Taqlid dan Fanatisme Golongan


Definisi Taqlid

  • Taqlid secara bahasa diambil dari kata () yang bermakna mengikatkan sesuatu di leher. Jadi orang yang taqlid kepada seorang tokoh, ibarat diberi tali yang mengikat lehernya untuk ditarik seakan-akan hewan ternak.
  • Sedangkan menurut istilah, taqlid artinya beramal dengan pendapat seseorang atau golongan tanpa didasari oleh dalil atau hujjah yang jelas.

Fenomena Taqlid (Fanatisme Golongan)

“Kiai-ku lebih pintar dari kamu!”, “Imamku-lah yang paling benar!”, ungkapan-ungkapan seperti ini sering kita dengar ketika ada nasehat disampaikan. Inilah antara lain gambaran taqlid dan fanatisme golongan, penyakit yang telah lama menjangkiti umat.

Hancurnya kaum muslimin dan jatuhnya mereka ke dalam kehinaan tidak lain disebabkan kebodohan mereka terhadap Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, serta tidak memahami pengertian dan pelajaran yang terdapat pada keduanya.

Demikian pula yang menjatuhkan umat Islam ke dalam perbuatan bid’ah serta khurafat. Bahkan kebodohan terhadap agamanya ini merupakan faktor utama yang menumbuhsuburkan taqlid.

Berbagai kebid’ahan tumbuh dengan subur di atas ketaqlidan dan kebodohan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Hal ini juga disebabkan adanya para dajjal (pembohong besar) dari berbagai golongan (sempalan) yang menyandarkan dirinya kepada imam-imam madzhab yang telah dikenal. Padahal pengakuan mereka yang menyebutkan bahwa mereka adalah pengikut para imam tersebut adalah pengakuan dusta.

Kita dapati dalam kitab-kitab tentang tafsir, fiqih, tasawwuf ataupun syarh hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbagai kebid’ahan bahkan khurafat yang ditulis oleh mereka yang menyatakan dirinya bermadzhab Fulani. Innaa lillah wa Innaa ilaihi raji’un.

Begitu hebatnya penyakit ini melanda kaum muslimin seakan-akan sudah menjadi wabah yang tidak ada obatnya di dunia ini. Dan akibat taqlid ini, muncullah sikap-sikap fanatik terhadap apa yang ada pada dirinya atau kelompoknya. Sampai-sampai seorang yang bermadzhab dengan satu madzhab tertentu tidak mau menikahkan puterinya dengan orang dari madzhab lain, tidak mau pula shalat di belakang imam yang berbeda madzhab, dan sebagainya. Bahkan yang ironis, di antara penganut madzhab ada yang saling mengkafirkan.

Inilah sesungguhnya penyakit yang mula-mula menimpa makhluk ciptaan Allah. Iblis yang terkutuk, makhluk pertama yang mendurhakai Allah, tidak lain disebabkan oleh sikap fanatiknya, di mana dia merasa unggul karena unsur yang menjadi asal dia diciptakan. Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan hal ini:

“Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api sedangkan dia Kau ciptakan dari tanah.” (Al A’raf: 12)

Terlarangnya Taqlid

Dari pengertian ini, jelaslah bahwa taqlid bukanlah ilmu dan ini hanyalah kebiasaan orang yang awam (tidak berilmu) dan jahil. Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah mencela sikap taqlid ini dalam beberapa tempat dalam Al Qur’an. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Qur’an lalu mereka berpegang dengan kitab itu? Bahkan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.’ Dan demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’ (Rasul itu) berkata: ‘Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapak kalian menganutnya?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.’ Maka Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (Az-Zukhruf: 21-25)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah, mengatakan: “Ayat-ayat ini adalah dalil terbesar tentang batil dan jeleknya taqlid. Karena sesungguhnya orang-orang yang taqlid ini, mengamalkan ajaran agama mereka hanyalah dengan pendapat para pendahulu mereka yang diwarisi secara turun temurun. Dan apabila datang seorang juru dakwah yang mengajak mereka keluar dari kesesatan, kembali kepada al-haq, atau menjauhkan mereka dari kebid’ahan yang mereka yakini dan warisi dari para pendahulu mereka itu tanpa didasari dalil yang jelas –hanya berdasarkan katanya dan katanya-, mereka mengatakan kalimat yang sama dengan orang-orang yang biasa bermewah-mewah: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’ Atau ungkapan lain yang semakna dengan ini.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli ibadah mereka sebagai Rabb selain Allah.” (At-Taubah: 31)

Maksudnya, mereka menjadikan para ulama dan ahli ibadah di kalangan mereka sebagai Rabb selain Allah. Artinya, ketika para ulama dan ahli ibadah itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah, mereka mengikuti penghalalan tersebut (yakni penentuan halal-haram tanpa disertai dalil yang jelas dari Kitab dan Nabi mereka-red). Dan ketika mereka mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah mereka juga mengikuti pengharaman tersebut. Bahkan ketika para ulama dan ahli ibadah tersebut menetapkan suatu syariat yang baru dalam agama mereka yang bertentangan dengan ajaran para Rasul itu, mereka juga mengikutinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya? Mereka menjawab: ‘Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya’.” (Al-Anbiya’: 52-53)

Dan perhatikanlah bagaimana jawaban yang mereka berikan. Walhasil, taqlid ini menghalangi mereka untuk menerima kebenaran, sebagaimana disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” (Az-Zukhruf: 24)

Dan para ulama menjadikan ayat-ayat ini dan yang semakna dengannya sebagai hujjah (pedoman hukum) tentang batilnya taqlid. Tidaklah menjadi halangan bagi mereka untuk berhujjah dengan ayat ini meskipun ayat ini berbicara tentang orang-orang kafir, karena kesamaan yang terjadi bukan pada kekufuran satu golongan atau keimanan yang lain, akan tetapi kesamaannya adalah bahwa taqlid itu terjadi karena keduanya sama-sama mengikuti suatu keyakinan atau pendapat tanpa hujjah atau dalil yang jelas.

Demi Allah Yang Maha Agung, sesungguhnya kaum muslimin itu, ketika benar-benar sebagai kaum muslimin yang sempurna dan benar keislaman mereka, keadaan mereka senantiasa mendapat pertolongan dan menjadi pahlawan-pahlawan yang membebaskan berbagai negara dan menundukkannya di bawah kedaulatan muslimin. Akan tetapi ketika mereka mengubah-ubah perintah-perintah Allah, maka Allah-pun memberi balasan kepada mereka dengan mengganti nikmat-Nya kepada mereka, dan menghentikan kekhalifahan yang ada di tangan mereka. Dan inilah kenyataan yang kita saksikan dan kita rasakan.

Al-‘Allamah Al-Ma’shumi mengatakan bahwa termasuk yang berubah adalah adanya prinsip dan kewajiban harusnya seorang muslim bermadzhab dengan satu madzhab tertentu dan bersikap fanatik meskipun dengan alasan yang batil. Padahal madzhab-madzhab ini baru muncul sesudah berakhirnya masa tiga generasi terbaik umat ini. Dan akhirnya dengan bid’ah ini tercapailah tujuan Iblis memecah-belah kaum muslimin. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari hal itu.

Beliau juga menyatakan bahwa pendapat yang menyatakan harusnya seseorang bermadzhab dengan satu madzhab tertentu sesungguhnya dibangun di atas satu kepentingan politik tertentu, dan ambisi-ambisi atau tujuan pribadi. Dan sesungguhnya madzhab yang haq dan wajib diyakini dan diikuti adalah madzhab junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan Imam yang Agung yang wajib diikuti, kemudian para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan apa-apa yang datang dari Rasul kepada kamu maka ambillah dia, dan apa yang kamu dilarang mengerjakannya maka jauhilah!” (Al-Hasyr: 7)

Dan adapun yang dimaksud dengan Sunnah Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin yang harus diikuti tidak lain adalah jalan hidup mereka yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lemahnya Hujjah Taqlid (Fanatisme Golongan)

Ada sebagian orang yang membolehkan taqlid. Namun ternyata hujjah mereka sangat lemah.

Seandainya ada yang mengatakan bahwa sebagian ulama membolehkan taqlid dengan dalil dari Al Qur’an, maka sesungguhnya pendapat itu juga sudah dibantah oleh ulama yang lain, bahkan menjelaskan kerusakan taqlid ini. Berikut ini kami sebutkan keterangan dari Al-Imam Ash-Shan’ani tentang masalah ini:

  • Beliau mengatakan, “Adapun dalil mereka yang membolehkan taqlid ini di antaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui!” (An- Nahl: 43)

Mereka menyatakan bahwa dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan mereka yang tidak mengetahui supaya bertanya kepada orang yang lebih mengetahui daripadanya.

Jawabnya: Pertama-tama, kita katakan bahwasanya mengikuti satu madzhab imam tertentu dan menerima seluruh pendapatnya -di mana tidak boleh seseorang keluar dari pendapat itu sedikitpun- adalah perbuatan bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat, maka apa artinya berdalil dengan satu kebid’ahan.

Perbuatan ini dikatakan sebagai satu kebid’ahan karena para muqallid (orang yang taqlid, red) tidak mungkin dapat menyebutkan satu orang di zaman para shahabat yang mengikuti atau taqlid kepada shahabat lainnya dalam semua tindak tanduk dan pendapatnya, atau menggugurkan pendapat shahabat yang lain, atau menta’wil ayat-ayat dan hadits agar sesuai dengan pendapat dan keyakinan orang yang diikutinya. Dan hal ini jelas diketahui oleh siapapun bahwa tidak pernah terjadi demikian di kalangan para shahabat dan bahkan di zaman tiga generasi terbaik umat ini seperti yang telah dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku (yang aku hidup pada masanya), kemudian (generasi) berikutnya dan berikutnya kemudian (mulai) tersebarlah kedustaan.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud z)

Dan bid’ah taqlid ini baru muncul sesudah tiga abad pertama ini. Adapun ayat yang mereka jadikan sebagai dalil, maka sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan orang yang tidak berilmu untuk bertanya kepada ahli dzikr (ulama). Dan yang dimaksud dengan Adz-Dzikr adalah Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana juga dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu)!” (Al-Ahzab: 34)

Dan firman-Nya:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah).” (Al-Jum’ah: 2).

Dengan demikian, perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini adalah perintah kepada orang yang jahil (bodoh) supaya bertanya kepada orang yang mengerti tentang Al Qur’an dan Hadits Rasulullah subhanahu wa ta’ala mengenai hal-hal yang terdapat pada keduanya. Dan apabila ulama sudah menerangkan keduanya kepada yang bertanya, maka wajib bagi si penanya untuk mengikuti keterangan yang disampaikan ulama tersebut.

Perhatikanlah Ibnu ‘Abbas, bagaimana dia bertanya kepada para shahabat yang lain tentang apa yang diucapkan dan dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga bagaimana para shahabat bertanya kepada para isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal-hal yang luput dari penglihatan mereka, khususnya kepada ‘Aisyah radiallahuanhuma. Bahkan demikian pula keadaan para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, mereka bertanya kepada yang lain tentang ucapan dan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

  • Dalil kedua mereka adalah hadits tentang seorang pekerja yang berzina dengan isteri majikannya. Ayah pekerja ini mengatakan, “Saya bertanya kepada ahli ilmu, dan mereka menerangkan bahwa anakku harus dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun dan isteri orang ini harus dirajam.” Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari, dan mereka mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari taqlid kepada orang yang lebih berilmu daripada orang tersebut.

Jawabnya: bahwasanya orang ini bertanya kepada ahli ilmu dan mereka memberi fatwa dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai ketetapan (sunnah) tersebut dalam masalah itu. Dan hadits ini merupakan pendukung bagi ayat tersebut, karena yang dimaksud dengan bertanya kepada ahli dzikr adalah bertanya tentang Al Kitab (Al Qur’an) dan As Sunnah bukan tentang pendapat mereka pribadi.

  • Dalil berikutnya, seperti disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali.” (At-Taubah: 122)

Mereka menyatakan wajibnya menerima peringatan yang disampaikan itu, dan ini berarti taqlid kepada mereka.
Jawabnya: Ini menunjukkan ketidaktahuan mereka tentang pengertian lafaz indzar (memberi peringatan). Bahwasanya seseorang baru dikatakan memberi peringatan apabila dia menyampaikannya dengan hujjah (dalil) yang jelas. Sedangkan orang yang memberi peringatan tanpa hujjah atau dalil maka dia belumlah dikatakan memberi peringatan. Dengan demikian, pengertian “memberi peringatan” dalam ayat ini adalah memberi keterangan kepada mereka dengan hujjah dan bukti sesuai dengan apa yang telah mereka fahami dari hukum-hukum Islam ini.

Dan bukankah sudah jelas bagi kita bagaimana para malaikat penjaga neraka berkata kepada para penghuni neraka, seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

”Apakah belum pernah datang kepada kamu seorang pemberi peringatan? Mereka menjawab: ‘Benar ada. Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, lalu kami dustakan dia dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar’. Dan mereka berkata pula: ’Seandainya kami mau mendengar atau memikirkannya niscaya kami tidak akan menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala’.” (Al-Mulk: 8-10)

Mereka mengakui bahwa memang sudah datang seorang pemberi peringatan kepada mereka. Dan peringatan tersebut tidak lain adalah dengan hujjah atau dalil. Namun mereka mendustakan peringatan tersebut dengan sikap menentang. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan:

“Merekapun mengakui dosa mereka.” (Al-Mulk: 11)

Akhirnya mereka berkata dengan penuh penyesalan seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut. (Seandainya kami mau mendengar) yakni seandainya kami mau mengamalkan apa yang kami dengar (atau memikirkannya) artinya, seandainya kami beramal dengan apa yang kami pahami. Kalau bukan demikian, sebagaimana sudah dimaklumi bahwa sesungguhnya mereka mendengar dan memahami namun mereka tidak mengamalkannya. Dan ini menunjukkan seolah-olah mereka tidak mempunyai pendengaran dan pemikiran.

Inilah sekelumit jawaban atas alasan atau dalil orang-orang yang membolehkan taqlid.

Wallahu a’lam bish shawab.

Artikel Terkait:

Sumber:

  1. Taqlid dan Fanatisme Golongan. Penulis : Al-Ustadz Idral Harits. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=116
  2. Lemahnya Hujjah Taqlid. Penulis : Al-Ustadz Idral Harits. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=115.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: