Mani Laki-Laki dan Perempuan


PERBEDAAN MANI LAKI-LAKI DAN WANITA

Wanita juga keluar mani sebagaimana laki-laki. Dengan mani itu, muncul sifat identik sang anak, apakah memiliki kemiripan dengan ayah ataupun dengan ibunya. Ketika ditanyakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata:

نَعَمْ، فَمِنْ أَيْنَ يَكُوْنُ الشَّبَهُ؟

“Iya, darimana adanya persamaan anak (dengan ayah atau ibunya kalaupun bukan karena mani tersebut)?” (Shahih, HR. Muslim no. 310).

Namun mani wanita berbeda dengan laki-laki, seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيْظٌ أَبْيَضُ وَمَاءُ الْمَرْأَةِ رَقِيْقٌ أَصْفَرُ

“Mani laki-laki itu kental dan berwarna putih sedangkan mani wanita tipis/ halus dan berwarna kuning.” (Shahih, HR. Muslim no. 310, 315)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Adapun mani wanita berwarna kuning, tipis/ halus. Namun terkadang warnanya bisa memutih karena kelebihan kekuatannya. Dan mani wanita ini bisa ditandai dengan dua hal: pertama, aromanya seperti aroma mani laki-laki. Kedua, terasa nikmat ketika keluarnya dan setelah keluarnya, syahwatpun mereda.” (Syarah Shahih Muslim, 3/223)

HUKUM MANI YANG BENAR ADALAH SUCI

Ada dua pendapat dalam masalah mani ini. Pendapat pertama mengatakan najis sedang pendapat kedua mengatakan yang sebaliknya, mani itu suci. Yang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang mengatakan sucinya mani dan ini dipegangi oleh Imam Ahmad, Syafi`i dan selain keduanya. Dan pendapat inilah yang rajih. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Kebanyakan ulama berpendapat mani itu suci”. (Syarah Shahih Muslim juz 3, hal 198).

Mereka berdalil dengan hadits Aisyah radliallahu anha yang hanya mengerik bekas mani yang telah mengering pada pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa mencucinya. (sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya no. 288, 290). Walaupun didapatkan pula riwayat Aisyah radliallahu anha mencuci bekas mani yang menempel pada pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam (sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya no. 229, 230, 231, 232 dan Muslim no. 289)

Namun kedua riwayat ini tidak saling bertentangan (riwayat mengerik atau mencuci). Hal ini dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani rahimahullah : “Hadits yang menunjukkan dicucinya bekas mani yang menempel pada pakaian dan hadits yang menunjukkan dikeriknya mani tersebut tidaklah saling bertentangan karena bisa dikumpulkan antara keduanya dengan jelas bagi yang berpendapat sucinya mani. Hadits tentang mencuci dibawa kepada hukum istihbab (disenanginya mencuci bekas mani yang menempel pada pakaian) dalam rangka kebersihan bukan karena kewajiban. Ini merupakan cara yang ditempuh oleh Imam Syafi`i, Ahmad dan ashabul hadits “. (Fathul Bari juz 1 hal. 415)

Berkata Imam Nawawi rahimahullah: “Seandainya mani itu najis niscaya tidak cukup menghilangkannya dengan sekedar mengerik”. (“Syarah Shahih Muslim juz 3, hal. 198)

WAJIB MANDI JIKA KELUAR MANI

Sebagaimana halnya laki-laki, bila seorang wanita keluar mani, karena senggama maupun ihtilam (mimpi senggama), maka ia wajib mandi. Hal ini pernah ditanyakan oleh Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika datang menemui Rasulullah, Ummu Sulaim berkata:

فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : نَعَمْ, إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ

“Apakah wanita harus mandi bila ia ihtilam?” Rasulullah menjawab: “Ya, apabila ia melihat keluarnya mani.” (Shahih, HR. Muslim no. 313)

Dalam Al-Majmu’ (2/158), Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Ulama sepakat wajibnya seseorang mandi bila keluar mani, dan tidak ada perbedaan di sisi kami apakah keluarnya karena jima’ (senggama), ihtilam, onani, melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat, ataupun keluar mani tanpa sebab. Dan sama saja apakah keluarnya dengan syahwat ataupun tidak, dengan rasa nikmat atau tidak, banyak ataupun sedikit walaupun hanya setetes, dan sama saja apakah keluarnya di waktu tidur ataupun di waktu jaga, baik laki-laki maupun wanita.”

BERTEMUNYA DUA MANI MEMPENGARUHI KEMIRIPAN BUAH HATI

Bertemunya dua mani dapat mempengaruhi kemiripan buah hati, tentunya ini atas kehendaknya Allah ‘azza wajalla. Hal ini berdasarkan hadits yang panjang dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ketiak Abdullah bin Salam datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya kepada beliau, setibanya dari hijrah di Madinah. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan :

قَالَ: بَلَغَ عَبْدَاللهِ بْنَ سَلامٍ مَقْدَمُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ , فَأَتَاهُ فَقَالَ : إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلاثٍ , لا يَعْلَمُهُنَّ إِلا نَبِيٌّ . قَالَ : مَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ , وَمَا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ , وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَنْزِعُ الْوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَنْزِعُ إِلَى أَخْوَالِهِ . فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : خَبَّرَنِي بِهِنَّ آنِفًا جِبْرِيلُ .

قَالَ : فَقَالَ عَبْدُاللهِ : ذَاكَ عَدُوُّ الْيَهُودِ مِنَ الْمَلائِكَةِ . فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَمَّا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ فَنَارٌ تَحْشُرُ النَّاسَ مِنَ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ , وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ حُوتٍ , وَأَمَّا الشَّبَهُ فِي الْوَلَدِ فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَشِيَ الْمَرْأَةَ فَسَبَقَهَا مَاؤُهُ كَانَ الشَّبَهُ لَهُ وَإِذَا سَبَقَ مَاؤُهَا كَانَ الشَّبَهُ لَهَا .

“Sampai kepada Abdullah bin Salam berita tentang kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Iapun menemui beliau dan berkata:’Saya bertanya kepada anda tiga hal yang tidak diketahui siapapun kecuali oleh seorang nabi. (Pertama): Apa tanda kiamat yang pertama, dan apa yang dimakan pertama kali oleh penduduk jannah (surga). Terakhir, bagaimana terjadinya kemiripan anak dengan ayahnya atau dengan akhwal (paman dari pihak ibu)-nya.’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Baru saja Jibril menerangkan kepada saya.’

Abdullah menukas: ‘Jibril itu musuh orang-orang Yahudi dari kalangan malaikat.’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meneruskan: ‘Adapun tanda kiamat yang pertama adalah munculnya api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Dan yang pertama kali dimakan penduduk jannah adalah ziyadah kabid hut (Yakni potongan yang menempel di hati, dikatakan sebagai makanan paling lezat, Fathul Bari, 7/341 -red). Adapun kemiripan itu terjadi jika mani seorang laki-laki lebih dahulu naik daripada mani wanita, maka terjadi kemiripan dengan ayahnya. Dan jika mani wanita lebih dahulu, akan terjadi kemiripan dengan akhwalnya. …..”

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menerangkan, ada enam hal tentang masalah ini:

a. Jika mani laki-laki lebih banyak dan lebih dahulu, maka anak itu laki-laki dan mirip dengan ayahnya.
b. Sebaliknya,
c. Jika mani perempuan lebih banyak tetapi mani pria lebih dahulu, anak laki-lakinya mirip dengan ibunya.
d. Sebaliknya,
e. Jika mani laki-laki sama banyak dengan mani wanita tetapi lebih dahulu, anaknya laki-laki.
f. Sebaliknya. Wallahu a’lam. (Fathul Bari 7/342)

Wallahu ta’ala a’lamu bish-showwab.

Sumber:

  1. Perbedaan Mani Laki-laki dan Wanita. Penulis : Al Ustadzah. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=166.
  2. INDAHNYA KESUCIAN. Penulis : Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=69
  3. Masyarakat Madinah. Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Harits. Syariah, Jejak, 01 – Desember – 2004, 17:14:48http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=202.

Artikel Tekait:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: