Fatwa Syaikh Bin Baz -rahimahullah- tentang Palestina


Syaikh Bin Baz -rahimahullah– berkata:


Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh, Wa Ba’du :

Sesungguhnya kita telah dibuntuti oleh tambahan kesedihan dan rasa pedih yang besar dari apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina berupa penindasan, kezholiman, pembunuhan terhadap orang-orang tidak berdosa, merampas harta benda dan tanah, meruntuhkan rumah-rumah, membuat takut orang-orang yang sedang tentram dan mengepung perkampungan-perkampungan dengan pasukan yang besar, terlatih, dipersiapkan dengan persiapan yang kuat untuk berperang membantai penduduk yang tidak punya kekuatan lagi tertekan dibawah tangan zamroh (sekelompok) dari orang-orang yang melampaui batas lagi zholim dan orang-orang yang membantunya dari orang-orang yang zholim yang penuh kedengkian

Dan sesungguhnya saya –sebagai penunaian tanggung jawab dan menjalankan kewajiban- benar-benar mengajak saudara-saudaraku kaum muslimin di setiap tempat, bangsa dan rakyat untuk menjadi satu tangan dan menyatukan kalimat mereka untuk membantu saudara-saudara mereka di Palestina dan berusaha dengan segala jalan yang bisa ditempuh untuk menghilangkan kezholiman itu dari mereka sebagai realisasi dari firman
Allah Ta’ala :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain”. (QS. At-Taubah : 71).

Dan firman-Nya yang Maha Suci :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”. (QS. Al-Hujurat : 10).

Dan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.رواه مسلم

“Perumpamaan orang-orang yang beriman itu dalam kasih sayang, rahmat dan kelemahlembutannya seperti satu tubuh jika mengeluh salah satu bagian tubuh maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan panas dan demam”. (HSR. Muslim).

Dan dalam Shohih Bukhary dari hadits Anas, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُوْمًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا ؟ قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدِهِ

“Tolonglah saudaramu yang zholim atau yang dizholimi. Mereka berkata : “Ya Rasulullah kami menolong yang dizholimi, bagaimana kami menolong yang menzholimi ?”. Beliau menjawab : “Ambil tangannya (cegah kezholimannya-pent.)”.

Dan didalam (shohih Bukhary) juga dari hadits Al-Baro` bin ‘Azib, beliau berkata :

أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ فَذَكَرَ عِيَادَةَ الْمَرِيْضِ وَاتِّبَاعَ الْجَنَائِزِ وَتَشْمِيْتَ الْعَاطِسِ وَرَدَّ السَّلاَمِ وَنَصْرَ الْمَظْلُوْمِ وَإِجَابَةَ الدَّاعِيْ وَإِبْرَاءَ الْمَقْسَمِ

“Kami diperintahkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara, maka beliau menyebutkan : mengunjungi orang sakit, mengantar jenazah, menjawab orang bersin, menjawab salam, menolong yang dizholimi, menjawab undangan dan melaksanakan sumpah”.

Maka telah tetaplah dengan (dalil-dalil) ini bahwasanya wajib bagi setiap muslim untuk menolong saudara-saudaranya kaum muslimin sesuai kadar kemampuannya. Kemudian saya mengajak kepada orang-orang ‘uqola` dan orang-orang yang munshif diseluruh penjuru bumi untuk berdiri diatas al-haq dan keadilan dan menentang kezholiman dan hendaklah semuanya mengetahui bahwasanya membenarkan orang-orang yang zholim diatas kezholimannya atau diam darinya apalagi kalau membantunya adalah merupakan sebab murkanya Allah dan (sebab) kehancuran bagi orang yang melakukannya karena dia ikut berserikat dalam kezholimannya. Dan Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim terhadap orang-orang dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.(Q.S. Asy-Syura : 42)

Dan (Allah) subhanahu mengabarkan tentang orang-orang yang zholim dan sunnah-Nya dalam menghancurkannya :

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa”.(Q.S. Yunus : 13)

Dan (Allah) subhanahu berfirman :

وَتِلْكَ الْقُرَى أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا

“Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka”.(Q.S.Al-Kahfi ayat 59)

Dan (Allah) azza min qo`il subhanahu berfirman :

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan betapa banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) atasnya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu)”.(Q.S. Al-Haj: 48)

Dan Allah mengkhabarkan bahwasanya orang yang zholim bagaimanapun perbuatannya sesungguhnya dia tidak akan beruntung sebagaimana dalam kisah Musa Alaihissalam bersama Bani Israil dalam memberikan hujjahnya kepada Fir’aun, maka Musa berkata kepadanya sebagaimana Allah kabarkan tentangnya :

وَقَالَ مُوسَى رَبِّي أَعْلَمُ بِمَنْ جَاءَ بِالْهُدَى مِنْ عِنْدِهِ وَمَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Musa menjawab: “Tuhanku lebih mengetahui orang yang sebenarnya membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di negeri akhirat. Sesungguhnya tidaklah akan mendapat kemenangan orang-orang yang zalim”.(Q.S. Al-Qashash : 37)

Dan termasuk sunatullah Al-kauniyah bahwasanya Allah membuat terlena bagi orang yang zholim sampai jika Dia mengadzabnya tidak akan melepaskannya.

Dalam Ash-Shohihain (Bukhary-Muslim) dari Abu Musa Al-‘Asy’ary radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :

إن الله ليملي للظالم حتى إذا أخذه لم يفلته ثم قرأ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ ((وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ))

“Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zholim sampai jika Dia mengambilnya (mengadzabnya) tidak akan melepaskannya. Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam membaca (ayat) : “Dan begitulah azab Rabb-mu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”.(Q.S. Hud ayat 102)

Maka wajib bagi semuanya untuk berhati-hati dari kezholiman karena sesungguhnya akibatnya sangat mengerikan dan kezholiman (akan dibalas) dengan berbagai kezholiman pada hari kiamat. Kemudian juga wajib bagi semuanya untuk menahan orang-orang yang zholim dan menghentikan
kezholimannya kalau tidak maka adzab dan kehancuran akan menimpa semuanya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا دَخَلَ النَّقْصُ عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَ الرَّجُلُ يَلْقَى الرَّجُلَ فَيَقُوْلُ يَا هَذَا اتَّقِ اللهَ وَدَعْ مَا تَصْنَعْ فَإِنَّهُ لاَ يَحِلُّ لَكَ ثُمَّ يَلْقَاهُ مِنْ الْغَدِ فَلاَ يَمْنَعُهُ ذَلِكَ أَنْ يَكُوْنَ أَكِيْلَهُ وَشَرِيْبَهُ وَقَعِيْدَهُ فَلَمَّا فَعَلُوْا ضَرَبَ اللهُ قَلُوْبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ ثُمَّ قَالَ ((لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ)) ثُمَّ قَالَ : كَلاَّ وَاللهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ وَلَتَأْخَذُنَّ عَلَى يَدِ الظَّالِمِ وَلَتَأْطُرُنَّهُ عَلَى الْحَقَّ أَطْرًا وَلَتَقْصُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ قَصْرًا

“Sesungguhnya kekurangan pertama yang terjadi pada Bani Israil adalah seseorang melihat seseorang yang lain (berbuat maksiat) maka dia berkata kepadanya : “Wahai fulan bertaqwalah kepada Allah tinggalkan perbuatanmu karena semua itu tidak halal bagi kamu”. Kemudian keesokannya ia melihatnya lagi (dalam perbuatanya) akan tetapi tidaklah hal tersebut menghalanginya untuk menjadi teman makan, minum dan duduknya bersamanya. Tatkala mereka berbuat demikian, Allah menutup hati sebagian diantara mereka kepada yang lainnya. Kemudian beliau membaca (ayat) : “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”.(Q.S.Al-Ma`idah : 78-79)

Kemudian beliau berkata : “sekali-kali tidak demi Allah hendaknya kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar dan mengambil tangan orang-orang yang zholim (menghalangi/menghentikan) dan kalian benar-benar mengikut kepada kebenaran dan benar-benarnya mengurungnya di atas kebenaran”.

Dan hendaklah setiap orang yang beraqal diantara kita memperhatikan dan memikirkan akibat-akibat yang diterima oleh ummat-ummat yang telah lalu bagaimana Allah membinasakan mereka dengan kezholimannya dan mereka melampaui batas walaupun kekuatannnya sangat besar. Karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun di bumi dan di langit yang bisa melemahkan-Nya dan Dia Subhanahu telah mengharamkan kezholiman pada dirinya dan menjadikannya perkara yang haram diantara hamba-hamba-Nya. Demikianlah dan hanya kepada Allah saya memohon untuk memuliakan agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya dan menolong hamba-hamba-Nya yang bertauhid sebagaimana saya memohon kepada-Nya yang Maha Suci agar menolong saudara-saudara kami di Palestina dan mengikat hati-hati mereka (menyatukan) dan menguatkan kaki-kaki mereka dan menolong mereka dari musuh-musuhnya dan agar Allah yang Maha Suci menjadi wali dan penolong bagi mereka dan menghancurkan musuh-musuh-Nya dan menurunkan bencana dan adzab-Nya kepada mereka sesungguhnya Dia yang Maha Suci lagi Maha Berkuasa atas segala sesuatu Maha Mampu dan Maha Mengabulkan do’a.

Shollallahu wasallam ‘Ala Nabiyyina Muhammad Wa ‘Ala Alihi Wa Shohbihi Ajma’in.


Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagaimanakah solusi untuk masalah Palestina yang semakin hari semakin rumit dan ganas?
Jawab:

“Sesungguhnya seorang muslim demikian banyak tersakiti serta prihatin sekali dengan memburuknya masalah Palestina, dari keadaan yang buruk ke arah yang lebih buruk. Semakin hari semakin runyam. Sehingga sampailah pada kondisi (seperti) di masa-masa akhir ini, dengan sebab perselisihan negara-negara tetangganya dan tidak teguhnya mereka dalam satu barisan untuk menghadapi musuhnya, serta tidak konsistennya mereka dengan hukum Islam yang dengan itulah Allah kaitkan kemenangan mereka. Serta dengan itulah Allah janjikan pemeluknya untuk menggapai kekhilafahan dan kemapanan di muka bumi. Hal itu mengindikasikan bahaya besar dan dampak yang berbahaya bilamana negara-negara tetangga itu tidak segera menyatukan barisan mereka lagi dari awal, serta konsisten dengan hukum Islam dalam menghadapi masalah yang telah menjadi persoalan mereka dan persoalan dunia Islam seluruhnya ini.

Di antara yang perlu saya garisbawahi pada kesempatan ini bahwa masalah Palestina adalah masalah Islam, sejak awal hingga akhirnya. Namun musuh-musuh Islam berupaya kuat untuk menjauhkan masalah ini dari garis Islam dan memahamkan kepada kaum muslimin yang bukan bangsa Arab, bahwa itu hanya masalah orang Arab. Tidak ada kaitannya dengan non-Arab. Dan pada taraf ini, nampaknya mereka berhasil dalam upayanya. Oleh karena itu, saya menilai tidak mungkin (kita) sampai pada titik penyelesaian masalah tersebut kecuali dengan memandang bahwa itu adalah masalah Islam, dan dengan saling kerjasama antara sesama muslim dalam menyelamatkannya, serta berjihad melawan Yahudi dengan jihad yang Islami. Sehingga bumi (Palestina) dikembalikan kepada pemiliknya dan warga Yahudi itu pun pulang kembali ke negara asalnya. Sementara penduduk asli Yahudi tetap tinggal di negeri mereka di bawah hukum Islam, bukan hukum komunis atau sekuler. Dengan itu, kebenaran akan menang dan kebatilan akan terhina, serta pemilik negeri tersebut kembali ke negeri mereka di atas hukum Islam, bukan yang lain. Allah-lah yang memberi petunjuk.” (Diambil kumpulan fatwa beliau dengan sub judul Yajibu Tahkim Asy-Syar’i fil Khathifin)


Beliau mengatakan juga:

“Telah saya jelaskan di sana (surat kabar Al-Muslimun, 19/8/1415 H bertepatan dengan 20/1/1995 M) bahwa yang wajib dilakukan adalah berjihad melawan kaum musyrikin dari kalangan Yahudi dan yang lainnya bila ada kemampuan, hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah (semacam upeti) jika mereka memang pantas diambil jizyah dari mereka, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi. Namun ketika kaum muslimin tidak mampu untuk itu maka tidak mengapa dilakukan perjanjian damai yang menguntungkan kaum muslimin serta tidak menistakan mereka, dalam rangka mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam peperangan atau perdamaiannya, serta dalam rangka berpegang dengan dalil-dalil syar’i yang bersifat umum maupun khusus dalam masalah ini, serta berhenti padanya. Inilah jalan keselamatan serta jalan kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia maupun akhirat.” (Majalah Al-Mujtama’ edisi 1140 tanggal 6/10/1415)


Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang memasang bom pada tubuhnya, dengan tujuan membunuh sekelompok orang Yahudi?

Jawab:

Pandangan saya –dan kami telah peringatkan masalah itu bukan hanya sekali– bahwa ini tidak benar, karena hal ini termasuk bunuh diri. Sementara Allah berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian.” (An-Nisa`: 29)

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu maka dia akan diadzab dengannya di hari kiamat.”

(Seseorang hendaknya) berusaha untuk menjaga dirinya, dan apabila disyariatkan jihad maka hendaknya berjihad bersama muslimin. Sehingga apabila terbunuh maka alhamdulillah. Adapun dia membunuh dirinya dengan memasang ranjau/bom pada dirinya sehingga terbunuh bersama mereka atau melukai dirinya bersama mereka (adalah) salah, tidak diperbolehkan. Akan tetapi berjihad adalah bila disyariatkan jihad bersama muslimin. Adapun apa yang dilakukan pemuda-pemuda Palestina, maka itu salah, tidak boleh. Hanyalah yang wajib mereka lakukan adalah berdakwah kepada jalan Allah, taklim dan bimbingan serta nasihat tanpa melakukan perbuatan tersebut. (Dinukil dari buku Fatawa Al-A`immah Fin Nawazil Al-Mudlahimmah, hal. 179)


Sumber:  http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Fatwa&article=49 | http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1119    ,   http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=497

%d bloggers like this: