Berbakti Kepada Orang Tua


Sebuah kebahagiaan yang mungkin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata manakala orang tua mendapati di hari tuanya perlakuan yang demikian istimewa dari anak-anaknya. Ketika ia mulai lemah dan mungkin sakit-sakitan, anak-anaknya dengan sabar dan penuh perhatian memberikan perawatan kepadanya. Ini semua tentu tidak didapat begitu saja, namun melalui pendidikan dan perjuangan yang panjang dari orang tua tersebut agar anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang shalih dan berbakti pada orang tuanya.

Sesosok anak tidak akan dapat terlepas dari ayah dan ibunya. Bagaimanapun keadaannya, ia adalah bagian dari diri keduanya. Dia adalah darah daging keduanya. Rahim ibu adalah tempat buaiannya yang pertama di dunia ini. Air susunya menjadi sumber makanan yang menumbuhkan jasadnya. Kasih sayang ibu adalah ketenangan yang selalu dia rindukan. Kerelaan ibu untuk berjaga membuat nyenyak tidurnya. Kegelisahan ibu menyisakan kebahagiaan untuknya.

Timangan sang ayah dirasakan sebagai kekokohan. Perasan keringat ayah memberikan rasa kenyang dan hangat bagi dirinya. Doa-doa yang mereka panjatkan menjadi sebab segala kebaikan yang didapatinya. Tak terhingga dengan hitungan jemari untuk merunut kembali segala kebaikan yang mereka curahkan untuk buah hati mereka. Oleh karena itu, pembahasan di sini mencakup:

  • Perintah Berbakti kepada Orang Tua
  • Tidak boleh Mentaati Orang Tua dalam Kemaksiatan
  • Ancaman Bagi Anak yang Durhaka
  • Bentuk-Bentuk Berbakti kepada Orang Tua
  • Bentuk-Bentuk Kedurhakaan kepada Orang Tua

PERINTAH BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hak bagi kedua orang tua untuk diberikan bakti, kelembutan, penjagaan dan kasih sayang, dan Allah kuatkan hak ini dengan mengiringkannya setelah hak-Nya Subhanahu wa Ta’ala, karena hak orang tua mengandung pemuliaan dan pengagungan. Bahkan di dalam Kitab-Nya yang mulia termaktub berbilang ayat yang memberikan wasiat dan mendorong untuk berbakti kepada orang tua, serta menjanjikan banyak kebaikan bagi seorang yang berbakti dan mengancam dengan balasan yang akan menimpa orang yang mendurhakai ayah bundanya. (Wa bil Walidaini Ihsana, hal. 11)

Di antara sekian banyak ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (An-Nisa: 36)

Dalam kalam-Nya ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk beribadah hanya kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya, karena Dialah Al-Khaliq (Yang Menciptakan), Ar-Raziq (Yang Memberikan Rizki), Al-Mun’im (Yang Memberikan Nikmat), yang memberikan keutamaan kepada makhluk-Nya setiap saat dan setiap keadaan. Oleh karena itu, Dialah yang berhak untuk diesakan dan tidak disekutukan dengan sesuatu pun dari kalangan makhluk-Nya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu:

(( أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ ؟)) قَالَ : اللهُ وَرَسُوْلُهُُ أَعْلَمُ. قَالَ (( أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا )) ثُمَّ قَالَ (( أَتَدْرِي مَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ ؟ أَنْ لاَ يُعَذِّبَهُمْ ))

“Tahukah engkau, apa hak Allah atas hamba-Nya?” Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau (Rasulullah) berkata, “Yakni beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” Kemudian beliau berkata lagi, “Tahukah engkau, apa hak hamba atas Allah bila mereka melaksanakannya? Allah tidak akan mengadzab mereka.” (HR. Al Bukhari no 5967 dan Muslim no. 30)

Setelah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewasiatkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, karena Allah jadikan keduanya sebagai sebab keluarnya seseorang dari ketiadaan menjadi ada. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/213)

Oleh karena itu, semestinya semenjak dini kedua orang tua mulai menanamkan hal ini kepada putra-putri mereka, mengiringi pengajaran tentang keimanan terhadap Rabb mereka. Inilah pula yang dilakukan oleh Luqman yang mengiringi wasiatnya kepada anaknya untuk beribadah kepada Allah semata dengan wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya dengan melaksanakan peribadahan kepada-Nya serta menunaikan hak-hak-Nya, dan tidak menggunakan nikmat-nikmat yang dianugerahkan-Nya untuk bermaksiat pada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan untuk bersyukur kepada kedua orang tua dengan berbuat baik kepada keduanya. Hal ini dilakukan dengan berucap lemah lembut, melakukan perbuatan yang baik, dan merendahkan diri terhadap mereka. Juga dengan memuliakan dan menanggung kebutuhan hidupnya, serta tidak menyakiti mereka dengan cara apa pun, baik dengan ucapan atau pun perbuatan. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 648)

Di dalam ayat ini pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut tentang pendidikan seorang ibu, kesulitan dan kesusahannya ketika harus berjaga siang dan malam. Penyebutan ini untuk mengingatkan anak tentang kebaikan seorang ibu yang telah diberikan kepadanya sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

“Dan ucapkanlah doa: Wahai Rabbku, kasihilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah mendidikku semenjak kecilku.” (Al-Isra: 24)

(Tafsir Ibnu Katsir, 6/192)

TIDAK BOLEH MENTAATI ORANG TUA DALAM KEMAKSIATAN

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pengajaran, bagaimana semestinya seorang anak bersikap terhadap kedua orang tuanya yang musyrik:

“Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka jangan engkau ikuti keduanya, dan pergaulilah mereka berdua di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Aku kabarkan padamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 15)

Janganlah seseorang menyangka bahwa hal ini (mentaati perintah orang tua dalam kejelekan) termasuk kebaikan terhadap orang tua, karena hak Allah lebih diutamakan daripada hak siapa pun juga, dan tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam kemaksiatan terhadap Al-Khaliq.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan, “Apabila mereka berdua memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, maka durhakailah keduanya.” Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, “Jangan engkau ikuti mereka dalam perbuatan syirik mereka.”

Adapun berbakti terhadap mereka, maka engkau harus terus melakukannya. Oleh karena itulah Allah berfirman ( وَصاَحِبْهُماَ فِي الدُّنْياَ مَعْرُوْفاً ), yaitu pergaulilah mereka di dunia ini dengan penuh kebaikan. Adapun mengikuti mereka sementara mereka berkubang dalam kekufuran atau kemaksiatan, maka hal itu janganlah engkau lakukan. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 648)

ANCAMAN BAGI ANAK DURHAKA

Sementara itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menyebutkan tentang ancaman durhaka kepada kedua orang tua. Bahkan beliau nyatakan bahwa hal itu termasuk dosa besar. Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu menyampaikan ucapan beliau ini:

(( أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ ؟)) قُلْنَا : بَلَى يَا رَسُوْلَ الله. قَالَ ثَلاَثًا (( الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الوَالِدَيْنِ )) وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ (( أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرِ وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ. أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرِ وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ )) فَمَا زَالَ يَقُوْلُهَا حَتَّى قُلْتُ لاَ يَسْكُتُ.

“Tidakkah kalian ingin aku kabarkan tentang dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau pun berkata tiga kali, “Menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orang tua.” Semula beliau dalam keadaan bersandar, lalu beliau pun bangkit duduk dan mengatakan, “Ketahuilah, ucapan dusta dan saksi palsu! Ketahuilah, ucapan dusta dan saksi palsu!” Beliau terus-menerus mengatakan hal itu hingga aku berkata, “Andaikan beliau diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pun meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ancaman beliau:

(( رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ )) قِيْلَ : مَنْ؟ يَا رَسُوْلَ الله! قَالَ (( مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الجَنَّةَ ))

“Nista dan hinanya! Nista dan hinanya! Nista dan hinanya!” Beliau pun ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang mendapati salah seorang atau kedua orang tuanya dalam keadaan lanjut usia, namun dia tidak masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim no. 2551)

Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan dorongan untuk berbakti kepada orang tua serta menunjukkan besarnya pahala amalan itu. Di dalam ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut didapati makna bahwa berbakti kepada kedua orang tua pada saat mereka telah lanjut usia dan lemah, dengan mencurahkan khidmat (pelayanan), nafkah ataupun lainnya merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Barangsiapa yang meremehkannya, maka dia akan terluput dari masuk surga dan dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Syarh Shahih Muslim, 16/109)

BENTUK BENTUK BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Birrul Walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) dan tidak durhaka adalah wajib, bahkan Allah gandengkan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan perintah menyembah-Nya semata. Hal ini menunjukkan besarnya kedudukan Birrul walidain.

1. Menaati perintah keduanya serta menjauhi larangannya selama tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah di antara wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abud Darda’ radhiallahu ‘anhu:

أَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ دُنْيَاكَ فَاخْرُجْ لَهُمَا

Taatilah kedua orang tuamu. Seandainya mereka menyuruhmu untuk keluar dari dunia, maka keluarlah karena perintah mereka berdua.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 14: hasan)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang adab yang agung terhadap kedua orang tua:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوْا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabbmu memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya semata, dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya mencapai usia lanjut di sisimu, jangan engkau katakan pada keduanya ucapan “uff” dan jangan pula menghardiknya, dan ucapkanlah perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah sayap kehinaan karena kasih sayang dan ucapkanlah doa: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku semenjak kecilku’.” (Al-Isra: 23-24)

Dalam kalam-Nya ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua dengan segenap bentuk kebaikan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, karena kedua orang tua merupakan sebab adanya seorang hamba. Juga keduanya memiliki kecintaan, kebaikan dan kedekatan dengan sang anak yang semua itu mengokohkan hak mereka dan mewajibkan bakti pada mereka berdua.

Sebab tidak ada kewajiban taat kepada siapapun dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلىَ أَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk kamu menyekutukan Aku dan kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah kamu menaati keduanya dan pergaulilah mereka di dunia dengan cara yang baik.” (Luqman: 15)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

2. Memuliakan keduanya dan merendah di hadapannya, berucap dengan ucapan yang baik serta tidak membentaknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهِمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً مَعْرُوْفًا

“Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik, dan rendahkan dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (Al-Isra: 23-24)

Apabila mereka berdua mencapai usia lanjut, saat kekuatan mereka telah melemah dan membutuhkan kelembutan dan kebaikan, jangan sampai terlontar ucapan uff (uh) di hadapan keduanya, sementara ini adalah ucapan menyakitkan yang paling ringan. Terlebih lagi ucapan yang lainnya. Artinya, jangan engkau sakiti mereka, sekalipun dengan suatu gangguan yang paling ringan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang hamba-Nya menghardik kedua orang tua atau pun berbicara dengan mereka dengan perkataan yang kasar, serta memerintahkan untuk berucap dengan perkataan mulia yang mereka senangi, beradab dan berlemah lembut dengan ucapan yang baik dan lembut, yang menyenangkan hati dan menenangkan jiwa mereka. Ini tentu berbeda-beda sesuai dengan keadaan, kebiasaan dan zaman.

Dalam ayat yang mulia ini pula Allah memerintahkan untuk tawadhu’ karena merendahkan diri dan rasa kasih sayang kepada orang tua, serta untuk mengharapkan pahala, bukan semata karena rasa takut terhadap mereka, atau mengharap harta kekayaan mereka, atau pun maksud-maksud lain yang tidak membuahkan pahala. Kemudian diperintahkan pula seorang hamba untuk mendoakan ayah dan ibunya agar mendapatkan rahmat semasa mereka hidup maupun setelah mereka tiada, sebagai balasan atas pendidikan yang mereka berikan sepanjang masa kecil sang anak. (Taisirul Karimir Rahman hal. 456)

Gambaran seorang Abu Hurairah yang memberikan salam kepada ibunya:

عَلَيْكِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ يَا أُمَّتَاه ! تَقُوْلُ : وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، يَقُوْلُ : رَحِمَكِ اللهُ كَمَا رَبَّيْتِنِي صَغِيْرًا. فَتَقُوْلُ : يَا بُنَيَّ! وَأَنْتَ، فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا وَرَضِيَ عَنْكَ كَمَا بَرَرْتَنِي كَبِيْرًا.

“Keselamatan atasmu, serta rahmah dan barakah Allah, wahai Ibunda!” Ibunya pun menjawab, “Dan keselamatan pula atasmu, serta rahmah dan barakah Allah.” Dia berkata lagi, “Semoga Allah mengasihimu, wahai Ibu, sebagaimana engkau telah mendidikku semasa kecilku.” Ibunya membalas, “Wahai anakku! Dan engkau juga, semoga Allah memberi balasan yang baik dan meridhaimu sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku pada masa tuaku.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani: hasanul isnad dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 11)

Suatu ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu melihat dua orang laki-laki, lalu bertanyalah beliau pada salah seorang dari mereka, “Siapa orang ini?” Orang itu menjawab, “Dia ayahku.” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pun berpesan padanya:

لاَ تُسَمِّ بِاسْمِهِ، وَلاَ تَمْشِ أَمَامَهُ، وَلاَ تَجْلِسْ قَبْلَهُ

Jangan engkau panggil dia dengan menyebut namanya, jangan berjalan di depannya dan jangan engkau duduk sebelum dia duduk.” (Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 32: Shahihul isnad)

3. Tidak melakukan safar (perjalanan) jauh melainkan dengan seijin keduanya begitu juga jihad yang hukumnya fardhu kifayah.

Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma berkata:

أَقْبَلَ رَجُلٌ إِلىَ نَبِيِّ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أُبَايِعُكَ عَلىَ الْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ أَبْتَغِي اْلأَجْرَ مِنَ اللهِ تَعَالَى. فَقَالَ: فَهَلْ لَكَ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ حَيٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ، بَلْ كِلاَهُمَا. قَالَ: فَتَبْتَغِي اْلأَجْرَ مِنَ اللهِ تَعَالَى؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا

“Seseorang menghadap Nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu berkata: ‘Aku memba’iatmu di atas hijrah dan jihad untuk mencari pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala’ Rasulullah berkata: ‘Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab: ‘Ya, bahkan keduanya.’ Dan beliau bersabda: ‘Kamu ingin mencari pahala dari Allah?’ Dia menjawab: ‘Ya.’ Rasulullah bersabda: ‘Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan berbuat baiklah kepada keduanya’.” (HR. Al-Bukhari, 6/97, 98, dan Muslim no. 2549)

4. Tidak boleh mendahulukan istri dan anaknya atas hak kedua orang tua, berdasarkan hadits tentang tiga orang yang masuk ke dalam gua lalu gua tersebut tertutup dengan batu sehingga tidak bisa keluar darinya. Lalu ketiga orang tersebut berdoa kepada Allah dengan cara bertawassul dengan amal-amal mereka yang shalih. Salah satu di antara mereka bertawassul dengan amal mengutamakan hak kedua orang tuanya dari hak anak-anak dan istrinya. (HR. Al-Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743 dari shahabat Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma)

Sebuah kisah tentang bakti seorang anak kepada orang tuanya, yang amalan itu dapat melepaskannya dari belenggu musibah yang menimpa, disampaikan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(( بَيْنَمَا ثَلاَثَةُ نَفَرٍ يَتَمَشَّوْنَ أَخَذَهُمُ المَطَرُ فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ فِي جَبَلٍ ، فَانْحَطَّتْ عَلَى فَمِ غَارِهِمْ صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ فَأَطْبَقَتْ عَلَيْهِمْ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : انْظُرُوا أَعْمَالاً عَمِلْتُمُوهَا صَالِحَةً للهِ فَادْعُوا اللهَ تَعَالَى بِهَا لَعَلَّ اللهَ يَفْرُجُهَا عَنْكُمْ. فَقَالَ أَحَدُهُمْ : اللّهُمَّ إِنَّهُ كَانَ لِي وَالِدَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَامْرَأَتِي وَلِيَ صِبْيَةُ صِغَارٌ أَرْعَى عَلَيْهِمْ فَإِذَا أَرَحْتُ عَلَيْهِمْ ، حَلَبْتُ فَبَدَأْتُ بِوَالِدَيَّ فَسَقَيْتُهُمَا قَبْلَ بَنِيَّ. وَإِنَّهُ نَأَى بِي ذَاتَ يَوْمٍ الشَّجَرُ فَلَمْ آتِ حَتَّى أَمْسَيْتُ فَوَجَدْتُهُمَا قَدْ نَامَ فَحَلَبْتُ كَمَا كُنْتُ أَحْلٌبُ فَجِئْتُ بِالحِلاَبِ فَقُمْتُ عِنْدَ رُؤُسِهِمَا أَكْرَهُ أَنْ أُوقِظَهُمَا مِنْ نَوْمِهِمَا وَأَكْرَهُ أَنْ أَسْقِيَ الصِّبْيَةَ قَبْلَهُمَا وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمَيَّ فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ دَأْبِي وَدَأْبَهُمْ حَتَّى أَطْلَعَ الفَجْرُ ، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابِتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا فُرْجَةً نَرَى مِنْهَا السَّمَاءَ ، فَفَرَجَ اللهُ مِنْهَا فُرْجَةً فَرَأَوْا مِنْهَا السَّمَاءَ … ))

Ada tiga orang yang sedang dalam perjalanan. Tiba-tiba turun hujan menimpa mereka hingga mereka pun berteduh di dalam gua di sebuah gunung. Ketika mereka berada di dalam gua, runtuhlah sebuah batu besar dari gunung di mulut gua hingga menutupi mereka. Maka ada di antara mereka yang berkata kepada temannya, “Lihatlah amalan shalih yang pernah kalian kerjakan karena Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amalan tersebut. Semoga dengan itu Allah akan memberikan jalan keluar kepada kalian.” Maka salah seorang di antara mereka berdoa, “ Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki dua orang tua yang telah renta, dan aku pun memiliki istri dan anak-anak kecil. Aku biasa menggembala kambing-kambing untuk mereka. Apabila aku telah membawa pulang kambing-kambingku, aku biasa memerah susu dan aku awali dengan memberikan minum kepada kedua orang tuaku sebelum memberikannya kepada anak-anakku. Suatu ketika aku terlalu jauh menggembala sehingga belum juga pulang sampai sore hari, hingga kudapati mereka berdua telah tidur. Maka aku pun memerah susu sebagaimana biasa. Kemudian aku datang membawa susu perahan itu dan berdiri di sisi kepala ayah ibuku. Aku tak ingin membangunkan mereka berdua dari tidurnya dan aku pun tak ingin memberi minum anak-anakku sebelum mereka berdua, sementara anak-anakku menangis kelaparan di sisi kedua kakiku. Terus menerus demikian keadaanku dengan mereka hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku lakukan semua itu untuk mengharap wajah-Mu, berikanlah jalan keluar dari batu itu hingga kami dapat melihat langit.” Maka Allah pun memberikan kepada mereka kelapangan hingga mereka dapat melihat langit kembali…” (HR. Al-Bukhari no. 2215 dan Muslim no. 2743)

Kisah ini menunjukkan gambaran keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, keutamaan melayani dan mendahulukan mereka berdua dari yang lainnya, baik anak-anak, istri dan selain mereka. (Syarh Shahih Muslim, 17/56)

5. Bersyukur terhadap segala bentuk pengorbanannya dengan melaksanakan segala wujud kebaikan seperti memberi keduanya makan dan pakaian jika membutuhkan, mengobati bila keduanya sakit, menghilangkan segala macam gangguan dan berkhidmat terhadap segala sesuatu yang dibutuhkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا اْلإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلىَ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِيْ عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَ

“Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, karena ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah di atas kelemahan dan menyapihnya selama dua tahun maka bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (Luqman: 14)

6. Mendoakan Keduanya dengan kebaikan ketika masih hidup ataupun jika telah tiada.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

“Dan katakanlah: Ya Allah rahmatilah keduanya sebagaimana keduanya telah mendidikku semasa kecilku.” (Al-Isra: 24)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal, terputuslah amalannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Seorang anak yang tidak shalih tidak akan mendoakan kedua orang tuanya, pun tidak akan berbakti kepada mereka. Namun anak yang shalih itulah yang akan mendoakan ayah ibunya setelah mereka tiada. Oleh karena itulah, semestinya orang tua memiliki kemauan yang teramat besar agar putra-putri mereka memperoleh kebaikan, karena kebaikan itu akan kembali kepada anak-anak, juga kepada ayah bundanya dengan doa yang dimohonkan sang anak bagi mereka. (Syarh Riyadhush Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3/117)

Permohonan ampun bagi kedua orang tua yang terucap dari lisan sang anak akan meninggikan derajat mereka di akhirat. Demikian dikatakan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

تُرْفَعُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ، فَقِيْلَ: أَيْ رَبِّ! أَيُّ شَيْءٍ هَذِهِ؟ فَقِيْلَ: وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ

“Diangkat derajat seseorang setelah matinya. Dia pun bertanya, “Wahai Rabbku, apakah ini?” Maka dikatakan, “Anakmu memohonkan ampun untukmu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 27: Hasanul isnad)

7. Menyambung silaturahmi yang berasal dari keduanya serta mencintai orang yang dicintai oleh keduanya

Sebuah teladan yang tak layak untuk dilewatkan, dari seorang sahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Apabila beliau bepergian menuju Makkah, beliau biasa membawa keledainya untuk berkendara bila jenuh menunggang untanya. Beliau juga memiliki surban yang biasa beliau pakai untuk mengikat kepalanya. Suatu ketika, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhma sedang mengendarai keledainya. Tiba-tiba lewatlah seorang Arab gunung. Beliau bertanya pada orang itu, “Bukankah engkau anaknya Fulan bin Fulan?” Dia menjawab, “Benar.” Serta-merta Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma memberikan keledainya sembari berkata, “Naiklah!” Beliau juga memberikan surbannya dan mengatakan, “Ikat kepalamu dengan surban ini.” Melihat hal, sahabat-sahabat beliau pun berkata, “Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau berikan kepada orang Arab gunung itu keledaimu yang biasa engkau kendarai serta surbanmu yang biasa engkau gunakan untuk mengikat kepalamu?” Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

إِنَّ مِنْ أَبَرِّ البِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ

“Di antara sebaik-baik bakti kepada orang tua adalah seseorang menyambung tali kekerabatan dengan keluarga orang yang dicintai ayahnya sepeninggalnya.”

Sesungguhnya ayah orang itu adalah teman ‘Umar radhiallahu ‘anhu. (HR. Muslim no. 2552)

Demikianlah seorang Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang mendulang faidah dari perkataan agung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Beliau muliakan orang Arab gunung itu karena ayah orang itu adalah teman ayahnya, ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Bagaimana kiranya bila beliau bertemu seseorang yang berteman dengan ayahnya? Tentu beliau akan lebih dan lebih memuliakannya lagi.
Inilah kisah indah yang berbuah faidah, memberikan bimbingan untuk memuliakan seseorang yang dicintai oleh ayah atau ibu, karena ini termasuk bakti seorang anak kepada mereka berdua. Demikian pula dari kisah ini tampak keluasan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan meluaskan pintu bakti terhadap orang tua, tak hanya terbatas pada ayah ibu saja, namun hingga teman-teman mereka berdua. Apabila seorang anak berbuat baik pada mereka, berarti juga mereka berbakti kepada keduanya, serta beroleh pahala seorang yang berbakti kepada ayah bundanya. (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/153)

BENTUK-BENTUK KEDURHAKAAN KEPADA ORANG TUA

Hal ini merupakan lawan dari hal yang disebutkan sebelumnya. Mencaci maki keduanya, membentak dan menghardik, memukul, memperbudak, mengkhianati, mendustakannya, menipu, tidak taat kepada perintah keduanya dan sebagainya merupakan beberapa bentuk kedurhakaan kepada kedua orang tua. Jadikanlah kedua orang tuamu sebagai ladangmu untuk mempersiapkan diri dan tempat bercocok tanam untuk akhiratmu! Jadikanlah keduanya sebagai jembatan pengantar dirimu menuju surga Allah! Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ. قِيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Nista dan hinanya, nista dan hinanya, nista dan hinanya.” Lalu ditanyakan: “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Yaitu yang menjumpai kedua orang tua lalu tidak menyebabkan dia masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim no. 2551 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Termasuk kedurhakaan disini apabila seorang anak mencela ayah atau ibu orang lain, karena biasanya orang yang dicela orang tuanya tidak akan tinggal diam. Dia akan berbalik mencela, sehingga dengan itulah celaan bisa berbalik menimpa kedua orang tuanya. ‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma menuturkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ. قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Termasuk dosa besar yang paling besar seseorang melaknat kedua orang tuanya.” Beliau pun ditanya, “Ya Rasulullah, bagaimana bisa seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab, “Seseorang mencela ayah orang lain hingga orang lain itu balas mencela ayahnya, dan dia mencela ibu orang lain hingga orang itu balas mencela ibunya.” (HR. Al-Bukhari no. 5973 dan Muslim no. 90)

Wallahu a’lam.

Sumber:

  1. Ayah Bunda Terimalah Baktiku. Penulis : Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=174.
  2. Bagimu Ayah dan Ibu. Penulis : Al Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu Imran. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=185.
  3. Wujudkan Anganmu dalam Bimbingan Ilmu. Penulis : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=198.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: