Syirik , Sejarah dan Hakekatnya


Kesyirikan tidak hanya terjadi pada jaman jahiliyyah saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum diutus. Kesyirikan juga merebak di masa kini meski dikemas dengan bungkus baru. Kehati-hatian agar tidak terjatuh pada perbuatan syirik sangatlah penting karena Allah menyebut perbuatan ini sebagai dosa besar yang paling besar dan tidak akan memberi ampunan pada pelakunya kecuali ia telah bertaubat.

ASALNYA MANUSIA DI ATAS FITRAH TAUHID

Allah subhanallahu ta’ala menciptakan jin dan manusia dengan suatu tujuan, yang dengannya Allah subhanallahu ta’ala mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia dalam mewujudkan tujuan tersebut. Dalam Al Qur’an, Allah subhanallahu ta’ala menyebut tujuan penciptaan jin dan manusia:

“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan dari mereka sedikitpun dari rizki. Dan Aku tidak menginginkan sedikitpun dari mereka untuk memberi-Ku makan. Sesungguhnya Dia, Allah Maha Pemberi rizki, Pemilik kekuatan lagi Sangat kokoh.” (Adz-Dzariyat: 56-58)

Sesungguhnya, tugas yang diemban jin dan manusia sangatlah ringan bila dibandingkan dengan segala jenis kenikmatan yang telah Allah subhanallahu ta’ala limpahkan. Akan tetapi untuk mewujudkan perkara yang ringan ini, butuh pengorbanan dan perjuangan yang sangat besar, karena rintangan dan penghalang di jalan ini juga sangatlah besar.

Dengan tugas ini, bukan berarti Allah subhanahu wata’ala butuh kepada hamba sehingga sehingga kita diperintah untuk sujud dan ruku’ di hadapan-Nya. Akan tetapi sebagai perwujudan semata-mata kebutuhan kita kepada Allah subhanahu wata’ala . Karena kita sadar bahwa setiap saat, tidak ada satu makhluk pun yang tidak butuh kepada-Nya. Oleh karena itu Allah subhanallahu ta’ala menetapkan bahwa di sana ada tali penghubung antara diri hamba-Nya dengan Allah subhanallahu ta’ala . Itulah ibadah.

Amanah ibadah ini diakui oleh semua orang, namun dalam prakteknya sangat terkait dengan fitrah yang diberikan Allah subhanallahu ta’ala kepada tiap manusia. Artinya, apabila fitrahnya belum disentuh oleh penyimpangan dan segala bentuk noda yang mengotori tentu akan menyambut tugas tersebut sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah subhanallahu ta’ala . Sebaliknya, bila fitrah itu rusak maka perwujudan ibadah akan bisa diarahkan kepada selain Pemiliknya. Allah subhanallahu ta’ala menjelaskan keberadaan fitrah ini dalam firman-Nya:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (Ar-Rum: 30)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Setiap anak dilahirkan di atas kesucian, kedua orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1278 dan Muslim no. 2658 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Ayat dan hadits di atas, secara gamblang menjelaskan bahwa asal kehidupan seseorang di muka bumi ini adalah kesucian fitrah yaitu Islam. Ini sebagai bantahan untuk kelompok Mu’tazilah yang mengatakan bahwa asal kehidupan manusia adalah kufur.

Di atas kemurnian fitrah inilah, Allah subhanallahu ta’ala menurunkan kemurnian agama-Nya yang meliputi ajaran dan aturan, perintah dan larangan, keterangan tentang tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah. Dan di atas kesucian fitrah ini pula, setiap orang akan menyambut seruan syariat tersebut.

AWAL TERJADINYA KESYIRIKAN, DI MASA NABI NUH ‘alaihis salam

Adapun orang yang telah ternodai fitrahnya, ia akan mengelak dengan berbagai cara untuk bisa keluar dari larangan, ancaman, dan perintah sehingga bebas merdeka tanpa ada aturan yang mengikat. Berjalan sesuai kehendak sendiri, melaksanakan apa yang diinginkan dengan tidak mengindahkan aturan-aturan yang ada.

Dalang kerusakan fitrah manusia itu adalah iblis dan bala tentaranya dari kalangan jin dan manusia. Allah shubhallahu ta’ala menerangkan dalam firman-Nya:

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu manusia.” (Al-An’am: 112)

“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa.” (Al-Furqan: 31)

Mulai masa Nabi Adam ‘alaihissalam sampai kurun waktu yang cukup panjang setelahnya, manusia senantiasa berada di atas Islam sebagai agama tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ

“Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (Al-Baqarah: 213)

Kesyirikan berawal pada masa kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Maka Allah mengutus Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai rasul yang pertama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوْحٍ وَالنَّبِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya.” (An-Nisa`: 163)

Jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh ‘alaihimassalam adalah sepuluh generasi yang seluruhnya berada di atas Islam, sebagaimana penjelasan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Menurut Ibnul Qayyim rahimahullahu, ini merupakan pendapat yang benar. (Al-Muntaqa min Ighatsatil Lahafan hal. 440)

Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat ke-213 dengan bacaan sebagai berikut:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ

“Dahulu manusia itu adalah umat yang satu, lalu mereka berselisih, maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”

Bacaan Ubay bin Ka’b di atas dikuatkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلاَّ أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا

“Dahulu tidaklah manusia melainkan umat yang satu, kemudian mereka berselisih.” (Yunus: 19)

Maksud pernyataan Ibnul Qayyim sebelumnya bahwa para nabi diutus karena perselisihan manusia, mereka telah keluar dari agama yang benar sebagaimana yang mereka pegangi sebelumnya.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah subhanahu wata’ala:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّاً وَلَا سُوَاعاً وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً

“Dan mereka berkata, jangan sekali-kali kalian meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kalian dan jangan sekali-kali kalian meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (Nuh: 23)

“Berhala-berhala yang dulu disembah oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam telah menjadi (sesembahan) di negeri Arab setelahnya. Wadd adalah (sesembahan) Bani Kalb di Daumatul Jandal. Suwa’ adalah (sesembahan) Bani Hudzail, Yaghuts adalah sesembahan Bani Murad dan Bani Guthaif di Jauf (negeri Saba’). Ya’uq (sesembahan) Bani Hamdan, dan Nasr (sesembahan) Bani Himyar pada keluarga Dzil Kala’. Mereka adalah nama orang-orang shalih pada kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kepada orang-orang agar membuat berhala / gambar di majelis-majelis mereka dan setan memerintahkan: ‘Namakanlah dengan nama-nama mereka (orang-orang shalih tersebut dengan tujuan agar kalian merasa tetap diawasi dan dibimbing oleh orang-orang shalih tersebut).’ Mereka melakukannya dan (pada waktu itu berhala tersebut) belum disembah hingga mereka (para pembuat berhala dengan tujuan awal mereka) binasa dan ilmu (tauhid) terlupakan (dihapus), maka berhala itu menjadi sesembahan.” (Shahih, HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 4599)

Inilah kerusakan yang paling besar dan pertama kali menimpa fitrah manusia di masa Nabi Nuh ‘alaihis salam. Yaitu kerusakan i’tiqad (keyakinan) yang berwujud kesyirikan kepada Allah subhanahu wata’ala. Kerusakan ini pula yang menimpa umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai hari kiamat. Pada akhirnya, di atas kerusakan ini mereka mendapat kehinaan dan penghinaan, kerendahan dan perendahan, malapetaka demi malapetaka, kehancuran, kerusakan, kemunduran, dsb. Sunnatullah ini telah menimpa umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga harus terwarnai hidup mereka dengan kesyirikan di dunia. Bahkan apa yang mereka lakukan telah mencapai puncaknya di mana menjadikan kesyirikan sebagai wujud ketauhidan kepada Allah subhanahu wata’ala dan kecintaan kepada wali-wali Allah subhanallahu ta’ala.

Tentang kebenaran sunnatullah ini, dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam haditsnya:

“Kalian benar-benar akan mengikuti langkah umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Kalaupun seandainya mereka masuk ke lubang binatang dhab (semacam biawak), niscaya kalian akan memasukinya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 3456, Muslim no. 2669 dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

KESYIRIKAN SEBELUM DIUTUSNYA RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam

Sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, umat ini akan terus mengikuti langkah umat sebelumnya. Tentunya juga tidak terlepas dari mengikuti mereka dalam peribadatan kepada selain Allah subhanahu wata’ala. Hal yang demikian ini akan terjadi sampai hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak akan terjadi hari kiamat sampai kabilah-kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik.” (HR. Abu Dawud no. 4252, Ibnu Majah no.3952 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, 3/801 no. 3577 dan dalam Shahih Ibnu Majah, 2/352 no. 3192 dari shahabat Tsauban)

Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, bangsa Arab terbagi menjadi dua. Satu kelompok mengikuti agama-agama terdahulu seperti agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi sedangkan satu kelompok lagi mengikuti agama Nabi Ibrahim yang lurus, terlebih di negeri Hijaz, Makkah Al-Mukarramah.

Sampai pada akhirnya muncul seseorang yang bernama ‘Amr bin Luhai Al-Khuza’i, seorang raja di negeri Hijaz. Dia dikenal sebagai ahli ibadah, shalih, dsb.

Suatu waktu, ia pergi ke negeri Syam untuk berobat. ‘Amr bin Luhai melihat penduduk negeri Syam menyembah berhala dan dia menganggap baik perbuatan tersebut. Pulang dari Syam, ‘Amr bin Luhai mendapatkan bisikan tentang harta terpendam berupa patung peninggalan nabi Nuh ‘alaihissalam, kemudian digalinya dan membawa patung yang digali dari peninggalan kaum Nuh ‘alaihis salam. Lalu dia membagikannya kepada kabilah Arab dan memerintahkan untuk menyembahnya. Orang-orang pun menyambut dan menerima seruan tersebut hingga menjadikan kesyirikan masuk ke negeri Hijaz dan negeri lainnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi nabi yang terakhir.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ‘Amr bin Luhai Al-Khuza’i:

“Aku menyaksikan ‘Amr bin Luhai Al-Khuza’i menarik isi perutnya di dalam neraka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 3521 dan Muslim no. 2856 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , lihat Syarah Masail Al-Jahiliyyah karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan dan Mukhtashar Sirah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab, hal. 12)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia kepada agama tauhid dan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya sampai agama tauhid tegak kembali dan runtuh segala penyembahan terhadap berhala. Saat itulah Allah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi alam semesta. Selanjutnya, generasi yang terbaik dari umat ini berjalan di atas ajaran tauhid.

KESYIRIKAN KEMBALI MEREBAK SETELAH ZAMAN RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam

Namun setelah masa mereka berlalu, umat ini kembali didominasi oleh berbagai kebodohan. Mereka terkungkung dengan berbagai pemikiran baru yang mengembalikan kepada kesyirikan. Bahkan pengaruh dari agama-agama lain cukup kuat mewarnai semangat keagamaan yang mereka miliki.

Sejarah penyebaran syirik terulang pada umat ini disebabkan para penyeru kesesatan. Sebab lain yang tak kalah penting adalah pembangunan kuburan-kuburan dalam rangka pengagungan terhadap para wali dan orang-orang shalih secara berlebihan. Sehingga kuburan menjadi tempat pengagungan, lantas menjadi berhala yang disembah selain Allah. Berbagai amalan diperuntukkan bagi kuburan baik berupa doa, penyembelihan, nadzar dan yang selainnya. (lihat Kitabut Tauhid karya Asy-Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan, hal. 6-7)

Itulah fenomena sejarah perjalanan agama umat manusia sampai zaman ini. Hari-hari belakangan ini, kesyirikan telah sedemikian dahsyat melanda kaum muslimin. Sedikit sekali di antara mereka yang mengerti tentang tauhid dan bersih dari syirik. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh pernah berkata: “Di awal umat ini, jumlah orang yang bertauhid cukup banyak, sedangkan di masa belakangan jumlah mereka sangat sedikit.” (Qurratul ‘Uyun hal. 24)

Kita mendapatkan perkara tauhid sebagai barang langka di kehidupan sebagian masyarakat muslimin. Tidak dengan mudah kita menemuinya walaupun mereka mengaku sebagai muslimin. Karena itu perlu untuk membangkitkan kembali semangat bertauhid di tengah umat ini. Karena tauhid adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia. Wallahu a’lam bish-shawab.

ISLAM MENUNTUN UMATNYA AGAR MENJAUHI SYIRIK

Syirik merupakan satu praktek ibadah kepada selain Allah subhanahu wata’ala. Dengan kata lain, menjadikan tandingan bagi Allah subhanahu wata’ala dalam segala wujud peribadatan. Atau memalingkan peribadatan yang semestinya diberikan kepada Allah subhanahu wata’ala kepada selain-Nya. Ini merupakan wujud kedzaliman dan kegelapan karena memberikan hak peribadatan kepada selain Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Islam adalah agama rahmat, agama keselamatan dan agama yang terang benderang, malamnya seperti siangnya. Diturunkan Allah subhanahu wata’ala sebagai agama nikmat yang telah diridhainya.

“Pada hari ini aku sempurnakan agama kalian dan aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)

“Agama yang benar di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

“Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima oleh Allah dan dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 84)

Islam sangat menentang segala bentuk kesyirikan, memerangi segala bentuk kedzaliman, dan menyinari kegelapan hidup dengan lentera wahyu Al Qur’an dan As Sunnah. Kesyirikan bukan dari Islam sedikitpun sehingga (tidak pantas) dihidupkan. Kesyirikan bukan lambang tauhid yang harus diperjuangkan. Kesyirikan adalah agama iblis dan tentara-tentaranya. Kesyirikan adalah kesesatan, kehinaan, kerendahan, kegelapan, kedzaliman, kegagalan dan kehancuran dunia akhirat.

Wallahu a’lam.

Sumber:

  1. Jangan kau Duakan Ibadahmu. Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=137.
  2. Tauhid Uluhiyyah, Inti Tauhid. Penulis : Al-Ustadz Abdul Mu’thi. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=442.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: