Berlindung dari kebinasaan ahlul kitab (Tafsir)


فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـذَا مِنْ عِندِ اللّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakan: “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al Baqarah: 79)

Penjelasan Mufradat (Kosakata) Khusus

  • Para ulama berselisih pendapat dalam menafsirkan kata وَيْلٌ (wail). Ada yang menafsirkannya dengan adzab (siksaan) atas mereka, sebagaimana terdapat dalam riwayat Ibnu Abbas. Ada pula yang mengatakan “lembah yang terdapat di dasar neraka, yang di dalamnya mengalir nanah”, dan ada pula yang menafsirkan lain. Sementara Asy Syaikh As Sa’dy mengatakan, wail adalah kerasnya siksaan dan penyesalan, yang di dalamnya mengandung ancaman yang sangat keras. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman hal. 56, dan lihat perselisihan ulama dalam menafsirkan kata ini dalam Tafsir Ath Thabary, 1/274, Ma’alim At Tanzil, 1/110).
  • بِأَيْدِيهِمْ “dengan tangan-tangan mereka”

Ada dua kemungkinan yang dimaksud dengan lafadz ini:

Pertama, sebagai ta’kid (penguat) dari kata “menulis”, sebab tidak mungkin seseorang dikatakan menulis kecuali dengan menggunakan tangan. Ini serupa dengan firman Allah yang lainnya: “dan tidaklah burung terbang dengan sayapnya” Dan juga firman-Nya: “mereka berkata dengan mulut-mulut mereka”
Kedua, untuk menjelaskan dosa mereka dan menetapkan kelancangan mereka, karena orang yang melakukan (secara langsung) perbuatan tersebut lebih keji daripada orang yang bukan pelakunya (secara langsung) meski (perbuatan itu) merupakan buah pikirannya. (Al Qurthuby, 2/9)

  • يَكْسِبُونَ . Asal makna Al Kasbu adalah beramal. Maka setiap orang yang mengamalkan secara langsung dikatakan Al Kasib. (Ath Thabary 1/380)

Penjelasan Ayat

Berkata Al ‘Allamah (orang yang dalam ilmunya) Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy t: “Allah  mengancam orang-orang yang melakukan perubahan terhadap Al Kitab, yaitu orang-orang yang mengatakan “Ini berasal dari sisi Allah” terhadap apa yang telah mereka rubah dan mereka tulis. Dan ini merupakan idzhar (penampakan) kebatilan dan menyembunyikan al haq (kebenaran). Mereka melakukan hal itu dalam keadaan berilmu, namun hendak menjualnya dengan harga yang sedikit dan dunia seluruhnya dari awal hingga akhir merupakan harga yang sedikit. Lalu mereka jadikan kebatilan itu sebagai umpan untuk mengambil apa-apa yang ada di tangan manusia.

Mereka telah mendzalimi manusia dari dua sisi, yaitu mengkaburkan agama dan di sisi lain mengambil harta manusia tanpa haq. Bahkan dengan cara paling batil, yang lebih batil dari orang-orang yang mengambil harta dengan cara pemaksaan, pencurian, dan semisalnya. Oleh karena itu Allah mengancam mereka dengan dua hal dengan firman-Nya: ‘Kecelakaan bagi mereka dengan apa yang mereka tulis oleh tangan-tangan mereka yang telah melakukan perubahan dan kebatilan’, dan ‘Kecelakaan bagi mereka dengan apa yang mereka peroleh dari harta’.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 56)

Berkata Al Allamah Ath Thabary dalam tafsirnya, yang dimaksud (ayat tersebut) adalah orang-orang yang mengubah-ubah kitab Allah dari kalangan Yahudi Bani Israil. Dan mereka menulis kitab berdasarkan apa yang telah mereka ubah dengan perubahan-perubahan yang menyelisihi apa yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya Musa ‘alaihissalam. Lalu mereka menjualnya kepada kaum yang tidak mengetahui perubahan tersebut dan tidak pula mengetahui isi kandungan Taurat (yang asli), disebabkan kejahilan mereka terhadap kandungan kitab-kitab Allah karena ingin mendapatkan dunia yang hina. (Ath Thabary, 1/278)

Al Qurthuby t ketika menafsirkan ayat ini mengatakan: “Tatkala perkara (al haq) telah hilang di tengah-tengah mereka hingga menyebabkan rusaknya mereka dan rusak pula tanggung jawab ulama mereka, lalu menenggelamkan diri-diri mereka kepada dunia karena sifat tamak dan rakusnya. Mereka pun mencari hal-hal yang bisa menyebabkan perhatian manusia tertuju kepada mereka. Maka mereka membuat perkara baru dalam syariatnya dan mengubahnya, lalu mereka sertakan ke dalam kitab Taurat sambil berkata kepada orang-orang bodoh dari mereka, “Ini berasal dari Allah”, agar mereka mau menerimanya, agar mereka kokoh jabatan kepemimpinan mereka dan mampu mengendalikan dunia serta memperoleh kotoran-kotorannya.” (Al Qurthuby, 2/7)

Penjelasan para ulama tentang ayat yang mulia ini menunjukkan, Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan beberapa penyimpangan ahlul kitab khususnya dari kalangan Yahudi, yang menyebabkan datangnya kemurkaan Allah atas mereka, di antaranya:
1. Melakukan perubahan terhadap kitab yang Allah turunkan kepada mereka;
2. Menyembunyikan al haq dan menolaknya;
3. Ulama yang jahat;
4. Menjual agama dan akhirat dengan memperoleh dunia yang hina;
5. Mendapatkan harta milik orang lain dengan cara-cara yang haram.
Semua pelanggaran yang dilakukan dan diamalkan oleh ahlul kitab tersebut tidak mustahil akan dialami pula oleh umat Rasulullah . Bahkan dengan melihat realita umat Islam saat ini, akan ditemukan berbagai pelanggaran itu. Tidaklah ini terjadi melainkan sebagai penegasan terhadap apa yang telah disabdakan Rasulullah :

“Kalian pasti akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jika (mereka) menempuh (masuk ke) lubang biawak kalian pun akan menempuhnya.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah (mereka) Yahudi dan Nashara?” Jawab (Rasulullah): “Siapa lagi?”. (Diriwayatkan oleh Al Bukhari 3/3270, Muslim 4/2669, dari hadits Abu Said Al Khudry radhiallahu ’anhu)

Jika dirinci lagi, pelanggaran-pelanggaran yang menjadi sebab kemurkaan Allah terhadap ahlul kitab adalah sebagai berikut:

a. Mengubah agama Allah dan menafsirkannya dengan penafsiran batil.

(Hal ini mengakibatkan) timbulnya berbagai macam kesesatan berupa syirik, bid’ah, serta berbagai bentuk penolakan terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, lalu menghiasinya dengan label “Islam”, “Inilah yang benar”, dan yang lainnya dari berbagai bentuk propaganda. Ini merupakan tindakan perubahan terhadap syariat Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “(Allah) mencela orang-orang yang mengubah kitab-Nya dan orang awam (ahlul kitab) yang mereka tidak memiliki ilmu kecuali sekedar membaca saja, dan orang-orang yang menulis kebatilan lalu berkata: “Inilah kebenaran dan ini berasal dari Allah.” Dan (Allah) mencela pula orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan oleh Allah berupa Al Kitab yang berisi penjelas dan petunjuk, dalam beberapa tempat di dalam Al Qur’an.

Keempat jenis perbuatan tercela ini ada pada orang-orang yang berpaling dari nash-nash wahyu dan menentangnya dengan menggunakan pendapat mereka sendiri, akal, dan hawa nafsu. Terkadang mereka menyembunyikan hadits dan ayat yang bertentangan dengan pendapat mereka. Di antara mereka pula, ada beberapa golongan yang memalsukan hadits-hadits untuk menyesuaikan madzhab dan hawa nafsu mereka, baik dalam perkara ushul maupun furu’ (cabang). Lalu berkata “Ini berasal dari Allah.” Dan terkadang mereka mengarang buku-buku dengan dasar akal pikiran, perasaan, dan khayalan-khayalan mereka, lalu mengklaim bahwa (kitab-kitab) itulah yang wajib mereka ikuti dan mendahulukannya di atas nash-nash wahyu. “(Ash Shawaiq Al Mursalah, Ibnul Qayyim, 3:1049-1050)

Lalu beliau (Ibnul Qayyim) rahimahulla berkata lagi: “Sesungguhnya orang-orang yang menentang wahyu dengan akal mereka ada lima kelompok:

1. Golongan yang menentang wahyu dengan akal pikiran dan lebih mengutamakannya di atas wahyu. Mereka berkata kepada orang yang berpegang teguh dengan wahyu: “Milik kami akal dan milik kalian adalah naql (wahyu).”

2. Golongan yang menolak wahyu dengan pendapat-pendapat dan qiyas-qiyas (analogi) yang batil. Mereka berkata kepada ahlul hadits (yang berpegang teguh dengan hadits nabi): ”Milik kalian hadits dan milik kami adalah pendapat dan qiyas.”
3. Golongan yang menolak wahyu dengan ilmu hakikat dan perasaan. Mereka berkata: “Milik kalian syariat dan milik kami taubat.”
4, Golongan yang menolak wahyu dengan berbagai manuver politik. Mereka berkata: “Kalian pengamal syariat sedangkan kami adalah politikus.”
5. Golongan yang menolak wahyu dengan pentakwilan yang batil. Mereka berkata: “Kalian ahli dzahir (mengamalkan yang lahir) dan kami ahli bathin (mengamalkan syariat secara batin).”

Setiap pendapat dari kelompok-kelompok tersebut tidak mempunyai dasar sama sekali. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu, sebagaimana yang Allah firmankan:

“Bila mereka tidak menerima (ajakan)mu maka ketahuilah sesungguhnya mereka mengikuti hawa-hawa nafsu mereka.” (Al Qashas: 50)

“Dan berhukumlah di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al Maidah: 49)

(Ash Shawaiq Al Mursalah, 3/1051-1052)

Bandingkanlah apa yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah dengan kondisi kelompok-kelompok Islam yang tersebar dewasa ini. Di antara mereka ada yang berkata:

“Islam tidaklah tegak kecuali dengan berdirinya khilafah Islamiyah.” Kemudian mereka menjadikan slogan tersebut sebagai inti dakwah dan melupakan pokok-pokok ajaran Islam yaitu menyebarkan tauhid dan Sunnah Rasulullah.

Ada lagi yang berkata: “Barangsiapa yang tidak mengenal imam zamannya, maka dia mati jahiliah”, lalu mewajibkan bai’at kepada para pengikutnya dan menganggap kafir orang yang tidak bergabung dengan kelompoknya.

Ada lagi yang berkata: “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara khuruj (keluar) di jalan Allah.” Mereka pun mengeluarkan para da’i jahil yang sangat minim ilmu agama kemudian berpindah dari masjid ke masjid.

Mereka semua mengatakan, amalan dan metode mereka berasal dari sisi Allah. Cukuplah kita mengatakan kepada mereka: “Datangkanlah dalil jika kalian orang-orang yang jujur.”

b. Menyembunyikan Al-Haq

Menyembunyikan al-haq merupakan salah satu dosa besar yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya:

“Dan janganlah kalian mencampur-adukkan yang haq dengan kebatilan dan janganlah kalian menyembunyikan kebenaran sedangkan kalian mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 42)

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelas dan petunjuk dan setelah kami menjelaskannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itulah yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat.” (Al-Baqarah: 159)

Berkata Al-Qurthubi rahimahullah: “Para ulama berdalil dengan ayat ini atas wajibnya menyampaikan ilmu yang haq.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2/185). Dan berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidaklah seseorang menghafal suatu ilmu kemudian dia ditanya tentangnya, lalu dia menyembunyikannya, kecuali didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan terkekang dengan kekangan dari api neraka.” (HR. Ahmad, 2/263, At-Tirmidzi, 5/29, Ibnu Majah, 1/96/261, dari hadits Abu Hurairah radiallahuanhu, dishahihkan oleh Al-Albani dan juga diriwayatkan dari hadits Jabir, Ibnu Mas’ud dan Anas bin Malik radiallahuanhu)

Berkata Qatadah rahimahullah: “Barangsiapa yang mengilmui sesuatu, maka hendaklah dia menyebarkannya dan jauhilah sikap menyembunyikan ilmu. Sesungguhnya menyembunyikan ilmu adalah kebinasaan.” (Tafsir Ath-Thabari, 4/207)

Nash-nash di atas menunjukkan kepada kita diharamkannya menyembunyikan ilmu yang semestinya untuk disampaikan kepada manusia, apakah itu disebabkan karena takut kehilangan kenikmatan dunia berupa jabatan, harta, kemasyhuran, atau bertentangan dengan pendapatnya, madzhab ataukah golongannya. Semuanya termasuk dalam ancaman mendapatkan laknat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Termasuk di sini adalah para pelaku bid’ah yang menisbahkan bid’ah tersebut kepada Islam. Bahkan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dosa ahli bid’ah lebih besar daripada dosa orang yang hanya menyembunyikan (al-haq). Karena jenis yang kedua, hanya menyembunyikan al-haq, sementara ahli bid’ah menyembunyikan al-haq, dan mengajak kepada yang menyelisihinya, maka setiap ahli bid’ah menyembunyikan (al-haq) dan tidak sebaliknya.” (Madarijus Salikin, 1/263)

c. Ulama yang jahat

Penyebab terbesar terjadinya penyimpangan adalah timbulnya para ulama jahat yang memfatwakan sesuatu yang menyelisihi al-haq dalam keadaan mereka mengetahuinya. Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dari manusia tetapi (Allah) mencabutnya dengan dimatikan para ulama. Sehingga ketika tidak tinggal seorang pun yang alim, manusia mengambil pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amru)

Dan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umayyah Al-Jumahi radiallahuanhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat ada tiga: di antaranya adalah ilmu diambil dari orang-orang kecil.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi, Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd (61), Al-Lalikai dalam ‘Ushul ‘Itiqad Ahlus Sunnah (1/102), hadits hasan. Lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi hal. 201)

Berkata Nu’aim ketika ditanya Ibnul Mubarak: “Siapakah orang-orang kecil?” Ia menjawab: “Orang-orang yang berpendapat dengan akalnya.” (Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hal. 201)
Dan diriwayatkan oleh Anas bin Malik radiallahuanhu:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: ‘Wahai Rasulullah, kapankah kita meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar?’ Beliau menjawab: ‘Apabila telah nampak pada kalian apa yang telah nampak pada umat-umat sebelum kalian.’ Kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah apa yang nampak pada umat (sebelum kami)?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Kekuasan dipegang oleh orang-orang kecil (maksudnya adalah orang-orang yang bukan ahlinya) di antara kalian, perbuatan keji dilakukan para pembesar kalian, dan ilmu dimiliki oleh orang yang hina dari kalian.”

Berkata Zaid (salah seorang perawi hadits) yaitu apabila ilmu diambil oleh orang-orang fasik.” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ Ash-Shahih, 1/2)

Oleh karena itu, orang-orang yang selama ini dianggap sebagai orang ‘alim’ atau ‘kiai’ oleh masyarakat, semestinya menjadi panutan dan pembimbing umat Islam untuk kembali ke jalan Allah ajja wa jalla, karena ketergelinciran mereka merupakan ketergelinciran banyak manusia.

Kita menyaksikan di jaman ini, ada orang yang dianggap sebagai ‘alim’ atau ‘kiai’ hanya karena kepandaiannya berorasi di hadapan publik meskipun ceramahnya kosong dari lantunan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hanya dengan bermodalkan sorban di atas kepala, namun sesungguhnya dia adalah orang yang paling tersesat dari jalan Allah dan sangat jauh dari ilmu.

Ada lagi yang disebut ‘alim’ hanya karena berhasil menyandang gelar doktor dari Chicago. Sungguh keadaan umat ini sangat menyedihkan dalam keadaan majelis taklim hanya dijadikan sebagai lembaga. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat: ilmu semakin sedikit dan kebodohan merajalela.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dari Anas bin Malik radiallahuanhu)

d. Menjual Agama Karena Berharap Dunia

Dunia adalah tempat penyeberangan seorang mukmin dan bukan tempat persinggahan. Maka, alangkah meruginya orang-orang yang rela menjual agamanya dan mengganti dengan nilai dunia yang hina dina. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Bahkan kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia sedangkan akhirat lebih baik dan kekal.” (Al-A’la: 16-17)

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahuanhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa mempelajari ilmu yang semestinya dituntut untuk mendapatkan wajah Allah  (namun) dia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (Shahih, HR. Abu Dawud, 12/3664. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Dan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah telah menyebutkan di antara perbuatan-perbuatan jahiliyah adalah “dibesarkannya dunia di dalam hati-hati mereka”.

Padahal jika kembali kepada penjelasan Allah dan Rasul-Nya, akan kita ketahui betapa hina dan rendahnya nilai dunia. Dan berapapun nilai dunia, walaupun dikumpulkan dunia beserta seluruh isi kekayaannya dari awal hingga hari kiamat, tidak akan bisa menandingi satu pun dari amalan syariat yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sekiranya dunia ini mempunyai berat di sisi Allah seperti sayap nyamuk, maka (Allah) tidak akan memberikan seteguk air kepada orang kafir.” (HR. At-Tirmidzi, 4/2320, Ibnu Majah, 2/4110, dari hadits Sahl bin Sa’ad dishahihkan oleh Al-’Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 686)

e. Mengambil Harta Muslimin dengan Cara yang Haram

Asal harta kaum muslimin adalah haram bagi orang lain untuk mengambilnya tanpa seizin pemiliknya. Sebab dengan keislaman seseorang, Allah telah memelihara darah, harta, dan kehormatannya dan ini telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada haji Wada’ sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Bakrah radiallahuanhu.

Dan apa yang telah dimiliki oleh seseorang berupa harta, maka tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk mengambilnya kecuali atas izin pemiliknya. Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak halal harta seorang muslim kecuali atas keridhaan dari dirinya.” (Shahih, HR. Abu Dawud dari Hanifah Ar-Raqasyi. Lihat Shahihul Jami’ no. 7662)

Maka bagaimana halnya dengan orang-orang yang mengambil harta orang lain dengan tanpa haq? Dan yang lebih kejam lagi bila mengambil harta orang lain dengan cara-cara yang dihiasi ‘agama’ sehingga seseorang tidak menyangka bahwa hartanya dikuras dengan cara yang tidak halal, dalam keadaan dia menyangka bahwa itu merupakan amal jariyahnya di kemudian hari.

Telah disebutkan oleh Al-‘Allamah As-Sa’di rahimahullah, bahwa orang yang mengambil harta orang lain tanpa haq dengan alasan “berlandaskan agama” adalah perbuatan yang sangat batil bahkan lebih kejam dari orang yang mengambil harta tersebut dengan cara merampas, mencuri dan yang semisalnya. Oleh karena itu, Allah mengancam mereka dengan dua ancaman: “Kecelakaan terhadap apa yang ditulis oleh tangan-tangan mereka” dan “Kecelakaan terhadap apa yang telah mereka peroleh berupa harta”.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan perlindungan kepada kita agar tidak terjerumus di dalam jeratan setan untuk mengikuti langkah-langkah para penghuni neraka jahannam.

Wabillahi at-taufiq. Wallahu a’lamu bishowwab

Sumber:

  1. Berlindung dari kebinasaan ahlul kitab. Penulis : Al Ustadz Abu Karimah Askary bin Jamaluddin Al Atsary Al Bugisy. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=91.
  2. Berlindung Dari Kebinasaan Ahlul Kitab (Bagian kedua). Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=110.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: