Asma` bintu Umais , Shahabiyah yang Cerdas dan Mulia


Nasab dan Keturunannya

Nama lengkapnya adalah Asma` bintu Umais bin Ma’d bin Taim bin Al-Harits bin Ka’b bin Malik bin Quhafah bin ‘Amir bin Rabi’ah bin ‘Amir bin Mu’awiyah bin Zaid bin Malik bin Nasr bin Wahbillah bin Syahran bin ‘Afras bin Aftal Al-Khats’amiyah radhiyallahu ‘anha. Berkunyah dengan Ummu ‘Abdillah. Ibunya bernama Hind bintu ‘Auf bin Zuhair bin Al-Harits bin Kinanah. Saudari-saudari seibunya adalah wanita-wanita yang mulia, Maimunah bintu Al-Harits radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Lubabah Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha, istri Al-’Abbas bin ‘Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu, Lubabah Ash-Shughra radhiyallahu ‘anha, ibu Khalid ibnul Walid radhiyallahu ‘anhu.

Beliau adalah termasuk salah satu di antara empat akhwat mukminah yang telah mendapat pengesahan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya:

“Ada empat akhwat mukminat yaitu Maimunah, Ummu Fadl, Salma dan Asma” .

Menerima Cahaya Islam

Beliau masuk Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki rumah Al-Arqam bin Abil Arqam di Makkah. Dia pun berbai’at kepada beliau shallallahu ‘alaih wasallam. Beliau adalah istri pahlawan di antara sahabat yaitu Ja`far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang memiliki dua sayap sebagaimana gelar yang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berikan terhadap beliau. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam manakala ingin mengucapkan salam kepada Abdullah bin Ja`far beliau bersabda :

‘Selamat atas kamu wahai putra dari seorang yang memiliki dua sayap (Dzul janahain).”

Hijrah ke Habasyah

Asma’ termasuk wanita muhajirah pertama, beliau turut berhijrah bersama suaminya yaitu Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuju Habasyah, beliau merasakan pahit getirnya hidup di pengasingan. Adapun suaminya adalah juru bicara kaum muslimin dalam menghadapi raja Habasyah, an-Najasyi.

Di bumi pengasingan tersebut beliau melahirkan tiga putra yakni ‘Abdullah, Muhammad dan ‘Aun (atau ‘Aunan-red). Adapun putra beliau yaitu Abdullah sangat mirip dengan ayahnya, sedangkan ayahnya sangat mirip dengan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, sehingga hal itu menggembirakan hati beliau dan menumbuhkan perasaan rindu untuk melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ja`far :

“Engkau menyerupai bentuk (fisik)-ku dan juga akhlakku.”

Hijrah ke Madinah

Berbilang tahun mereka tinggal di Habasyah, memenuhi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tahun ketujuh hijriyah, para shahabat yang berada di Habasyah menyusul para shahabat yang lain hijrah ke Madinah, berdampingan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan bagi para muhajirin untuk bertolak menuju Madinah maka hampir-hampir Asma’ terbang karena girangnya, inilah mimpi yang menjadi kenyataan dan jadilah kaum Muslimin mendapatkan negeri mereka dan kelak mereka akan menjadi tentara-tentara Islam yang akan menyebarkan Islam dan meninggikan kalimat Allah.

Begitulah, Asma ‘ keluar dengan berkendaraan tatkala hijrah untuk kali yang kedua dari negri Habasyah menuju negeri Madinah. Tatkala rombongan muhajirin tiba di Madinah, ketika itu pula mereka mendengar berita bahwa kaum muslimin baru menyelesaikan peperangan Khaibar dan membawa kemenangan, takbirpun menggema di segala penjuru karena bergembira dengan kemenangan pasukan kaum Muslimin dan kedatangan muhajirin dari Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat gembira menyambut kedatangan mereka. Ketika bertemu dengan Ja’far bin Abi Thalib, beliau pun mencium keningnya sembari berkata,

“Demi Allah, aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakanku, kemenangan Khaibar atau kedatangan Ja’far.”

Keutamaan yang Berhijrah Dua Kali

Setelah kedatangannya di Madinah, Asma` berkunjung pada Hafshah bintu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, telah menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu. Saat itu ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu masuk, sementara Asma` tengah berada di sisi Hafshah. Ketika melihatnya, ‘Umar pun bertanya pada putrinya, “Siapa ini?” Hafshah menjawab, “Asma` bintu Umais.” ”Inikah wanita yang datang dari Habasyah? Inikah wanita yang mengarungi lautan?” tanya ‘Umar lagi. “Ya,” jawab Asma`. “Kami telah mendahului kalian berhijrah. Kami lebih berhak atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” kata ‘Umar.

Asma` pun marah mendengar perkataan ‘Umar dan tidak kuasa membendung gejolak jiwanya sehingga beliau berkata: “Tidak, demi Allah, wahai ‘Umar!” sahutnya, “Dulu kalian berdampingan dengan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memberi makan orang-orang yang lapar di antara kalian, dan memberi nasihat pada orang-orang yang bodoh, sementara kami jauh di negeri asing (yang tidak disukai asalnya-admin), di Habasyah. Itu semua kami lakukan karena Allah subhanahu wata’ala dan karena Rasul-Nya.” Kemudian Asma’ diam sejenak selanjutnya berkata: “Demi Allah, aku tidak akan makan sesuap pun dan tidak akan minum seteguk pun sampai kuceritakan ucapanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami diganggu dan ditakut-takuti, hal itu juga akan aku sampaikan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, aku akan tanyakan kepada beliau, demi Allah aku tidak berdusta, tidak akan menyimpang dan tidak akan menambah-nambah.”!”

Di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Asma` mengadukan ucapan ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Nabi Allah sesungguhnya Umar berkata begini dan begini.” Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar, “Apa yang telah engkau katakan kepadanya?”. Umar menjawab, “Aku katakan begini dan begini”. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Asma`:

“Tiada seorangpun yang berhak atas diriku melebihi kalian, adapun dia (Umar) dan para sahabatnya berhijrah satu kali akan tetapi kalian ahlus safinah (yang menumpang kapal) telah berhijrah dua kali.”

Maka menjadi berbunga-bungalah hati Asma’ karena pernyataan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tersebut lalu beliau sebarkan berita tersebut di tengah-tengah manusia, hingga orang-orang mengerumuni beliau untuk meminta penjelasan tentang kabar tersebut. Asma’ berkata: “Sungguh aku melihat Abu Musa dan orang-orang yang telah berlayar (berhijrah bersama Asma’ dan suaminya) mendatangiku dan menanyakan kepadaku tentang hadits tersebut, maka tiada sesuatu dari dunia yang lebih menggembirakan dan lebih besar artinya bagi mereka dari apa yang disabdakan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.”

Syuhada’ Perang Mu’tah

Selang beberapa waktu mereka menetap di Madinah. Tahun ke-8 setelah hijrah, seruan perang Mu`tah bergema, pasukan kaum muslimin menuju Syam, di antara ketiga panglimanya terdapat suami dari Asma’ yakni Ja`far bin Abi Thalib. Ja’far bin Abi Thalib memimpin kaum muslimin menggantikan Zaid bin Haritsah yang gugur dalam pertempuran itu. Namun Allah subhanahu wata’ala berkehendak, Ja’far gugur pula dalam peperangan itu, memilih beliau di antara sekian pasukan untuk mendapatkan gelar syahid di jalan Allah. Di bagian depan jasadnya didapati lebih dari empat puluh tikaman.

Pagi itu, Asma` tengah melakukan pekerjaan rumahnya seperti biasa, menyamak kulit, membuat adonan makanan. Asma` pun memanggil anak-anaknya lalu membasuh wajah mereka dan meminyaki rambut mereka. Ketika itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menemuinya sambil berkata,

“Wahai Asma`, bawa kemari anak-anak Ja’far!” Asma` pun membawa mereka menemui Rasulullah shallallahu ‘alalihi wasallam. Beliau segera memeluk dan mengecup mereka, lalu mengalirlah air mata beliau. Beliau menangis. Asma` menerka akan terjadinya sesuatu, “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang membuatmu menangis? Apakah telah sampai padamu suatu berita tentang Ja’far dan teman-temannya?” “Ya,” jawab beliau, “Dia telah gugur hari ini.” Mendengar itu, Asma` bangkit sambil menjerit, tidak kuasa Asma’ menahan tangisnya kemudian Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menghiburnya dan berkata kepadanya: “Berkabunglah selama tiga hari, kemudian berbuatlah sesukamu setelah itu.”. Para wanita pun berkumpul di sekeliling Asma`.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak pergi untuk menemui putrinya, Fathimah radhiyallahu ‘anha, agar membuatkan makanan untuk keluarga Ja’far yang tengah tenggelam dalam kedukaan: “Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja`far, karena telah datang peristiwa yang menyibukkan mereka.”

Tiada yang dilakukan oleh wanita mukminah ini melainkan mengeringkan air mata, bersabar dan berteguh hati dengan menghaarapkan pahala yang agung dari Allah. Bahkan sewaktu malam beliau bercita-cita agar syahid sebagimana suaminya. terlebih lebih tatkla beliau mendengar salah seorang laki-laki dari Bani Murrah bin Auf berkata: “Tatkala perang tersebut, demi Allah seolah-olah aku melihat Ja`far ketika melompat dari kudanya yang berwarna kekuning-kuningan kemudian beliau berperang hingga terbunuh. Beliau sebelum terbunuh berkata:

Wahai jannah (surga) yang aku dambakan mendiaminya
harum semerbak baunya, sejuk segar air minumnya
tentara Romawi menghampiri liang kuburnya
terhalang jauh dari sanak keluarganya
kewajibankulah menghantamnya kala menjumpainya

Kemudian Ja`far memegang bendera dengan tangan kanannya tapi dipotonglah tangan kanan beliau, kemudian beliau membawa dengan tangan kirinya, akan tetapi dipotonglah tangan kirinya, selanjutnya beliau kempit di dadanya dengan kedua lengannya hingga terbunuh.

Asma` mendapatkan makna dari sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang pernah berkata kepada anaknya : “Assalamu`alaikum wahai putra dari seorang yang memiliki dua sayab.”

Rupanya Allah menggantikan kedua tangan Ja`far yang terputus dengan dua sayap yang dengannya beliau terbang di jannah sekehendaknya. Seorang ibu yang shalihah tersebut tekun mendidik ketiga anaknya dan membimbing mereka agar mengikuti jejak yang telah ditempuh oleh ayahnya yang telah sayahid, serta membiasakan mereka dengan tabi`at iman.

Menikah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Belum lama berselang dari waktu tersebut Abu Bakar Ash-Shidiq datang untuk meminang Asma` Binti Umais setelah wafatnya istri beliau Ummu Rumaan. tiada alasan lagi bagi Asma` menolak pinangan orang seutama Abu Bakar Ash Shidiq, begitulah akhirnya Asma` berpindah ke rumah Abu Bakar Ash Shidiq untuk menambah cahaya kebenaran dan cahaya iman dan untuk mencurahkan cinta dan kesetiaan di rumah tangganya.

Setelah sekian lama beliau malangsungkan pernikahan yang penuh berkah, Allah mengaruniai kepada mereka berdua seorang anak laki-laki yaitu Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq di Dzul Hulaifah, ketika Asma` bersama suaminya menunaikan haji wada’.

Mendampingi Abu Bakar Ash-Shiddiq

Mereka ingin melangsungkan haji wada`, maka Abu Bakar menyuruh istrinya untuk mandi dan meyertai haji setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memintanya. Kemudian Asma` menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang besar, namun peristiwa yang paling besar adalah wafatnya pemimpin anak Adam dan terputusnya wahyu dari langit. Kemudian beliau juga menyaksikan suaminya yakni Abu Bakar memegang tampuk kekhalifahan bagi kaum muslimin sehingga suaminya merampungkan problematika yang sangat rumit seperti memerangi orang murtad, memerangi orang-orang yang tidak mau berzakat serta mengirim pasukan Usamah dan sikapnya yang teguh laksana gunung tidak ragu -ragu dan tidak pula bimbang, demikian pula beliau menyaksikan bagaimana pertolongan Allah diberikan kepada kaum muslimin dengan sikap iman yang teguh tersebut.

Asma` senantiasa menjaga agar suaminya senantiasa merasa senang dan beliau hidup bersama suminya dengan perasaan yang tulus turut memikul beban bersama suaminya dalam urusan umat yang besar.

Pesan Akhir dari Suami Abu Bakar Ash-Shiddiq

Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama sebab khalifah Ash-Shidiq sakit dan semakin bertambah parah hingga keringat membasahi pada bagian atas kedua pipi beliau. Ash-Shidiq dengan ketajaman perasaan seorang mukmin yang shiddiq merasakan dekatnya ajal beliau sehingga beliau bersegera untuk berwasiat. Adapun di antara wasiat beliau adalah agar beliau dimandikan oleh istrinya Asma` binti Umais, dan bila dia merasa berat, hendaklah dibantu oleh putranya, ‘Abdurrahman bin Abi Bakr (Kisah Abu Bakr berpesan kepada Asma` untuk memandikan jenazahnya ini, didhaifkan oleh An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (5/113) dan juga oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah (hal. 121) serta Al-Irwa` (no. 696). -ed). Di samping itu beliau berpesan kepada istrinya agar berbuka puasa yang mana beliau berkata: “Berbukalah karena hal itu membuat dirimu lebih kuat.”

Asma` merasa telah dekatnya wafat beliau sehingga beliau membaca istirja` dan memohon ampun sedangkan kedua mata beliau tidak berpaling sedikitpun dari memandang suaminya yang ruhnya kembali dengan selamat kepada Allah. Hal itu membuat Asma` meneteskan air mata dan bersedih hati, akan tetapi sedikitpun beliau tidak mengatakan sesuatu melainkan yang diridhai Allah Tabaraka Wa Ta`ala, beliau tetap bersabar dan berteguh hati.

Selanjutnya beliau menunaikan perkara penting yang diminta oleh suaminya yang telah tiada, karena beliau adalah orang yang paling bisa dipercaya oleh suaminya. Mulailah beliau memandikan suaminya dan hal itu menambah kesedihan dan kesusahan beliau sehingga beliau lupa terhadap wasiat yang kedua. Beliau bertanya kepada para muhajirin yang hadir, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa, namun hari ini adalah hari yang sangat dingin, apakah aku harus mandi?” mereka menjawab, “Tidak.”

Di akhir siang sesuai dimakamkannya Ash-Shidiq tiba-tiba Asma` binti Umais ingat wasiat suaminya yang kedua yakni agar beliau berbuka (tidak melanjutkan shaum). Lantas apa yang hendak dilakukannya sekarang? sedangkan waktu hanya tinggal sebentar lagi, menunggu matahari tenggelam dan orang yang shaum diperbolehkan untuk berbuka? apakah dia akan menunggu sejenak saja untuk melanjutkan shaumnya? Kesetiaan terhadap suaminya telah menghalangi beliau untuk mengkhianati wasiat suaminya yang telah pergi, maka beliau mengambil air dan minum kemudian berkata: “Demi Allah aku tidak akan melanggar janjinya hari ini.”

Setelah kepergian suaminya, Asma` melazimi rumahnya dengan mendidik putra-putranya baik dari Ja`far maupun dari Abu Bakar, beliau menyerahkan urusan anak-anaknya kepada Allah dengan memohon kepada-Nya untuk memperbaiki anak-anaknya dan Allahpun memperbaiki mereka hingga mereka menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa. Inilah puncak dari harapan beliau di dunia dan beliau tidak mengetahui takdir yang akan menimpa beliau yang tersembunyi di balik ilmu Allah.

Menikah dengan ‘Ali bin Abi Thalib

Ketika ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu memegang khilafah sepeninggal Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, dia menetapkan pemberian untuk Asma` bintu ‘Umais sebesar seribu dirham.

Tak lama Asma`menyendiri, karena seorang shahabat yang mulia, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, saudara dari Ja`far yang memiliki dua sayap, mendatangi Asma` untuk meminangnya sebagai wujud kesetiaan Ali kepada saudaranya yang dia cintai yaitu Ja`far begitu pula Abu Bakar Ash Shidiq.

Setelah berulang-ulang berfikir dan mempertimbangkannya dengan matang maka beliau memutuskan untuk menerima lamaran dari Abi Thalib sehingga kesempatan tersebut dapat beliau gunakan untuk membantu membina putra-putra saudaranya Ja`far. Maka berpindahlah Asma` ke dalam rumah tangga Ali setelah wafatnya Fatimah Az Zahra dan ternyata beliau juga memiliki suami yang paling baik dalam bergaul.

Allah memberikan kemurahan kepada Ali dengan mangaruniai anak dari Asma` yang bernama Yahya dan ‘Aun.

Berlalulah hari demi hari dan Ali menyaksikan pemandangan yang asing yakni putra saudaranya Ja`far sedang berbantahan dengan Muhammad bin Abu Bakar dan masing-masing membanggakan diri dari yang lain dengan mengatakan, “Aku lebih baik dari pada kamu dan ayahku lebih baik dari pada ayahmu.” Ali bin Abi Thalib melihat pertikaian itu dan tidak mengetahui apa yang mereka berdua katakan? Dan bagaimana pula memutuskan antara keduanya karena beliau merasa simpati dengan keduanya? Maka tiada yang dapat beliau lakukan selain memanggil ibu mereka yakni Asma` kemudian berkata: ““Leraikanlah pertikaian mereka, wahai Asma`!”. Dengan pikirannya yang tajam dan hikmah yang mendalam beliau berkata: “Aku tidak melihat seorang pemuda di Arab yang lebih baik dari pada Ja`far dan aku tidak pernah melihat orang tua yang lebih baik dari pada Abu Bakar.”

Inilah yang menyelesaikan urusan mereka berdua dan kembalilah kedua bocah tersebut saling merangkul dan bermain bersama, namun Ali merasa takjub dengan bagusnya keputusan yang diambil Asma` terhadap anak-anaknya, dengan menatap wajah istrinya, beliau berkata: “Engkau tidak menyisakan bagi kami sedikitpun wahai Asma`?” Dengan kecerdasan yang tinggi dan keberanian yang luar biasa ditambah lagi adab yang mulia beliau berkata: “Di antara ketiga orang pilihan, kebaikan anda masih di bawah kebaikan mereka.”

Ali tidak merasa asing dengan jawaban istrinya yang cerdas, maka beliau berkata dengan kesatria dan akhlaq yang utama berkata: “Seandainya engkau tidak menjawab dengan jawaban tersebut niscaya aku cela dirimu.”

Senantiasa Asma` memiki kedudukan yang tinggi di mata Ali hingga beliau sering mengulang-ulang di setiap tempat, “Di antara wanita yang memiliki syahwat telah menipu kalian, maka aku tidak menaruh kepercayaan di antara wanita melebihi Asma` binti Umais”.

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjadi Khalifah

Akhirnya kaum mislimin memilih Ali sebagai Khalifah setelah Utsman bin Affan, maka untuk kedua kalinya Asma` menjadi istri bagi seorang khalifah yang kali ini adalah Khalifah Rasyidin yang ke empat, semoga Allah meridhai mereka semua.

Asma` turut serta memikul tanggung jawab sebagai istri khalifah bagi kaum muslimin dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang besar. Begitu pula dengan Abdullah bin Ja`far dan Muhammad bin Abu Bakar berdiri disamping ayahnya dalam rangka membela kebenaran. Kemudian setelah berselang beberapa lama wafatlah putra beliau Muhammad bin Abu Bakar dan musibah tersebut membawa pengaruh yang besar pada diri beliau, akan tetapi Asma` seorang wanita mukminah tidak mungkin meyelisihi ajaran Islam dengan berteriak-teriak dan meratap dan hal lain-lain yang dilarang dalam Islam. Tiada yang beliau lakukan selain berusaha bersabar dan memohon pertolongan dengan sabar dan shalat terhadap penderitaan yang beliau alami. Asma` selalu memendam kesedihannya hingga payudaranya mengeluarkan darah.

Belum lagi tahun berganti hingga bertambah parah sakit beliau dan menjadi lemah jasmaninya dengan cepat kemudian beliau meninggal dunia. Yang tinggal hanyalah lambang kehormatan yang tercatat dalam sejarah setelah beliau mengukir sebaik-baik contoh dalam hal kebijaksanaan, kesabaran dan kekuatan.

Sepanjang kehidupannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia meriwayatkan ilmu dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sepeninggal beliau, berbilang banyaknya orang yang mengambil riwayat darinya. Kehidupan yang berkilau dengan kemuliaan dari sisi Rabbnya ‘azza wajalla.

Sumber:

  1. Asma` Binti ‘Umais. Sumber bacaan: kitab Nisaa’ Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi. http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/13/asma-binti-umais-wafath-2/.
  2. Asma` bintu Umais. Sumber Bacaan: Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (7/489-490) Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1784-1787) Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/280-284) Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/282-287), (27/82-83,126,129-130) Tahdzibul Kamal, karya Al-Imam Al-Mizzi (3/126-127). Penulis : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah Bintu ‘Imran. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=315.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: