Syafaat , Pertolongan dari Penolong Haqiqi


Pengertian dan Hakikat Syafaat

Ibnul Atsir rahimahullah menjelaskan: “Dan tentang syafaat, telah disebutkan berulang-ulang di dalam banyak hadits, baik yang berkaitan dengan urusan-urusan dunia ataupun akhirat. (Yang dimaksud dengan syafaat) yaitu: Meminta agar dimaafkan dari segala dosa dan kesalahan di antara mereka. Juga dikatakan: شَفَعَ، يَشْفَعُ، شَفَاعَةٌ فهو شَافِعٌ وشَفِيْعٌ . Al-Musyaffi’ artinya orang yang menerima syafaat, dan al-musyaffa’ artinya orang yang diterima syafaatnya.” (An-Nihayah, 2/485)

Gambaran makna yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir rahimahullah ini menjadi jelas dengan hadits yang mauquf pada Az-Zubair bin Al-‘Awwam z, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab Asy-Syafa’ah (hal.13):

إِذَا بَلَغَ حَدُّ السُّلْطَانَ فَلَعَنَ اللهُ الشَّافِعَ وَالْمُشَفِّعَ

“Apabila telah sampai hukuman penguasa (terhadap seseorang) maka Allah melaknat orang yang memberi syafaat (pembelaan) dan orang yang menerima syafaat.”

Asy-Syaikh Muqbil (Asy-Syafa’ah, hal. 13) menukilkan dari kitab Al-Qamus dan Taajul ‘Arus: “Asy-Syafii’ artinya pemilik syafaat. Bentuk jamaknya adalah syufa’aa` yaitu orang yang meminta orang lain untuk membela apa yang diinginkannya.”

Diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang firman Allah subhanahu wata’ala:

عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُوْدًا

“Semoga Allah membangkitkan kamu (Rasulullah n) pada kedudukan yang terpuji.” (Al-Isra`: 79)

, beliau pun menjawab:

هِيَ الشَّفَاعَةُ

“Itulah syafaat.” (HR. Ahmad (2/441, 444, 528), At-Tirmidzi (no. 3358), Ibnu Jarir (15/145), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/372) dan dalam Akhbar Ashbahan. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (no. 2508), Ash-Shahihah (no. 2639) dan dalam Azh-Zhilal (784), dan Asy-Syaikh Muqbil t menghasankannya dalam kitab beliau Asy-Syafa’ah (hal. 41))

Beriman Terhadap Syafa’at merupakan salah satu Pokok Aqidah

Para ulama memasukkan pembahasan ini dalam pembahasan aqidah dan orang-orang yang menyelewengkannya dengan menyimpangkan hakikat syafaat, bakal disikapi dengan keras. Di antara mereka yang menyelewengkannya, ada yang ifrath (berlebihan) dalam memaknainya hingga jatuh dalam syirik besar. Ada juga yang menempuh jalan tafrith (meremehkan) permasalahan, bahkan menyimpangkannya hingga terjatuh dalam sikap menolak sebagian syafaat.

Dalam permasalahan syafaat manusia digolongkan menjadi tiga:

1. Kaum yang ghuluw (berlebihan) di dalam menetapkan adanya syafaat sehingga mereka memintanya dari orang-orang yang telah mati, kuburan, patung-patung, batu-batu, dan pepohonan. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ

“Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudharatan dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan bahwa mereka (yang disembah itu) adalah pensyafaat kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

2. Kaum yang berlebihan di dalam menafikan syafaat seperti halnya kaum Mu’tazilah dan Khawarij di mana mereka menafikan adanya syafaat bagi para pelaku dosa besar. Mereka berani menyelisihi sesuatu yang dalilnya telah mutawatir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.

3. Kaum yang berada di tengah-tengah, yang menetapkan adanya syafaat sesuai dengan apa yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa tafrith dan ifrath. Mereka adalah Ahlus Sunnah. (lihat Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan, hal 21)

Ibnu Abil ‘Izzi menjelaskan: “Manusia dalam permasalahan syafaat ada tiga (golongan) pendapat: (Pertama): Musyrikin, Nasrani, dan Sufiyyah yang ghuluw terhadap guru-guru mereka dan selainnya. Mereka meyakini bahwa syafaat orang yang mereka agungkan di sisi Allah bagaikan syafaat di dunia (yakni semacam perantara di dunia semisal orang yang ingin bertemu raja maka dia butuh perantara yang dekat dengan raja tersebut. Demikian pula kepada Allah subhanahu wata’ala, menurut mereka. Wallahu a’lam. –ed). (Kedua): Mu’tazilah dan Khawarij. Mereka mengingkari syafaat Nabi kita n dan selainnya, terhadap pelaku dosa besar. (Ketiga): Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka menetapkan adanya syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan selain beliau terhadap pelaku dosa besar, dan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat melainkan dengan izin Allah. (Syarah Aqidah Thahawiyyah hal. 235)

Para ulama menyebutkan kaidah-kaidah yang terkait dengan syafaat di dalam kitab mereka. Di antaranya:

• Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: “Beriman dengan syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beriman dengan adanya suatu kaum yang telah masuk neraka dan telah terbakar serta menjadi arang, kemudian mereka diperintah menuju sebuah sungai yang berada di pintu surga –seperti disebutkan dalam riwayat tentang hal ini– dan (kita imani) bagaimana dan kapan terjadinya. Terhadap yang demikian kita hanya beriman dan mempercayai.” (Ushulus Sunnah Lil Imam Ahmad hal. 32)
• Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah mengatakan: “Dan syafaat yang dipersiapkan untuk mereka kelak adalah haq (benar adanya), sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits.” (Lihat matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, masalah ke-41)
• Abu ‘Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash-Shabuni rahimahullah berkata: “Ahli agama dan Ahlus Sunnah mengimani syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagi pelaku dosa dari kalangan orang-orang yang bertauhid dan pelaku dosa besar (lainnya), sebagaimana telah diberitakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang shahih.” (Lihat ‘Aqidatus Salaf Ashabil Hadits hal. 76)
• Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan: “Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberikan syafaat kepada para pelaku dosa besar yang telah masuk neraka agar mereka bisa keluar setelah mereka terbakar dan menjadi arang, kemudian masuk ke dalam surga. Dan para nabi, orang-orang yang beriman serta malaikat akan memberikan syafaat (dengan seizin Allah). Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَلاَ يَشْفَعُوْنَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُوْنَ

“Dan mereka tidak akan sanggup memberikan syafaat melainkan untuk orang yang Allah ridhai; dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada Allah.” (Al-Anbiya`: 28)

Adapun orang-orang kafir, tidak akan bisa merasakan syafaat orang yang memberi syafaat.” (Syarah Lum’atil I’tiqad, hal. 128)

Para ulama Ahlus Sunnah mengimani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberikan syafaat bagi seluruh umat pada hari kiamat nanti, sebagai syafaat yang menyeluruh. Dan bahwa beliau akan memberikan syafaat bagi pelaku dosa dari umat beliau sehingga mengeluarkan mereka setelah menjadi arang. (Lihat ‘Aqa`id A`immatis Salaf, hal. 113)

Mengapa ketika berbicara tentang syafaat, para ulama menitikberatkan pembahasan pada masalah syafaat bagi pelaku dosa besar? Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah telah menjawabnya dengan mengatakan: “Ibnu Katsir dan pensyarah kitab Ath-Thahawiyyah mengatakan: ‘Maksud ulama salaf meringkas pembahasannya dalam masalah syafaat hanya kepada pelaku dosa besar adalah sebagai bantahan terhadap Khawarij dan kalangan Mu’tazilah yang mengikuti konsep mereka (karena dua kelompok ini mengingkari syafaat tersebut, ed)’.” (Syarah Lum’atil I’tiqad hal. 129)

Syafa’at Diakui Semua Manusia dalam Fitrahnya

Permasalahan syafaat diakui adanya, bahkan oleh orang-orang kafir sekalipun (bahkan orang kafir dari selain agama samawi-admin). Bahkan mereka berusaha untuk merebut syafaat di sisi Allah subhanahu wata’ala dengan cara batil yaitu memintanya kepada selain Allah subhanahu wata’ala. Mereka mengharapkan syafaat dari tuhan-tuhan yang mereka sembah. Allah subhanahu wata’ala telah menjelaskan tujuan mereka mendekatkan diri kepada sesembahan selain Allah subhanahu wata’ala, yang tidak berakal dan tidak bisa berbuat apa-apa, padahal mereka meyakini bahwa yang meciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, mendatangkan manfaat, menolak mudharat dan sebagainya adalah Allah subhanahu wata’ala. Dua tujuan tersebut adalah:

Pertama: Agar tuhan-tuhan yang mereka sembah itu mendekatkan mereka kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sedekat-dekatnya. Dan tujuan ini telah disebutkan oleh Allah subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya, bahwa mereka mengatakan:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللهِ زُلْفَى

“Tidaklah kami menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

Kedua: Agar tuhan-tuhan yang mereka sembah itu memberikan pembelaan di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Dan tujuan ini telah disebutkan oleh Allah subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya:

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ

“Dan mereka menyembah kepada selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudharatan dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan bahwa sesembahan itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

Syafa’at hanya Milik Allah subhanahu w ata’ala semata

Syafaat adalah milik Allah semata, dan semua urusannya kembali kepada Allah. Dialah yang akan memberikan izin kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan dan memberikannya. Allah subahanahu wata’ala berfirman:

قُلْ للهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا

“Katakan bahwa syafaat itu semuanya milik Allah.” (Az-Zumar: 44)

Ibnul Jauzi rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan: “Seseorang tidak akan sanggup memilikinya melainkan dengan kehendak-Nya. Dan seseorang tidak akan bisa memberikan syafaat melainkan dengan izin-Nya.” (Zadul Masir hal. 1232)

Berdasarkan hal ini, maka meminta syafaat kepada selain pemiliknya merupakan kesyirikan yang sangat besar. Orang yang memintanya kepada selain Allah akan terhalangi untuk mendapatkannya kelak di sisi Allah. Karena orang yang akan mendapatkannya adalah orang yang bersih dari kesyirikan dan mereka yang diridhai.

Apakah Hamba akan Bisa Memberikan Syafaat?

Telah dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Sunnahnya bahwa selain Allah bisa memberikannya, namun tetap tidak terlepas dari kehendak Allah dan harus terpenuhi syaratnya. Mereka adalah para nabi, malaikat, orang-orang yang beriman, dan anak-anak terhadap kedua orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّوْنَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

“Allah subhanahu wata’ala berfirman: Malaikat akan memberikan syafaat, para nabi memberikan syafaat, dan kaum mukminin akan memberikan syafaat, dan tidak tersisa kecuali milik Allah.” (HR. Al-Imam Muslim di dalam Shahih beliau dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang ru‘yatullah no. 183)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَشْفَعُ لِلْفِئَامِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلْقَبِيْلَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلْعُصْبَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلرَّجُلِ حَتَّى يَدْخُلُوا الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya dari umatku ada orang yang akan memberikan syafaat kepada sekelompok orang. Dan di antara mereka ada juga yang akan memberikan syafaat kepada sebuah qabilah. Dan di antara mereka ada yang memberikan syafaat kepada al-’ushbah (al-’ushbah yaitu sekelompok orang yang berjumlah antara 10 sampai 40 orang, An-Nihayah, ed). Dan di antara mereka ada yang akan memberikan syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab Asy-Syafaat hal. 195)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاَثٌ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

“Tidaklah seorang muslim ditinggal tiga anaknya yang mati belum baligh melainkan Allah akan masukkan dia ke dalam surga dengan keutamaan rahmat-Nya kepada mereka.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu no. 1248 dan hadits ini juga datang dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 1251 dan Muslim no. 2632, dan datang dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1249 dan Muslim no. 2633)

Dan semua hadits yang menjelaskan tentang syafaat memperkuat bahwa di antara hamba-hamba Allah ada yang akan memberikan syafaat di sisi-Nya.

Macam-macam Syafa’at

Telah dibahas oleh para ulama bahwa syafaat secara umum ada dua macam sebagaimana dalam Al-Qur`an disebutkan pembagian syafaat, yaitu syafaat yang mutsbatah (yang ditetapkan) dan yang manfiyyah (ditiadakan). Penetapan dan peniadaan itu terkait dengan syafaat itu sendiri atau dengan orang yang akan memberikan syafaat. Kita akan menukilkan beberapa di antaranya:

1. Syafaat manfiyyah (ditiadakan).

Sesungguhnya syafaat yang dinafikan oleh Allah subhanahu wata’ala adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah subhanahu wata’ala atau syafaat yang mengandung kesyirikan. Allah menafikan (meniadakan) syafaat dan pemberinya. Firman Allah subhanahu wata’ala:

وَاتَّقُوا يَوْمًا لاَ تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ هُمْ يُنْصَرُوْنَ

“Dan jagalah dirimu dari (adzab) pada hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun, dan tidak diterima syafaat dan tebusan darinya dan tidaklah mereka akan ditolong.” (Al-Baqarah: 48)

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَبَيْعٌ فِيْهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُوْنَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang dzalim.” (Al-Baqarah: 254)

أَ أََتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لاَ تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلاَ يُنْقِذُوْنَ

“Mengapa aku akan menyembah sesembahan selain-Nya, jika (Allah subhanahu wata’ala) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak akan memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku.” (Yasin: 23)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal dengan di atas seperti dalam surat Al-An’am ayat 51 dan 70, Yunus ayat 18, Asy-Syu’ara‘ ayat 100-102, As-Sajdah ayat 4, Az-Zumar ayat 43-44, dan Ghafir ayat 18.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: “Allah telah meniadakan segala hal yang dijadikan tempat bergantung kaum musyrikin selain-Nya. Allah meniadakan dari selain-Nya, segala bentuk kepemilikan, bagian atau bantuan untuk Allah. Sehingga tidak tersisa lagi melainkan syafaat. Dan Allah menjelaskan bahwa syafaat tidak bermanfaat kecuali yang mendapat izin dari Allah, sebagaimana firman Allah: “Mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali kepada siapa yang diridhai-Nya.” Syafaat jenis inilah yang disangka kaum musyrikin (bahwa mereka akan mendapatkannya). Padahal (mereka) tidak akan mendapatkannya pada hari kiamat sebagaimana telah ditiadakan oleh Al-Qur`an. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan bahwa beliau datang menghadap Allah kemudian bersujud dan bertahmid. Dan beliau tidak memulai dengan (meminta) syafaat, kemudian dikatakan kepada beliau: “Angkat kepalamu dan katakanlah, maka akan didengar. Dan mintalah, akan diberi. Dan mintalah syafaat, kamu akan diberikan.” Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapakah yang paling berbahagia dengan syafaat engkau?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

Itulah syafaat bagi orang-orang yang ikhlas dengan izin Allah dan tidak akan diberikan bagi orang yang menyekutukan Allah. Hakikatnya adalah Allahlah yang akan memberikan keutamaan kepada orang-orang yang ikhlas. Allah akan mengampuni mereka melalui doa orang yang telah diizinkan untuk memberikan syafaat yang bertujuan untuk memuliakannya dan mendapatkan kedudukan yang terpuji. Maka syafaat yang ditiadakan Al-Qur`an adalah syafaat mengandung kesyirikan. Oleh karena itu Allah menetapkan adanya syafaat dalam banyak tempat dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa syafaat tidak akan didapati melainkan bagi orang yang bertauhid dan ikhlas.” (Lihat Majmu’ Fatawa 1/116 dan Al-Kalam ‘ala Haqiqatil Islam hal. 116-121)

2. syafaat yang mutsbatah (yang ditetapkan)

Adapun syafaat yang keberadaannya ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala yaitu syafaat yang memenuhi syarat-syarat terntentu yang ditetapkan oleh-Nya (lihat pembahasan dibawah ini-admin). Ayat-ayat yang menetapkan syafaat dan pemberinya di antaranya:

قُلْ للهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا

“Katakan bahwa syafaat itu semuanya milik Allah.” (Az-Zumar: 44)

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak ada seorangpun yang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

مَا مِنْ شَفِيْعٍ إِلاَّ مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ

“Tidak ada seorangpun yang akan memberikan syafaat melainkan dengan seizin-Nya.” (Yunus: 3)

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لاَ تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan berapa banyaknya malaikat yang ada di langit, syafaat mereka sedikipun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (An-Najm: 36)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal dengan di atas seperti dalam surat Al-Anbiya` ayat 26-28, Thaha ayat 105-109, Az-Zukhruf ayat 86. Syafaat ini ada dua bentuk, yang sifatnya umum dan yang sifatnya khusus:

a. Syafaat yang sifatnya khusus

Khusus artinya hanya dimiliki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak dimiliki oleh selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul.

i. Syafaat Al-‘Uzhma atau Al-Kubra yaitu syafaat kepada seluruh manusia di hari mahsyar, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan juga dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Dalam syafaat ini, para rasul (selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) berlepas diri darinya dan tidak sanggup memberikannya kepada yang lain. Itulah maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) bagi imam para rasul sebagaimana telah dijanjikan Allah di dalam Al-Qur`an. Tidak ada penentangan sedikitpun dalam masalah ini baik dari Khawarij ataupun Mu’tazilah

ii. Syafaat beliau terhadap penduduk surga untuk masuk ke dalamnya. Karena, setelah mereka melewati Shirath (titian) dan sampai ke surga, mereka menemukannya dalam keadaan tertutup dan mereka meminta siapa yang akan memberikan syafaat. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada mereka. (lihat Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid 1/426)

b. Syafaat yang sifatnya umum

Umum artinya syafaat yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul berikut kaum mukminin.

i. Syafaat bagi para pelaku maksiat dari kalangan umat beliau yang berhak masuk neraka agar tidak memasukinya.
ii. Syafaat beliau bagi ahli tauhid yang bermaksiat dan telah masuk ke dalam neraka agar bisa keluar darinya. Hadits yang menjelaskan demikian adalah mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah ijma’ (sepakat) terhadap hal itu, dan begitu pula seluruh Ahlus Sunnah. Dan setiap orang yang mengingkarinya akan dicap sebagai pelaku bid’ah dan mereka disikapi dengan keras dan tegas. Di sinilah letak penentangan kaum Khawarij dan Mu’tazilah, dan kalangan ahli bid’ah yang mengikuti langkah mereka.
iii. Syafaat untuk mengangkat derajat kaum mukminin di dalam surga. Dalam syafaat ini tidak ada penentangan sedikitpun baik dari Mu’tazilah atau Khawarij.

Namun yang jelas, semua jenis syafaat ini akan diberikan kepada orang-orang yang bertauhid, yang mereka tidak menjadikan selain Allah sebagai wali (penolong) dan syafi’ (pembela). Allah subhanahu wata’al berfirman:

وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ وَلِيٌّ وَلاَ شَفِيْعٌ

“Dan berikanlah peringatan kepada orang yang takut untuk dibangkitkan ke hadapan Rabb mereka, yang mereka tidak memiliki penolong dan pembela selain Allah.” (Al-An’am: 51) [Lihat Fathul Majid hal. 244-252, Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izzi hal. 232, Al-Qaulul Mufid 1/426, ‘Aqa`id A`immatis Salaf hal.113]

Syarat Diterimanya Syafaat

Syafaat merupakan sesuatu yang dibutuhkan setiap hamba ketika menghadapi kegentingan hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Kebutuhan terhadap syafaat menyebabkan sebagian manusia jatuh dalam kesyirikan, yakni dengan memintanya kepada selain Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu justru akan menghalanginya mendapatkan syafaat. Ada dua syarat bagi seseorang untuk mendapatkan syafaat dan memberikan syafaat di sisi Allah.

1. Orang yang akan memberikan syafaat mendapatkan izin dari Allah.

Tanpa izin-Nya, tidak ada seorangpun yang sanggup memberikan syafaat di sisi Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak ada seorangpun yang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

Syafaat di sisi Allah tidaklah seperti syafaat makhluk kepada yang lain yang bisa diberikan meskipun tidak diizinkan. Lihat juga Az-Zumar: 44, Yunus: 3, An-Najm: 36 sebagaimana tersebut di atas. Dan Allah telah menetapkan ketidaksanggupan orang-orang tertentu yang dimintai syafaat untuk memberi syafa’at, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهَ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ

“Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudaratan bagi mereka dan tidak pula manfaat. Dan mereka mengatakan: ‘Mereka adalah para pensyafaat kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)

وَلاَ يَمْلِكُ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ الشَّفَاعَةَ إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Dan tidaklah orang-orang yang mereka seru selain Allah memiliki syafaat akan tetapi (orang yang akan bisa memberi syafaat adalah) orang yang mengakui hak (tauhid) dan meyakini-(nya).” (Az-Zukhruf: 86)

Dari kedua ayat di atas diketahui bahwa syafaat yang diminta dari orang yang telah mati adalah permintaan kepada mereka yang tidak memilikinya.

Diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiyallhu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يُنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Aku adalah sayyid (pimpinan) anak Adam pada hari kiamat dan orang yang pertama kali dibangkitkan dari kuburnya, dan orang yang pertama kali memberi syafaat dan yang diberikan hak syafaat.” (HR. Muslim, dan juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4673) dan Ahmad (2/540) dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abu Dawud (no. 3908), Syarah Ath-Thahawiyyah (no.107), dan dalam Azh-Zhilal (792))

Diriwayatkan dari shahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تُحَلَّ ِلأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَةً

“Aku diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelumku: Aku diberi kemenangan dengan takutnya musuh dari jarak satu bulan perjalanan; dijadikan bumi sebagai masjid (tempat shalat) dan alat bersuci, sehingga di mana saja seseorang dijumpai (oleh waktu) shalat maka hendaklah dia shalat; dihalalkan bagiku memakan harta ghanimah yang tidak dihalalkan (kepada seorang nabi pun) sebelumku; aku diberikan syafaat; dan nabi-nabi sebelumku diutus kepada kaumnya sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim (no. 521), An-Nasa`i (no. 419), Ad-Darimi (1/322, 323) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/316).)

2. Orang yang akan mendapatkan syafaat adalah orang-orang yang diridhai Allah

Allah tidak meridhai kekufuran dan kesyirikan namun meridhai keimanan dan ketauhidan. Allah tidak akan menerima syafaatnya orang yang memberikan syafaat (telah diizinkan untuk memberi syafaat oleh Allah) kecuali atas orang yang diridhai-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

مَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ حَمِيْمٍ وَلاَ شَفِيْعٍ يُطَاعُ

“Orang-orang yang dzalim tidak memiliki teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (Ghafir: 18)

وَلاَ يَشْفَعُوْنَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tidak akan memberikan syafaat melainkan kepada orang yang telah Allah ridhai.” (Al-Anbiya`: 28)

وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

“Dan Allah tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)

Yang dimaksud dengan orang dzalim di sini adalah orang kafir, dengan dalil hadits mutawatir tentang adanya syafaat bagi pelaku dosa besar. Al-Imam Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman (1/205) menjelaskan: “Orang-orang dzalim yang dimaksud di sini adalah orang-orang kafir. Dan hal ini dikuatkan oleh awal ayat yang menjelaskan tentang orang kafir.”

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Artinya, tidaklah orang-orang yang mendzalimi dirinya dengan kesyirikan kepada Allah subhanahu wata’ala akan mendapatkan manfaat dari teman dekat mereka, dan tidak pula ada seorang penolong yang akan memberikan pembelaan. Sungguh telah terputus segala hubungan dekat dari segala kebaikan.”

Dikecualikan dari semuanya itu adalah Abu Thalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan syafaat kepadanya sehingga dia berada di bagian atas  api neraka (bagian yang teringan, -red). Lihat muqaddimah kitab Asy-Syafa’ah karya Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.

Dan Allah subhanahu wata’ala telah menghimpun kedua syarat ini di dalam firman-Nya:

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لاَ تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan berapa banyak malaikat yang ada di langit, syafaat mereka tidak berguna sedikitpun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (An-Najm: 36) [lihat Syarah Aqidah Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21, Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 1/437, Kasyfus Syubhat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 154, Syarah Lum’atul I’tiqad hal. 130]

Syafaat di Sisi Allah Tidak Sama dengan Syafaat di Antara Makhluk

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa syafaat di sisi Allah memiliki tujuan dan syarat, yang bila tidak dipenuhi maka seseorang tidak akan mendapatkan syafaat dan tidak bisa memberikannya kepada orang lain. Kedua syarat tersebut adalah: Pertama, orang tersebut harus diridhai Allah untuk mendapatkannya. Dan yang akan mendapatkan keridhaan adalah orang-orang yang beriman dan bertauhid. Kedua, mendapatkan izin Allah dan yang mendapat izin Allah untuk memberikan syafaat hanyalah orang yang beriman dan bertauhid.

Adapun syafaat di sisi manusia bisa dilakukan oleh siapapun juga baik ada izin atau tidak, diridhai atau tidak. Berdasarkan hal ini, tidak diperbolehkan mengkiaskan syafaat di sisi Allah dengan syafaat di sisi makhluk. Dan syafaat yang ada di sisi Allah tidak boleh diminta kepada siapapun dari makhluk, bagaimanapun kedudukan dan tingkatannya, baik dia seorang malaikat, nabi ataukah kepada selain mereka seperti kepada wali, kuburan-kuburan, dan sebagainya.

Syafaat di sisi makhluk kepada yang lain ada dua macam:

1. Syafaat yang baik, yaitu syafaat dalam perkara-perkara yang baik dan bermanfaat serta yang diperbolehkan (mubah), dengan cara menjadikan seseorang sebagai perantara untuk menyampaikan kebutuhannya kepada orang tertentu. Dan ini telah dijelaskan tentang kebolehannya di dalam Al-Qur`an. Firman Allah subhanahu wata’ala:

مَنْ يَشْفَعُ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيْبٌ مِنْهَا

“Barangsiapa memberikan pembelaan yang baik maka dia akan mendapatkan bahagian (pahala) darinya.” (An-Nisa`: 85)

Sebagaimana juga dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللهُ عَلَى لِسَانِ رَسُوْلِهِ مَا شَاءَ

“Berikanlah pembelaan kalian (yang baik) kalian akan diberikan pahala dan Allah akan memutuskan melalui lisan Rasul-Nya, apa yang dikehendaki-Nya.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 1432 dan Muslim no. 2627)

Ini adalah bentuk syafaat yang baik, berpahala, dan juga bermanfaat bagi kaum muslimin agar hajat mereka tertunaikan dan mereka mendapatkan apa yang dicari, tanpa ada unsur mendzalimi dan melampaui batas hak-hak orang lain.

2. Syafaat yang jelek, yaitu menjadi perantara dalam perkara-perkara yang diharamkan Allah. Seperti, syafaat dalam rangka menggugurkan hudud (hukuman) bagi orang yang berhak menerimanya. Dan orang yang melakukan pembelaan seperti ini termasuk dalam orang-orang yang mendapatkan laknat dari Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا

“Allah melaknat orang-orang yang melindungi pelaku kejahatan.” (HR. Al-Imam Muslim no. 1566)

Termasuk juga dalam syafaat yang jelek adalah syafaat dalam mengambil hak orang lain kemudian diberikan kepada orang yang tidak berhak. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا

“Dan barangsiapa memberikan syafaat (pembelaan) yang jelek maka dia akan mendapatkan bagian (dosa) atasnya.” (An-Nisa`: 85) [Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21]

Makna Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah radhiyallahu ‘anhu:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيْثِ أَحَدٌ أَوْلَى مِنْكَ لِحِرْسِكَ عَلَى الْحَدِيْثِ. قَالَ: إِنَّ أَسْعَدَ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِ نَفْسِهِ

“Ya Rasulullah, siapakah yang paling beruntung dengan syafaat engkau kelak pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah menyangka bahwa tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau, karena semangatmu dalam mencari hadits.” Beliau bersabda: “Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”8

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Ucapan beliau: ‘Orang yang mengucapkan La ilaha illallah’ adalah untuk mengecualikan orang yang menyekutukan Allah; dan ucapan beliau ‘dengan penuh keikhlasan’ mengecualikan orang-orang yang munafiq dalam mengucapkannya. (Lihat Fathul Bari 1/236)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Kaum musyrikin tidak mendapatkan syafaat sedikitpun, karena mereka tidak mengucapkan La ilaha illallah… Dan (perkataan beliau: dengan penuh keikhlasan) mengecualikan orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah karena kemunafikan, mereka tidak mendapatkan syafaat sedikitpun… Dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ‘dengan penuh keikhlasan’ artinya selamat (aqidahnya) tanpa dikotori sedikitpun oleh sifat riya` (ingin pamer dalam beramal) dan sum’ah (memperdengarkan amalnya dengan harapan mendapatkan pujian dari orang lain). Ini merupakan gambaran sebuah persaksian (terhadap La ilaha illallah) dengan penuh keyakinan.” (Lihat Al-Qaulul Mufid 1/440)

Wallahu a‘lam.

Sumber:

  1. Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah, Bagian 1. Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=309.
  2. Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2. Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=329.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: