Turunnya Cahaya Nubuwwah


Penulis: Al Ustadz Idral Harits
Syariah, Jejak, 29 – Juni – 2003, 14:46:53

Menginjak usia ke-40, Muhammad  kian sering melakukan tahannuts (beribadah) dengan cara menyendiri di gua Hira’. Telah tertanam dalam sanubarinya, kebencian terhadap berhala-berhala, bahkan terhadap segenap kejelekan yang ada pada masyarakatnya. Allah  telah mempersiapkan beliau untuk menerima Al-haq sebagai ilmu dan amal.

Allah  mensucikan hati dan jiwa Muhammad . Setiap kali habis bekalnya, beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal baru. Hati Muhammad  betul-betul dalam keadaan bergantung hanya kepada Rabb-nya. Beliau beribadah dengan apa yang diketahuinya di masa jahiliyah yang kosong dari ilmu.

Ketika mencapai usia sempurna 40 tahun, Muhammad  telah matang kedewasaan dan pemikirannya serta pantas untuk menerima penugasan yang agung. Allah pun mengutus salah satu ciptaan-Nya, yakni Jibril , yang kemudian menampakkan diri kepada beliau . Muhammad  melihat pemandangan yang menakutkan dan menggelisahkan. Betapa tidak, karena belum ada kejadian apapun sebelumnya kecuali mimpi yang dilihat dalam tidurnya. Dan tidak ada mimpi yang dilihat kecuali seperti cahaya subuh.

Kemudian Allah  memuliakan Muhammad  dengan “Nubuwwah”. Datanglah Jibril tatkala beliau sedang berada di Gua Hira, dan berkata: “Bacalah!”
Beliau menjawab, “Saya tidak bisa membaca!” Lalu Jibril mendekap dan menyelubungi beliau sambil mengatakan; “Bacalah!” Demikian berulang-ulang, hingga akhirnya beliau mengikuti apa yang dibaca Jibril, yaitu lima ayat pertama Surat Al-Alaq.

Kemudian Muhammad  pulang dengan hati yang gelisah ketakutan dan berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku!” Khadijah menyelimuti Muhammad  sampai hilang takutnya.

Setelah itu Muhammad  berkata kepada Khadijah: “Apa yang terjadi pada diriku?”
Khadijah menenangkan hati suaminya tercinta, “Gembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau orang yang suka menyambung hubungan silaturahmi, menjamu para tamu, berbicara jujur, membantu orang yang lemah, orang tidak punya dan yang terkena musibah.”

Dengan kalimat ini, Khadijah bermaksud menegaskan bahwa orang yang memiliki sifat seperti ini justru akan mengundang datangnya nikmat-nikmat dari Allah  yang lebih besar lagi. Dan ini merupakan taufik dari Allah kepada Khadijah dan kepada Nabi-Nya, sekaligus meringankan kegelisahan yang menerpa beliau.

Khadijah kemudian membawa Muhammad  menemui Waraqah bin Naufal, anak pamannya (sepupu Khadijah), seorang pemeluk agama Nasrani di masa Jahiliyah, seorang yang sudah tua renta dan buta. Dia biasa menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Arab.

Khadijah berkata: “Wahai anak pamanku, dengarkan penuturan Muhammad ini!”
Kata Waraqah, “Ada apa, wahai anak saudaraku?” Lalu Rasulullah  menceritakan apa yang dilihatnya.

Serta merta Waraqah berseru, “Ini adalah Namus Al-Akbar (Jibril), yang pernah datang kepada Musa. Duhai, seandainya aku hidup ketika itu, tatkala kaummu mengusirmu.”
“Apakah kaumku akan mengusirku?” tanya Muhammad.
“Ya,” kata Waraqah. “Tidak satu pun yang membawa seperti yang kau bawa melainkan pasti dimusuhi,” lanjutnya.
“Dan seandainya aku mendapatkan hari-hari yang akan kau lalui itu, aku pasti membelamu dengan pembelaan yang sesungguhnya,” kata Waraqah kemudian.

Tak lama berselang, Waraqah meninggal dunia. Bersamaan dengan itu berhenti pula wahyu, hingga Rasulullah  sangat berduka. Sering beliau mendaki puncak-puncak gunung saking sedihnya. Suatu kali, ketika beliau berada di puncak sebuah bukit, muncullah Jibril seraya menyatakan, “Hai Muhammad, sungguh engkau betul-betul Rasulullah (utusan Allah).” Maka agak reda kegelisahan beliau. Mendengar hal itu beliau pulang.

Begitulah terjadi beberapa kali. Dan dengan lima ayat seperti surat Al-‘Alaq tersebut, jelaslah penobatan beliau sebagai Nabi. Kemudian wahyu terhenti beberapa saat. Suatu ketika beliau melihat Jibril dalam bentuk aslinya. Peristiwa ini membuat Muhammad ketakutan, sehingga beliau pulang ke Khadijah dan minta diselimuti. Ketika itulah turun ayat 1-5 Surat Al-Mudatsir:
“Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu beri peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.”

Di dalam ayat ini terkandung perintah agar beliau berdakwah dan memberikan peringatan. Maka beliau pun menyingsingkan lengan baju, memompa semangat dan tekadnya untuk berdakwah padahal beliau sadar pasti akan mendapat tantangan. Namun, Allah  pun pasti membela dan memantapkan kedudukan beliau.

Dan setelah itu, beliau pun mulai berdakwah dengan sembunyi-sembunyi mengajak manusia untuk menyerahkan segenap peribadatan (doa, tawakal, sembelihan, dan sebagainya) hanya untuk Allah  satu-satunya. (Bersambung)

Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=70

%d bloggers like this: