Lafadz Adzan ketika Turun Hujan


Oleh:  Zuhair Syarif

Ketika turun hujan pada suatu malam, saya mengumandangkan adzan di suatu masjid dan di dalam lafadz adzan itu saya menyuarakan suatu lafadz yang seakan-akan kaum muslimin di tempat itu mengingkarinya karena lafadz tersebut jarang dikumandangkan, khususnya di Indonesia. Para mu`adzdzin seharusnya melafadzkannya ketika turun hujan. Maka lewat tulisan ini saya mengemukakan landasan dan dalil atas apa yang telah saya perbuat serta menerangkan lafadz yang disyariatkan oleh manusia terbaik shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah dijalankan pula oleh tiga generasi terbaik radliallahu ‘anhum ajma’in.

Setelah saya menelaah kitab-kitab hadits para ulama dan mencari di tiga maktabah, saya menemukan sebuah kitab pengobat haus yaitu Irwa`ul Ghalil (selanjutnya disingkat Irwa`) karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hafidhahullah. Di dalamnya saya dapatkan hadits-hadits dengan beberapa jalan di antaranya:

1. Riwayat Ibnu ‘Umar:

إِنَّهُ كَانَ يَأْمُرُ الْمُنَادِيَ فَيُنَادِى بِالصَّلاَةِ صَلُّوْا فِى رِحَالِكُمْ فِى اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ الْمُطِيْرَةِ فِى السَّفَرِ. (صححه الشيخ الألبانى فى الإرواء (٥٥٣) وقال: أخرجه البخارى ١/١٦٦ ومسلم ٢/١٤۷ وأبو عوانة ٢/٣٤۸ وأبو داود ١٠٦١ و ١٠٦٢ والدارمى ١/٢٩٢ والبيهقى ٣/۸٠ وأحمد ٢، ٥٣، ١٠٣)

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruf muadzdzinnya (untuk beradzan), maka muadzdzin tersebut menyeru untuk shalat dengan (lafadz): Shalluu fii rihaalikum (shalatlah kalian di rihal kalian) di waktu malam yang dingin dan hujan di kala safar. (Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwa` no. 553, beliau berkata: Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari 1/166, Muslim 2/147, Abu ‘Uwanah 2/348, Abu Dawud 1061, 1062, Ad-Darimi 1/292, Baihaqi 3/70 dan Ahmad 2/4, 53, 103), semua dari jalan Nafi’.

Beliau berkata pula:

أَذَّنَ ابْنُ عُمَرَ فِى لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ بِضَجْنَانَ ثُمَّ قَالَ: صَلُّوْا فِى رِحَالِكُمْ وَأَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ثُمَّ يَقُوْلُ عَلَى أثره: أَلاَ صَلُّوْا فِى الرِّحَالِ فِى اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوِ الْمُطِيْرَةِ فِى السَّفَرِ. (أخرجه مالك ١/۷٣/١٠ والبخارى ١/١۷٣ ومسلم وأبو عوانة وأبو داود ١٠٦٣ والنسائ ١/١٠۷ والبيهقى وأحمد ٢/٦٣)

Ibnu ‘Umar beradzan di malam yang dingin di Dlajnan dan beliau mengucapkan Shalluu fii rihaalikum lalu beliau mengabarkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan muadzdzinnya untuk beradzan, kemudian mengucapkan di akhir adzannya: “Alaa shalluu firrihaal” (Ketahuilah shalatlah kalian di rihal) di malam yang dingin atau hujan dalam safar (perjalanan).” (Dikeluarkan oleh Imam Malik 1/73/10, Bukhari 1/173, Muslim, Abu ‘Uwanah, Abu Dawud 1063, An-Nasa`i 1/107, Baihaqi dan Ahmad 2/63), semua dari jalan Nafi’ tanpa penyebutan di waktu safar.

Hadits Malik tersebut ada muttabi’nya yaitu hadits Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar tanpa menyebutkan di waktu safar yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (937) dan Ahmad (2/63) dari jalan Ibnu ‘Uyainah dari Ayyub. Dikeluarkan pula oleh Abu Dawud dari Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Nafi’. Akan tetapi Imam Malik mengeluarkannya dari Isma’il (Ibnu ‘Aliyah), dan Baihaqi dari Su’bah keduanya dari Ayyub dari Nafi’ dengan menyebutkan safar. Demikian juga Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Ayyub sebagaimana dikatakan oleh Abu Dawud.

Demikian keterangan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dan beliau mengatakan pula: “Inilah yang paling rajih (kuat) karena ada beberapa sebab berikut:

1. Lafadz “di waktu safar” adalah tambahan dari sebagian perawi yang tsiqat (terpercaya).

2. Lafadz tersebut sesuai dengan riwayat ‘Ubaidullah dari Nafi’ di dalam menetapkannya di waktu safar pada riwayat Bukhari dan Muslim yang tidak ada perselisihan tentangnya.

3. Terdapat hadits shahih dari Jabir beliau berkata:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى سَفَرٍ فَمُطِرْنَا فَقَالَ: لِيُصَلَّ مَنْ شَاءَ مِنْكُمْ فِى رَحْلِهِ. (أخرجه مسلم ٥/١٦٠١ وأبو عوانة فى صحيحيهما وأبو داود ١٠٦٥ والطيالسى ١۷٣٦ وعنه الترمذى ٢/٢٦٣ وأحمد ٣/٣١٢، ٣٢۷، ٣٩۷)

Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di suatu perjalanan dan kami kehujanan maka beliau bersabda: “Shalatlah di antara kalian yang mau di rahlnya. (Dikeluarkan oleh Muslim, Abu ‘Uwanah di dalam Shahih keduanya, Abu Dawud (1065), At-Thayalisi(1736), Tirmidzi 2/263 dan Ahmad (3/312, 327, 397) dari jalan Abu Az-Zubair dari Jabir. Berkata Tirmidzi: “Hadits hasan shahih.” Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini shahih sebagaimana yang telah lewat dengan syawahid yang lain, kalau tidak demikian (tidak ada syawahidnya) berarti bahwa Abu Zubair mudallis dan ‘an’anah.

Sedangkan Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar dengan lafadz:

نَادَى مُنَادِى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِذَلِكَ فِى الْمَدِيْنَةِ فِى اللَّيْلَةِ الْمُطِيْرَةِ وَالْغَدَاةِ الْمُقَرَّةِ. (أخرجه أبو داود ١٠٦٤)

Muadzdzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru dengan yang demikian (yakni Shalluu fi rihaalikum) di Madinah pada malam dan pagi yang dingin. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud 1064). Beliau berkata: “Khabar ini diriwayatkan pula oleh Yahya bin Sa’id Al-Anshari dari Al-Qasim dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda yang di dalamnya (riwayat) disebutkan: “pada waktu safar.”

Syaikh Al-Albani berkata: “Ini adalah perajihan yang lain, yang kami rajihkan (kuatkan) tadi dengan berbeda-beda perawi atas Ayyub, bahwa yang betul peristiwa tersebut terjadi pada waktu safar. Maka kesepakatan Ayyub dan ‘Ubaidullah bin ‘Umar atas yang demikian merupakan dalil yang pasti atas kesalahan Ibnu Ishaq atas riwayat Nafi’ dalam perkataannya “di Madinah”. Hal ini diperkuat dengan sebagian hadits yang menyatakan bahwa nida` (adzan) terjadi pada hari Hunain. Di antaranya Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan dari Samurah:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ يَوْمَ حُنَيْنٍ فِى يَوْمٍ مُطِيْرٍ الصَّلاَةُ فِى الرِّحَالِ، وَفِى رِوَايَةٍ: فَأَمَرَ مُنَادِيَةُ فَنَادَى إِنَّ الصَّلاَةَ فِى الرِّحَالِ. (أخرجه أحمد ٥/۷، ١٣، ٢٢ وابن أبى شيبة ٢/٢٩/٢)

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada hari Hunain ketika hari hujan As-shalaah firrihaal (shalat di rihal). Dan dalam riwayat lain, “Beliau menyuruh munadinya (muadzinnya) maka dia menyeru bahwa shalat di rihal.” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 5/7, 13, 22 dan Ibnu Abi Syaibah 2/29/2). Para perawinya kuat kecuali Al-Hasan, ia mudallis dan ‘an’anah tetapi ada syahid dari hadits Abi Al-Malih dari bapaknya:

إِنَّ يَوْمَ حُنَيْنٍ كَانَ مُطِيْرًا قَالَ: فَأَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُنَادِيَهُ أَنَّ الصَّلاَةَ فِى الرِّحَالِ. (أخرجه أبو داود ١٠٥۷ والنسائى ١/١٣۷ وأحمد ٥/۷٤، ۷٥)

Sesungguhnya pada hari Hunain terjadi hujan, beliau (bapak Abi Malih) berkata: maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan muadzdzinnya bahwa shalat di rihal.” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud 1057, An-Nasa`i 1/137 dan Ahmad 5/74, 75) dari jalan Qatadah dari Abi Malik dari bapaknya. Khalid Al-Hadza juga meriwayatkannya dari Abi Qilabah dari Abi Al-Malih dari bapaknya, tetapi beliau mengatakan: “Pada hari Hudaibiyah”. Sedangkan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari jalan ini juga bahwa beliau berkata: “Pada hari Hudaibiyah atau Hunain” dengan keraguan. Kemungkinan yang rajih (kuat) adalah “Pada hari Hunain” karena sesuai dengan riwayat Samurah. Wallahu a’lam.

Arti Kata dalam Hadits

صلوا فى رحالكم: Shalatlah kalian di rihal (rumah) kalian.

الرحال: Berkata ahli bahasa: (رحل) berarti tempat tinggal, bentuk jamaknya adalah rihaal, baik tempat tinggal dari batu, tanah atau shuf (bulu domba) dan lain-lain. (‘Aunul Ma’bud, juz 3 hal. 274)

ضجنان: Shahibus Sihah berkata: “Gunung di sebelah Makkah.” Abu Musa berkata di dalam Dzailul Gharibin: “Suatu tempat atau gunung di antara Makkah dan Madinah.” Dikatakan pula: “Gunung di lembah Makkah.” Berkata Sahibul Faaiq: “Jarak antara Dlajnan dan Makkah kurang lebih 25 mil dan antara dia dan lembah Marisa’ah ada beberapa mil. (Fathul Bari juz 2 hal. 133)

2. Riwayat Abu Malih dari ayahnya, beliau berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْحُدَيْبِيَّةِ وَأَصَابَتْنَا سَمَاءٌ لَمْ تَبُلَّ أَسَافِلُ نِعَالِنَا فَنَادَى مُنَادِى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ((صَلُّوْا فِى رِحَالِكُمْ)). (أخرجه ابن ماجه ٩٣٦ وأحمد والحاكم ١/٢٩٣ قال الألبانى: صحيح الإسناد ووافقه الذهبى وصححه الحافظ أيضا فى الفتح ٢/٩٤ وابن أبى شيبة وابن خزيمة فى صحيحه ٣/١٦٥۷ وأبو داود وصححه الألبانى فى صحيح أبو داود رقم ١٠٥٩).

Sungguh aku telah melihat kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Hudaibiyah lalu kami tertimpa sama` (hujan) yang belum sampai membasahi bagian bawah sandal kami, maka muadzdzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan Shalluu fii rihaalikum (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 936, Ahmad, Al-Hakim 1/293, Syaikh Al-Albani berkata: Shahihul Isnad, disepakati oleh Adz-Dzahabi, dishahihkan pula oleh Al-Hafidz di dalam Al-Fath 2/94, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah di Shahihnya 3/1657 dan Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 1059).

Al-Mundziri berkata: “Abu Malih bernama ‘Amr bin Usamah, dikatakan juga Zaid bin Usamah, Usamah bin ‘Amr, dan ‘Umair bin Usamah. Bukhari dan Muslim bersepakat atas kebolehan berhujjah dengan haditsnya dan dikatakan juga bahwasanya beliau tidak meriwayatkan dari ayahnya tetapi dari anaknya yaitu Al-Malih. (Aunul Ma’bud 272)

Di dalam riwayat ini disebutkan waktu Hudaibiyah dan sudah dijelaskan di atas tentang yang rajih (yaitu terjadi pada hari Hunain)

Arti Kata dalam Hadits

لم تبل أسافل نعالنا: Belum basah bagian bawah sandal kami. Berkata Muhammad Fuad Abdul Baqi: “Ungkapan ini sebagai kinayah (kiasan) yang berarti hujan yang sedikit. (Sunan Ibnu Majah juz 1 hal. 302) Demikian juga perkataan Ibnul Qayyim (‘Aunul Ma’bud juz 3 hal. 273).

سماء: hujan.

3. Riwayat Ibnu ‘Abbas:

أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِى يَوْمٍ مُطِيْرٍ: إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ فَلاَ تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوْا فِى بُيُوْتِكُمْ، قَالَ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُوْنَ عَنْ ذَا؟ قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى أَنَّ الْجُمْعَةَ عِزْمَةٌ. أَوَ إِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُخْرِجَكُمْ فَتَمْشُوْنَ فَى الطِّيْنِ وَالدَّهْضِ.

Bahwasanya Ibnu ‘Abbas berkata kepada muadzdzinnya ketika hari hujan: “Apabila engkau telah mengucapkan asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah, maka jangan engkau ucapkan hayya ‘alas shalaah, tetapi katakanlah shalluu fii buyuutikum“. Perawi berkata: “Seakan-akan manusia mengingkarinya,” maka beliau bertanya: “Apakah kalian heran dengan yang diucapkan orang ini? Sungguh orang yang lebih mulia daripadaku telah melakukannya. Sesungguhnya Jum’at adalah ‘izmah (kewajiban) dan aku tak ingin mengeluarkan kalian sehingga kalian berjalan di tanah basah dan dahdli.” (Syaikh Al-Albani berkata: Shahih di dalam Irwa` 553, dikeluarkan oleh Bukhari 1/229, Muslim 2/148, Abu Dawud 1066 dan Ibnu Majah 939 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani pula dalam Shahih Abu Dawud 1/1066).

Dalam riwayat Muslim dengan lafadz-lafadz:

أَذَّنَ مُؤَذِّنُ ابْنِ عَبَّاسٍ يَوْمَ جُمْعَةٍ فِى يَوْمِ مُطِيْرٍ…. (الحديث نحوه)

Muadzdzin Ibnu ‘Abbas adzan pada hari Jum’at ketika hujan…. (Al-Hadits semisalnya)

Berkata Syaikh Nashiruddin Al-Albani: Muslim memiliki jalan lain dengan ringkas yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf dari Ibnu ‘Abbas, berkata Ibnu ‘Auf: “Aku yakin bahwa beliau (Ibnu ‘Abbas) memarfu’kannya (menyandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau (Ibnu ‘Abbas) berkata:

أَمَرَ مُنَادِيَّ فَنَادَى فِى مُطِيْرٍ أَنْ صَلُّوْا فِى رِحَالِكُمْ. (أخرجه أحمد ١/٢۷۷)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan muadzdzinnya untuk adzan ketika hari hujan dengan lafadz: Shalluu fii rihaalikum. (Dikeluarkan oleh Ahmad (1/277) dari Ibnu Abi ‘Adi dan Ibnu ‘Auf dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al-Albani berkata: Sanadnya shahih atas syarat Bukhari dan Muslim).

Muhammad adalah Ibnu Sirin sedang Ibnu ‘Auf adalah Muhammad bin Ibrahim, semuanya tsiqat (kuat) dan sebagai hujjah di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan (2/29/2) dari jalan lain dari Ibnu ‘Abbas secara munqati’ (terputus sanadnya), namun ada syahid bagi hadits ini yaitu riwayat Nasih bin Al Ala` Abul Ala` maula Bani Hasyim, dia berkata: Berkata kepadaku ‘Ammar bin Abi ‘Ammar maula Bani Hasyim bahwasanya dia melewati Abdurrahman Samurah yang sedang berada di sungai Ummu ‘Abdillah mengalirkan air bersama budak dan pembantunya, maka ‘Ammar berkata kepadanya: “Wahai Aba Sa’id, al jum’ah!” Abdurrahman bin Samurah menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمَ مَطَرٍ وَابِلٍ فَلْيُصَلِّ أَحَدُكُمْ فِى رَحْلِهِ. (أخرجه أحمد ٥/٦٢ والحاكم ١/٢٩٢-٢٩٣)

Apabila hari hujan deras maka shalatlah di antara kalian di rumahnya.” (Dikeluarkan oleh Ahmad (5/62) dan Al-Hakim (1/292-293) Al-Hakim berkata: “Naasih bin Al-Ala` Basri tsiqah (kuat)”. Sedangkan Adz-Dzahabi membantahnya dengan ucapan: “Aku katakan bahwa Imam Nasa`i dan lain-lain mendla’ifkannya (melemahkannya).” Al-Bukhari berkata: mungkarul hadits. Sedangkan Ibnul Madini dan Abu Daud menguatkannya. Albani berkata: “Maka hadits seperti ini hasan dengan syawahid.”

Riwayat-riwayat ini menerangkan bahwa lafadz adzan tadi terjadi ketika hujan. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata: “Sesungguhnya hal ini tidak menafikan (menghilangkan) kemungkinan terjadi pada waktu cerah juga, bahkan mungkin ini lebih dekat (dengan kebenaran). Imam Ahmad meriwayatkan (4/320): “Berkata kepadaku ‘Ali bin ‘Ayyas: berkata kepada kami Isma’il bin ‘Ayyas: berkata kepadaku Yahya bin Sa’id: mengkhabarkan kepadaku Muhammad bin Yahya bin Hibban dari Nu’aim bin An-Naham beliau berkata:

نُوْدِيَ بِالصُّبْحِ فِى يَوْمٍ بَارِدٍ وَأَنَا فِى وَطَرِ امْرَأَتِى فَقُلْتُ: لَيْتَ الْمُنَادِىَ قَالَ مَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ عَلَيْهِ فَنَادَى مُنَادِى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِى آخِرِ ءَاذَانِهِ وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ عَلَيْهِ.

Telah dipanggil untuk shalat subuh pada hari yang dingin dan saya sedang berkeinginan terhadap isteriku, maka aku katakan: “Seandainya muadzdzin berkata: barangsiapa yang duduk tidak ada dosa atasnya”, maka muadzdzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru di akhir adzannya: dan barangsiapa yang duduk maka tidak ada dosa atasnya.” Syaikh Al-Albani berkata: “Sanad hadits ini rawinya tsiqat (kuat) kalau tidak ada Isma’il bin ‘Iyash yang telah dianggap dla’if pada riwayat-riwayatnya dari Hijaziyin (para perawi hijaz). Sedangkan hadits ini termasuk darinya, akan tetapi At Tabrani meriwayatkan dari jalan yang lain denga rawi-rawi shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami (2/48). Maka hadits tersebut dengannya menjadi kuat. Imam Ahmad meriwayatkannya dari jalan lain, beliau berkata: “Berkata kepada kami Abdur Razak: berkata kepadaku Ma’mar dari ‘Ubaid bin ‘Umair dari seorang Syaikh yang tidak disebutkan namanya dari Nu’aim bin An-Naham meriwayatkan semisalnya.

Hadits dengan sanad ini para perawinya tsiqat kecuali Asy-Syaikh yang tidak disebutkan namanya tersebut dan mungkin telah disebutkan namanya pada jalan lain, yaitu pada riwayat Abdur Razak dan diterangkan bahwa syaikh tersebut tsiqat. Al-Hafidh di dalam Fathul Bari (2/81) telah menyambung riwayat tersebut kepada Abdur Razaq dengan sanad yang shahih dari Nu’aim bin An-Naham dengan riwayat serupa.

Arti Kata dalam Hadits

صلوا فى بيوتكم: Shalatlah kalian di rumah kalian.

حي على الصلاة: Marilah shalat.

من خير منى: Orang yang lebih baik dariku, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

الدحض: Berkata Ibnu Attin: Tidak ada makna di sini melainkan bumi ketika tertimpa hujan dan tanah bercampur air sehingga menjadi licin. (Fathul Bari juz 2 hal. 447)

عزمة: Kewajiban.

FIKIH ATAU SYARAH HADITS

1. Peletakan lafadz صلوا فى بيوتكم atau صلوا فى رحالكم dalam riwayat di atas banyak perkataan ulama tentangnya.

Hadits pertama menyebutkan bahwa lafadz tersebut dikumandangkan di akhir adzan, sedang hadits yang ketiga menyebutkan seakan-akan di tengah adzan maka di dalam masalah ini para ulama berselisih pendapat di antaranya:

– Al-Qurthubi berkata ketika menyebutkan riwayat Muslim dengan lafadz-lafadz: mengatakan di akhir adzannya, memungkinkan bahwa yang dimaksud dengannya adalah sebelum selesai adzan karena menggabungkan hadits Ibnu ‘Abbas dan hadits Ibnu ‘Umar. (Fathul Bari juz 2 hal. 134)

– Ibnu Khuzaimah memahami hadits Ibnu ‘Abbas secara dhahir, bahwa lafadz-lafadz tadi dikumandangkan sebagai ganti lafadz hailah (hayya ‘alas shalaah) karena melihat makna keduanya. Makna hayya ‘alas shalaah adalah “marilah kita shalat”, sedang makna ash-shalaatu fir rihal adalah ke belakanglah untuk tidak datang sehingga tidak sesuai jika dua lafadz yang bertentangan (makna) digabungkan. Demikian juga Ibnu Hibban dan Al-Muhib At-Thabari telah membuat bab “Penghilangan lafadz hayya ‘alas shalaah ketika hari hujan.” (Fathul Bari juz 2 hal. 117 dan 134)

– Imam Nawawi berkata: “Di dalam hadits Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu pengumandangan alaa shalluu fii rihaalikum di dalam adzan dan di dalam hadits Ibnu ‘Umar dikumandangkan di akhir adzan maka dua perkara ini boleh, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Syafi’i rahimahullah di dalam kitab Al-‘Umm dalam bab adzan. Pendapat ini telah diikuti jumhur (mayoritas) pengikut (madzhab) kami dalam hal ini.” Maka pelafadzan tersebut boleh sesudah adzan atau di dalam adzan karena tsabit (tetap) riwayat tentang keduanya. Akan tetapi perkataan beliau (Imam Syafi’i): “Peletakan sesudahnya lebih utama karena tetapnya susunan adzan dengan peletakannya dan dari shahabat (madzhab) kami ada yang mengatakan: ‘Tidak dikumandangkan kecuali sesudah selesai adzan’, akan tetapi perkataan ini dla’if (lemah) karena bertentangan dengan dhahir hadits Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu, padahal tidak saling bertentangan di antara hadits Ibnu ‘Umar dan hadits Ibnu ‘Abbas.” (Syarh Shahih Muslim juz 3 hal. 213)

– Imam As-Syaukani berkata tentang riwayat Ibnu ‘Abbas: “Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya muadzdzin tidak mengumandangkan hayya alas shalaah di waktu hujan atau udzur semisalnya tetapi menggantikan tempatnya dengan lafadz shalluu fii buyuutikum. (Nailul Authar juz 3 hal. 156)

– Imam As-Sundi berkata: “Yang jelas bahwasanya dia (muadzdzin) menyempurnakan adzan lalu mengatakan sesudahnya alaa shalluu… dan mungkin pula dia mengucapkannya sesudah lafadz hayya ‘alal falaah. Sehingga lebih utama dikatakan bahwa lafadz itu kadang-kadang di tengah dan kadang-kadang di akhir adzan. (Sunan Nasai juz 2 hal. 342)

– Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata: “Dan ucapannya (muadzdzin) menunjukkan tambahan lafadz adzan secara mutlak baik di dalam adzan atau di akhirnya, bukan sebagai ganti dari hayya ‘alas shalah. Dan telah terdapat gabungan antara dua riwayat (Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abdur razaq dan selain beliau dengan sanad yang shahih dari Nu’aim bin An-Naham, dia berkata: Muadzdzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beradzan untuk shalat shubuh pada malam yang dingin maka aku berandai-andai kalau dia mengatakan dan barangsiapa yang duduk tidak ada dosa baginya, maka ketika dia mengucapkan ash-shalaatu khairun minan naum, dia mengatakannya.” (Fathul Bari juz 2 hal. 117).

Perkataan para ulama di atas cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa lafadz shalluu fii buyuutikum atau shalluu fii rihaalikum diucapkan di dalam adzan sesudah mengucapkan hayya ‘alal falaah atau di akhir adzan dengan membuang lafadz hayya ‘alas shalaah.

2. Kapan dikumandangkan shalluu fii buyuutikum atau shalluu fii rihaalikum.

Di atas sudah dipaparkan bahwa ada beberapa riwayat yang tidak menyebutkan pada waktu safar yaitu riwayat Imam Malik, Ibnu Majah, dan Ahmad serta ada pula riwayat yang menyebutkannya di antaranya diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Abu Uwanah serta Baihaqi. Dari sinilah banyak pendapat para ulama di antara mereka ada yang menyatakan bahwa lafadz di atas khusus untuk safar dan ada pula yang mengatakan di dalam safar dan shalat-shalat jama’ah tidak dalam safar (hadlir). Pendapat kedua inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar dalam mensyarah “waktu safar“.

– Dhahir hadits tersebut menunjukkan khusus pada waktu safar, sedangkan riwayat Malik dari Nafi’ (digunakan) dalam shalat-shalat jama’ah (hadlir) secara mutlak. Inilah yang diambil oleh jumhur ulama. Akan tetapi kaidah menyatakan bahwa yang mutlak dibawa kepada yang muqayyad (khusus), maka dalam hal ini khusus bagi yang musafir secara mutlak dan disamakan dengannya orang yang mendapatkan masyaqqah (sesuatu yang memberatkan) pada keadaan hadir bukan terhadap orang yang tidak mendapatkan masyaqqah. (Fathul Bari juz 2 hal. 134)

Adapun yang menyatakan hanya pada safar adalah:

– Berkata Ibnul Qayyim: betul, kejadian ini pada hari Jum’at, maka mempunyai kemungkinan bahwa perkataan ini terjadi untuk shalat Jum’at dan demikian juga mempunyai kemungkinan untuk shalat-shalat yang lain. Kalau memang jelas kemungkinan ini hari Jum’at maka ini terjadi pada waktu safar tidak dapat diambil sebagai dalil dalam keadaan hadlir (tidak safar). Wallahu a’lam. (Aunul Ma’bud juz 3 hal. 273)

– Imam An-Nawawi berkata dalam menerangkan lafadz shalatlah di rumahnya barangisapa yang mau, bahwasanya ini disyariatkan pada keadaan safar dan adzan disyariatkan pada safar. (Syarh Shahih Muslim juz 5 hal. 213)

Dapat disimpulkan bahwa lafadz ini dapat dipakai pada keadaan safar dan hadir sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidz dan As-Syaukani dan karena adanya riwayat keduanya serta jumhur para ulama. Adapun penguatan Syaikh Al-Albani dalam safar ini tidak menafikan riwayat yang lainnya. Wallahu a’lam.

Sedangkan jumlah mengucapkan lafadz ini hanya sekali saja karena ada suatu riwayat dari Imam Muslim dalam Shahihnya bab As-Shalaatu fir Rihaal fil Mathar juz 1 hal. 697 sedangkan di akhirnya ada keterangan dari Ibnu ‘Umar dalam kata lain mudraj beliau berkata:

وَلَمْ يُعِدْ ثَانِيَةً: أَلاَ صَلُوْا فِى الرِّحَالِ.

Dia tidak mengulangi kedua kalinya alaa shalluu fir rihaal.

Sudah kita ketahui bahwa adzan ini dipakai pada waktu safar dan hadlir, sedang lafadz ini dikumandangkan ketika adanya Masyaqqah (kesulitan) atau halangan, maka di sini juga ada perkataan ulama di antaranya:

– Imam Nawawi berkata: hadits ini merupakan dalil atas keringanan shalat berjama’ah dan sebagainya karena suatu ‘udzur dan inilah madzhab kami. (Syarh Shahih Muslim hal 214)

– Imam Asy-Syaukani berkata: hadits-hadits tersebut menunjukkan rukhsahnya keluar ke masjid guna shalat berjamaah dan Jum’at ketika terjadi hujan dan dingin yang sangat serta kerasnya angin atau salah satu dari tiga hal ini. (Nailul Authar juz 3 hal. 156)

– Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata: “Di dalam Shahih Abu ‘Uwanah disebutkan “malam yang dingin atau ketika malam hujan atau malam yang banyak anginnya” maka ini menunjukkan bahwa salah satu dari tiga hal ini termasuk ‘udzur untuk hadir shalat berjamaah. Ibnu Baththah menukilkan bahwa ini adalah ijma’, akan tetapi yang ma’ruf (terkenal) dalam madzhab Syafi’i bahwasanya angin sebagai ‘udzur di waktu malam saja dan dhahir hadits ketiga udzur ini khusus pada malam hari. Akan tetapi di dalam sunan dari jalan Ibnu Ishaq dari Nafi’ disebutkan dalam hadits “pada malam ketika hujan atau pagi yang dingin” dan di dalamnya (Sunan) ada sanad yang shahih dari hadits Abi Malih dari ayahnya yang menerangkan bahwa mereka kehujanan maka diberi keringanan, dan aku tidak melihat sedikitpun dalam hadits-hadits tentang memberi rukhsah karena udzur angin di siang hari secara jelas.” (‘Aunul Ma’bud juz 3 hal. 277)

– Al-‘Aini berkata: yang dimaksud dengan ucapan Ibnu ‘Abbas bahwa sesungguhnya shalat berjama’ah adalah wajib akan tetapi hujan termasuk udzur yang menjadikan wajib menjadi suatu keringanan dan inilah madzhab Ibnu ‘Abbas bahwa termasuk dari udzur untuk meninggalkan Jum’at adalah hujan. Ini juga pendapat Ibnu Sirin, Abdurrahman bin Samurah, Imam Ahmad dan Ishaq.

– Ibnul Qayyim berkata: “Dan yang betul menurut pendapatku di dalam makna perkataan Ibnu ‘Abbas adalah bahwasanya shalat Jum’at wajib dan tidak boleh ditinggalkan akan tetapi diberi keringanan orang yang shalat untuk tidak hadir di masjid Jami’ karena hujan.

Dari keterangan-keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa lafadz adzan di atas dikumandangkan ketika terkumpul tiga udzur atau salah satu dari tiga udzur tadi atau salah satu darinya menjadi masyaqqah (yang memberatkan) bagi para jama’ah. Wallahu a’lam.

Kesimpulan

Disyariatkan atau disunnahkan mengumandangkan shalluu fii buyuutikum atau shalluu fii rihaalikum ketika hujan dan angin serta ketika waktu yang sangat dingin di kala safar atau hadir.

Dari kesimpulan ini saya (muadzdzin) mengajak kepada segenap muadzin untuk mengumandangkan lafadz tersebut ketika waktu yang disyariatkan untuk dilafadzkan. Karena kalau suatu sunnah ditinggalkan maka akan bangkitlah kebid’ahan sehingga jadilah bid’ah sebagai sunnah. Cukuplah bagi kita perkataan Abu Bakar radliallahu ‘anhu, beliau berkata: “Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku amalkan, karena aku takut jika aku meninggalkan sesuatu dari perintah beliau aku akan tersesat.” (Al-I’tisham jilid 1 hal 18).

Wallahu A’lam.

Maraji’:

1. Al-I’tisham, oleh Imam Asy-Syathibi.

2. ‘Aunul Ma’bud, oleh Shafiyu Ar-Rahman Al-Mubarak Furi.

3. Fathul Bari, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.

4. Irwa`ul Ghalil, oleh Syaikh Al-Albani.

5. Nailul Authar, oleh Imam Asy-Syaukani.

6. Shahih Muslim Syarh An-Nawawi.

7. Sunan An-Nasa`i.

(Penulis adalah Muadzin Masjid Utsman bin Affan, Ponpes. Ihya` As-Sunnah, Degolan, Yogyakarta).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: