pembatal puasa dan semisalnya. Begitu pula dalam hal aqidah, terdapat pendekatan-pendekatan kaidah untuk memudahkan dalam memahami tauhid yang benar.

Beberapa perkara yang menunjukkan pentingnya penekanan dakwah kepada tauhid adalah:
1. Al-Qur`an dari awal surat hingga akhirnya berisikan tauhid.
2. Tauhid merupakan dakwah seluruh rasul dari yang awal hingga yang terakhir.
3. Banyaknya kesalahan dan penyimpangan yang terjadi pada manusia secara umum adalah dalam perkara tauhid.
4. Mulianya ilmu tergantung pada kemuliaan yang dipelajari. Tauhid adalah ilmu yang mempelajari pengenalan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik berupa nama, sifat, maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Dengan demikian tidak diragukan, tauhid merupakan ilmu yang paling mulia.
Wallahu a’lam.

KEDUDUKAN TAUHID

Tauhid merupakan salah satu rukun Islam yakni mengesahkan Allah dalam penciptaan, kepemilikan, pengaturan, dalam ibadah, dan dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. (Lihat pembahasan rukun Islam disini).

Ibadah adalah amalan yang paling dicintai dan diridloi. Karena itu, tidaklah ALLAH menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada NYA dengan mentauhidkan NYA . ALLAH suabahanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada Ku. (Adz-Dzariyaat: 56)

Menurut Asy Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy dalam risalahnya, Tsalatsah Al-Ushul, dinyatakan bahwa seagung-agung perintah (baca: ibadah-admin) Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peribadahan. Dan seagung-agung larangan adalah syirik, yaitu menyeru kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bersamaan dengan menyeru (beribadah) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini berdasarkan dalil surat An-Nisa` ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan–Nya dengan sesuatupun.” (An-Nisa: 36)

Demikian pula allah mengutus para rasul-NYA dengan membawa misi yang sangat agung ini sebagaimana firman-NYA:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah ALLAH (-saja-), dan jauhilah Thaghut itu.” (An-Nahl: 36)

Bahkan Al-Imam Al-Qadhi Ali bin Ali bin Muhammad bin Abi Al-Izzi Ad-Dimasyqi rahimahullahu mengungkapkan bahwa Al-Qur`an semuanya adalah tauhid, hak-haknya, dan balasan-balasannya. Termasuk di dalamnya terkandung muatan tentang masalah syirik, para pelakunya dan balasan-balasan sebagai akibat dari perbuatannya. Ini bisa dilihat dalam surat Al-Fatihah. Misalnya alhamdulillahi Rabbil ‘alamin adalah tauhid, arrahmanirrahim merupakan tauhid. maliki yaumiddin juga tauhid. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in adalah tauhid. Ihdinash-shirathal mustaqim merupakan representasi dari tauhid yang meliputi permohonan guna mendapatkan hidayah ke jalan ahli tauhid, yaitu orang-orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala beri nikmat atas mereka. Ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh-dhallin adalah penjelasan tentang orang-orang yang telah memisahkan diri dari tauhid. (Syarhu Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, hal. 142)

Maka kewajiban bagi hamba untuk mempersembahkan segala jenis ibadah hanya kepada ALLAH. Barang siapa memalingkan ibadah ini untuk selain ALLAH, seperti berdo’a kepada selain ALLAH, menyembelih dan bernadzar untuk selain DIA, meminta tolong atau ber-istighotsah -ketika musibah terjadi- kepada orang yang telah mati, atau kepada yang hidup -di dalam urusan yang hanya ALLAH sajalah yang mampu-, maka dia telah melakukan perbuatan syirik besar yang mengeluarkanya dari agama Islam.

Fenomena ini banyak terjadi disebabkan kejahilan seseorang terhadap hakekat makna ibadah yang merupakan intisari dari kalimat tauhid la ilaha illallah . Banyak kita jumpai orang meminta hajat serta mendekatkan diri kepada orang orang yang telah mati, dengan alasan mereka adalah orang sholih yang dekat kepada ALLAH serta memilki kewibawaan di sisi-NYA yang karena itu manusia bisa meminta syafaat kepada nya, atau meminta kepada mereka untuk bisa mendekatkan diri kepada ALLAH. Mereka lupa atau barangkali tidak mengerti bahwa Al Qur’an telah menjelaskan tentang hakekat kesyirikan orang-orang jahililyyah -yang diperangi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam , sebagaimana di dalam firman-Nya:

“Dan mereka menyembah selain ALLAH yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa`atan. Dan mereka berkata: “(-Mereka-) itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada ALLAH apa yang tidak diketahui-NYA, baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci ALLAH dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (-itu-). ( Yunus:18 )

“Ingatlah, hanya kepunyaan ALLAH-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain ALLAH (-berkata-): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada ALLAH sedekat-dekatnya.”Sesungguhnya ALLAH akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih pada nya. Sesungguhnya ALLAH tidak memberi hidayah kepada orang-orang pendusta dan sangat ingkar. (Yang dimaksud yaitu orang orang yang menjadikan wali wali-ALLAH sebagai perantara antara dia dengan ALLAH -untuk mendapatkan hajatnya-red) (Az-Zumar:3)

Maka sudah sepatutnya bila dikatakan bahwa yang mengawali seorang individu untuk memeluk Islam adalah tauhid dan akhir dari kehidupannya di dunia ditutup dengan tauhid pula. Seperti dinyatakan oleh Al-Imam Al-Qadhi Ibnu Abi Al-Izzi rahimahullahu bahwa awal adalah wajib dan akhir (juga) wajib. Maka tauhid merupakan awal masuk dalam Islam dan merupakan akhir bagi seseorang kala dikeluarkan dari dunia (mati). Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ كَانَ آخِرَ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , dia masuk surga,” (HR. Abu Dawud, Al-Hakim, Ibnu Mandah dalam At-Tauhid, dan Ahmad. Hadits ini dinyatakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani sebagai hadits hasan, lihat Irwa`ul Ghalil hadits no. 687, hal. 149-150)

Begitupun, ketika hari dibangkitkan itu tiba. Ketika harta dan anak-anak lelaki tiada lagi guna, tidak lagi memberi nilai manfaat, maka pada hari itu beruntunglah orang yang memiliki hati yang bersih (qalbun salim). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنَ. إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“(Yaitu) pada hari yang harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara`: 88-89)

Apakah hati yang bersih itu? Kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu, hati yang bersih adalah hati yang bersih atau selamat dari segala sesuatu yang menjadikan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala (dalam segala bentuknya) sebagai sekutu. Karenanya, hati yang bersih adalah yang memurnikan segala bentuk peribadatan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Iradah (kehendak), mahabbah (cinta), tawakal, taubat, ikhbatan (khusyu’) tawadhu’, (berendah diri), khasyyah (takut), dan raja` (harapan) semuanya murni diamalkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. (Ighatsatul Lahafan min Mashayidi Asy-Syaithan hal. 41)

Sedang menurut Ibnu Katsir rahimahullahu dalam Tafsir-nya, yang dimaksud hati yang bersih adalah (bersih) dari kotoran dan kesyirikan. Beliaupun menukil perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa hati yang bersih adalah hati yang selamat, yang (melakukan) kesaksian bahwa tiada Ilah yang diibadahi secara haq kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pendapat yang hampir serupa, diungkapkan pula oleh Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ketika beliau menjelaskan surat Asy-Syu’ara` ayat 88-89 ini dalam kitab tafsirnya Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beliau rahimahullahu memaknai hati yang bersih adalah yang bersih dari kesyirikan, syak (keraguan terhadap kebenaran), bebas dari sikap mencintai sesuatu yang buruk dan menyuarakan kebid’ahan serta dosa-dosa.

Nyata sudah, betapa hati nan bersih adalah hati yang diselimuti tauhid. Hati yang senantiasa dibasuh dengan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Menepis kesyirikan hingga tak bercokol di dalam kalbu. Berbeda dengan para pelaku kesyirikan, mereka diharamkan mendapatkan surga, dan tempat mereka di neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.” (Al-Ma`idah: 72)

Begitulah syirik, sebuah dosa yang pelakunya tak akan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bila sampai terbawa mati dan tidak sempat bertaubat.

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa`: 48)

Demikian arti penting tauhid. Dia merupakan asas agama. Setiap perintah, larangan, peribadahan, dan ketaatan, semuanya didasari adanya tauhid. Tanpa didasari tauhid, maka amalan akan sirna, hancur luluh tiada berarti apa pun. Kerugianlah yang akan didapat.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

“Seandainya mereka mempersekutukan (Allah Subhanahu wa Ta’ala), niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

MAKNA لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ berdasarkan AL-QUR-AN dan HADITS

Makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat-ayat-Nya dan telah diterangkan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (An-Nisa`: 36)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.” (An-Nahl: 36)

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ لأَبِيْهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُوْنَ. إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِيْنِ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Dzat Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku’.” (Az-Zukhruf: 26-27)

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa menyembah sesembahan lain di samping ALLAH, padahal tidak ada satu dalilpun bagi nya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi rabb-nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir ( -musyrik-) itu tiada beruntung.) (Al Mukminun : 117)

Makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ pun bisa dipahami dari ayat:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ – وَفِي رِوَايَةٍ: إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ –

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ .” Dalam riwayat lain: “Sampai mereka mengesakan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 1335, 2886 dan At-Tirmidzi no. 2606)

Dan Tauhid merupakan hak-ALLAH yang harus ditunaikan oleh seorang hamba. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sebuah haditsnya:

عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا .رواه البخاري

(Dari Mu’adz bin Jaba, ia berkata, “Ketika aku bonceng di belakang Rasulullah di atas keledai, Beliau berkata: Hai Mu’adz! Tauhukah kamu, apa hak ALLAH atas hamba-NYA? Mu’adz menjawab: ALLAH dan rasul-NYA lah yang mengetahuinya. Rasulullah menjawab: Hak ALLAH atas hamba- NYA, agar hamba itu beribadah hanya kepada NYA dan tidak mempersekutukan NYA dengan selain-NYA.)(HR: Al Bukhariy).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam seluruh peribadahan. Makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ adalah tidak ada yang disembah secara haq kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dengan mengikhlaskan atau memurnikan peribadahan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, termasuk di dalam tahkim asy-syari’ah (berhukum dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala). (Al-Ajwibah Al-Mufidah hal. 118)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ sebuah kalimat tauhid, kalimat ikhlas, kalimat takwa, kalimat Islam, dan kalimat ‘urwatul wutsqa. Tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, itulah makna yang benar. Sebuah makna yang singkat namun padat dan memiliki konsekuensi yang demikian banyak. Makna inilah yang juga dipahami oleh kaum musyrikin dahulu sehingga mendorong mereka untuk menolak seruan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memerangi dakwah beliau. Mereka memahami bahwa bila mereka mengikrarkan dan mengucapkan kalimat ini berarti:

a. Harus melepaskan segala keterkaitan dengan sesembahan yang mereka jadikan sebagai tuhan-tuhan selain Allah, berupa segala bentuk berhala, patung-patung, atau tempat yang dikeramatkan.

b. Harus meninggalkan segala perbudakan hawa nafsu yang menjadikan mereka gandrung dan kecanduan untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti merampok, berzina, membunuh, berjudi, minum khamr, berbuat dzalim, dan lain sebagainya.

Inilah realita orang-orang yang telah disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy rahimahullah: “Orang-orang kafir di masa jahiliyah mengetahui apa yang dimaksud oleh Rasulullah dengan (seruan beliau) kepada kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , yaitu mengesakan Allah dalam ketergantungan, dan mengingkari segala sesembahan selain Allah serta berlepas diri darinya. Di saat Rasulullah mengatakan kepada mereka: ‘Ucapkanlah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ !’, mereka berkata: ‘Apakah dia akan menjadikan tuhan-tuhan ini menjadi satu tuhan? Ini adalah (perbuatan) yang sangat mengherankan.’ Jika engkau mengetahui bahwa orang kafir jahiliyah saja mengetahui makna (yang benar tentang kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ), maka amat naif dan sangat mengherankan jika orang-orang yang mengaku Islam namun tidak mengetahui makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ sebagaimana yang diketahui oleh orang-orang kafir jahiliyah. Bahkan mereka justru mengira bahwa cukup hanya mengucapkannya dengan lisan, tanpa hatinya meyakini makna-makna yang dikandungnya. Bahkan kalangan ahli pikir di antara mereka meyakini bahwa makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ adalah tidak ada yang menciptakan, memberi rizki, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala (yakni membatasi hanya pada makna itu). Sungguh tidak ada kebaikan bagi seseorang (di dalam Islam) jika orang kafir jahiliyah lebih mengetahui makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ .” (Kasyfus Syubuhat, hal. 17-18)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab berkata: “Hendaklah diketahui, bahwa kalimat yang agung ini (merupakan prinsip dasar agama Islam dan di atasnya dibangun syariat dan hukum-hukum dan akan terbedakan antara yang halal dan yang haram), merupakan dakwah para rasul dan millah (agama) Ibrahim dan millah Muhammad, yang beliau menyeru umatnya kepadanya dan beliau berjihad di atasnya. Hal ini, karena lafadz kalimat ini sendiri menunjukkan kepada dua perkara, dimana tidak akan terwujud keislaman dan keimanan melainkan dengan keduanya, baik dalam bentuk ilmu, amal dan keyakinan.
(Pertama): Menafikan kesyirikan dalam peribadatan; dan,
(Kedua): Berlepas diri dari kesyirikan dan mengikhlaskan ibadah dalam semua bentuknya. (Mulakhkhas Minhajus Sunnah, hal. 154)

PENYIMPANGAN MAKNA لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Dalam memahami makna tauhid, yaitu makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , hendaknya perlu dicermati bahwa di tengah kehidupan masyarakat ada pemahaman-pemahaman yang menyimpang. Beberapa pemahaman yang menyimpang tentang makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ini diterangkan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan saat memberi syarah (penjelasan) terhadap Tafsir Kalimat At-Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu. Berikut tafsir (pemahaman) kalimat tauhid Laa ilaha illallah yang menyimpang:

1. Tafsir Wihdatul wujud

Para pengikut aliran wihdatul wujud yang dianut oleh Ibnu ‘Arabi dan para pengikutnya, menyatakan bahwa makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ adalah Laa ma’buda illallah (tidak ada yang disembah kecuali Allah) atau Laa ilaha maujudun illallah (tidak ada Ilah yang ada kecuali Allah). Makna ini adalah batil dan tidak benar secara lahiriah, karena makna ini menafikan kenyataan yang ada dalam hidup. Dalam realita, ada sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disembah oleh hamba-hamba-Nya seperti menyembah kuburan, pohon, tempat keramat, batu-batu, jin-jin, malaikat, para nabi atau para wali.

Bila diartikan semacam itu, maka segala sesuatu yang disembah semuanya adalah Allah. Karena menurut pemahaman mereka bahwa Al-Wujud tidak terpilah antara Khaliq (pencipta) dengan makhluk. Semuanya (Khaliq dan makhluk) adalah Allah. Pemahaman semacam ini, di kalangan penganut wihdatul wujud, menjadikan al-wujud (menyatu) dan tidak dibedakan (antara makhluk dan Khaliq).

Maka seseorang yang menyembah manusia karena sesuatu, senyatanya dia menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang menyembah sapi, berhala, batu, malaikat, semuanya diartikan menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah adalah sesuatu yang wujud atau ada (al-wujud) secara mutlak (maka setiap yang wujud, seperti sapi, berhala, batu, malaikat, semuanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, pen.).

Bagi mereka, seseorang yang memahami bahwa al-wujud itu terbagi dua bagian: Khaliq dan makhluk, maka orang tersebut dinyatakan sebagai musyrik. Seseorang tidak dikategorikan sebagai muwahhid (bertauhid) menurut mereka, kecuali dia mengatakan, “Sesungguhnya al-wujud (keberadaan) sesuatu itu satu, yaitu Allah.” Inilah kebatilan pemahaman wihdatul wujud, bahwa semua benda yang ada adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Tafsir Ulama Ilmu Kalam

Para ulama al-kalam menyatakan bahwa لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ maknanya adalah tidak ada yang berkuasa atas penciptaan, pengaturan, mengadakan (sesuatu) kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pemaknaan seperti ini adalah batil, karena penafsiran ini hanya terbatas pada tauhid rububiyyah, tidak termuat unsur-unsur tauhid Uluhiyah. Makna seperti ini telah diakui dan diyakini oleh kaum musyrikin jahiliyah, akan tetapi tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan tidak menjadikan harta dan darah mereka terjaga.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata: “Kaum musyrikin menetapkan dan mempersaksikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat pencipta, pemberi rizki. Dan mereka meyakini bahwa tidak ada yang memberi rizki, menghidupkan dan mematikan melainkan Dia, serta tidak ada yang mengatur kecuali Dia. Dan seluruh langit yang tujuh dan apa yang ada di dalamnya dan bumi yang tujuh seisinya adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya. Jika engkau ingin mengetahui dalil bahwa orang-orang yang diperangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaksikan hal itu, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُوْنَ

“Katakan siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? Siapakah yang menguasai pendengaran, penglihatan dan yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan dan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur semua urusan? Maka mereka akan berkata: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kalian tidak takut (kepada-Nya)?’.” (Yunus: 31)

قُلْ لِمَنِ اْلأَرْضُ وَمَنْ فِيْهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ سَيَقُوْلُوْنَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَذَكَّرُوْنَ. قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ سَيَقُوْلُوْنَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَتَّقُوْنَ. قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيْرُ وَلاَ يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ سَيَقُوْلُوْنَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُوْنَ

“Katakan: Milik siapakah bumi dan segala apa yang ada padanya jika kalian mengetahui? Mereka akan mengatakan Allah, maka katakanlah tidakkah kamu mau sadar. Katakan siapakah Rabbnya langit yang tujuh, Rabb ‘Arsy yang agung? Mereka akan mengatakan milik Allah, maka katakanlah tidaklah kalian mau bertakwa. Katakan, di tangan siapakah kekuasaan terhadap segala sesuatu dan dia tempat berlindung dan tidak akan dilindungi jika kalian mengetahui, mereka akan mengatakan: “Milik Allah, lalu kenapa kalian bisa dipalingkan.’” (Al-Mu’minun: 84-89)[Lihat Kasyfus Syubuhat hal. 10-11]

Memaknakan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ hanya ke dalam makna tauhid rububiyyah (tidak ada yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan dan yang mengatur semua urusan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala) semata adalah jelas kebatilannya. Jika demikian maknanya niscaya:

1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memerangi mereka, menghalalkan darah, kehormatan, dan harta mereka. Bagaimana mungkin beliau akan memerangi kaum yang benar aqidahnya, jika memang maknanya demikian.
2. Kaum musyrikin tidak akan menentang dan memerangi dakwah serta seruan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalimat Laa Ilaha illallah.
3. Tidak ada hikmah yang besar dalam hal diutusnya para nabi dan diturunkannya kitab-kitab samawi, karena tauhid rububiyyah ini ditetapkan oleh fitrah setiap manusia.
4. Usaha Iblis dan bala tentaranya tidak begitu berarti dalam penyesatan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnul Qayyim menjelaskan: “Apa yang ditunjukkan oleh kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dalam menetapkan hak peribadatan, lebih tinggi dibandingkan dengan kalimat اللهُ إِلَهٌ (Allah adalah sesembahan). Karena ucapan ini tidak mengandung makna penafian terhadap sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berbeda dengan ucapan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Kalimat ini menuntut pembatasan hak ibadah itu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menafikan selain-Nya. Salah besar jika ada orang yang menafsirkan makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan ‘Tidak ada yang mampu menciptakan kecuali Allah semata’.”

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah menjelaskan: “Jika dikatakan telah jelas makna ‘Al-Ilah’ dan ‘Al-Ilahiyyah’, lalu bagaimana jawaban terhadap orang yang memaknakannya dengan ‘Yang Maha Kuasa untuk menciptakan’ atau ungkapan-ungkapan selainnya (dalam makna tauhid rububiyyah)? Jawabannya dari dua sisi: Pertama: Ucapan ini termasuk dari ucapan yang mubtada’ (diada-adakan) dan tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan demikian. Tidak pula para imam, ulama, dan ahli bahasa sekalipun yang (memaknakan) dengan apa yang kita sebutkan. Sehingga ucapan ini adalah batil. Kedua: Jika kita menerima makna demikian, maka ini memang salah satu kandungan maknanya dan memang semestinya sesembahan yang benar adalah yang berkuasa menciptakan, atau mengadakan dari yang semula tidak ada menjadi ada. Dan jikalau (sesembahan itu) tidak demikian sifatnya, maka dia bukanlah sesembahan yang benar. Namun bukan berarti bahwa orang yang meyakini bahwa makna Al-Ilah adalah tidak ada yang kuasa menciptakan kecuali Allah, dia telah masuk ke dalam Islam dan telah melakukan sesuatu yang dituju yang menjadi kunci pintu keselamatan (surga). Ini tidak diucapkan oleh seorangpun. Karena ini berkonsekuensi bahwa orang-orang kafir Arab di masa dahulu adalah muslimin. Jika ada sebagian orang belakangan ini menganggap demikian, berarti dia telah salah dan telah dibantah oleh dalil-dalil sam’i (naqli) dan aqli.” (Taisiril ‘Aziz Al-Hamid, hal. 80)

Dari pembahasan ini kita mengetahui bahwa:

1. Memaknakan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan ‘tidak ada yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki kecuali Allah’ adalah makna batil.
2. Kaum musyrikin jahiliyah lebih mengetahui makna
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ daripada sebagian kaum muslimin sekarang ini.
3. Kaum musyrikin dahulu meyakini bahwa tidak ada yang menciptakan, mematikan, menghidupkan, memberi rizki, dan mengatur alam ini melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Kaum musyrikin jahiliyah dahulu lebih ringan tingkat penyelewengannya terhadap kalimat
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ daripada kaum muslimin yang melakukan kesyirikan di masa sekarang ini, ditinjau dari beberapa sisi:

a. Dahulu mereka menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala bila dalam keadaan senang saja. Sedangkan bila mendapatkan malapetaka dan musibah, mereka mengikhlaskan permintaan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun kaum musyrikin (dari kalangan muslimin) sekarang ini, mereka melakukan kesyirikan baik ketika gembira atau mendapatkan ujian dan malapetaka.
b. Dahulu mereka menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pribadi-pribadi yang mulia, seperti para malaikat, para nabi, dan orang-orang shalih, atau dengan sesuatu yang tidak bisa berbuat apa-apa seperti batu atau pohon-pohon. Adapun kaum musyrikin sekarang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan orang-orang yang terkenal kerusakan dan kebejatannya di dalam agama. (Kasyfus Syubhat hal. 59 dan seterusnya)

3. Tafsir Al-Jahmiyah dan Al-Mu’tazilah

Barangsiapa yang berjalan berdasar manhaj mereka, dia akan menafikan (menolak, meniadakan) nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena menurut pemahaman mereka, seseorang yang menetapkan Al-Asma wa Shifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah seorang musyrik. Sedangkan yang dikategorikan sebagai orang yang bertauhid menurut mereka adalah orang yang menafikan Al-Asma wa Shifat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penafsiran mereka ini tidak lain adalah: “Mengeluarkan keyakinan yang benar dari zat segala sesuatu dan memasukkan keyakinan yang benar hanya kepada Dzat Allah.”  Memaknakan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan makna ini adalah batil dari banyak sisi:

a. Bertentangan dengan bimbingan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang membolehkan kita untuk meyakini sesuatu selain tentang Allah, seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِ

“Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin niscaya kalian akan benar-benar melihat neraka Jahim dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yakin.” (At-Takatsur: 5-7)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلْيُلْغِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى الْيَقِيْنِ، فَإِذَا اسْتَيْقَنَ بِالتَّمَامِ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ قَاعِدٌ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعَتَا لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ صَلَّى أَرْبَعًا كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila seseorang ragu di dalam shalatnya, maka hendaklah dia berusaha menghilangkan keraguannya dan kemudian dia membangunnya di atas keyakinan. Jika dia benar-benar yakin, hendaklah dia sujud dua kali dalam keadaan duduk. Jika dia ternyata shalat lima rakaat berarti dua sujud itu telah menggenapkan shalatnya, dan jika dia shalat empat rakaat berarti dia telah mengundang kemurkaan setan.” (HR. Al-Imam Abu Dawud no. 864 dan An-Nasa`i no. 1221)

b. Menyelisihi apa yang dipahami oleh Salafus Shalih umat ini.
c. Meyakini sesuatu yang tertangkap oleh indera dan bisa terjadi, tidaklah menyelisihi tauhid.

4. Tafsir kalangan hizbiyyun dan Ikhwanul Muslimin (IM)

Di kalangan pergerakan dan IM, mereka memiliki pemahaman tentang لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan makna La hukma illa lillah (Tidak hukum kecuali milik Allah). (Buah dari kekeliruan ini mengakibatkan mereka – walaupun meyakini Tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah – lebih memfokuskan masalah hakimiyyah ini yang terkadang mereka sebut dengan Al-Mulkiyyah. Hal itu sangat nyata bila kita melihat gerakan dakwah mereka. ed). Pemahaman ini disampaikan oleh Sayyid Quthb, seorang pentolan IM yang mengadopsi pemikiran Abul A’la Al-Maududi (seorang pendiri gerakan Jamaah Al-Islami di Pakistan).

Kata Al-Maududi, Al-Ilah adalah Al-Hakim (yang berkuasa). Pemikiran Al-Maududi ini lahir karena dipengaruhi oleh pemikiran Hegel, seorang filosof Jerman. (Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi dalam Adhwa` Islamiyyah hal. 59. Beliau menukil dari Shalahudin Maqbul dalam bukunya Da’wah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah wa Atsaruha fi Al-Harakat Al-Islamiyyah)

Menurut Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Al-Hakimiyyah sesuai namanya merupakan bagian dari makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Karena makna kalimat tauhid secara sempurna adalah meliputi setiap bentuk peribadahan. Kalau makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ hanya dibatasi dengan makna Al-Hakim, maka bagaimana dengan bentuk-bentuk peribadahan lainnya seperti ruku’, sujud, menyembelih, nadzar, mahabbah (cinta), khauf (takut), isti’anah (meminta pertolongan) dan lain-lain? Dan mana pula bentuk penafian terhadap berbagai bentuk kesyirikan?

Asy-Syaikah Fauzan berkata: “Menafsirkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan Al-Hakimiyyah merupakan tafsir yang pendek. Tidak memberikan makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (secara sempurna).”

Adapun menafsirkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan Laa khaliqa illallah (tiada pencipta selain Allah) adalah penafsiran yang batil, tidak semata penafsiran yang pendek. Karena kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ tidaklah semata untuk menetapkan bahwa sesungguhnya tidak ada pencipta selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penetapan semacam ini sudah dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy dulu. Jadi, bila penetapan semacam ini benar maka menjadikan kaum musyrikin sebagai muwahhidin (orang-orang yang bertauhid). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُوْنَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (Az-Zukhruf: 87)

Bila pemahaman لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ adalah semacam itu, maka Abu Jahl dan Abu Lahab termasuk orang yang bertauhid. (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 118)

5. Tafsir Kalangan Sufi

Di kalangan Sufi, kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ tidak diucapkan sempurna. Mereka meyakini bahwa mereka adalah orang-orang yang teramat khusus, istimewa (khawash al-khawash), sehingga mereka tak perlu mengucapkan kalimat tauhid secara sempurna tapi mencukupkan diri mengucapkan Allahu, Allahu. Begitulah dzikir mereka. Mereka berdzikir dengan mengucapkan secara berulang kalimat Allahu, Allahu, Allahu…

Kalimat yang diucapkan itu merupakan isim mujarrad (sekedar menyebut nama), yang tidak memberi faedah tauhid sedikitpun. Mestinya kalimat tersebut harus dalam bentuk jumlah mufidah (kalimat yang sempurna) sehingga memberi arti atau faedah.

Bahkan sebagian mereka tidak lagi mengucapkan lafzhul jalalah (Allahu), tetapi hanya mengucapkan huwa, huwa, huwa, yang merupakan kata ganti tunggal orang ketiga (dhamir ghaib). Tentu saja, inipun tidak memberikan manfaat sedikitpun. Ini merupakan tindakan mempermainkan kalimat tauhid. Lebih parah lagi, sebagian mereka tidak melafadzkan Allahu atau huwa, namun hanya menyatakan dengan hatinya. (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam Tafsir Kalimat At-Tauhid hal. 132)

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber:

  1. Memahami makna tauhid. Penulis : Al Ustadz Asasuddin. Rujukan: Al Irsyad ila shohihil i’tiqod, DR sholih bin Fauzan, Fathul Qodiir. Kategori : Pilar Aqidah. http://www.mimbarislami.or.id/?module=artikel&opt=default&action=detail&arid=43.
  2. Penyimpangan Makna Tauhid. Penulis : Al-Ustadz Abu Faruq Ayip Syafruddin. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=440.
  3. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=17.
  4. Menyelewengkan Makna La ilaha illallah, Wujud Penyimpangan Akidah. Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=407.
  5. Tauhid Sebagai Pondasi. Penulis : Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin. Rujukan: 1. Fathul Bari bi Syarhi Shahihul Bukhari, cet. Darul Hadits, 2. Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnul Hajjaj, cet. Darul Ma’rifah, 3. Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid, cet. Darul Fikr, 4. Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, cet. Darul ‘Ashimah, 5. Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, cet. Maktabah Al-Irsyad, 6. Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Manan, cet. Muassassah Ar-Risalah. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=445
Penulis : Al-Ustadz Abu Faruq Ayip Syafruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: