Perang Badr Al Kubra


Pergerakan pasukan menuju Badar.

Peperangan Badr adalah peperangan besar pertama yang dihadapi kaum muslimin dalam menghadapi orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya mempersiapkan segal sesuatunya sebaik mungkin, termasuk strategi perang yang akan digunakan. Dalam peristiwa ini semakin terlihat kebenaran iman para shahabat kepada Allah subhanallahu ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

SEBAB-SEBAB PERTEMPURAN

Pada bulan Ramadhan tahun ke-2 hijrah, sampai berita kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kafilah dagang orang-orang kafir Quraisy bertolak dari negeri Syam yang dipimpin oleh Abu Sufyan bersama sekitar 40 orang laki-laki. Kafilah tersebut membawa harta benda hartawan Quraisy yang cukup besar. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaum muslimin untuk berangkat mencegat kafilah tersebut.

Berangkatlah sekitar 300 orang lebih menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pasukan ini terdiri dari dua ekor kuda milik Az-Zubair bin Al-‘Awwam dan Miqdad bin Al-Aswad Al-Kindi dan 70 ekor unta yang dikendarai oleh dua atau tiga orang secara bergantian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengendarai unta bersama ‘Ali dan Martsad bin Abil Martsad Al-Ghanawi.

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan: Kami pada peristiwa Badr, setiap tiga orang bergantian mengendarai seekor unta. Abu Lubabah dan ‘Ali bin Abi Thalib bergantian dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada keadaan mereka ini, keduanya berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami berjalan kaki saja (Engkau saja yang mengendarainya).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

ماَ أَنْتُماَ بِأَقْوَى مِنِّي

وَلاَ أَناَ بِأَغْنَى عَنِ اْلأَجْرِ مِنْكُماَ

“Kalian berdua tidaklah lebih kuat daripada saya. Dan saya juga tidaklah merasa lebih cukup pahala dari kalian berdua.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf bergantian pula. Sementara di Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Ibnu Ummi Maktum radhiallahu ‘anhu untuk menjadi imam shalat menggantikan beliau. Sesampainya di Rauha’ (sekitar 40 mil dari Madinah) beliau mengangkat Lubabah bin ‘Abdilmundzir memimpin kota Madinah. Bendera beliau serahkan kepada Mush’ab bin ‘Umair, yang lain kepada ‘Ali dan Sa’d bin Mu’adz radhiallahu ‘anhum.

Ketika Abu Sufyan dan kafilah dagang Quraisy mendekati daerah Hijaz (sekarang Madinah dan Makkah serta sekitarnya), dia mengirim mata-mata untuk mencari berita. Akhirnya mereka mendapat kabar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerahkan kaum muslimin untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang baru pulang dari Syam. Mendengar hal ini, Abu Sufyan segera mengutus Dhamdham bin ‘Amr Al-Ghifari ke Makkah agar memberitahukan orang-orang supaya bersiap-siap membela kafilah dagang mereka.

Ibnu Ishaq menceritakan bahwa ‘Atikah binti ‘Abdil Muththalib tiga hari sebelum Dhamdham tiba di Makkah, bermimpi sangat mengerikan seolah-olah dia melihat kebinasaan bangsa Quraisy. Berita mimpi itu terdengar oleh masyarakat Quraisy. Mereka semakin memojokkan Bani ‘Abdil Muththalib bahkan para wanitanya demikian juga. Kata mereka, “Wahai Bani ‘Abdil Muththalib, apa masih kurang ada laki-laki yang mengaku Nabi di kalangan kalian, sekarang yang perempuan juga mengaku Nabi?”

‘Abbas bertanya, “Apa persoalannya?” Abu Jahal ketika itu mengatakan, “Mimpi yang dilihat Atikah. Kalau mimpi itu dusta, kami akan buat satu ketetapan bahwa kalian Bani ‘Abdil Muththalib adalah keluarga yang paling hebat kedustaannya.”

Ternyata, tiga hari kemudian datanglah Dhamdham. Dia berteriak di atas untanya yang telah dilukai sebagian tubuhnya, merobek bajunya: “Wahai bangsa Quraisy, celaka. Harta benda kalian yang ada bersama Abu Sufyan dihadang oleh Muhammad dan shahabat-shahabatnya. Selamatkanlah!”

Mereka dengan segera bersiap. Yang tidak ikut mewakilkan kepada orang lain. Dan masyarakat Quraisy menganggap aib jika ada pembesar atau pemuka mereka yang tertinggal. Akhirnya tidak ada yang tertinggal di kalangan mereka kecuali Abu Lahab karena dia mewakilkan kepada Al-’Ash bin Hasyim bin Al-Mughirah.

Mulanya Umayyah bin Khalaf ingin tinggal bersama beberapa orang, tetapi datanglah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith membawa pedupaan, dan berkata. “Wahai Abu ‘Ali (kunyah Umayyah) silakan gunakan pedupaan ini, karena kamu itu perempuan.” ‘Umayyah dengan berang membentak, “Semoga Allah memburukkan mukamu dan memburukkan apa yang kau bawa.” Akhirnya diapun berangkat.

RASULULLAH Shallallahu ‘alaihi wa sallam MEMPERSIAPKAN PASUKAN

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai bergerak dan setibanya di satu tempat, beliau mengirim Bisbas bin ‘Amr dan Abu Zaghba mencari berita tentang Abu Sufyan dan kafilah Quraisy. Mereka tiba di Badr dan mendengar berita bahwa esok hari kafilah akan tiba di Badr. Kemudian mereka sampaikan berita itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Sufyan tiba di daerah tersebut. Ketika dilaporkan ada dua orang yang tiba di sana, Abu Sufyan minta diambilkan sebagian kotoran hewan mereka. Ketika dilihatnya ada biji-biji kurma, dia segera tahu bahwa mereka dari Madinah dan tentunya sedang mencari berita tentang keadaannya. Serta merta dia bangkit dan membelokkan arah kendaraannya menjauh dari daerah Badr.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tiba di Badr. Beliau mendengar berita bahwa orang-orang Quraisy telah menyiapkan pasukan menghadapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin demi membela harta benda mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak para sahabatnya bermusyawarah.

Abu Bakr dan ‘Umar mulai mengeluarkan pendapat mereka dengan baik. Kemudian Miqdad mulai berbicara, “Wahai Rasulullah, agaknya kami yang engkau maksudkan. Berangkatlah menurut apa yang diperlihatkan Allah kepadamu. Maka kami akan bersamamu. Kami tidak akan berkata seperti orang-orang Bani Israil berkata kepada Musa ‘alaihissalam: ‘Pergilah engkau bersama Rabbmu, biar kami duduk menunggu di sini.’ Tapi berangkatlah engkau dan Rabbmu berperang, dan kami bersama engkau berperang di sebelah kanan dan kirimu, di belakang dan di depanmu. Demi Dzat Yang mengutusmu membawa al-haq, seandainya engkau membawa kami sampai ke Barkil Ghamad, niscaya kami tetap bersamamu.”

Beliau hanya mengatakan (sesuatu yang) baik dan berdoa untuknya. Kemudian beliau masih meminta buah pikiran para shahabatnya, “Wahai manusia, keluarkanlah pendapat kalian.” Dan yang beliau maksud adalah orang-orang Anshar, karena mereka telah berjanji dan bersumpah setia kepada beliau di ‘Aqabah. Dan beliau khawatir mereka hanya akan membelanya di tempat tinggal mereka (Madinah), sebagaimana janji dan sumpah mereka.

Melihat hal ini, Sa’d bin Mu’adz menegaskan, “Demi Allah, seakan-akan engkau maksudkan kami, wahai Rasulullah?”

“Betul,” kata beliau.

“Kami telah beriman dan membenarkan engkau, dan telah kami saksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah haq. Dan untuk itu kami telah serahkan janji dan sumpah setia kami kepadamu agar tetap mendengar dan mentaatimu. Maka berangkatlah, ya Rasulullah kepada apa yang engkau mau, niscaya kami tetap bersamamu. Demi Dzat Yang mengutusmu membawa al-haq. Andaikata engaku membawa kami menyelami lautan, niscaya kami akan menyelam bersamamu dan tidak akan ada seorangpun tertinggal di antara kami. Kami tidak benci bertemu musuh esok hari. Kami adalah orang-orang yang jujur dan tabah dalam peperangan. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu apa yang menyenangkan hatimu dari kami. Berangkatlah dengan berkah Allah, ya Rasulullah.”

Mendengar ucapan Sa’d ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat gembira dan bersemangat. Beliau berkata, “Gembiralah kalian. Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua kelompok itu (pasukan Quraisy atau kafilah dagang). Demi Allah, seolah-olah saya melihat tempat kematian mereka.” Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan riwayat ini mempunyai beberapa syawahid (penguat) di antaranya diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari.

Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat meneruskan perjalanan sampai di Badr.

Setiba di Badr, pasukan muslimin menangkap pencari air bagi orang-orang Quraisy dan memaksanya memberitahukan di mana Abu Sufyan dan rombongan. Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat. Kalau dia ditanya di mana Abu Sufyan, dia menjawab tidak tahu tapi ini ada Abu Jahl bersama pasukan Quraisy. Ketika menerangkan hal itu dia dipukuli. Tatkala dipukuli dia justru mengatakan, ya aku dari Abu Sufyan.

Setelah selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekati dan berkata kepada para shahabatnya, “Kalau dia jujur dalam pengakuannya, maka kalian pukuli. Dan kalau dia berdusta, kalian lepaskan dia.”

Kemudian beliau menyebutkan satu persatu tempat terbunuhnya si Fulan, si Fulan, dan beberapa tokoh Quraisy lainnya (dan semua terbukti). Seperti ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari jalan Abu Bakr dari ‘Affan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa budak tadi memang dari rombongan Quraisy. Kemudian beliau bertanya tentang jumlah pasukan. Budak tadi mengatakan tidak tahu pasti. Lalu beliau bertanya berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap hari. Budak itu menjawab sembilan sampai sepuluh ekor. Berdasarkan keterangan ini Rasulullah memperkirakan bahwa jumlah pasukan Quraisy antara 900 sampai 1000 orang.

Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan pula siapa saja tokoh Quraisy yang ikut dalam pasukan tersebut. Budak tadi menyebutkan beberapa nama, di antaranya Abul Bakhtari bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Umayyah bin Khalaf, ‘Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah, Abu Jahl dan lain-lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mengatakan, “Gembiralah kalian. Inilah Makkah telah menyodorkan jantung hatinya kepada kalian.”

KAFILAH ABU SUFYAN SELAMAT

Setelah melihat rombongan kafilah yang dipimpinnya selamat dari kejaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, Abu Sufyan mengutus orang untuk menyampaikan kepada pasukan Quraisy yang dipimpin Abu Jahl agar kembali saja ke Makkah. Tetapi Abu Jahl dengan sombong menolak dan berkata, “Demi Allah, kita tidak akan kembali sampai tiba di Badr. Kita akan tinggal di sana tiga hari, menyembelih ternak yang kita bawa, makan dan minum khamr serta dihibur oleh para biduan kita. Agar orang-orang ‘Arab tahu keadaan kita dan tetap gentar kepada kita.”

Ternyata tidak semua rombongan setuju. Di antara Bani Zuhrah ada yang menukas, “Hai Bani Zuhrah. Harta kalian sudah diselamatkan Allah. Tidak ada lagi kepentingan kalian di sini, maka pulanglah.” Akhirnya, tidak ada seorangpun dari Bani Zuhrah yang ikut dalam pasukan tersebut.

Dan sebetulnya, tidak pula semua kabilah Quraisy yang ikut serta dalam rombongan itu. Bani ‘Adi (kabilahnya ‘Umar) sama sekali tidak ada seorang pun yang ikut serta dalam pasukan yang dipimpin Abu Jahl itu.

Ibnu Ishaq menceritakan bahwa kemudian pasukan yang dipimpin Abu Jahl melanjutkan perjalanannya hingga di pinggir lembah yang jauh di belakang ‘Aqanqal. Sedangkan perut lembah dengan sumur Badr berada di pinggir terdekat dengan Madinah.

Kata Ibnu Katsir rahimahullah, sehubungan hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ أَنْتُمْ بِالْعُدْوَةِ الدُّنْياَ وَهُمْ بِالْعُدْوَةِ الْقُصْوَى وَالرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنْكُمْ

“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu…”

Yakni, di sebelah pantai. Kemudian:

وَلَوْ تَوَاعَدْتُمْ لاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيْعاَدِ وَلَكْنْ لِيَقْضِيَ اللهُ أَمْرًا كاَنَ مَفْعُوْلاً لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْياَ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ وَإِنَّ اللهَ لَسَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 42)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan hujan membasahi bumi di bawah tapak kaki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, sehingga tanah mengeras dan memantapkan mereka untuk bergerak. Sementara orang-orang Quraisy yang ditimpa hujan justeru menghambat gerak mereka. Tentang hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعاَسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمآءِ مآءً لِيُطُهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطاَنِ وَلِيَرْبِطَعَلَى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ اْلأَقْداَمِ

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya. Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu).” (Al-Anfaal: 11)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan bahwa Dia mensucikan mereka lahir batin, memantapkan kedudukan mereka, membangkitkan keberanian dalam hati mereka dan melenyapkan was-was dan rasa takut yang dihembuskan oleh syaithan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai bergerak mendahului orang-orang Quraisy dan tiba di daerah yang terdekat dengan air di Badr.

Merekapun beranjak ke tempat yang ditentukan. Ibnu Ishaq menceritakan pula bahwa Sa’d bin Mu’adz mengusulkan, “Ya Rasulullah, bagaimana kalau kami buatkan tenda untukmu dan kami siapkan kendaraan. Kalau Allah muliakan kita dan memenangkan kita atas mereka, maka itulah yang kita harapkan. Dan kalau tidak, biar Rasulullah menyusul orang-orang yang tertinggal. Tidaklah kami merasa lebih hebat mencintaimu dibandingkan mereka. Dan mereka tertinggal karena mereka menyangka bahwa engkau akan menghadang kafilah dagang, bukan untuk bertempur. Seandainya mereka tahu engkau akan bertempur, niscaya mereka tidak akan tertinggal.”

Peta pertempuran. Pasukan Mekkah (Hitam) mendekati dari arah barat, sedangkan pasukan Muslim (Merah) mengambil posisi-posisi di depan sumur-sumur Badar.

Kaum muslimin akhirnya tiba di daerah Badr. Mereka mengambil tempat lebih dekat ke Madinah, sedangkan musyrikin menempati posisi lebih dekat ke Makkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ أَنْتُمْ بِالْعُدْوَةِ الدُّنْيَا وَهُمْ بِالْعُدْوَةِ الْقُصْوَى وَالرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَوْ تَوَاعَدْتُمْ لاَخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيْعَادِ وَلَكِنْ لِيَقْضِيَ اللهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولاً لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ وَإِنَّ اللهَ لَسَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata. Dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 42)

KEDUA PASUKAN MULAI BERHADAPAN

Setelah mendengar pendapat para shahabatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergembira dan menunjuk ke beberapa tempat, sambil mengatakan bahwa ini adalah tempat jatuhnya bangkai Fulan dan Fulan (beberapa tokoh Quraisy). Dan tidak ada satupun yang luput dari apa yang beliau tunjukkan. Demikian diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Al-Imam Bukhari rahimahullah mengisahkan peristiwa ini dalam kitab Shahih-nya:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَجْثُو بَيْنَ يَدَيِ الرَّحْمَنِ لِلْخُصُومَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَقَالَ قَيْسُ بْنُ عُبَادٍ: وَفِيهِمْ أُنْزِلَتْ (هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ) قَالَ: هُمِ الَّذِينَ تَبَارَزُوا يَوْمَ بَدْرٍ حَمْزَةُ وَعَلِيٌّ وَعُبَيْدَةُ أَوْ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْحَارِثِ وَشَيْبَةُ بْنُ رَبِيْعَةَ وَعُتْبَةُ بْنُ رَبِيْعَةَ وَالْوَلِيْدُ بْنُ عُتْبَةَ

“Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan: ‘Saya adalah orang pertama yang berlutut di hadapan Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) di hari kiamat untuk khushumah (bertengkar, mempertahankan hujjah).’ Qais bin ‘Ubad (salah seorang rawi), mengatakan bahwa tentang merekalah turunnya ayat:هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ (Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka) (Al-Hajj: 19). Katanya: ‘Mereka adalah orang-orang yang saling bertempur dalam peristiwa Badr, yaitu Hamzah, ‘Ali dan ‘Ubaidah atau Abu ‘Ubaidah bin Al-Harits, melawan Syaibah bin Rabi’ah, ‘Utbah bin Rabi’ah, dan Al-Walid bin ‘Utbah.’

Abu Dawud meriwayatkan juga dari ‘Ali, katanya: “Kemudian ‘Utbah maju diikuti oleh puteranya Al-Walid dan saudaranya Syaibah. Dan bangkitlah tiga pemuda Anshar menghadapi mereka. Tapi ‘Utbah mengatakan: “Kami tidak butuh kalian. Yang kami cari anak-anak paman kami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru: “Bangkitlah, hai Hamzah. Bangkitlah, hai ‘Ali. Bangkitlah, hai ‘Ubaidah!”
Kemudian Hamzah adu tanding melawan ‘Utbah, sedangkan Al-Walid dan ‘Ubaidah saling menyerang beberapa kali dan masing-masing menderita luka. Kemudian kami menyerang Al-Walid dan membunuhnya lalu membawa ‘Ubaidah.”

Ibnu Hajar rahimahullah (dalam Al-Fath, 7/372) menerangkan bahwa riwayat ini lebih shahih daripada riwayat-riwayat lain yang menceritakan tentang siapa lawan ‘Ali bin Abi Thalib. Tetapi di dalam buku-buku sirah (sejarah), disebutkan bahwa yang menjadi lawan ‘Ali adalah Al-Walid. Karena keduanya sama-sama masih muda, sedangkan Syaibah dan ‘Utbah sudah berumur seperti halnya Hamzah dan ‘Ubaidah.

Ketika musuh mulai mendekat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah-tengah pasukan dan memberikan nasehat serta mengingatkan agar mereka sabar dan tabah mengharapkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan jannah (surga) bagi mereka yang gugur di jalan-Nya. Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قُومُوا إِلَى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ. قَالَ: يَقُولُ عُمَيْرُ بْنُ الْحُمَامِ الأَنْصَارِيُّ: يَا رَسُولَ اللهِ، جَنَّةٌ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: بَخٍ بَخٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا يَحْمِلُكَ عَلَى قَوْلِكَ بَخٍ بَخٍ؟ قَالَ: لاَ، وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ إِلاَّ رَجَاءَةَ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِهاَ. قَالَ: فَإِنَّكَ مِنْ أَهْلِهاَ فَأَخْرَجَ تَمَرَاتٍ مِنْ قَرَنِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ مِنْهُنَّ ثُمَّ قَالَ: لَئِنْ أَنَا حَيِيتُ حَتَّى آكُلَ تَمَرَاتِي هَذِهِ، إِنَّهَا لَحَيَاةٌ طَوِيلَةٌ. قَالَ: فَرَمَى بِمَا كَانَ مَعَهُ مِنَ التَّمْرِ ثُمَّ قَاتَلَهُمْ حَتَّى قُتِلَ

“Bangkitlah menuju jannah yang luasnya seluas langit dan bumi. Berkatalah ‘Umair bin Al Humam Al-Anshari: “Wahai Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?” “Ya.” Kata Rasulullah. ‘Umair berkata lagi: “Bagus. Bagus.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang mendorongmu mengatakan bagus, bagus?” Kata ‘Umair: “Tidak ada, wahai Rasulullah kecuali berharap agar aku menjadi penghuninya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Engkau penghuninya.” ‘Umair mengeluarkan kurma dari kantung bekalnya dan mulai memakannya. Tapi kemudian dia berkata: “Kalau aku masih hidup sampai memakan habis kurmaku ini, sungguh adalah kehidupan yang sangat panjang.” Lalu dia membuang kurma itu dan maju ke tengah-tengah musuh hingga dia sendiri terbunuh.”

Pertempuran mulai berlangsung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kekuatan pasukan tidak seimbang. Kemudian beliau masuk ke tenda yang disediakan dan mulai bermunajat, berbisik memanggil Rabbnya, memohon agar Allah membuktikan janji-Nya. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ بَدْرٍ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ، اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ. فَأَخَذَ أَبُو بَكْرٍ بِيَدِهِ فَقَالَ حَسْبُكَ. فَخَرَجَ وَهُوَ يَقُولُ: {سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّوْنَ الدُّبُرَ}

“Dari Ibnu ‘Abbas, katanya: “Pada waktu perang Badr Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, tentang ketetapan dan janji-Mu. Ya Allah, kalau Engkau kehendaki tentulah Engkau tidak akan disembah lagi.’ Abu Bakr memegang tangan beliau dan berkata: “Cukuplah.” Kemudian beliau keluar sambil membaca ayat: سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّوْنَ الدُّبُرَ (Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang).” (Al-Qamar: 45)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِيْنَ وَمَا جَعَلَهُ اللهُ إِلاَّ بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِنْدِ اللهِ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ إِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّماَءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأَقْدَامَ إِذْ يُوْحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلاَئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَإِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’ Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentram dari-Nya. Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu, dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan untuk menguatkan hatimu, dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu). (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfal: 9-13)

BALA BANTUAN DARI LANGIT DATANG MEMBELA AGAMA ALLAH DAN SETAN YANG BERSAMA KAUM QURAISY LARI TUNGGANG LANGGANG

Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa para malaikat berlomba-lomba mendahului kaum muslimin menyerang kaum musyrikin. Dalam riwayat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا جِبْرِيلُ آخِذٌ بِرَأْسِ فَرَسِهِ عَلَيْهِ أَدَاةُ الْحَرْبِ

“Inilah Jibril sedang memegang kepala kudanya yang di atasnya terdapat peralatan perang.” (HR. Al-Bukhari)

Al-Imam Muslim rahimahullah menceritakan pula dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu yang mendengar kisah dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu: “Ketika seorang muslim sedang bertempur dengan seorang musyrikin, dia mendengar suara dari sebelah atas: “Majulah, hai Haizum!” Dan ketika dia melihat si musyrik yang ada di depannya ternyata telah terjungkal dalam keadaan wajah robek seperti terkena lecutan cambuk.” Dia menceritakan hal ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau berkata: “Engkau benar. Itulah bala bantuan dari langit ketiga.”

Jumlah yang tidak seimbang itu ternyata tidak menyurutkan semangat para shahabat untuk terus maju menyerang musuh mereka. Akhirnya, satu demi satu tokoh-tokoh utama kaum musyrikin berjatuhan. Kekalahan mereka semakin membayang.

Bahkan Iblis yang menyertai barisan kafir Quraisy dengan menyamar sebagai Suraqah bin Malik, bangsawan Bani Kinanah, lari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran begitu kedua pasukan saling bertemu. Demikian diterangkan sebagian mufassir berkaitan dengan firman Allah subhanallahu ta’ala yang menceritakan hal ini:

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لاَ غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ وَاللهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: ‘Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kalian pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.’ Maka ketika kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: ‘Sesungguhnya saya berlepas diri dari kalian; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.’ Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (Al-Anfal: 48)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menceritakan, diriwayatkan bahwa setan yang menyamar sebagai Suraqah bin Malik bin Ju’syum, dari Bani Bakr bin Kinanah yang ketika itu ditakuti Quraisy kalau-kalau menyerang dari belakang. Setelah menyamar di hadapan mereka, Allah subhanahu wata’ala menerangkan tentang kejadian tersebut. Adh-Dhahhak berkata: “Iblis datang kepada mereka (pasukan musyrikin) pada peristiwa Badr membawa bendera dan sepasukan tentaranya. Dia memberikan keyakinan kepada mereka bahwa mereka tidak akan kalah, karena mereka berperang demi agama nenek moyang mereka.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan (Az-Zad, 3/181): “…Ketika musuh Allah itu melihat tentara Allah turun dari langit, dia melarikan diri berbalik ke belakang. Kaum musyrikin bertanya: “Hai Suraqah, mau ke mana? Bukankah kau sudah mengatakan bahwa kau pelindung kami, tidak akan meninggalkan kami?” Iblis menyahut: “Sungguh, aku melihat apa yang tidak kalian lihat, saya takut kepada Allah, dan Allah sangat keras siksa-Nya.”

Dia benar ketika mengatakan “Saya melihat apa yang tidak kalian lihat”, tapi dusta ketika mengatakan saya takut kepada Allah. Yang benar, dikatakan bahwa dia sebetulnya takut kalau binasa di tangan tentara Allah tersebut. Inilah yang jelas. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/386)

TEWASNYA ABU JAHL

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُوْ جَهْلٍ فَانْطَلَقَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ فَوَجَدَهُ قَدْ ضَرَبَهُ ابْنَا عَفْرَاءَ حَتَّى بَرَدَ قَالَ أَأَنْتَ أَبُوْ جَهْلٍ قَالَ فَأَخَذَ بِلِحْيَتِهِ قَالَ وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوْهُ أَوْ رَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ

“Siapa yang melihat apa yang diperbuat Abu Jahl?” Maka berangkatlah Ibnu Mas’ud, dan ternyata dia temukan Abu Jahl telah cedera akibat pukulan dua orang putera ‘Afra` sampai sekarat. Ibnu Mas’ud berkata: “Apakah kau yang bernama Abu Jahl?” Kemudian dia menarik jenggotnya. Abu Jahl berkata: “Adakah yang lebih mulia dari orang yang dibunuh oleh bangsanya sendiri? Atau kalian telah membunuhnya?”

Di bagian lain, beliau (Al-Imam Al-Bukhari) meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu:

إِنِّي لَفِي الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ إِذِ الْتَفَتُّ فَإِذَا عَنْ يَمِينِي وَعَنْ يَسَارِي فَتَيَانِ حَدِيثَا السِّنِّ فَكَأَنِّي لَمْ آمَنْ بِمَكَانِهِمَا إِذْ قَالَ لِي أَحَدُهُمَا سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ يَا عَمِّ أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ فَقُلْتُ يَا ابْنَ أَخِي وَمَا تَصْنَعُ بِهِ قَالَ عَاهَدْتُ اللهَ إِنْ رَأَيْتُهُ أَنْ أَقْتُلَهُ أَوْ أَمُوتَ دُونَهُ فَقَالَ لِيَ الآخَرُ سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ مِثْلَهُ قَالَ فَمَا سَرَّنِي أَنِّي بَيْنَ رَجُلَيْنِ مَكَانَهُمَا فَأَشَرْتُ لَهُمَا إِلَيْهِ فَشَدَّا عَلَيْهِ مِثْلَ الصَّقْرَيْنِ حَتَّى ضَرَبَاهُ وَهُمَا ابْنَا عَفْرَاءَ

“Sesungguhnya saya berada dalam satu barisan ketika perang Badr, ketika saya menoleh ternyata di kanan dan kiri saya ada dua orang pemuda, saya merasa cemas melihat posisi keduanya. Tiba-tiba salah satunya berkata perlahan-lahan agar tidak terdengar oleh yang lain: “Hai paman, tunjukkanlah kepadaku yang mana Abu Jahl.” Saya bertanya: “Apa yang akan kau lakukan terhadapnya?” Katanya: “Saya telah berjanji kepada Allah, kalau saya melihatnya, saya akan membunuhnya atau saya gugur karenanya.”

Yang lain berkata pula lebih perlahan dari temannya agar tidak terdengar oleh yang lain seperti itu juga. ‘Abdurrahman berkata: “Tidak ada yang menyenangkan aku berada di antara dua orang pemuda seperti ini, maka saya tunjukkan kepada mereka.” Lalu keduanya segera menyerang Abu Jahl bagaikan sepasang rajawali menyambar, hingga keduanya berhasil melumpuhkannya. Keduanya adalah putera ‘Afra`.”

TEWASNYA UMAYYAH BIN KHALAF

Adapun Umayyah, salah seorang gembong Quraisy yang sangat hebat permusuhan dan penyiksaannya terhadap kaum muslimin, tewas di tangan Bilal bin Rabah, bekas budaknya bersama beberapa shahabat Anshar. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menceritakan hal ini dalam Kitab Shahih-nya dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu :

قَالَ كَاتَبْتُ أُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ كِتَابًا بِأَنْ يَحْفَظَنِي فِي صَاغِيَتِي بِمَكَّةَ وَأَحْفَظَهُ فِي صَاغِيَتِهِ بِالْمَدِينَةِ فَلَمَّا ذَكَرْتُ الرَّحْمَنَ قَالَ لا أَعْرِفُ الرَّحْمَنَ كَاتِبْنِي بِاسْمِكَ الَّذِي كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَكَاتَبْتُهُ عَبْدَ عَمْرٍو فَلَمَّا كَانَ فِي يَوْمِ بَدْرٍ خَرَجْتُ إِلَى جَبَلٍ لأُحْرِزَهُ حِينَ نَامَ النَّاسُ فَأَبْصَرَهُ بِلالٌ فَخَرَجَ حَتَّى وَقَفَ عَلَى مَجْلِسٍ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ لا نَجَوْتُ إِنْ نَجَا أُمَيَّةُ فَخَرَجَ مَعَهُ فَرِيقٌ مِنَ الأَنْصَارِ فِي آثَارِنَا فَلَمَّا خَشِيتُ أَنْ يَلْحَقُونَا خَلَّفْتُ لَهُمُ ابْنَهُ لأَشْغِلَهُمْ فَقَتَلُوهُ ثُمَّ أَبَوْا حَتَّى يَتْبَعُونَا وَكَانَ رَجُلا ثَقِيلا فَلَمَّا أَدْرَكُونَا قُلْتُ لَهُ ابْرُكْ فَبَرَكَ فَأَلْقَيْتُ عَلَيْهِ نَفْسِي لأَمْنَعَهُ فَتَخَلَّلُوهُ بِالسُّيُوفِ مِنْ تَحْتِي حَتَّى قَتَلُوهُ وَأَصَابَ أَحَدُهُمْ رِجْلِي بِسَيْفِهِ وَكَانَ عَبْدُالرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ يُرِينَا ذَلِكَ الأَثَرَ فِي ظَهْرِ قَدَمِهِ

“Saya pernah membuat kesepakatan dengan Umayyah bin Khalaf agar dia menjaga shaghiyah (harta benda dan keluarga yang khusus, wallahu a’lam -pen) saya di Makkah dan saya menjaga shaghiyah-nya di Madinah. Ketika aku menyebut Ar-Rahman, dia berkata: ‘Aku tidak mengenal Ar-Rahman. Buatlah perjanjian dengan namamu di waktu jahiliyah (sebelum Islam).’ Maka sayapun menuliskan nama Abd ‘Amr.

Maka keluarlah bersamanya sekelompok shahabat Anshar mengejar kami. Dan ketika saya merasa takut mereka menyusul kami, saya tinggalkan anak Umayyah agar mereka sibuk dengannya, tapi mereka berhasil membunuhnya. Dan mereka tidak berhenti mengejar. Hingga akhirnya berhasil menyusul kami. Sementara Umayyah laki-laki yang gemuk dan lamban maka saya berkata kepadanya: ‘Tiaraplah.’ Kemudian saya jatuhkan tubuh saya di atas tubuhnya untuk mencegah mereka menyerang Umayyah. Tapi mereka tetap mencari celah di bawah tubuhku sehingga berhasil menusukkan pedangnya dan membunuh Umayyah. Bahkan salah seorang ternyata melukai kakiku.” Kata (rawi): Dan ‘Abdurrahman memperlihatkan bekasnya kepada kami.”

Pada waktu peristiwa Badr saya naik ke sebuah bukit untuk menjaganya ketika orang-orang sedang tidur. Ternyata Bilal melihatnya, dan diapun keluar sampai berhenti di sebuah majelis orang-orang Anshar, seraya berkata: ‘(Itu) Umayyah bin Khalaf. Saya tidak selamat kalau dia selamat.’

Lebih lanjut Ibnul Qayyim rahimahullah mengisahkan, pada waktu itu terjadi berbagai keajaiban sebagai tanda nubuwwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Pedang ‘Ukasyah bin Mihshan putus, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ganti dengan sebatang kayu: “Ambillah ini!” Setelah berada dalam genggamannya, dia menggerakkannya dan berubah menjadi sebilah pedang putih yang sangat tajam dan terus menyertainya dalam setiap peperangan sampai dia syahid pada waktu menumpas orang-orang murtad pada masa pemerintahan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Kisah ini dinukil dari Sirah Ibnu Ishaq tanpa sanad, demikian diterangkan oleh muhaqqiq Zadul Ma’ad.

Setelah pertempuran berhenti, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar melemparkan sekitar duapuluh empat bangkai pentolan kaum musyrikin ke dalam beberapa sumur Badr. Beliau tinggal di sana selama tiga hari. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hal ini dalam Shahih-nya, dari Anas dari Abu Thalhah:

فَجَعَلَ يُنَادِيهِمْ بِأَسْمَائِهِمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِهِمْ يَا فُلانُ بْنَ فُلانٍ وَيَا فُلانُ بْنَ فُلانٍ أَيَسُرُّكُمْ أَنَّكُمْ أَطَعْتُمُ اللهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّا قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا قَالَ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللهِ مَا تُكَلِّمُ مِنْ أَجْسَادٍ لا أَرْوَاحَ لَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ قَالَ قَتَادَةُ أَحْيَاهُمُ اللهُ حَتَّى أَسْمَعَهُمْ قَوْلَهُ تَوْبِيخًا وَتَصْغِيرًا وَنَقِيمَةً وَحَسْرَةً وَنَدَمًا

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil nama mereka dan nama bapak mereka: Hai Fulan bin Fulan, hai Fulan bin Fulan, bukankah menyenangkan kalian (kalau) kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya kami telah melihat bahwa apa yang dijanjikan kepada kami oleh Rabb kami adalah benar. Apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian juga benar?” ‘Umar berkata: “Ya Rasulullah, anda tidaklah mengajak bicara kecuali bangkai yang telah tidak bernyawa lagi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Demi Dzat Yang jiwaku di Tangan-Nya. Kamu tidaklah lebih mendengar apa yang saya katakan dibandingkan mereka.”

Kata Qatadah (perawi): “Allah subhanallahu ta’ala menghidupkan mereka sehingga mendengar apa yang diucapkan beliau sebagai penghinaan, pelecehan dan hukuman terhadap mereka, serta penyesalan.”

KEUTAMAAN SYUHADA’ BADR

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat kembali dengan kemenangan membawa tujuh puluh tawanan berikut sejumlah harta rampasan perang. Setibanya di Shafra`, harta dibagi-bagikan, An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah dihukum penggal. Setelah tiba di Al-‘Irqi Azh-Zhabyah, leher ‘Uqbah bin Abi Mu’aith pun ditebas.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Madinah dengan kekuatan dan kemenangan yang menimbulkan rasa takut pada diri musuh-musuh beliau yang ada di Madinah dan sekitarnya. Akhirnya sejumlah suku di sekitar Madinah masuk Islam dan pada masa itu pula Abdullah bin Ubai bin Salul, gembong munafik Madinah, menampakakkan diri masuk Islam.

Keadaan medan pertempuran saat ini. Tembok putih kemungkinan besar batas makam Muslim yang tewas.

Kaum muslimin yang ikut dalam perang Badr ini sekitar 317 orang, terdiri dari Muhajirin 86 orang, dari Aus 61 orang dan Khazraj 170. Adapun yang gugur sebagai syuhada` sekitar 14 orang, 6 dari Muhajirin dan 6 dari Khazraj dan 2 dari Aus.

Berikut ini, kami nukilkan dua hadits yang menerangkan sebagian keutamaan shahabat yang ikut perang Badr.

1. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

أُصِيبَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ وَهُوَ غُلامٌ فَجَاءَتْ أُمُّهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ عَرَفْتَ مَنْزِلَةَ حَارِثَةَ مِنِّي فَإِنْ يَكُنْ فِي الْجَنَّةِ أَصْبِرْ وَأَحْتَسِبْ وَإِنْ تَكُ الأُخْرَى تَرَى مَا أَصْنَعُ فَقَالَ وَيْحَكِ أَوَهَبِلْتِ أَوَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ وَإِنَّهُ فِي جَنَّةِ الْفِرْدَوْسِ

Haritsah gugur pada peristiwa Badr, sedangkan dia adalah seorang pemuda. Datanglah ibunya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Ya Rasulullah, anda tahu bagaimana kedudukan Haritsah di sisiku. Kalau dia di jannah, aku akan bersabar dan mengharap pahala. Kalau dia dapatkan yang lain, anda akan lihat apa yang kulakukan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Celaka kamu, apakah kamu meratapi kematian anakmu, atau kamu anggap jannah itu satu? Jannah itu beberapa tingkat dan puteramu di Jannah Firdaus.”

2. Beliau rahimahullah meriwayatkan pula dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyalllahu ‘anhu:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِي الله عَنْه قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ وَالزُّبَيْرَ ابْنَ الْعَوَّامِ وَكُلُّنَا فَارِسٌ قَالَ انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا امْرَأَةً مِنَ الْمُشْرِكِينَ مَعَهَا كِتَابٌ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ فَأَدْرَكْنَاهَا تَسِيرُ عَلَى بَعِيرٍ لَهَا حَيْثُ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا الْكِتَابَ فَقَالَتْ مَا مَعَنَا كِتَابٌ فَأَنَخْنَاهَا فَالْتَمَسْنَا فَلَمْ نَرَ كِتَابًا فَقُلْنَا مَا كَذَبَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُجَرِّدَنَّكِ فَلَمَّا رَأَتِ الْجِدَّ أَهْوَتْ إِلَى حُجْزَتِهَا وَهِيَ مُحْتَجِزَةٌ بِكِسَاءٍ فَأَخْرَجَتْهُ فَانْطَلَقْنَا بِهَا إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ الله قَدْ خَانَ الله وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي فَلأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ قَالَ حَاطِبٌ وَالله مَا بِي أَنْ لا أَكُونَ مُؤْمِنًا بِالله وَرَسُولِهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ لِي عِنْدَ الْقَوْمِ يَدٌ يَدْفَعُ الله بِهَا عَنْ أَهْلِي وَمَالِي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِكَ إِلا لَهُ هُنَاكَ مِنْ عَشِيرَتِهِ مَنْ يَدْفَعُ الله بِهِ عَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ وَلا تَقُولُوا لَهُ إِلا خَيْرًا فَقَالَ عُمَرُ إِنَّهُ قَدْ خَانَ الله وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي فَلأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ أَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ لَعَلَّ الله اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمُ الْجَنَّةُ أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ فَدَمَعَتْ عَيْنَا عُمَرَ وَقَالَ الله وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus saya, Abu Martsad Al-Ghanawi dan Az-Zubair bin Al-‘Awwam, dan kami semua berkuda. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Pergilah sampai ke Raudhatu Khakh, di sana ada seorang wanita musyrik membawa sepucuk surat dari Hathib bin Abi Balta’ah untuk kaum musyrikin.” Maka kamipun menemukan wanita itu mengendarai untanya seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu kami berkata: “Keluarkan surat itu.”

Wanita itu menjawab, “Tidak ada surat pada kami.” Lalu kami menyingkirkannya dan mulai mencari namun tidak menemukan apa-apa. Kami berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berdusta. Kau keluarkan surat itu atau kami telanjangi kau.”

Melihat keseriusan kami, wanita itu mengeluarkan sesuatu dari ikat pinggangnya, tersembunyi dalam sebuah kantung kemudian dia menyerahkan surat itu kepada kami. Lalu kamipun berangkat membawa surat itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba ‘Umar berkata: “Ya Rasulullah, dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, biarkan aku tebas lehernya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Ya Hathib, apa yang mendorongmu berbuat seperti ini?” “Ya Rasulullah, bukan apa-apa. Aku tetaplah seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak mengubah agamaku apalagi menukarnya (dengan apapun). Saya hanya ingin sedikit punya andil terhadap orang Quraisy, yang dengan itu Allah menyelamatkan keluarga dan hartaku. Karena tidak seorangpun shahabatmu melainkan mereka masih punya kerabat yang Allah lindungi dengan kerabat itu keluarga dan hartanya.”

“Dia benar. Jangan kalian berkata apapun kepadanya kecuali yang baik”, kata Rasulullah n. ‘Umar bin Al-Khaththab berkata: “Dia sudah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta kaum mukminin. Jadi biarkan saya tebas lehernya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bukankah dia termasuk orang yang ikut perang Badr? Mudah-mudahan Allah telah mengetahui perihal mereka yang ikut perang Badr dan berkata: ‘Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah memastikan jannah bagi kalian atau Aku telah mengampuni kalian.’ Mendengar hal ini mengalirlah air mata ‘Umar dan dia berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Inilah sebagian hadits yang menerangkan keutamaan shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga tidak ada yang pantas bagi orang yang menjatuhkan kehormatan para shahabat kecuali permusuhan dan kebencian serta kutukan, sampai orang tersebut bertaubat kepada Allah dan mendoakan agar para shahabat dirahmati Allah subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Sumber:

  1. Perang Badar Al-Kubro. Penulis: Al Ustadz Abu Muhammd Harits Abrar. http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=239
  2. Perang Badr Al Kubra Bag-2. Penulis : Al Ustadz Abu Muhammd Harits Abrar. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=253.
  3. Perang Badr Kubra bag. 3. Kekalahan Pasukan Musyrikin. Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=280
  4. Gambar ilustrasi dari Ensiklopedia Wikipedia http://www.wikipedia.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: