Hijrah Ke Habasyah (Etiopia)


Pada pertengahan atau akhir tahun ke-4 dari Kenabian, kaum muslimin masih terus mendapat tekanan dari orang-orang Quraisy. Ketika sebagian dari mereka hijrah ke Habasyah, orang-orang Quraisy masih saja mengejar untuk membinasakan mereka. Dalam kondisi ini, Allah ta’ala menurunkan beberapa kisah orang-orang sholeh terdahulu agar menjadi pelajaran bagi para kaum muslimin, di antaranya adalah turun surat Al-Kahfi tentang Ash-habul Kahfi, kisah tentang Nabi Musa dan Khaidir, kisah tentang Dzulqarnain dan Ya’juj – Ma’juj.

Semakin lama, semakin keras permusuhan orang-orang Quraisy terhadap kaum muslimin. Akhirnya, kaum muslimin diizinkan Allah ta’ala hijrah ke Habasyah, turunlah firman-Nya:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“… Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Hijrah ke Habasyah – Yang Pertama

Hijrah ke Habasyah (Ilustrasi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa Ashhamah An-Najasyi, raja yang berkuasa di Habasyah, adalah seorang raja yang adil, tidak menganiaya seorang pun disisinya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para shahabat mengungsi ke Habasyah untuk mempertahankan diri dan agamnya.

Pada bulan Rajab tahun ke-5 Kenabian, hijrah pertama kali ke Habasyah yang terdiri dari 12 laki-laki dan 4 wanita (termasuk Ruqayyah radhiyallahu ‘anha putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yang dipimpin oleh Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang Ruqayyah dan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhuma:

إنهما أول بيت هاجر في سبيل الله بعد إبراهيم ولوط عليهما السلام

“Sesungguhnya mereka berdua adalah penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalam.” (Mukhtashar Siratir Rasul hal. 92-93, Zadul-Ma’ad 1/24, Rahmatul-Lil’alamin 1/61)

Mereka pergi ke pinggir pantai pada malam hari agar tidak diketahui oleh orang musyrikin Quraisy, kemudian mengangkut mereka dua kapal di pelabuhan Syaibah yang secara kebetulan akan berangkat ke Habasyah. Orang-orang Quraisy, yang kemudian mengetahui hal itu, berusaha mengejar dan menangkap namun Allah telah menyelamatkan mereka sehingga mereka telah bertolak menuju Habasyah.

Kabar Angin Tentang Islam-nya Penduduk Mekkah

Beberapa waktu kemudian, terbetik kabar bahwa penduduk Makkah telah masuk Islam. Namun berita itu ternyata tidak benar. Ada sesuatu yang menyebabkan tersebarnya berita tersebut.

Pada bulan Ramadhan tahun ke-5 Kenabian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju Masjidil Haram, dan disana telah berkumpul para pemuka dan sesepu Quraisy, kemudian seketika itu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan surat An-Najm. Gendang telinga kaum musyrikin disentuh oleh kalam Allah ta’ala yang mempesona mereka, mereka menyimak isinya dan mendengarkan secara khidmat, dan hati mereka merasa tenang. Akhirnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membaca penutup surat,

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

“maka sujudlah kepada Allah ta’ala, dan beribadah (sembahlah) Dia.” (QS. An-Najm: 62)

Mereka pun sujud, mengikuti sujudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kaum musyrikin tidak mampu menguasai diri dan terhanyut akan kebenaran firman Allah yang merasuk pada diri-diri mereka. Mereka tidak mampu menahan diri untuk sujud. (lihat HR. Al-Bukhari 1/146 dan 1/543)

Terdapat kesimpangsiuran mengenai sujudnya kaum musyrikin tersebut, ada yang mengatakan mereka masuk Islam. Namun hal ini cepat-cepat mereka bantah, mereka yang sujud mendapatkan makian dan cercaan dari beberapa musyrikin yang tidak ikut sujud, sehingga petunjuk yang mulai masuk tertolak oleh kesombongan dan kedengkian. Mereka pun mendustakan perbuatan mereka sendiri dan menimpakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan syair-syair pujian yang ditujukan kepada Gharaniq (nama berhala-admin) yang agung (الغرانقة العلى), yang syafaatnya benar-benar diharapkan.”

Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasai (secara ringkas) dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat an-Najm di Makkah, kemudian beliau sujud dan sujud pula orang-orang yang bersamanya, kecuali seorang laki-laki tua yang hanya mengambil segenggam kerikil atau tanah lalu mengangkatnya ke dahinya dan berkata, ‘Cukuplah ini saja bagiku.’ Ibnu Mas’ud berkata, ‘Akhirnya aku melihatnya mati terbunuh dalam keadaan kafir’.”

Penukil, yang melihat kaum musyrikin sujud mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merasa yakin bahwa mereka telah masuk Islam dan berdamai dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada lagi perselisihan di antara mereka.

Sebagian Muhajirin Habasyah Kembali ke Mekkah

Akhirnya kabar ini meluas hingga terdengar oleh kaum muslimin yang ada di Habasyah. Mereka pun menyangka hal ini benar, maka sebagian mereka ada yang kembali, mengharapkan kenyataan dari berita tersebut. Sebagian lagi tetap tinggal di sana.

Pada bulan Syawwal tahun ke-5 Kenabian, mereka beranjak menuju Mekkah. Namun belum lagi mereka sampai di Makkah, mereka mengetahui yang sebenarnya dan mendengar tentang keganasan Quraisy yang bukannya berkurang, tetapi malah menjadi-jadi. Sebagian mereka ada yang berani masuk ke Makkah dengan jaminan perlindungan dan yang sembunyi-sembunyi, ada pula yang tidak dan kembali lagi ke Habasyah. Di antara yang masuk ke Makkah adalah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dia memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang waktu itu sedang shalat, namun tidak dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentu saja hal ini terasa berat bagi Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, namun kemudian beliau menjelaskan:

إِنَّ اللهَ يُحْدِثُ مِنْ أَمْرِهِ مَا يَشَاءُ، وَإِنَّ مِمَّا أَحْدَثَ اللهُ أَنْ لاَ تَكَلَّمُوا فِيْ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya Allah berbuat sesuatu yang baru terhadap urusan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Termasuk yang baru adalah hendaknya kamu jangan berbicara di dalam shalat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hijrah ke Habasyah – Yang Kedua

Ketika semakin ganas kekejaman yang dilancarkan kaum Quraisy terhadap kerabat mereka yang beriman, Allah ta’ala mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya. Berangkatlah sekitar 80 muhajirin dan 18 atau 19 muhajirah (kaum wanita). Di negeri ini, kaum muslimin berlindung dengan aman di kerajaan Ashimah an-Najasyi.

Musyrikin Quraisy Mengejar ke Habasyah

Ketika Quraisy mendengar hal ini, mereka mengutus ‘Imarah bin al-Walid (pendapat lain mengatakan: Abdullah bin Abu Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu) dan ‘Amru bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu (sebelum masuk islam-admin) dengan membawa berbagai hadiah kepada raja Najasyi dan para uskup (pendeta nashrani) agar berkenan menyerahkan kaum muslimin ke tangan mereka.

Disebutkan dalam riwayat Mulakhkhash Ibnu Hisyam bahwa para uskup menerima hadiah kaum musyrikin Quraisy dan bersedia untuk membantu mempengaruhi raja Najasyi dalam memulangkan kaum muslimin. Terdapat beberapa riwayat tentang dialog antara utusan musyrikin Quraisy, pembesar Najasyi, dan kaum muhajirin di Habasyah.

Ketika tiba di hadapan Raja Najasyi, mereka berdua (utusan musyrikin) sujud kepadanya dan segera duduk di sampingnya, kemudian berkata, “Sesungguhnya ada sekelompok orang yang masih termasuk anak-anak paman kami. Mereka tinggal di negeri paduka, membenci masyarakatnya dan membenci tatanan kehidupan (ajaran) yang berlaku di masyarakat mereka.”

Raja Najasyi berkata, “Di mana mereka?”

Keduanya berkata, “Di negeri paduka. Mohon panggillah mereka!”

Kemudian datanglah beberapa orang dari para muhajirin, di antaranya adalah Ja’far bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu dan dia berkata, “Aku yang menjadi juru bicara (untuk) kalian hari ini.” Mereka pun mengikutinya.

Setibanya di hadapan Najasyi, mereka mengucapkan salam namun tidak sujud kepadanya. Orang-orang yang ada di sekitarnya bertanya, “Mengapa kalian tidak sujud kepada baginda raja?”

Ja’far mengatakan, “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah ‘azza wajalla.”

“Mengapa demikian?” tanya Raja.

Ja’far berkata, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengutus seorang rasul kepada kami dan dia memerintahkan kami agar tidak sujud kepada siapa pun kecuali kepada Allah ‘azza wajalla. Beliau memerintahkan kami untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat.”

‘Amru bin al-‘Ash segara menukas: “Mereka menyelisihi paduka tentang ‘Isa bin Maryam.”

Raja Najasyi berkata, “Apa pendapat kalian tentang ‘Isa bin Maryam dan ibunya?”

Ja’far menerangkan, “Kami hanya mengatakan sebagaimana yang diterangkan oleh Allah ta’ala, bahwa beliau adalah kalimat-Nya dan ruh-Nya yang Dia lemparkan kepada perawan suci yang tidak pernah disentuh lelaki mana pun….”

Kemudian Najasyi mengambil sepotong kayu dan berkata, “Wahai rakyat Habasyah, para pendeta dan rahib sekalian! Demi Allah, apa yang mereka nyatakan (tentang ‘Isa) tidak lebih dari ini. Selamat datang, para tamu (kaum muslimin) dan selamat datang pula yang kalian datang dari sisinya. Aku bersaksi bahwa sesungguhnya beliau adalah Rasulullah. Beliaulah yang kami dapatkan beritanya di dalam Injil. Beliaulah rasul yang disebutkan oleh ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam sebagai berita gembira dari beliau. Tinggallah kalian di mana pun kalian suka di negeriku. Demi Allah, kalaulah bukan karena kedudukanku sebagai raja, pastilah aku akan datang menghadapnya sehingga akulah yang akan mengurus sandalnya.”

Kemudian beliau memerintahkan agar hadiah-hadiah itu dikembalikan kepada kedua utusan Quraisy dan berkata, “Demi Allah! Allah tidak menerima suap dariku ketika mengembalikan kerajaan ini kepadaku. Aku juga tidak mengikuti manusia dalam urusanku sehingga aku harus tunduk pula kepada manusia. Kembalikan hadiah mereka kepada keduanya, aku tidak membutuhkannya. Usirlah utusan itu dari negeri ini.”

Disebutkan dalam riwayat Mulakhkhash Ibnu Hisyam bahwa raja Najasyi dan para uskup / pendeta Nashrani menangis hingga membasahi jenggot-jenggot mereka tatkala mendengar ayat-ayat yang dibacakan oleh Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dari surat Maryam.

Akhirnya kedua utusan itu meninggalkan Habasyah dalam keadaan kecewa dan terhina.

Sumber:

  1. Rohiyqul Makhtum. Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury. Maktabah Asy-Syaamilah.
  2. Hijrah Ke Habasyah (Etiopia). Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib. Sumber Bacaan: Zadul Ma’ad (jilid 3) – Ibnu Qayyim al-Jauziyyah,Shahih as-Sirah an-Nabawiyyah – asy-Syaikh al-Albani, Mukhtashar Siratur Rasul – Muhammad bin ‘Abdul Wahhab,Shahih Muslim. http://www.asysyariah.com/syariah/jejak/632-hijrah-ke-habasyah–etiopia-jejak-edisi-3.html.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: