Khuf , Diusap Ketika Berwudhu’*


Syariat agama ini sunggu-sungguh mudah bagi orang yang mendapatkan kesulitan bahkan terkadang kemudahan tersebut datangnya dari Allah subhanahu wata’ala untuk membedakan antara hambanya dari orang-orang yang melampaui batas dalam beragama. Pembahasan disini mencakup:

  • Pengertian Khuf
  • Dasar Hukum Mengusap Khuf
  • Kesepakatan umat terhadap pengusapan khuf dan mutawatirnya masalah ini
  • Syarat Mengusap Khuf:
  1. Memasukkan Kaki ke Dalam Khuf dalam Keadaan Suci
  2. Mengusap Khuf pada Waktu yang Ditetapkan
  3. Tidak terjadi Pembatal-Pembatal Pengusapan Khuf
  • Cara Mengusap Khuf
  • Hukum orang yang membuka khufnya setelah mengusapnya
  • Memakai Kaos Kaki yang Dilepas dengan Thaharah Pengusapan
  • Mana yang lebih utama, mencuci kaki atau mengusap khuf?
  • Kelompok yang Mengingkari Mengusap Khuf secara Mutlak

Pengertian khuf

Khuf adalah sesuatu yang dikenakan pada kaki, yang terbuat dari kulit atau selainnya. (Al-Mas-hu ‘alal Khuffaini, Bab Fatawa fil Mas-hi alal Khuffaini; Asy-Syarhul Mumti’, 1/182)

Termasuk khuf juga adalah semacam sepatu dan kaos kaki (pen), yaitu yang menutupi dua mata kaki. Adapun jika ukurannya di bawah dua mata kaki maka tidak dikategorikan sebagai khuf, berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu, muttafaqun ‘alaih, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa yang boleh dikenakan oleh seorang yang muhrim (sedang ihram dalam ibadah haji) maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab di antaranya:

“Dan janganlah dia memakai khuf (sepatu) kecuali orang yang tidak menemukan na’l (sandal), maka hendaklah dia memotong khuf itu sampai di bawah mata kaki.”

Yaitu supaya bukan lagi sebagai khuf. (Lihat Majmu’ Fatawa, 21/190, dan 21/192).

* Dasar Hukum Mengusap Khuf

Dalil tentang mengusap khuf dalam Al Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَامْسَحُوا بِرُؤُوْسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Usaplah kepala-kepala kalian dan kaki-kaki kalian sampai mata kaki.” (Al-Maidah: 6)

Dengan mengkasrah huruf lam pada bacaan (Namun bacaan dengan cara men-jarr-kan di sini adalah bacaan yang lemah Insya-Allah akan datang pembahasannya pada saat pembahasan tentang kedua kaki dicuci bukan diusap) (َأَرْجُلِكُمْ ) (mengusap kaki-kaki kalian) mengikuti lafadz ( بِرُؤُوْسِكُمْ ) (mengusap kepala-kepala kalian) sehingga kaki diusap sama halnya dengan kepala. Namun yang diusap di sini bukanlah kaki telanjang tetapi kaki yang mengenakan khuf sebagaimana dijelaskan dalam Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana hadits-hadits dari beliau tentang mengusap khuf mencapai derajat mutawatir. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 6/62-63, Fathul Bari, 1/618)

Di antara hadits-hadits yang menyebutkan tentang mengusap khuf adalah sebagai berikut:

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu berkata:

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَأَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ. فَقَالَ : ((دَعْهُمَا، فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ)) فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا.

Aku pernah menyertai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu safar, (tatkala beliau berwudhu) akupun menjulurkan tanganku untuk melepas dua khuf yang sedang beliau kenakan. Namun beliau berkata: “Biarkan dua khuf ini (jangan dilepas) karena aku memasukkan keduanya (yakni kedua kaki Rasulullah) dalam keadaan suci.” Beliaupun mengusap di atas kedua khuf tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 206 dan Muslim no. 274)

Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu menuturkan pengalamannya bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ، فَبَالَ قَائِمًا، فَتَنَحَيْتُ، فَقَالَ : ((اُدْنُه)) فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقْبَيْهِ، فَتَوَضَّأَ، فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ.

Aku pernah berjalan menyertai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berhenti di tempat pembuangan sampah suatu kaum dan kencing di situ dalam keadaan berdiri. Maka akupun menyingkir dari beliau, namun beliau berkata: “Mendekatlah.” Aku pun mendekat hingga aku berdiri di sisi kedua tumit beliau. Kemudian beliau berwudhu dan mengusap di atas dua khufnya.” (HR. Al-Bukhari no. dan Muslim no. 273)

Ulama mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Hudzaifah untuk mendekat ketika beliau sedang kencing dengan tujuan menutupi beliau dari pandangan manusia dan selainnya. (Syarah Shahih Muslim, 3/167)-red)

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas dua khufnya (ketika berwudhu). Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma menanyakan hal ini kepada ayahnya, ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu, ‘Umar pun menjawab: “Iya, Nabi mengusap di atas dua khufnya. Apabila Sa’ad telah menceritakan kepadamu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka jangan engkau pertanyakan kepada selainnya.” (HR. Al-Bukhari no. 202)

Hammam berkata: “Jarir radhiallahu ‘anhu kencing, kemudian ia berwudhu dan mengusap di atas dua khufnya. Ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Engkau melakukan hal ini?” Jarir menjawab:

نَعَمْ. رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بَالَ، ثُمَّ تَوَضَّأَ وَ مَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ .

“Iya, aku pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kencing, kemudian berwudhu dan mengusap di atas dua khufnya.” (HR. Al-Bukhari no. 387 dan Muslim no. 272)

Adapun anggapan bahwa hadits-hadits tentang pengusapan khuf itu hukumnya terhapus (mansukh) dengan perintah mencuci kedua kaki dalam Surat Al-Maidah ayat 6, maka itu adalah tidak benar. Anggapan itu terbantah oleh hadits Jarir radhiallahu ‘anhu yang telah kita bawakan di atas, karena keislaman beliau setelah turunnya Surat Al-Maidah.

Berkata Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah: “Hadits Jarir ini mengagumkan mereka, karena Jarir masuk Islam setelah turunnya Surat Al-Maidah.”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Seandainya Islamnya Jarir lebih dahulu sebelum turunnya ayat dalam Surat Al-Maidah maka dimungkinkan haditsnya dalam masalah mengusap khuf mansukh dengan ayat ini. Namun ternyata Jarir masuk Islam setelah turunnya ayat ini, maka jelas bagi kita bahwa hadits ini tetap diamalkan. Sementara yang diinginkan oleh Surat Al-Maidah berlaku bagi selain pemakai khuf (adapun yang memakai khuf tidak perlu ia mencuci kakinya namun cukup mengusap di atas dua khufnya), dengan demikian As Sunnah yang ada di sini menjadi pengkhusus bagi ayat Al Qur’an, wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 3/164-165)

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata: “Hadits Jarir ini adalah hadits yang mufassar (yang memberi penjelasan), karena ada sebagian orang yang mengingkari pengusapan khuf ini dengan mentakwil bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap khufnya sebelum turunnya Surat Al-Maidah, sementara Jarir dalam haditsnya menyebutkan bahwa ia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap khufnya setelah turunnya Surat Al-Maidah.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/64)

Di samping itu, yang juga menerangkan tidak benarnya anggapan mansukh-nya hadits tentang mengusap khuf adalah kisah Al-Mughirah bin Syu’bah yang membawakan air untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang buang hajat. Setelah selesai dari buang hajat, Al-Mughirah menuangkan air untuk beliau hingga beliau berwudhu dan mengusap di atas kedua khufnya. (HR. Al-Bukhari no. 203)

Kisah ini terjadi dalam perang Tabuk, sementara ayat wudhu dalam Surat Al-Maidah turun dalam perang Al-Muraisi’, sedangkan perang Tabuk terjadi setelah perang Al Muraisi’. (Fathul Bari, 1/385, Subulus Salam, 1/89, Nailul Authar, 1/256)

Kesepakatan umat terhadap pengusapan khuf dan mutawatirnya masalah ini

Ibnul Mubarak berkata: “Tidak didapati perselisihan pendapat di kalangan shahabat tentang mengusap di atas khuf. Adapun setiap shahabat yang didapatkan padanya pengingkaran terhadap masalah ini, maka didapati pula periwayatan yang menetapkan mengusap khuf ini darinya.” (Al-Ausath, 1/434)

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Tigapuluh tujuh shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan tentang mengusap khuf dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Musnad Al-Imam Ahmad, 4/363)

Ibnul Mundzir rahimahullah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, ia berkata: “Tujuhpuluh orang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bercerita kepadaku bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas kedua khuf yang dikenakannya.” (Al-Ausath, 1/433)

Ibnul Mundzir rahimahullah menyebutkan, di antara para shahabat itu adalah Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin ‘Abbas, ‘Amr bin Al-’Ash, Abu Umamah Al-Bahili, Qais bin Sa’d, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Al-Harits, Abu Sa’id Al-Khudri, ‘Ammar bin Yasir, Abu Zaid Al-Anshari, Jarir bin Abdillah, Jarir bin Samurah, Abu Mas’ud Al-Anshari, Al-Barra bin ‘Azib, dan diriwayatkan pula dari Ma’qil bin Yasar, Kharijah bin Hudzafah, Abdullah bin ‘Amr dan Bilal. (Al-Ausath, 1/427-429)

Demikian pula Al-Imam At-Tirmidzi Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Sunan-nya (1/63) 20 orang shahabat, yaitu ‘Umar, ‘Ali, Hudzaifah, Al-Mughirah, Bilal, Sa’d, Abu Ayyub, Salman, Buraidah, ‘Amr bin Umayyah, Anas, Sahl bin Sa’a, Ya’la bin Murrah, ‘Ubadah bin Ash-Shamit, Usamah bin Syarik, Jabir, Usamah bin Zaid, Ibnu ‘Ubadah atau Ibnu Imarah dan Ubay bin Imarah radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menukilkan kesepakatan ulama dalam masalah pengusapan khuf. (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 3/164)

Syarat Mengusap Khuf

1. Memasukkan Kaki ke Dalam Khuf dalam Keadaan Suci

Syarat dibolehkannya mengusap khuf adalah ketika orang tersebut mengenakan khuf dalam keadaaan suci (telah berwudhu) dengan sempurna termasuk mencuci kedua kakinya (Ihkamul Ahkam, 1/115), tidak hanya sekedar bersih dari najis seperti pendapatnya Dawud Adz-Dzahiri (Subulus Salam, 1/89, Nailul Authar, 1/260). Demikian ditunjukkan dalam hadits Al-Mughirah bin Syu’bah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

((دَعْهُمَا، فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ))

“Biarkan dua khuf ini (jangan dilepas) karena aku memasukkan keduanya dalam keadaaan suci.” (HR Al-Bukhari no. 206 dan Muslim no. 274)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Perkataan: ‘Aku memasukkan keduanya,’ yakni kedua kaki dalam keadaan suci, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian lafadz-lafadz hadits ini.” (Asy-Syarhul Mumti’, 1/189)  Seperti dalam riwayat Abu Dawud (no. 130) dan selainnya disebutkan dengan lafadz:

((دَعِ الُخُفَّيْنِ ، فَإِنِّي أَدْخَلْتُ الْقَدَمَيْنِ الْخُفَّيْنِ وَ هُمَا طَاهِرَتَانِ))

“Biarkan dua khuf ini, karena aku memasukkan kedua kakiku ke dalam khuf ini dalam keadaaan kedua kakiku suci.”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini ada dalil bahwa mengusap khuf itu tidak dibolehkan kecuali bila mengenakannya dalam keadaan di atas thaharah yang sempurna dengan cara ia telah selesai dari berwudhu secara sempurna kemudian setelahnya ia mengenakan kedua khufnya.” (Syarah Shahih Muslim, 3/170)

Selain kedua kaki dalam keadaan suci, tentunya khuf yang dikenakan juga harus suci dari najis. Bila padanya ada najis maka tidak dibolehkan untuk mengusapnya melainkan harus dibersihkan terlebih dahulu. Dalil dalam hal ini adalah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para shahabatnya dalam keadaan beliau mengenakan sandal, tiba-tiba di tengah shalat beliau melepaskan sandalnya tersebut. Selesai shalat, beliau sampaikan kepada para shahabatnya bahwa Jibril u memberitahukan pada kedua sandal beliau ada kotoran. (HR. Abu Dawud no. 555. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’us Shahih, 1/526)

2. Mengusap Khuf pada Waktu yang Ditetapkan

yaitu sehari semalam untuk mukim dan tiga hari tiga malam untuk musafir, sebagaimana akan dijelaskan, insya Allah.

Waktu Pengusapan

Syuraih ibnu Hani rahimahullah berkata: Aku pernah mendatangi ‘Aisyah radhiallahu ‘anha untuk bertanya kepadanya tentang mengusap di atas dua khuf. Maka ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Hendaknya engkau mendatangi ‘Ali bin Abi Thalib, tanyakan padanya karena ia pernah safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka kami pun bertanya kepada Ali radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata:

جَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيْمِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan waktu pengusapan khuf bagi seorang musafir selama tiga hari tiga malam. Sedangkan bagi seorang yang bermukim (tidak safar) selama sehari semalam.” (HR. Muslim no. 276)

Pendapat ini dipegangi oleh jumhur ulama dan mayoritas shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan orang-orang setelah mereka dari kalangan fuqaha seperti Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq, yang mereka berdalil dengan hadits di atas. Sementara kalangan ahlul ilmi lainnya menyelisihi pendapat ini. Mereka mengatakan tidak ada pembatasan waktu untuk pengusapan khuf seperti pendapat Malik, Al-Laits dan diriwayatkan pendapat ini dari ‘Umar, ‘Uqbah bin ‘Amir, Al-Hasan, Asy-Sya’bi dan selain mereka (Nailul Authar, 1/261, Al-Majmu’, 1/509, Aunul Ma’bud, 1/181-182). Namun yang rajih dalam permasalahan ini dan ini yang menenangkan penulis adalah pendapat jumhur ulama, wal ‘ilmu ’indallah.

Namun awal perhitungan waktu dibolehkannya mengusap khuf ini pun diperselisihkan oleh ulama:

a. Pendapat pertama: Dimulai saat memakai khuf pertama kali yaitu sampai 24 jam berikutnya bagi muqim (orang yang menetap/ tidak bepergian)  sedangkan musafir (orang yang bepergian) sampai 72 jam berikutnya (tiga hari). Ini adalah pendapat Al-Hasan.

b. Pendapat kedua: Dimulai saat si pemakai berhadats untuk pertama kali setelah memakai khuf, demikian pendapat jumhur ulama.

c. Pendapat ketiga: Dimulai saat ia mengusap khufnya pada kali yang pertama dan pendapat inilah yang rajih menurut penulis sebagaimana hal ini dipegangi oleh Al-Auza’i, Abu Tsaur, satu riwayat dari Al-Imam Ahmad dan Dawud. Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir dan Ats-Tsauri. (Al-Majmu’, 1/513)

Berdasarkan pendapat yang ketiga ini maka bila dimisalkan seseorang berwudhu untuk shalat Shubuh dan setelahnya ia mengenakan khuf. Ia terus di atas thaharah sampai pukul 9 pagi (pada hari Senin, misalnya). Kemudian ia berhadats, namun ia baru berwudhu pada pukul 12 siang dengan mengusap khufnya, maka perhitungan waktu dibolehkan baginya untuk mengusap khuf dihitung mulai pukul 12 siang dan berakhir sampai pukul 12 siang hari berikutnya (hari Selasa) bila ia muqim, bila musafir berakhir pada pukul 12 siang hari keempat (hari Kamis). (Asy-Syarhul Mumti’, 1/187)

Waktu selesainya pengusapan

Terdapat beberapa perkara yang perlu menjadi perhatian ketika berakhirnya masa pengusapan khuf, yaitu:

a. Memperpanjang masa pengusapan khuf. Bila seseorang telah habis masa pengusapan khufnya, maka ia harus melepas khuf tersebut bila memang berhadats, untuk berwudhu secara sempurna dengan mencuci kembali kakinya (Al-Muhalla, 1/332), dan setelahnya boleh baginya menggunakan kembali khufnya sebagaimana hukum yang awal.

b. Selesainya masa pengusapan khuf ini tidaklah membatalkan thaharah yakni ketika seseorang berwudhu’ kemudian selama dia tidak berhadats dan masih dalam keadaan suci (thaharah yang sebelumnya belum batal)  berakhirlah masa pengusapan khufnya maka boleh baginya shalat dengan thaharahnya tersebut, dikarenakan waktu pengusapan khuf bukanlah pembatal wudhu’. Masalah ini memang juga diperselisihkan di kalangan ulama namun yang rajih di sisi penulis apa yang telah disebutkan.

Ibnu Qudamah rahimahullah menukilkan ucapan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, ia berkata: “Selesainya masa pengusapan khuf tidaklah membatalkan wudhu seseorang, hingga ia boleh shalat sampai ia berhadats. Bila ia telah berhadats, ia tidak boleh lagi mengusap khufnya namun ia harus melepaskannya (untuk berwudhu secara sempurna).” (Al-Mughni, 1/178)

Ibrahim An-Nakha’i, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Abi Laila dan Dawud berkata: “Orang tersebut boleh shalat selama belum batal thaharahnya disebabkan satu hadats yang membatalkan wudhu.” (Al-Muhalla, 1/330)

Ibnu Hazm rahimahullah menguatkan pendapat ini dengan pernyataannya: “Thaharah itu tidak akan batal kecuali dengan hadats. Sementara orang yang selesai masa pengusapan khufnya ini sah thaharahnya karenanya ia tidak terhitung sebagai seorang yang berhadats sehingga ia dihukumi masih dalam thaharah. Orang yang masih dalam keadaan thaharah, boleh baginya mengerjakan shalat selama ia belum berhadats atau selama tidak adanya keterangan nash yang jelas bahwa thaharahnya itu batal walaupun ia tidak berhadats (seperti pembatal-pembatal wudhu selain hadats besar dan hadats kecil-red). Sedangkan orang yang selesai masa pengusapan khufnya belumlah dikatakan berhadats dan tidak ada nash sama sekali yang menyatakan thaharahnya batal, baik pada sebagian anggota badannya maupun secara keseluruhan. Dengan demikian orang ini tetaplah dihukumi suci, ia boleh mengerjakan shalat sampai ia berhadats, sehingga ketika itu ia harus membuka khufnya (bila ia masih mengenakannya) dan berwudhu (secara sempurna dengan mencuci kaki). Setelahnya ia boleh mengenakan khufnya dan boleh mengusapnya (bila ia berhadats setelah itu), dan dimulailah waktu pengusapan yang berikutnya.” (Al-Muhalla, 1/331)

Perselisihan tersebut dapat kita uraikan sebagai berikut:

(i) Pendapat pertama: Wudhunya tidak batal dan tidak ada keharusan baginya untuk melakukan apapun, ia boleh shalat dengan wudhu tersebut selama ia belum berhadats. Demikian dihikayatkan pendapat ini oleh Ibnul Mundzir (dan pendapat ini yang beliau pilih) dari Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan Sulaiman bin Harb. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Ini adalah pendapat yang terpilih dan paling kuat.” Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Hazm dan beliau menyatakan bahwasanya tidak boleh ada pendapat lain selain ini. Dan ini pula yang dipegangi penulis sebagaimana di atas.

(ii) Pendapat kedua: Wajib baginya untuk mencuci kaki saja, demikian pendapat ‘Atha, ‘Alqamah, Al-Aswad. Dan ini merupakan madzhab Abu Hanifah dan murid-muridnya, Ats-Tsauri, Abu Tsaur, Al-Muzani, dan satu riwayat dari Ahmad.

(iii) Pendapat ketiga: Wajib baginya berwudhu, demikian pendapatnya Mak-hul, Az-Zuhri, Al-Auza’i, Al-Hasan ibnu Shalih dan Ishaq dan ini yang paling shahih dari dua riwayat dari Al-Imam Ahmad.

(iv) Pendapat keempat: Wajib baginya berwudhu apabila panjang waktunya antara ia melepas khuf dengan mencuci kedua kaki. Bila waktu yang ada sedikit, maka cukup baginya mencuci kedua kaki. Demikian pendapat Al-Laits dan Malik. (Buhuts wal Fatawa fil Mas-hi ’alal Khuffain, pembahasan yang kelima, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)

3. Tidak terjadi Pembatal-Pembatal Pengusapan Khuf

Bila seseorang tidur, buang air besar, ataupun buang air kecil maka tidaklah membatalkan pengusapan khufnya bahkan dibolehkan baginya untuk terus mengusap khufnya ketika berwudhu (tidak melepasnya) sampai batas waktu yang ditetapkan. Dikecualikan dalam masalah ini apabila terjadi hadats besar seperti junub karena bersetubuh atau mimpi hingga keluar mani maka hal ini membatalkan kebolehan pengusapan khuf, sehingga wajib baginya untuk melepas khufnya untuk mandi dalam rangkaian thaharah untuk membersihkan hadats besarnya tersebut. Sebagaimana hal ini dinyatakan dari hadits Shafwan bin ‘Assal radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرْنَا إِذَا كَانَ سَفْرًا أَلاَّ تَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَنَوْمٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami, bila kami sedang safar agar tidak melepaskan khuf-khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali bila ditimpa janabah. Akan tetapi bila hanya buang air besar, kencing, dan tidur (tidak perlu melepaskannya).” (HR. At-Tirmidzi no. 96. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’us Shahih, 1/538)

Bagian Khuf yang Diusap

Adapun bagian yang diusap dari khuf tersebut diperselisihkan oleh ulama:

1. Sekelompok ulama mengatakan yang diusap adalah bagian atas dan bawah khuf, ini pendapatnya Ibnu ‘Umar, ‘Umar bin Abdul ‘Aziz, Az-Zuhri, Malik, Ibnul Mubarak, Ishaq dan diriwayatkan pendapat ini dari Sa’d bin Abi Waqqash, Mak­hul dan Asy-Syafi’i.

2. Kelompok ulama yang lain berpendapat cukup diusap bagian luar/atas khuf tidak perlu mengusap bagian dalam/bawah khuf. Demikian pendapat Qais bin Sa’d, Anas bin Malik, Al-Hasan, ‘Urwah, Ibrahim, ‘Atha, Asy-Sya’bi, Ats Tsauri, Al-Auza’i, Ahmad, Ashhabur Ra’yi. (Al-Ausath, 1/452-453)

Setelah melihat perselisihan tersebut dengan masing-masing pendapat yang ada, wallahu ta‘ala a‘lam, yang rajih adalah pendapat kedua dengan dalil hadits-hadits yang ada dalam masalah ini, seperti hadits ‘Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ . وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ .

“Seandainya agama itu dengan akal niscaya yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah khuf daripada bagian atasnya. Sungguh aku melihat Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas kedua khufnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud di dalam Sunan-nya no. 162. Al-Baihaqi 1/292, Ad-Daruquthni 1/75, Ad-Darimi 1/181, Al-Baghawi 239, dan Ahmad 943&970. Dishahihkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitab At-Talkhis Al-Khabir 1/160, Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Jami’us Shahih Mimma Laisa fish Shahihaini (1/61) Bab Ma Ja’a Fi Dzammi Ra’yi (Bab Tercelanya Mengutamakan Akal Pikiran): “Hadits ini shahih.” Juga beliau shahihkan di dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/100. Para perawinya adalah perawi kitab Shahih kecuali Abdu Khair, namun dia ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in sebagaimana dinukilkan di dalam kitab Tahdzibut Tahdzib)

Faidah: Agama ini bukan diukur dengan akal maka yang diusap bukan bagian yang biasanya bersentuhan dengan kotoran, atau menginjak kotoran namun justru bagian atasnya (‘Aunul Ma’bud, 1/192). Namun bila kita mau merenungkan maka kita dapatkan mengusap di atas khuf lebih pantas dan justru masuk akal, karena mengusap khuf di sini bukan diinginkan dengannya untuk membersihkan khuf dan mensucikannya dari kotoran namun yang diinginkan adalah ta’abbud (menunaikan ibadah kepada Allah), justru bila yang diusap bagian bawah khuf maka akan mengotori tangan kita dan meratakan kotoran yang mungkin ada di bawah khuf itu ke seluruh bagiannya. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/313)

Cara Mengusap Khuf

Sementara cara pengusapannya dilakukan dengan kedua tangan secara bersama-sama di atas kedua kaki, yakni tangan kanan mengusap kaki kanan sedangkan tangan kiri mengusap kaki kiri pada saat yang bersamaan, sebagaimana mengusap kedua telinga. Demikian dzahir yang ditunjukkan dalam As Sunnah dengan ucapan Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu: “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas kedua khufnya.” Al-Mughirah tidak mengatakan Nabi memulai dari kaki kanannya.

Ada orang yang memulai pengusapan dengan kaki kanannya kemudian kaki kirinya, dan kebanyakan manusia mengusap dengan kedua tangannya di atas kaki kanan dan setelahnya mengusap dengan kedua tangannya di atas kaki kiri. Cara seperti ini jelas tidak ada asalnya dari apa yang kami ketahui, bahkan ulama hanya mengatakan: “Mengusap dengan tangan kanan di atas kaki kanan dan tangan kiri di atas kaki kiri. Namun bagaimana pun cara pengusapan dilakukan tetaplah mencukupi, hanya saja yang lebih utama adalah apa yang telah kami sebutkan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4/177)

Hukum orang yang membuka khufnya setelah mengusapnya

Ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini:

1. Membatalkan wudhu dan wajib mengulanginya seperti pendapat Abu Hanifah.
2. Kedua kaki dicuci seperti pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i.
3. Wudhu tetap sah dan tidak ada ketentuan apa-apa bagi yang melakukannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i, pendapat Al-Hasan Al-Bashri, ‘Atha, Abul Aliyah, Qatadah, Sulaiman bin Harb, Al-Bukhari, Dawud Adz-Dzahiri, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Hazm (Al-Majmu‘, 1/558-559, Al-Muhalla, 1/338-341). Dan insya-Allah inilah yang paling kuat dan benar.

Pendapat (terakhir) ini pula yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah, demikian pula Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah (Tamamul Minnah, hal. 114-115), karena tidak adanya dalil yang menunjukkan batalnya wudhu orang yang melepas khufnya tersebut.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Orang yang mengusap khuf dan imamah tidaklah batal wudhunya dengan ia melepaskan khuf dan imamahnya. Tidak pula batal wudhu tersebut dengan selesainya waktu pengusapan sehingga tidak wajib baginya untuk mengusap kepalanya dan mencuci kedua kakinya setelah itu.” (Al-Ikhtiyarat dalam Al-Fatawa Al-Kubra, 5/306)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Apabila seseorang melepas khuf atau kaos kakinya setelah ia mengusapnya, maka thaharahnya tidaklah batal menurut pendapat yang shahih. Akan tetapi yang batal adalah pengusapannya bukan thaharahnya. Apabila ia kembali mengenakan khufnya sementara wudhunya telah batal, maka ia harus melepas khufnya tersebut dan berwudhu dengan mencuci kedua kakinya.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 4/179)

Memakai Kaos Kaki yang Dilepas dengan Thaharah Pengusapan

Ditanyakan kepada Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah: “Apabila seseorang melepas kaos kakinya (dan tentunya khuf masuk dalam permasalahan ini, pen) dalam keadaan ia masih memiliki wudhu kemudian ia mengenakannya kembali sebelum batal wudhunya, apakah boleh baginya mengusap kaos kaki tersebut?”

Beliau rahimahullah berkata: “Apabila seseorang melepas kaos kakinya kemudian ia mengenakan kembali dalam keadaan masih memiliki wudhu, maka apabila wudhu itu adalah wudhu yang pertama kali -maksudnya belum batal wudhunya setelah ia mengenakan kaos kaki tersebut- maka tidak mengapa baginya untuk mengenakannya kembali dan mengusapnya apabila ia berwudhu (lagi). Namun apabila wudhu itu adalah wudhu pengusapan yang dengannya ia mengusap kaos kakinya maka setelah ia melepaskannya kemudian mengenakannya kembali maka tidak diperkenankan lagi baginya untuk mengusapnya, karena mengenakan kaos kaki itu harus didahului dengan thaharah dengan memakai air. Sementara, ini adalah thaharah dengan mengusap, demikian yang aku ketahui dari ucapan ahlul ilmi.

Akan tetapi bila ada orang yang berkata bahwa ia mengusap kaos kakinya yang ia kenakan kembali setelah melepaskannya dalam keadaan thaharah, walaupun itu adalah thaharah dengan pengusapan, maka hal itu boleh baginya selama waktu pengusapannya belum habis. Ini merupakan pendapat yang kuat akan tetapi aku tidak mengetahui ada seorang pun dari kalangan ahlul ilmi yang berkata demikian sehingga hal ini mencegahku untuk berpendapat demikian.

Bila memang ada dari kalangan ahlul ilmi yang berkata demikian maka pendapat itu yang benar menurutku, karena thaharah pengusapan adalah thaharah yang sempurna. Sehingga sepantasnya dikatakan apabila ia dibolehkan mengusap dalam keadaan ia mengenakannya di atas thaharah pencucian (yang awal), maka tentunya boleh ia mengusap dalam keadaan ia mengenakannya di atas thaharah pengusapan. Namun aku tidak dapatkan seorang pun dari ahlul ilmi yang berpandangan demikian. (Buhuts wa Fatawa fil Mashi ‘alal Khuffain, soal ke 11)

Mana yang lebih utama, mencuci kaki atau mengusap khuf?

Dari sisi hukum telah jelas bagi kita akan kokohnya sunnah mengusap khuf ini. Mungkin yang jadi permasalahan: manakah yang lebih utama ketika seseorang berwudhu, apakah mencuci kaki atau mengusap khuf? Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

a. Mencuci Kaki Lebih Utama. Di antara shahabat ada yang berpendapat mencuci kaki lebih utama karena ia merupakan asal dalam berwudhu. Mereka yang berpendapat seperti ini adalah Umar ibnul Khaththab, Ibnu ‘Umar dan Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhum.
b. Mengusap khuf lebih utama, pendapat ini dipegangi oleh sekelompok tabi‘in seperti Asy-Sya’bi, Al-Hakam, Hammad, satu riwayat dari Ahmad (ini yang paling shahih darinya) dan Ishaq (Al-Ausath, 1/439-440, Al-Mughni, 1/176).
c. Sama Utamanya. Pendapat yang lain dari kalangan ahlul ilmi adalah antara mencuci kaki dan mengusap khuf sama keutamaannya. Dan pendapat tersebut yang dipilih oleh Ibnul Mundzir dan riwayat lain dari Al-Imam Ahmad (Syarah Shahih Muslim, 3/164).
d. Keutamaan tergantung keadaannya. Adapun pendapat keempat yang merupakan pendapat yang pertengahan, yaitu yang lebih utama adalah melihat keadaan, bila sedang mengenakan khuf maka lebih utama mengusapnya. Namun bila sedang tidak mengenakan khuf, lebih utama mencuci kaki. Demikian pendapat ini dipegangi oleh Ibnu Taimiyah dan murid beliau Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahumallahu sebagaimana dalam Zadul Ma’ad, 1/50.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Yang lebih utama pada diri setiap orang adalah sesuai dengan keadaannya, bila ia mengenakan khuf maka cukup baginya untuk mengusap di atas khufnya dan tidak perlu ia melepaskannya dalam rangka mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Adapun orang yang kedua kakinya telanjang maka yang utama ia mencuci keduanya dan tidak perlu ia bersengaja mengenakan khuf ketika itu untuk diusapnya. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencuci kedua kakinya bila dalam keadaan telanjang (tidak mengenakan khuf) dan beliau mengusap khuf bila bertepatan saat itu beliau sedang mengenakan khuf.” (Al-Ikhtiyarat dalam Al-Fatawa Al-Kubra, 5/305)

Dan yang terakhir inilah pendapat yang rajih yang dipegangi oleh penulis, wallahu ta‘ala a‘lam bish shawab wal ‘ilmu ‘indallah.

Kelompok yang Mengingkari Mengusap Khuf secara Mutlak

Bila seseorang yang berwudhu dalam keadaan mengenakan khuf, maka ia tidak perlu membuka khufnya untuk mencuci kaki namun cukup sebagai gantinya mengusap di atas khufnya. Demikian As Sunnah menerangkan dalam permasalahan ini. Ulama Ahlus Sunnah sepakat tentang pensyariatan mengusap khuf, menyelisihi kelompok Syi’ah Rafidhah yang menyempal dari jalan yang haq.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Pengingkaran kelompok Syi’ah Rafidhah terhadap sunnah ini merupakan syi’ar (tanda) mereka.” (Asy-Syarhul Mumti’, 1/182)

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata: “Telah masyhur di kalangan ulama syariat tentang kebolehan mengusap khuf, sampai-sampai perkara ini terhitung sebagai syi’ar Ahlus Sunnah dan pengingkaran terhadap hal ini teranggap sebagai syi’ar ahlul bid’ah.” (Ihkamul Ahkam, 1/114)

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: “Tidaklah didapati pengingkaran dalam masalah mengusap khuf ini kecuali dari orang yang bodoh dan dari kalangan ahlul bid’ah yang keluar dari jamaah kaum muslimin (kalangan fuqaha dan ahli atsar).” (At-Tamhid, 11/134)

Sumber:

  1. Mengusap Khuf. Penulis : Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=181.
  2. Mengusap Khuf. Penulis : Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=217.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: