Menggunakan Obat atau Alat untuk Haid / Kesuburan / Kehamilan


Berikut adalah pembahasan mengenai cara mencegah kehamilan yang syar’i dan batasan-batasan penggunaan obat dan pengobatan kesehatan terkait dengan kesuburan, kandungan/kehamilan, dan operasi/bedah seputarnya.

SETIAP ANAK DIJAMIN RIZKINYA OLEH ALLAH Ta’ala

Al-Imam Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati beliau– menjawab [lihat sumber], “Hal itu tidak dibolehkan, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَناَكَحُوا تَكاَثَرُوا فَإِنِّي مُبَاهٍ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Menikahlah kalian dan perbanyaklah keturunan kalian, karena sesungguhnya aku berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat yang lain pada hari kiamat kelak.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk sahabat beliau Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu agar Allah Subhanahu wa Ta’ala membanyakkan harta serta anak keturunan Anas. Disamping itu semua, seseorang terkadang berhadapan dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala (Seperti meninggalnya anaknya, kalau ia membatasi cuma dengan dua anak tentunya anaknya sekarang tinggal satu. Kalau meninggal kedua-duanya niscaya tak ada lagi keturunan yang dimilikinya. -pen.).

Menunda Kehamilan dengan Alasan Syar’i dan dengan Cara yang Dibenarkan yaitu ‘Azal

Bila mau tidak mau harus menunda kehamilan istri maka di sana ada satu perkara yaitu permasalahan ‘azal (mengeluarkan sperma/mani di luar kemaluan istri. -pen.). Dibolehkan bagi seorang suami menggauli istrinya dengan melakukan ‘azal. Adapun obat-obatan, mengangkat rahim, atau perkara yang lainnya, tidaklah diperbolehkan.

Kemudian, di balik semua ini perlu kita sadari bahwa musuh-musuh Islam menghias-hiasi di hadapan kita perbuatan yang menyelisihi agama kita. Seandainya mereka mampu untuk menghasut manusia, niscaya mereka akan melakukannya. Bahkan mereka telah berupaya melakukannya. Sekarang saya bertanya kepada anda semua, wahai sekalian saudaraku. Ada orang di zaman ini memiliki sepuluh anak. Lalu apakah kalian lihat Allah Subhanahu wa Ta’ala menyia-nyiakan dan menelantarkannya, atau malah Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan rezeki untuknya dari arah yang tidak diduganya?

Jika seseorang tidak menghendaki istrinya hamil karena alasan dunia, takut tidak bisa memberi makan atau menghidupi si anak, maka sungguh ia telah salah. Karena Rabbul Izzah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada satu makhluk melata pun di muka bumi melainkan hanya Allah lah yang menanggung rezekinya.” (Hud: 6)

Juga firman-Nya:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ

“Berapa banyak hewan yang tidak dapat membawa/mengurus rezekinya sendiri, Allah lah yang memberikan rezeki kepadanya dan kepada kalian.” (Al-’Ankabut: 60)

Bila alasannya karena mengkhawatirkan mudarat dapat menimpa si istri bila ia mengandung, maka suami dapat melakukan ‘azal. Adapun memakai cara-cara yang datang atau berasal dari musuh-musuh Islam, baik berupa obat-obatan pencegah kehamilan atau selainnya, maka ini tidak kami sarankan. ‘Azal itu makruh akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan sahabatnya untuk melakukannya ketika mereka meminta perkenan beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ نَسْمَةٍ إِلاَّ وَهُوَ خَالِقُهَا إِلاَّ وَهِيَ كَائِنَةٌ

“Tidak ada satu jiwa pun melainkan Allah yang menciptakannya. Bila Allah menghendaki menciptakannya niscaya jiwa tersebut akan terwujud.”

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menyatakan:

كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ

“Kami dulunya melakukan ‘azal sementara Al-Qur’an masih turun (wahyu belum terputus, pen.).”

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rukhshah/keringanan untuk melakukan ‘azal. Walhamdulillahi Rabbil Alamin.” (Ijabatus Sa’il ‘ala Ahammil Masa’il, hal. 467-468)

PERMASALAHAN TOLERANSI MENGGUNAKAN PENGOBATAN SEPUTAR KESUBURAN DAN KANDUNGAN

Untuk menjelaskan masalah penggunaan obat atau jamu dalam rangka mencegah atau mendatangkan haid, berikut kami nukilkan fatwa As Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah (ulama besar Arab Saudi) yang tercantum dalam kitabnya Risalah fid Dima’ith Thabi‘iyyah lin Nisa’ dalam masalah: Penggunaan obat atau jamu yang dapat mencegah datangnya haid atau sebaliknya, dan obat atau jamu yang dapat mencegah kehamilan atau menggugurkannya (, serta pembedahan caesar-red).

Penggunaan obat/jamu yang dapat mencegah haid dibolehkan dengan dua syarat:

Pertama, apabila tidak dikhawatirkan terjadinya mudharat pada si wanita. Dengan demikian, apabila dikhawatirkan ada mudharat maka penggunaan obat/ jamu tersebut tidak dibolehkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian kepada kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)

“Janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian.” (An-Nisa: 29)

Kedua, harus mendapat izin suami apabila terkait dengan suami. Misalnya wanita tersebut tengah dalam masa ‘iddah, yang berarti selama ‘iddah itu wajib bagi suami untuk menafkahinya. Ternyata si wanita menggunakan obat/ jamu pencegah haid agar panjang masa berakhirnya ‘iddah dan bertambah lama waktunya untuk mendapat nafkah. Hal seperti ini tidak dibolehkan kecuali dengan izin suami. Demikian pula apabila obat/ jamu pencegah haid itu dipastikan dapat mencegah kehamilan, maka harus seizin suami dalam pemakaiannya.

Bila ternyata dua syarat di atas terpenuhi maka yang lebih utama adalah tidak menggunakan obat/jamu tersebut, kecuali bila ada kebutuhan mendesak. Karena, membiarkan sesuatu yang bersifat thabi‘i (alami) seperti apa adanya, lebih dapat menjaga kesehatan. Pada akhirnya, keselamatanlah yang diperoleh.

Adapun menggunakan obat/jamu untuk mendatangkan haid maka dibolehkan dengan dua syarat juga:

Pertama, hal itu dilakukan bukan sebagai upaya tipu daya untuk melepaskan diri dari kewajiban. Misalnya seorang wanita menggunakannya ketika mendekati bulan Ramadlan agar ia tidak puasa atau gugur darinya kewajiban shalat, dan yang semisalnya.

Kedua, harus dengan izin suami, karena haid dapat menghalangi suami untuk menyempurnakan istimta‘ (bernikmat-nikmat dengan istri). Sementara seorang istri tidak boleh menggunakan sesuatu yang dapat menghalangi suami untuk mendapatkan haknya kecuali bila si suami ridha. Bila wanita yang menggunakan obat tersebut ternyata statusnya ditalak oleh suami dengan talak raj‘i (bisa rujuk kembali dan sebelum berakhirnya ‘iddah dapat berkumpul lagi tanpa memperbaharui pernikahan), maka hal itu menyebabkan penyegeraan jatuhnya hak suami untuk rujuk (tanpa harus memperbaharui pernikahan).

Terkait dengan penggunaan obat/jamu untuk mencegah kehamilan, ada dua masalah:

Pertama, obat/jamu yang mencegah kehamilan dalam tempo yang terus menerus. Hal ini tidak diperbolehkan karena memutus kehamilan seorang wanita berarti meminimalkan keturunan. Dan hal ini menyelisihi maksud dari penetap syariat yang menghendaki untuk memperbanyak umat Islam. Selain itu, seorang wanita yang menggunakan obat semacam ini, tidak bisa merasa aman dari kemungkinan meninggalnya anak-anak yang telah ia miliki, hingga dimungkinkan suatu ketika ia menjadi seorang janda tanpa keturunan.

Kedua, obat itu hanya mencegah kehamilan dalam waktu tertentu, misalnya wanita itu sering hamil karena itu ia ingin mengatur kehamilannya setiap dua tahun atau yang semisalnya. Maka ini dibolehkan dengan syarat mendapat izin suami dan tidak mengakibatkan mudharat. Dalilnya adalah perbuatan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melakukan ‘azal di masa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tujuan agar istri mereka tidak hamil. Yang dimaksud ‘azal adalah ketika seorang suami jima‘ dengan istrinya, ia menarik zakarnya dari kemaluan (farji) istrinya saat inzal (keluar sperma) hingga sperma tersebut tidak masuk ke dalam farji namun memancar di luar farji.

Kita tambahkan disini keterangan senada dari Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah [sumber3]:

“Tidak boleh menggunakan obat pencegah kehamilan kecuali dalam keadaan darurat, apabila memang pihak medis/dokter menyatakan kehamilan berisiko pada kematian ibu. Namun menggunakan obat pencegah kehamilan dengan tujuan menunda sementara kehamilan yang berikutnya, tidaklah terlarang bila memang si ibu membutuhkannya. Misalnya karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk hamil dalam interval waktu yang berdekatan, atau bila si ibu hamil lagi akan memudaratkan anak/bayinya yang masih menyusu. Dengan ketentuan, obat tersebut tidak memutus/menghentikan kehamilan sama sekali, tapi hanya sekedar menundanya. Bila memang demikian tidaklah terlarang sesuai dengan kebutuhan yang ada, dan tentunya setelah mendapat saran dari dokter spesialis kandungan.” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/175)

Lalu mengenai penggunaan obat/jamu untuk menggugurkan kandungan ada dua keadaan:

Pertama, si wanita menggunakan obat tersebut dengan maksud untuk merusak/membuang janin yang dikandungnya. Perbuatan ini bila dilakukan setelah ditiupkan ruh pada janin, hukumnya haram tanpa diragukan lagi. Karena berarti membunuh jiwa yang diharamkan tanpa hak, sementara membunuh jiwa seperti ini haram menurut Al Qur’an, As Sunnah, dan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin.

Apabila dilakukan sebelum ditiupkan ruh, ulama berselisih tentang kebolehannya. Di antara mereka ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Ada pula yang membolehkan selama janin belum menjadi ‘alaqah (segumpal darah) yakni selama belum lewat waktu 40 hari. Ada di antara mereka yang berpendapat bolehnya selama belum jelas bentuk janin sebagai bentuk manusia.

Dari pendapat yang ada, yang lebih hati-hati adalah melarang perbuatan tersebut kecuali bila ada kebutuhan mendesak seperti si ibu menderita sakit yang membuatnya tidak bisa menanggung kehamilannya, atau alasan yang semisal. Dalam keadaan seperti ini, boleh menggugurkannya kecuali bila telah berlalu waktu yang memungkinkan janin tersebut telah jelas bentuknya sebagai bentuk manusia, maka menggugurkannya terlarang. Wallahu a‘lam.

Kedua, tidak memaksudkan untuk merusak/ membuang janin yang dikandung apabila penggunaan obat tersebut mendekati melahirkan (yakni sebagai upaya memudahkan keluarnya janin dari rahim ibunya). Maka hal ini dibolehkan dengan syarat tidak bermudharat bagi si ibu dan juga anaknya, dan tidak butuh operasi/pembedahan.

Bila terpaksa harus dibedah (operasi caesar-red) maka ada empat keadaan:

a). Ibu dan anak yang dikandung dalam keadaan hidup maka tidak boleh dilakukan pembedahan kecuali karena darurat, misalnya si ibu sulit melahirkan maka butuh dibedah untuk mengeluarkan bayinya. Pembedahan ini tidak boleh dilakukan, karena tubuh merupakan amanah di sisi seorang hamba, yang tidak pantas dikenakan sesuatu yang mengkhawatirkan padanya kecuali untuk maslahat yang besar. Disamping itu, pembedahan yang disangka tidak ada mudharatnya, namun terkadang membawa mudharat.

b). Si ibu sudah menjadi mayat demikian pula janin yang dikandung. Maka tidak boleh dilakukan bedah untuk mengeluarkan janin yang telah mati tersebut karena tidak ada faedahnya.

c). Bila si ibu masih hidup sementara janinnya telah mati, maka boleh dilakukan pembedahan untuk mengeluarkan janin tersebut kecuali bila dikhawatirkan mudharat atas si ibu. Hal ini dibolehkan karena secara dzahir, wallahu a‘lam, janin apabila telah mati di dalam perut nyaris tidak bisa dikeluarkan kecuali dengan jalan operasi, sementara bila tetap dibiarkan dalam perut ibunya akan bermudharat bagi si ibu dan mencegahnya dari kehamilan berikutnya.

d). Si ibu sudah meninggal sementara janinnya masih hidup. Maka apabila tipis harapan janin akan tetap hidup setelahnya, tidak boleh dilakukan pembedahan. Namun sebaliknya bila ada harapan hidup sementara sebagian tubuh janin telah keluar maka perut ibunya dibelah untuk mengeluarkan janin tersebut. Apabila belum ada yang keluar dari bagian tubuh janin, maka berkata teman-teman kami -semoga Allah merahmati mereka-: “Tidak boleh dibelah perut si ibu untuk mengeluarkan janinnya karena perbuatan demikian berarti mencacati mayat.”

Namun yang benar, boleh dibelah perut si ibu apabila tidak ada cara lain untuk mengeluarkannya selain dibedah. Pendapat yang terakhir ini dipilih oleh Ibnu Hubairah. Dalam Al Inshaf (karya Al-Mirdawi 2:556), dikatakan, pendapat ini yang lebih utama.

Aku katakan: Terlebih lagi pada zaman kita ini, dimana operasi bedah tidak sampai membuat cacat tubuh karena setelah dibelah perut tersebut dijahit kembali sebagaimana sedia kala. Dan karena kehormatan orang yang hidup, lebih besar daripada kehormatan orang yang mati. Dan karena menyelamatkan orang yang harus dijaga jiwanya dari kebinasaan adalah wajib, sementara janin adalah sosok insan yang harus dipelihara jiwanya, maka wajib menyelamatkannya. Wallahu a‘lam.”
(Risalah fid Dima’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t hal. 57 – 63)

Sumber:

  1. PENGGUNAAN OBAT UNTUK MENCEGAH HAID. Penulis : Ummu Ishaq Al-Atsariyyah. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=76.
  2. Sterilisasi. Penulis : Redaksi Sakinah. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=824. Merupakan jawaban Al-Imam Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati beliau– atas pertanyaan: Apa pendapat anda terhadap seorang suami yang menyetujui dilakukannya sterilisasi atau semacamnya terhadap istrinya di rumah sakit guna mencegah kehamilan?
  3. Bolehkah Ber-KB Untuk Kepentingan Tarbiyah Anak? Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=607. Merupakan jawaban Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah atas pertanyaan: Apakah dibolehkan menggunakan obat pencegah kehamilan untuk mengatur/menjarangkan kehamilan dengan tujuan agar dapat mendidik anak yang masih kecil?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: