Memakai Perhiasan untuk Laki-laki dan Wanita


Sudah menjadi tabiat manusia, senang kepada keindahan dan kemilau atas cahaya yang memantul dari barang-barang dunia. Hal ini dimaklumi karena Allah subhanahu wata’ala yang menciptakan manusia dan kemilau tersebut, telah mengisyaratkan tabiat ini dalam banyak ayat dalam Al-Qur-an, yang mengajarkan pada manusia tentang kisah-kisah yang buruk seperti pada kisah Qorun yang terpukau dengan kemilau harta dan emasnya, atau yang baik seperti janji Allah yang akan membangunkan kita istana dari kaca, cangkir dari perak, pakaian dari sutra serta piring dari emas yang semuanya abadi dan akan didapatkan oleh ahli surga atas rahmat-Nya.

Pemilik harta kemilau yang sesungguhnya, Allah ta’ala menguji manusia dengan syariatnya, agama Islam, dalam menempatkan kemilau dunia semisal harta. Apakah layak untuk menempati surga-Nya yang berlimpahan kemilau yang abadi? Untuk itu, akan dibahas beberapa perkara terkait dengan pemakaian perhiasan menurut syariat-Nya, Insya-Allah ta’ala.

Mengenakan perhiasan bagi wanita merupakan sesuatu yang sangat lazim (lihat pembahasan tentang berhias atau tabarruj khusus untuk wanita disini). Masalahnya, tak semua perhiasan yang jamak dikenal di masyarakat yang mencocoki syariat.

أَوَمَنْ يُنَشَّؤُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبْيِنٍ

“Apakah patut (menjadi anak Allah) orang (wanita) yang dibesarkan dalam keadaan beperhiasan, sedang dia tidak dapat memberi alasan yang jelas dalam pertengkaran.” (Az-Zukhruf: 18)

Kenyataan menunjukkan, wanita memang senang berhias sebagaimana firman Allah dalam ayat yang mulia di atas. Islam pun datang menetapkan aturan, mana perhiasan yang boleh dikenakan dan mana yang terlarang. Untuk perhiasan pada wajah telah disinggung pada edisi sebelumnya. Bahasan kali ini merupakan kelanjutannya.

BERBAGAI JENIS DAN BENTUK PERHIASAN DIHALALKAN BAGI WANITA

Dibolehkan bagi wanita untuk memakai berbagai jenis perhiasan, baik yang terbuat dari emas, perak, mutiara atau yang lainnya. Sama saja apakah perhiasan itu diletakkan di telinga, tangan, ataupun kakinya. Hal ini bisa diketahui di antaranya dari hadits-hadits yang mulia berikut ini:

1. Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma bertutur:

“Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat mengimami manusia pada hari Iedul Fithri, kemudian beliau berkhutbah. Setelah itu beliau mendatangi tempat wanita untuk memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka dalam keadaan beliau bersandar pada tangan Bilal. Beliau mendorong mereka untuk bersedekah. Bilal pun membentangkan bajunya untuk menadah sedekah tersebut.” Ibnu Juraij yang mendengar hadits ini dari ‘Atha, rawi yang menyampaikan riwayat dari Jabir, bertanya: “Apakah yang mereka berikan itu zakat Iedul Fithri?”. “Bukan”, kata Atha. “Tetapi itu adalah sedekah mereka pada hari tersebut,” lanjutnya. “Para wanita itu melemparkan cincin-cincin mereka dan perhiasan lainnya sebagai sedekah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 978 dan Muslim no. 885)

Dalam riwayat Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْعِيْدِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهُما وَلاَ بَعْدَهُما, ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلاَلٌ فَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدقَةِ, فَجَعَلَتِ الْمَرْأَةُ تُلقِي قُرُطَهُنَّ.

“Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat Ied dua rakaat dan tidak melaksanakan shalat sunnah sebelum dan sesudahnya. Kemudian beliau mendatangi para wanita dengan ditemani Bilal. Maka beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah. Mendengar anjuran tersebut, mulailah wanita yang hadir melemparkan anting-antingnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5883 dan Muslim no. 884)

2. ‘Aisyah radhiallahu anha pernah meminjam kalung milik saudara perempuannya, Asma bintu Abi Bakar, untuk berhias di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kalung ini kemudian jatuh dari ‘Aisyah dalam satu safar (perjalanan)-nya bersama Rasulullah, dan dicari oleh para shahabat hingga mereka tertahan di tempat yang tidak ada air sementara mereka hendak shalat. Dari peristiwa ini, turun syariat tayammum dalam Al Qur’an surat Al-Maidah. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 336, 5882 dan Muslim no. 367)

3. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapat hadiah dari raja Najasyi berupa perhiasan, di antaranya ada cincin emas bertahtakan batu permata Habasyi. Beliau mengambilnya kemudian memanggil cucunya Umamah putrinya Zainab. Lalu beliau berkata:

“Berhiaslah dengan cincin ini wahai cucuku.” (HR. Abu Dawud no. 3697, dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 4/312)

Dalam kitab Shahih-nya, Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah membuat bab khusus yang berjudul “Cincin bagi wanita”, dan beliau menyatakan bahwa ‘Aisyah mengenakan cincin-cincin emas. (Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, 10/342)

Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah: “Kaum wanita diperkenankan memakai sutera dan seluruh jenisnya, sebagaimana dibolehkan bagi mereka memakai cincin emas dan seluruh perhiasan dari emas, demikian pula dari perak. Sama saja apakah wanita itu sudah menikah atau belum, masih muda atau sudah tua, kaya ataupun miskin.” (Syarah Shahih Muslim, 14/32)

Beliau juga menyatakan bahwa kaum muslimin bersepakat tentang bolehnya wanita memakai cincin emas. (Syarah Shahih Muslim,14/65)

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (2/324) berkata: “Dibolehkan bagi wanita mengenakan perhiasan dari emas, perak dan permata dengan bentuk yang biasa mereka kenakan, misalnya gelang tangan, gelang kaki, anting-anting dan cincin. Termasuk pula perhiasan yang dikenakan di wajah-wajah mereka, di leher, di tangan, di kaki, di telinga mereka dan selainnya. Adapun perhiasan yang menurut kebiasaan mereka tidak lazim dipakai seperti sabuk dan semisalnya dari perhiasan laki-laki, maka diharamkan bagi wanita memakainya.”

Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa perhiasan emas dan perak boleh dipakai wanita dengan kesepakatan ulama. (Majmu’ Fatawa, 25/64). Selain emas, perak dan batu-batu mulia seperti berlian dan lainnya, wanita dibolehkan pula memakai perhiasan dari mutiara (al-lu’lu’). Allah ta`ala berfirman:

وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُوْنَ لَحْماً طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوْنَ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَا

“Dan dari masing-masing laut itu (yang airnya tawar maupun yang asin), kalian dapat memakan daging yang segar dan kalian dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kalian pakai.” (Fathir: 12)

Ibnu Hazm berkata: “Tidak ada perhiasan yang dikeluarkan dari laut kecuali mutiara. Maka dari ayat Al Qur’an di atas, ada penetapan halalnya mutiara ini bagi lelaki maupun wanita.” (Al-Muhalla, 9/246)

HARAM BAGI LAKI-LAKI UNTUK MEMAKAI EMAS DAN SUTERA

Diriwayatkan Al-Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i, dengan sanad yang jayyid (bagus) dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengabarkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengambil sutera, lalu beliau letakkan di tangan kanannya dan mengambil emas lalu beliau letakkan pada tangan kirinya, kemudian beliau bersabda:

“Sesungguhnya dua benda ini haram untuk dikenakan oleh kaum laki-laki dari kalangan umatku.”

DIBOLEHKAN BAGI WANITA MESKIPUN EMAS YANG MELINGKAR

Masalah hukum mengenakan perhiasan emas yang melingkar bagi wanita diperselisihkan oleh ulama. Ada yang membolehkan dan adapula yang mengharamkan. Namun yang rajih (kuat) adalah pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama yaitu dibolehkan bagi wanita untuk mengenakan perhiasan emas tanpa dibedakan bentuknya melingkar ataupun tidak.

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah dalam fatwanya memberikan bantahan terhadap mereka yang berpendapat haramnya wanita mengenakan perhiasan emas melingkar. Antara lain beliau rahimahullah mengatakan: “Halal bagi wanita untuk mengenakan perhiasan emas, baik bentuknya melingkar ataupun tidak karena keumuman firman Allah subhanallahu ta’ala : “Apakah patut (menjadi anak Allah) orang (wanita) yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang jelas dalam pertengkaran.” (Az-Zukhruf: 18)

Dalam ayat di atas Allah subhanallahu ta’ala menyebutkan bahwasanya suka memakai perhiasan itu termasuk salah satu sifat wanita dan perhiasan di sini umum, mencakup emas dan selainnya.

Dan juga dengan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i, dengan sanad yang jayyid (bagus) dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengabarkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengambil sutera, lalu beliau letakkan di tangan kanannya dan mengambil emas lalu beliau letakkan pada tangan kirinya, kemudian beliau bersabda:

“Sesungguhnya dua benda ini haram untuk dikenakan oleh kaum laki-laki dari kalangan umatku.”

Ibnu Majah menambahkan dalam riwayatnya:

“Namun halal bagi kaum wanitanya.”

Kemudian Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah membawakan dalil lain yang mendukung pendapat ini berikut ucapan para ulama seperti Al-Baihaqi, An-Nawawi, Al-Hafizh Ibnu Hajar dan selain mereka. Beliau menegaskan: “Adapun hadits-hadits yang dzahirnya melarang wanita mengenakan emas maka hadits-hadits tersebut syadz (ganjil) karena menyelisihi hadits lain yang lebih shahih dan lebih kokoh.”

Di akhir fatwanya beliau rahimahullah menyatakan tidak benarnya pendapat mereka yang mengatakan dalil-dalil yang melarang pemakaian emas dibawa pemahamannya kepada emas yang melingkar sedangkan dalil-dalil yang menghalalkan dibawa pemahamannya kepada emas yang tidak melingkar, karena di antara hadits yang menghalalkan emas bagi wanita ada yang menyebutkan halalnya cincin sementara cincin itu bentuknya melingkar, ada pula yang menyebutkan halalnya gelang sementara gelang bentuknya melingkar. Selain itu hadits-hadits yang menunjukkan halalnya emas menyebutkan secara mutlak tanpa memberikan batasan bentuk tertentu maka wajib mengambil pemahamannya secara umum.

Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat permasalahan ini dalam Al-Fatawa Kitabud Da‘wah, (1/242-247) oleh Asy-Syaikh Ibnu Baaz atau sebagaimana dinukilkan dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/453-457. Wallahu ta‘ala a‘lam.

DI JARI MANA DILETAKKAN CINCIN?

‘Ali radhiallahu anhu berkata:

نَهاَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ. قَال: فَأَوْمَأَ ِإلىَ الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيْهَا

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarangku memakai cincin di jariku ini atau yang ini”, sambil mengisyaratkan jari tengah dan jari setelahnya (jari telunjuk). (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5874 dan Muslim no. 2078)

Larangan yang disebutkan dalam hadits ‘Ali di atas berlaku bagi laki-laki sementara bagi wanita tidak diterapkan larangan demikian, karena itu Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Kaum muslimin sepakat, sunnah bagi laki-laki mengenakan cincin di jari kelingkingnya sedangkan wanita boleh memakai cincin di seluruh jarinya (Syarah Shahih Muslim, 14/71)

MELUBANGI DAUN TELINGA HANYA UNTUK WANITA

Dalam masalah kebolehan wanita melubangi daun telinganya untuk menggantungkan anting-anting, diperselisihkan oleh ulama. Dalam Ash-Shahihain disebutkan, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan para wanita untuk bersedekah, ada di antara mereka yang menyedekahkan anting-antingnya . Hadits ini cukuplah sebagai dalil tentang bolehnya wanita memakai anting-anting. Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Dibolehkan melubangi daun telinga anak perempuan dalam rangka berhias, demikian dinyatakan oleh Al-Imam Ahmad. Sedangkan untuk anak laki-laki beliau membencinya. Perbedaan keduanya adalah perempuan butuh akan perhiasan sehingga ada kemaslahatan melubangi daun telinganya. Berbeda halnya dengan anak laki-laki”.

Beliau juga menyatakan bila ada yang berkata: Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang musuhnya Iblis yang pernah menyatakan:

وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ اْلأَنْعَامِ

“Dan sungguh aku akan memerintahkan mereka hingga mereka benar-benar akan memotong telinga-telinga hewan ternak mereka.” (An-Nisa: 119)

Ini menunjukkan bahwa memotong telinga, membelah dan melubanginya merupakan perintah setan. Maka dijawab, bahwa qiyas ini termasuk qiyas yang paling rusak. Karena mereka yang diperintah oleh setan untuk memotong telinga hewan mereka dengan ketentuan bila seekor unta betina telah beranak sebanyak lima kali, kemudian bunting lagi untuk ke-6 kalinya dan ternyata yang lahir adalah jantan, merekapun membelah telinga unta betina tersebut. Dan mereka juga mengharamkan untuk ditunggangi serta diambil manfaatnya, tidak boleh dihalau dari sumber air yang sedang diminumnya, tidak pula dari tanaman. Mereka mengistilahkannya dengan bahirah. Setan mensyariatkan untuk mereka dengan satu syariat dari sisinya. Jika demikian, bagaimana bisa dibandingkan dengan perbuatan melubangi daun telinga anak perempuan untuk diletakkan perhiasan yang dibolehkan oleh Allah? Adapun melubangi telinga anak laki-laki maka tidak ada kemaslahatan padanya, baik dari sisi agama maupun dunia, karena itu tidaklah diperkenankan.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hal. 178-179)

Sumber:

  1. Berpakaian Tipis Di Hadapan Suami dan Hukum Memakai Perhiasan Emas Melingkar. Penulis : Ustadzah Pengasuh Rubrik Muslimah Bertanya. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=123
  2. Di Balik Kemilau Hiasanmu. Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=156.

5 Responses

  1. assalamu’alaikum
    saya ingin bertanya bagaimana cara mendapatkan widget kalendar hijriah dan menempatkannya ke dalam wordpress?tadi pas saya klik, hasilnya not found

    • Wa’alaykumussalam.Banyak aplikasi tanggal di web. Yang saya gunakan adalah link dari hijriah.jentayu.com. Masukkan kode berikut ini pada widget tipe “text” html:

      #gigya src="http://hijriah.jentayu.com/hijri1.swf" width="125px" height="127px" wmode="transparent"$


      Ganti tanda # dengan [ dan tanda $ dengan ] Kemudian atur lebar dan tingginya sesuai kolom yang tersedia. Saat saya tulis komen ini, sepertinya server hijri jentayu untuk tarikh sedang down. Mudah2an segera berfungsi kembali.

  2. Assalammualaikum……..
    saya ingin bertanya. Bagaimana jika seorang laki2 yang dahulunya pernah melubangi daun telinganya dan saat itu ia belum memeluk islam. Kemudian ia masuk islam dan menyadari bahwa laki2 yang ia lakukan dulu tidak diperkenankan oleh islam, kemudian ia menyumbat lubang tersebut, walaupun kelihatan masih seperti berlubang. Apakah ia bisa menjadi imam shalat utk keluarganya? Mohon bantuannya, terimakasih.

    • Wa’alaykumussalam Warahmatullah,

      Alhamdulillah, apabila seseorang masuk ke dalam Islam hanya untuk Allah ta’ala semata, maka terhapuslah seluruh dosa-dosanya yang telah lalu dengan konsekuensi harus meninggalkan segala kemaksiatan yang diperbuatnya terdahulu, (semoga Allah azza wa jalla memudahkan upaya kita semua dalam hal ini). Untuk itu, muslim harus belajar apa saja yang diperintahkan oleh Allah ta’ala dan yang dilarang oleh-Nya sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

      Adapun cacat pada telinga (karena tindik dan lainnya), pada asalnya tidak menghalangi seseorang untuk menjadi Imam, baik bagi laki-laki maupun perempuan (yakni imam perempuan hanya untuk para perempuan saja) dan tidak termasuk syarat-syarat shalat.

      Namun, para ulama memakruhkan seorang imam yang bertindik dari kalangan laki-laki karena hal ini menunjukkan kekurangan imam tsb dalam agama secara zhahir/lahiriah. Adapun secara batiniyah, maka sesungguhnya, Allah mengetahui siapa di antara para hamba-Nya yang bertaubat dan mengampuninya. Sedangkan, apabila telah diketahui kebenaran taubatnya dan keutamaan agamanya dibandingkan para jama’ah laki-laki lainnya (seperti orang tua atau anaknya) sehingga tidak menimbulkan fitnah baginya maka Insya-Allah hal ini tidak mengapa. Wallahu a’lam.

      Jika seseorang menjadi Imam maka dia bertanggung jawab atas shalat orang-orang dibelakangnya, baik dari sisi keutamaan maupun dari sisi kelemahan yang diperbuatnya. Sebagaimana pembahasan yang akan datang, Insya-Allah. Wal ‘ilmu ‘indaLLAH

  3. assalammu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
    saya mau bertanya ada yg mengatakan wanita tidak diperbolehkan memakai cincin di jari telunjuk, apakah itu benar? jika memang sesuai hadits di atas tentu ntidak benar tetapi kebanyakan orang tidak memperbolehkan, nah bagaimana anda menanggapi masalah ini?
    sebelumnya terima kasih atas infonya, semoga selalu bermanfaat. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: