Nabi Musa ‘alaihissalam


Allah Subhanahu wa Ta’ala memaparkan kisah Nabi Musa bin ‘Imran dan saudaranya Harun ‘alaihissalam demikian panjang. Musa dan Harun adalah keturunan ke-4 dari Nabi Ya’qub Alaihissalam yang tinggal di Mesir sejak Nabi Yusuf berkuasa disana. Allah menceritakan sejarah mereka pada beberapa tempat dalam Al Qur’an dengan uslub atau gaya bahasa yang berbeda-beda, kadang dengan ringkas dan kadang meluas sesuai dengan keadaannya. Tidak ada kisah yang lebih besar dalam Al Qur’an selain kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Karena beliau betul-betul berupaya memperbaiki Fira’un dan tentara-tentaranya, juga terhadap Bani Israil dengan upaya yang demikian hebat.

Musa ‘alaihissalam adalah nabi yang paling utama di kalangan Bani Israil, begitu pula syariat serta kitabnya, Taurat. Beliau ‘alaihissalam adalah sumber rujukan para nabi Bani Israil dan para ulama mereka. Pengikut beliau termasuk umat terbanyak di samping umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Musa ‘alaihissalam memiliki kekuatan dan ghirah (kecemburuan) yang besar dalam menegakkan agama Allah dan mendakwahkannya, yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Kondisi Mesir Sebelum Kelahiran Nabi Musa

Mesir saat itu dikuasai oleh Fir’aun. Penduduknya terdiri dari 2 bangsa, yaitu penduduk asli Mesir yang disebut sebagai orang Qubti, dan orang Israil, yaitu keturunan Nabi Ya’qub Alaihissalam. Kebanyakan orang Qubti menduduki jabatan-jabatan tinggi, sedang orang Israil hanya berkedudukan rendah, seperti buruh, pelayan dan pesuruh. Firaun memerintah dengan tangan besi. Ia diktator bengis yang tidak berperi kemanusiaan. Mabuk dan rakus kekuasaan, sampai-sampai ia berani menyebut dirinya sebagai Tuhan.

Kekejaman Fir’aun membunuh bayi laki-laki

Suatu ketika, Fir’aun bermimpi, yang oleh dukun peramalnya mimpi itu diartikan dengan akan lahirnya seorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan merampas kekuasaan raja. Seketika itu Fir’aun menginstruksikan seluruh pasukannya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dan membiarkan hidup bayi perempuan untuk dijadikan sebagai pelayan dan sekaligus cobaan.

Berpisah demi Kehidupan dan Janji Allah

Ibu Musa, Yukabad, istri Imron bin Qahat bin Lewi bin Ya’qub Alaihissalam, merasa sangat gelisah dan rasa takut yang begitu hebat karena begitu ketatnya penyelidikan para petugas untuk mengawasi wanita yang sedang hamil dan akan melahirkan.

Rumah ibu Nabi Musa berada di tepi sungai Nil. Lalu Allah ilhamkan kepada ibunya melalui mimpinya agar meletakkan bayi Musa (anaknya yang berusia 3 bulan) di dalam sebuah peti dan menghanyutkannya ke sungai Nil setelah mengikatnya agar tidak terhanyut karena goncangan air. Dan merupakan kelembutan Allah kepadanya adalah dengan mengilhamkannya:

وَلاَ تَخَافِيْ وَلاَ تَحْزَنِيْ إِنَّا رَادُّوْهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ

“Janganlah kamu khawatir dan jangan pula bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para Rasul.” (Al-Qashash: 7)

Kakak Musa diperintahkan untuk mengikuti kemana peti itu hanyut dan di tangan siapakah Musa nanti ditemukan. Setelah menghanyutkan ke air, pada suatu hari terlepaslah ikatan peti yang membawa Musa kecil itu dan meluncur bersama aliran air.

Bayi itu bernama Musa ‘alaissalam

Kotak yang berisi bayi itu tiba-tiba tersangkut di pohon dan berhenti di belakang rumah Fir’aun. Puteri Fir’aun menemukan peti tsb, dan ia adalah seorang yang berpenyakit belang. Ketika menyentuh Musa, mendadak penyakitnya sembuh.

Dengan perasaan gembira ia membawa peti itu kepada Asiah, istri Fir’aun, dan memberitahu apa yang telah terjadi. Asiah mengambil bayi itu dan berniat untuk memeliharanya. Begitu melihatnya, spontan tumbuh rasa cinta yang begitu besar dalam diri Asiyah terhadap Nabi Musa. Dan memang Allah telah meletakkan rasa cinta tehadap beliau dalam hati setiap orang.

Asiah adalah seorang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun lantaran takut oleh kekejaman Fir’aun, ia menyembunyikan keimanannya. Ketika itu Fir’aun mendengar adanya wanita cantik bernama Asiah, dan ia pun menikahinya. Namun tatkala ia hendak menggauli istrinya itu, seluruh badannya tiba-tiba menjadi kaku sehingga ia pun tidak bisa mendekatinya, hanya bisa memandangnya.

Berita ini segera terdengar oleh Fir’aun dan dia meminta agar Musa kecil dibunuh. Isteri Fir’aun berkata: “Janganlah (engkau) membunuhnya. Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak.” Bayi itu oleh Asiah diberi nama Musa, yang artinya air dan pohon (mu = air, sa = pohon).

Wanita Susuan Itu adalah Ibu Kandung

Pada waktu itu isteri Fir’aun sudah berkali-kali menawarkan siapa yang mau menyusui Nabi Musa, namun beliau tidak mau menerima susu dari wanita manapun. Akhirnya beliau kehausan sampai melingkar karena laparnya. Akhirnya mereka membawanya keluar ke jalan-jalan, barangkali Allah akan memudahkannya menerima susu dari seorang wanita. Saudara perempuan Nabi Musa memperhatikan dari tempat yang tersembunyi dan merasa iba. Setelah mengetahui bahwa mereka mencari orang yang bisa menyusui Nabi Musa, diapun berkata kepada mereka sebagaimana firman Allah:

هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُوْنَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُوْنَ. فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلاَ تَحْزَنَ

“Maukah kalian aku tunjukkan ahlul bait yang akan memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya? Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita.” (Al-Qashash: 12-13)

Di antara sejumlah inang pengasuh pilihan Asiah, bayi Musa hanya mau menyusu pada Yukabad, sehingga Asiah akhirnya menerima Yukabad sebagai inang pengasuh Musa. Dengan demikian janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa Yukabad tetap akan mendapatkan kembali bayinya terpenuhi.

Kisah ini dapat ditemui dalam surat Al-Qasas: 4-13.

Musa meninggalkan Mesir menuju Madyan

Setelah selesai masa penyusuan bersama ibunya, Musa dikembalikan lagi ke istana Fir’aun. Ia dipelihara sebagaimana anak-anak raja yang lain. Berpakaian seperti Fir’aun, mengendarai kendaraan Fir’aun, sehingga ia dikenal sebagai Pangeran Musa bin Fir’aun.

Walaupun dididik dalam tradisi istana, sejak kecil Musa memahami bahwa ia bukan anak Fir’aun melainkan keturunan Bani Israil yang tertindas. Karena prihatin terhadap nasib rakyat yang dianiaya oleh keluarga raja dan para pembesar kerajaan, Musa bertekad untuk membela kaumnya yang lemah.

Suatu saat tindakan Musa membela seorang anggota kaumnya yang berkelahi melawan seorang dari golongan Fir’aun menyebabkan yang terakhir ini tewas. Seorang saksi yang melihat kejadian itu lalu melaporkan pada Fir’aun. Mengetahui bahwa Musa membela orang Israil, Fir’aun segera memerintahkan orang untuk menangkap Musa. Akhirnya Musa melarikan diri dan memutuskan untuk meninggalkan Mesir. Ia bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Saat itu ia berusia 18 tahun.

Kisah ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 14-21.

Musa pergi ke Madyan, kota tempat tinggal Nabi Syu’aib Alaihissalam (kisah tentang Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dapat dilihat disini). Dari Mesir ke Madyan harus ditempuh berjalan kaki selama 8 hari. Karena kelelahan dan merasa lapar, Musa beristirahat di bawah pepohonan. Tak jauh dari tempatnya beristirahat, ia melihat dua orang gadis berusaha berebut untuk mendapatkan air di sumur guna memberi minum ternak yang mereka gembalakan. Kedua gadis menunggu selesainya sekelompok pria-pria kasar yang tampak tidak mau mengalah dan bergantian memberi minum ternaknya.

Melihat itu, Musa segera bergerak menolong kedua gadis tsb. Laki-laki kasar tadi mencoba melawan Musa, tapi Musa dapat mengalahkan mereka. Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur-an (Al-Qashash: 23-26):

Yang pertama, firman Allah ta’ala:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ وَوَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُوْدَانِ

“Tatkala Musa sampai di sumber air negeri Madyan, di sana ia menjumpai sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternak mereka dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat ternaknya.”

Dengan tegas dalam ayat ini Allah ta’ala menerangkan bahwa kedua wanita tersebut tidak ikhtilath dengan kaum laki-laki yang sedang memberi minum ternak mereka.

Kata tadzuudaan (تَذُوْدَانِ ) artinya sama dengan tathrudaan (mengusir, menjauhkan). Artinya, mereka berdua menjauhkan kambing-kambing mereka dari tempat para penggembala, sehingga mereka tidak berdesakan dan bercampur-baur dengan kaum laki-laki. Ternak mereka juga tidak bercampur dengan ternak para penggembala.

Karena sifat wara dan takwa yang ada pada keduanya, kedua wanita ini enggan untuk bercampur (ikhtilath) dengan para penggembala tersebut. Adapun keduanya keluar rumah untuk memberi minum ternaknya adalah karena darurat, di mana sang ayah telah berusia senja sehingga tak mampu lagi mengurus ternak yang ada.

Yang kedua, firman Allah ta’ala:

قَالَ مَا خَطْبُكُمَا

“Musa berkata: Apakah maksud kalian berdua (dengan berbuat begitu, kenapa kalian tidak ikut meminumkan ternak kalian bersama mereka)?”

Ayat ini menceritakan rasa heran Nabi Musa ‘alaihissalam akan keberadaan mereka. Seandainya keberadaan wanita bersama laki-laki dalam kondisi seperti itu adalah biasa, tentulah beliau tidak mempertanyakannya. Ini terjadi sebelum beliau menjadi nabi. Artinya, keadaan wanita tidak bercampur-baur dengan kaum pria, sudah merupakan fitrah manusia. Bahkan merupakan syariat umat sebelum kita.

Yang ketiga, firman Allah ta’ala:

قَالَتَا لاَ نَسْقِيْ حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ

Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami) sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya).”

Jawaban ini menunjukkan bahwa mereka berdua tidak ikhtilath dengan para penggembala tersebut. Artinya, mereka berdua menerangkan keadaan mereka sebagai wanita yang memerhatikan hijab mereka. Mereka tidak sanggup untuk bergabung dengan kaum pria dan merasa malu bercampur-baur dengan kaum pria. Karena itu, mau tidak mau, mereka harus menunggu para penggembala itu pulang membawa ternak mereka.

Yang keempat, firman Allah ta’ala:

وَأَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ

“Sedangkan ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.”

Dalam ayat ini, keduanya menerangkan uzur mengapa mereka keluar mencari minum untuk ternak mereka. Karena pada dasarnya, yang keluar adalah kaum laki-laki. Artinya, keadaan daruratlah yang mendorong mereka untuk keluar dari tempat yang seharusnya, yaitu rumah mereka.

Yang kelima, firman Allah ta’ala:

فَسَقَى لَهُمَا

“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.”

Ayat ini menerangkan bahwa laki-lakilah yang bertugas memberi minum, sedangkan wanita menunggu sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka.

Yang keenam, firman Allah ta’ala:

ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ

“Kemudian dia kembali ke tempat yang teduh.”

Ini menerangkan bahwa beliau tidak menemani mereka berdua dan tidak berbicara dengan mereka tanpa keperluan.

فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

lalu berdoa: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”

Yang ketujuh, firman Allah ta’ala:

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu.”

Tidak keluar selain hanya satu orang wanita, karena tugas ini cukup dilakukan satu orang. Kecuali memberi minum gembalaan.

Yang kedelapan, firman Allah ta’ala:

تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ

“Wanita itu berjalan dengan malu-malu.”

Menurut ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana riwayat Ibnu Abi Hatim, dengan sanad yang shahih: “Wanita itu datang memanggil dengan malu-malu, sambil menutupi wajahnya dengan kainnya. Bukan wanita ‘berani’, yang suka keluar masuk (menemui laki-laki).”

قَالَتْ إِنَّ أَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا

ia berkata: ‘Ayahku memanggilmu untuk membalas kebaikanmu memberi minum ternak kami.’

Yang kesembilan, firman Allah ta’ala:

فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ

“Maka tatkala Musa mendatangi ayahnya dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya)….”

قَالَ لاَ تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْن

Ayah perempuan itu pun berkata: ‘Janganlah takut, engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu (Fir’aun dan pengikutnya).’

Ketika yang diajak bicara adalah seorang laki-laki, beliau menceritakan kisahnya. Tetapi, ketika yang diajak bicara adalah wanita, beliau pergi berteduh ke bawah sebatang pohon.

Yang kesepuluh, firman Allah ta’ala:

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَاأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja pada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya’.”

adalah permintaan mereka agar tidak terpaksa lagi keluar rumah untuk memberi minum.

Musa menikah dengan putri orang shaleh

Ada yang mengatakan bahwa kedua gadis ini tak lain adalah putri-putri Nabi Syu’aib Alaihissalam. Adapun penyebutan bahwa nama ayah kedua wanita tersebut adalah Nabi Syu’aib, hal ini tidak tsabit (tidak benar). Hal ini diterangkan oleh Ibnu Katisr dalam Tafsir-nya (3/467), menukil perkataan Ibnu Jarir: “Yang benar bahwa hal seperti ini tidak dapat diketahui kecuali dengan adanya kabar/ atsar, dan tidak ada atsar (berita) yang dapat menjadi pegangan dalam hal ini.” (ed)

Mereka lalu melaporkan kejadian yang telah dialami bersama Musa kepada ayah mereka. Sang Ayah lalu menyuruh kedua putrinya untuk mengundang Musa datang ke rumah mereka.

Musa memenuhi undangan itu. Keluarga gadis tersebut sangat senang melihat Musa. Sikapnya sopan dan tampak sekali ia seorang pemuda bermartabat dari kalangan bangsawan. Kepada Sang Ayah si gadis, Musa menceritakan peristiwa pembunuhan yang telah dilakukannya, yang menyebabkan ia terusir dari Mesir. Sang Ayah si gadis menyarankan agar ia tetap tinggal di rumahnya agar terhindar dari kejaran orang-orang Fir’aun.

Perjumpaan dengan Nabi Musa ‘alaihissalam membuahkan gagasan di benak salah seorang dari wanita tersebut bahwa telah tiba saatnya untuk mengembalikan perkara pada tempat yang semestinya, ia pun berkata kepada sang ayah: “Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja pada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”

Sang ayah pun menyambut usulan putrinya, kemudian berkata kepada Nabi Musa:

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيْدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِيْنَ

“Berkatalah sang ayah: ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua putriku ini, atas dasar engkau bekerja denganku selama delapan tahun dan jika engkau cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah suatu kebaikan darimu, aku tidaklah hendak memberatkanmu. Dan engkau Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik’.” (Al-Qashash: 27) [Daurul Mar’ah, hal. 1]

Sang Ayah bermaksud menikahkan Musa dengan salah seorang putrinya. Sebagai syarat mas kawin, Musa diminta bekerja menggembalakan ternak-ternak milik Nabi Sang Ayah selama 8 tahun. Musa menyanggupi syarat tsb, bahkan ia menggenapkan masa kerjanya menjadi 10 tahun. Ia menjalani pekerjaannya dengan sabar. Selama itu, nampaklah oleh keluarga Sang Ayah bahwa Musa adalah pemuda yang kuat, perkasa, jujur dan dapat diandalkan. Tak salah jika Nabi Sang Ayah mengambilnya sebagai menantu.

Musa sangat bahagia hidup bersama istrinya. Nabi Sang Ayah juga lega karena anaknya mendapat pelindung yang dapat dipercaya.

Kisah tentang hal ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 22-28.

Musa kembali ke Mesir

Sepuluh tahun setelah meninggalkan Mesir, Musa berniat kembali ke sana bersama istrinya. Musa sadar, tidak mustahil bahwa orang-orang Mesir masih akan mencarinya, oleh sebab itu ia dan istrinya tidak berani melalui jalan biasa melainkan memilih jalan memutar.

Sampai suatu malam, mereka tersesat tak tahu arah mana yang harus ditempuh untuk meneruskan perjalanan ke Mesir. Saat itulah Musa melihat ada cahaya api terang benderang di atas sebuah bukit. Musa berkata kepada istrinya, “Tunggu disini, aku akan mengambil api itu untuk menerangi jalan kita.”

Tatkala Musa menghampiri api tsb, tiba-tiba terdengar suara menyeru, “Hai Musa! Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah suci Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”

Inilah wahyu pertama yang diterima langsung oleh Nabi Musa Alaihissalam. Dengan diterimanya wahyu ini, maka Musa telah diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Sebagai rasul, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular dan tangannya yang dapat bersinar putih cemerlang setelah dikepitkan di ketiaknya.

Kisah ini dapat dilihat pada surat Tâhâ: 9-23.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam untuk berdakwah kepada Fir’aun. Musa masih merasa takut karena dulu ia pernah membunuh orang Mesir, namun Allah menjanjikan perlindungan untuknya, maka tentramlah hatinya. Untuk lebih memantapkan dakwahnya, Musa memohon kepada Allah agar ia ditemani oleh Harun, saudaranya, karena Harun amat cakap dalam berbicara dan berdebat. Permintaan Musa dikabulkan. Harun yang masih berada di Mesir digerakkan hatinya oleh Allah sehingga ia berjalan menemui Musa.

Hal tsb dinyatakan dalam surat Al-Qasas: 32-35 dan surat Tâhâ: 42-47.

Akhirnya bersama-sama Harun, Musa menghadap Fir’aun. Ia mengadakan dialog dengan Fir’aun tentang Tuhan. Namun Fir’aun menanggapinya dengan sinis dan mengejek Musa tak tahu diri. Dulu ia diasuh dan dibesarkan di istana Mesir, tapi kini ia malah berbalik menentang Fir’aun. Musa menjawab bahwa semua itu terjadi disebabkan karena ulah Fir’aun sendiri. Seandainya Fir’aun tidak memerintahkan membunuh bayi laki-laki, tidak mungkin ia dihanyutkan di sungai Nil sampai akhirnya ditemukan dan diangkat anak oleh istri Fir’aun. Musa tidak merasa berhutang budi pada Fir’aun.

Musa mengatakan bahwa sesungguhnya Fir’aun bukanlah Tuhan. Ada Tuhan lain yang berhak disembah, Tuhan nenek moyang mereka, Tuhan seluruh alam semesta. Fir’aun sangat murka dan meminta Musa untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Keberhasilan Musa melawan ahli-ahli sihir Fir’aun

Di depan masyarakat luas, Nabi Musa Alaihissalam dapat menunjukkan mukjizatnya menghadapi ahli-ahli sihir Fir’aun. Musa mempersilakan ahli-ahli sihir Fir’aun untuk mempertunjukkan kebolehan mereka lebih dulu. Mereka lalu melemparkan tali dan tongkat-tongkatnya. Tak lama kemudian tali-tali dan tongkat-tongkat itu berubah menjadi ular yang ribuan ekor banyaknya. Fir’aun tertawa bangga menyaksikan kebolehan para ahli sihirnya. Masyarakat yang hadir disana juga terkagum-kagum.

Dengan tenang Musa melemparkan tongkatnya, tongkat itu segera berubah menjadi ular yang sangat besar dan langsung melahap ular-ular para ahli sihir Fir’aun. Dalam waktu singkat, ular-ular itu habis ditelan oleh ular Nabi Musa.

Para ahli sihir itu terbelalak heran. Apa yang diperlihatkan Musa bukanlah seperti sihir yang mereka pelajari dari syaitan. Sadar akan hal itu, para ahli sihir tsb berlutut kepada Musa, dan menyatakan diri sebagai pengikut ajaran yang dibawanya. Mereka bertaubat dan hanya akan menyembah Allah saja.

Kisah ini dijelaskan dalam surat Asy-Syu’arâ’: 18-51

Fir’aun sangat murka melihat pembelotan para ahli sihir yang telah bertaubat itu. Ia mengancam akan menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat kejam, namun para ahli sihir itu tetap memilih menjadi pengikut Musa. Akhirnya Fir’aun memerintahkan untuk memotong tangan dan kaki mereka, serta menyalib mereka di batang pohon kurma. Mereka pun menerimanya dengan sabar dan tetap beriman kepada Allah. Jumlah mereka saat itu 70 orang.

Azab bagi Fir’aun dan pengikutnya

Kejengkelan Fir’aun memuncak setelah Nabi Musa Alaihissalam memperoleh pengikut yang lebih banyak. Fir’aun menjadi semakin kejam terhadap Bani Israil. Nabi Musa Alaihissalam senantiasa menyuruh kaumnya untuk bersabar menghadapi kesewenang-wenangan Fir’aun. Fir’aun pun tak henti-hentinya mengejek dan menghina Musa.

Karena semakin lama tindakan Fir’aun makin merajalela, Nabi Musa Alaihissalam berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar Fir’aun dan pengikutnya diberi azab. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa Musa. Kerajaan Fir’aun dilanda krisis keuangan. Selain itu wilayah Mesir dilanda kemarau panjang. Banyak panen yang gagal, tanaman dan pepohonan banyak yang mati, disusul badai topan yang merobohkan rumah-rumah mereka. Jutaan belalang berdatangan menyerbu hewan dan perkebunan, juga kutu dan katak. Setelah kemarau, muncul banjir besar. Akibat banjir itu kemudian juga muncul wabah penyakit. Anak laki-laki bangsa Mesir mendadak mati, tak terkecuali anak-anak Fir’aun sendiri, termasuk putra mahkota.

Pengikut Fir’aun mendatangi Nabi Musa Alaihissalam untuk memohon agar azab itu dicabut dari mereka dengan janji mereka akan beriman. Namun ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan permintaan itu, mereka ingkar terhadap janjinya.

Riwayat ini terdapat dalam surat Al-Mu’minûn: 26, Az-Zukhruf: 51-54, Yûnus: 88-89, dan Al-A’râf: 130-135.

Peristiwa Laut Merah terbelah

Ilustrasi Laut Merah Terbelah

Bani Israil yang makin menderita karena ulah Fir’aun dan pengikutnya meminta Nabi Musa Alaihissalam untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Setelah mendapat wahyu dari Allah agar mengajak kaumnya pergi meninggalkan Mesir, Musa lalu membawa kaumnya ke Baitulmakdis. Mereka pergi secara diam-diam di malam hari. Ketika sampai di tepi Laut Merah, mereka baru menyadari bahwa tentara Fir’aun mengejar mereka. Para pengikut Musa sangat panik karena tidak bisa lari kemana pun. Saat itulah turun wahyu agar Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun membelah hingga terbentang jalan bagi Musa dan pengikutnya untuk menyeberang. Fir’aun dan tentaranya mengejar rombongan itu, namun ketika Musa dan pengikutnya telah sampai di tepi sementara Fir’aun dan tentaranya masih di tengah laut, atas perintah Allah laut pun kembali menutup hingga Fir’aun dan pasukannya tenggelam.

Di saat-saat terakhir menjelang kematiannya, Fir’aun sempat bertaubat dan menyatakan diri beriman kepada Allah. Namun taubat menjelang ajal yang dilakukan oleh Fir’aun itu sudah terlambat dan tidak lagi diterima oleh Allah, sehingga matilah ia dalam keadaan tetap kafir.

Kisah tentang ini terdapat dalam surat Tâhâ: 77-79, Asy-Syu’arâ: 60-68, dan Yûnus: 90-92.

Ternyata, mayat Fir’aun tetap utuh sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Yûnus: 92, sebagai tanda bagi umat yang kemudian. Ini telah terbukti dengan diketemukannya mummi Fir’aun (Pharaoh) di Mesir pada abad ke-20 M.

Karunia bagi Bani Israil

Dalam perjalanan ke Mesir, Bani Israil sangat manja. Saat mereka haus, Musa memukulkan tongkatnya ke batu. Dari batu tsb, memancarlah 12 mata air, sesuai dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-masing suku memiliki mata air sendiri.
Di Gurun Sinai yang panas terik, tak ada rumah untuk dihuni, tak ada pohon untuk berteduh, maka Allah menaungi mereka dengan awan.

Ketika bekal makanan dan minuman mereka habis, mereka pun meminta Musa memohon pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberikan makanan dan minuman, maka Allah menurunkan kepada mereka Manna dan Salwa. Manna adalah makanan yang turun dari udara seperti turunnya embun, turun di atas batu dan daun pohon. Rasanya manis seperti madu. Sedang Salwa adalah sejenis burung puyuh yang datang berbondong-bondong silih berganti sampai-sampai hampir menutupi bumi lantaran banyaknya.

Mendapat karunia dan rezki yang demikian melimpahnya dari Allah, Bani Israil bukannya bersyukur, malah mereka meminta makanan dari jenis yang lain lagi. Disinilah mulai terlihat betapa Bani Israil itu sangat kufur terhadap nikmat Allah.

Berbagai tuntutan dan permintaan dari Bani Israil ini diceritakan dalam surat Al-A’râf: 160 dan Al-Baqarah: 61.

Turunnya kitab Taurat

Setelah persoalan dengan Fir’aun selesai, Nabi Musa Alaihissalam memohon untuk diberikan kitab suci sebagai pedoman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala lalu memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam untuk berpuasa selama 30 hari dan pergi berkhalwat ke Bukit Thur Al-Aiman atau Thursina. Sebelum pergi, Musa meminta Harun menjadi wakilnya untuk mengurus kaumnya.

Setelah berpuasa selama 30 hari, Allah memerintahkannya berpuasa 10 hari lagi untuk menggenapkan ibadahnya menjadi 40 hari. Setelah itu Allah berbicara kepadanya dengan Kalam-Nya yang Azali, sehingga Musa pun memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia lain.

Dalam kesempatan bermunajat di Bukit Thursina ini, timbul kerinduan Musa untuk bertemu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia pun meminta agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengizinkan dirinya untuk melihat Zat-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan bahwa ia telah meminta sesuatu yang diluar kesanggupannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian menyuruh Musa untuk melihat ke sebuah bukit. Allah akan menampakkan wujudnya kepada bukit itu. Jika bukit itu tetap tegak berdiri, maka Musa dapat melihat-Nya, namun jika bukit yang lebih besar darinya itu tak mampu bertahan, maka lebih-lebih lagi dirinya. Ketika Musa mengarahkan pandangan ke bukit tsb, seketika itu juga bukit itu hancur luluh. Melihat itu Musa merasa terkejut dan ngeri, ia pun jatuh pingsan.

Setelah sadar, ia bertasbih dan bertahmid seraya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kelancangannya. Selanjutnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kitab Taurat sebagai kitab suci yang berupa kepingan-kepingan batu. Di dalamnya tertulis pedoman hidup dan penuntun beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kisah munajat Nabi Musa Alaihissalam di Bukit Thursina ini diceritakan dalam surat Al-A’râf: 142-145.

Patung anak sapi

Sepeninggal Nabi Musa Alaihissalam, Bani Israil dihasut oleh seorang munafik bernama Samiri. Karena keyakinan tauhid mereka yang memang belum terlalu tebal, dengan mudah mereka termakan hasutan Samiri. Bani Israil membuat patung anak sapi yang disembah sebagai tuhan mereka.

Sebelum pergi ke bukit Thursina, Musa berkata kepada kaumnya bahwa ia akan meninggalkan mereka tidak lebih dari 30 hari. Ketika Allah memerintahkannya untuk menambah ibadahnya 10 hari lagi sehingga bertambah lama kepergiannya, maka mereka menganggapnya telah melupakannya. Samiri mengatakan kepada Bani Israil bahwa keterlambatan Musa ini disebabkan karena mereka telah membuat marah Tuhan dengan mengambil perhiasan-perhiasan dari kuburan orang-orang Mesir. Maka untuk meminta ampun kepada Tuhan dan agar Musa mau kembali pada mereka, mereka harus melemparkan perhiasan-perhiasan tsb ke dalam api.

Mereka pun percaya dengan hasutan Samiri. Para wanita-wanita Bani Israil lalu melemparkan perhiasan-perhiasan emas mereka ke dalam api. Dari emas yang terkumpul itu Samiri lalu membuat patung anak sapi. Dengan teknik khusus, ia membuat angin bisa masuk dan menimbulkan suara dari mulut patung itu sehingga seolah-olah patung itu dapat berbicara. Kemudian Samiri menyuruh Bani Israil untuk menyembahnya.

Nabi Harun Alaihissalam tidak berdaya menghadapi kaumnya yang kembali murtad itu. Ketika Nabi Musa Alaihissalam kembali, ia sangat marah dan bersedih hati melihat perilaku kaumnya. Mula-mula ia pun marah kepada Harun yang dianggapnya tidak bisa menjaga kaumnya dengan baik, namun setelah mendengar penjelasan dari Harun, ia pun tenang kembali. Ia mengusir Samiri dan menjelaskan pada kaumnya tentang perbuatan mereka yang salah. Sebagai hukuman, Samiri diberi kutukan oleh Allah, jika ia disentuh atau menyentuh manusia, maka badannya akan menjadi panas demam. Itulah azab Samiri di dunia, seumur hidupnya ia tidak bisa berhubungan dengan siapa pun.

Setelah Samiri pergi, Musa membakar patung anak sapi sembahan Bani Israil dan membuang abunya ke laut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian memerintahkan Musa Alaihissalam agar membawa sekelompok kaumnya untuk memohon ampun atas dosa mereka menyembah patung anak sapi. Musa mengajak 70 orang terpilih dari Bani Israil ke Bukit Thursina. Setelah mereka berpuasa menyucikan diri, muncullah awan tebal di bukit itu. Nabi Musa Alaihissalam dan rombongannya memasuki awan gelap itu dan bersujud. Ketika bersujud, 70 orang itu mendengar percakapan antara Nabi Musa Alaihissalam dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Timbul keinginan mereka untuk melihat Zat Allah. Bahkan mereka menyatakan tidak akan beriman sebelum melihat-Nya. Seketika itu pula tubuh mereka tersambar halilintar hingga mereka pun tewas.

Nabi Musa Alaihissalam memohon agar kaumnya diampuni dan dihidupkan kembali. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun membangkitkan kembali 70 orang pengikut Musa itu. Musa lalu menyuruh mereka bersumpah untuk berpegang teguh pada kitab Taurat sebagai pedoman hidup, dan beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Cerita ini terdapat dalam Al Qur’an surat Al-A’râf: 149-155 dan Al-Baqarah: 55, 56, 63, 64.

Sapi Betina (Al Baqarah)

Suatu hari terjadi peristiwa pembunuhan di antara kaum Nabi Musa. Untuk mengetahui siapa pembunuh orang tsb, atas petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Musa memerintahkan kaumnya untuk mencari seekor sapi betina. Dengan lidah sapi itu nantinya mayat yang terbunuh akan dipukul dan akan hidup lagi atas kehendak dan izin dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kaum Bani Israil sebenarnya enggan melaksanakan perintah ini, karenanya mereka sangat cerewet dan banyak bertanya dengan harapan supaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akhirnya membatalkannya, sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah: 67-71.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina. Mereka berkata: Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan? Musa menjawab: Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil. (QS. 2:67)

Mereka menjawab: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu? Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. (QS. 2:68)

Mereka berkata: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya. Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya. (QS. 2:69)

Mereka berkata: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu). (QS. 2:70)

Musa berkata: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. Mereka berkata: Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. 2:71)

Nama surat Al-Baqarah yang berarti sapi betina diambil karena dalam surat ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina.

Dapat dilihat pada ayat-ayat tsb bahwa sikap Bani Israil yang cerewet justru telah menyulitkan mereka sendiri. Seandainya ketika diperintahkan pertama kali mereka langsung melaksanakannya, tentulah mereka tidak akan repot, tetapi mereka malah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang rumit sehingga hampir saja mereka tidak dapat menemukan sapi sesuai ciri-ciri yang diterangkan oleh Musa.

Begitu sapi sudah diperoleh, mereka lalu menyembelihnya dan lidah sapi itu dipukulkan ke tubuh mayat orang yang terbunuh. Seketika itu ia menjadi hidup kembali dan menceritakan bahwa ia telah dibunuh oleh sepupunya sendiri.

Allah mengharamkan tanah Palestina bagi Bani Israil

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam membawa kaumnya ke Palestina, tempat suci yang telah dijanjikan bagi Nabi Ibrahim Alaihissalam sebagai tempat tinggal anak cucunya. Bani Israil yang telah mendapat berbagai karunia dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah kaum yang keras kepala dan tidak bersyukur.

Sebelum mengajak kaumnya berhijrah, Musa mengutus perintis jalan untuk menyelidiki tentang penduduk penghuni Palestina. Ketika kembali, para perintis jalan itu mengabarkan bahwa tanah suci tsb dihuni oleh suku Kana’an yang kuat-kuat, dan kota-kotanya memiliki benteng yang kokoh. Mengetahui hal itu, merasa gentarlah Bani Israil dan tidak mau mematuhi perintah Musa untuk menyerang. Mereka hanya mau kesana jika suku itu telah disingkirkan terlebih dahulu.

Nabi Musa Alaihissalam sangat marah terhadap sikap kaumnya itu, karena sikap tsb mencerminkan bahwa mereka belum benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berjanji bahwa dengan pertolongan-Nya mereka akan mampu mengalahkan suku Kana’an. Di antara Bani Israil itu, ada 2 orang bertakwa yang menasihati mereka agar masuk dari pintu kota supaya mereka bisa menang. Akan tetapi Bani Israil menolak nasihat itu dan melontarkan kepada Musa kalimat yang menunjukkan pembangkangan dan sifat pengecut, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, sementara kami menunggu di sini.”

Habislah kesabaran Musa. Ia lalu memanjatkan doa agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan putusan-Nya atas sikap kaumnya. Sebagai hukuman bagi Bani Israil yang menolak perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan wilayah Palestina selama 40 tahun bagi mereka. Mereka akan tersesat, padahal tanah yang dijanjikan sudah ada di depan mata. Selama itu mereka akan berkeliaran di muka bumi tanpa memiliki tempat bermukim yang tetap.

Hal ini dikisahkan dalam surat Al-Maidah: 20-26.

Pertemuan Musa dengan Nabi Khidir

Disebutkan dalam Al-Mughni fi Dhabthi Asma`ir Rijal karya Muhammad bin Thahir Al-Hindi (hal. 93): Khidhr: bisa diucapkan dengan memfathahkan huruf kha atau mengkasrahkannya, dan mensukun huruf dhadh (yakni Khadhr atau Khidhr, ed) atau memfathahkannya (yakni Khadhar atau Khidhar, ed) atau mengkasrahkannya (Khadhir atau Khidhir, ed)

Disebutkan bahwa kisah ini bermula ketika Nabi Musa ‘alaihissalam mengajar Bani Israil berbagai ilmu. Mereka merasa kagum dengan keluasan ilmunya. Di saat itu ada yang bertanya kepadanya: “Wahai Nabi Allah, adakah di dunia ini seseorang yang lebih berilmu daripada engkau?” Nabi Musa ‘alaihissalam mengatakan, “Tidak.”

Jawaban ini didasari pengetahuan yang ada pada beliau, sekaligus sebagai dorongan mereka agar menimba ilmu yang ada pada beliau. Namun Allah ta’ala segera mengabarkan kepada beliau bahwa ada seorang hamba-Nya yang ada di daerah pertemuan dua laut, mempunyai ilmu yang tidak ada pada Nabi Musa ‘alaihissalam dan hal-hal yang luar biasa.

Akhirnya muncullah keinginan beliau untuk bertemu dan menambah ilmu yang ada padanya dari hamba Allah tersebut. Dan beliau memohon agar Allah ta’ala mengizinkannya. Kemudian Allah ta’ala menerangkan kepada beliau tempat di mana Khidhr berada, dan memerintahkan agar beliau membawa bekal seekor ikan. Lalu dikatakan kepadanya: “Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka dia berada di tempat tersebut.”

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’.

Sebagian ulama mengatakan pemuda yang berjalan bersama Nabi Musa ialah Yusa’ bin Nun, yang menemaninya sampai bertemu dengan Khidir . Kemudian pemuda tersebut kembali seketika Nabi Musa menemui Khidir.

Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini’. Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’

Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari’. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Musa berkata kepada Khidhr: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’

Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam satu urusanpun’. Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu’.

Melubangi Perahu yang Dipinjam

Khidir dan Musa berjalan dipinggir pantai, dan mereka hendak menyeberangi sungai, maka mereka berjumpa dengan nelayan yang biasa menyewakan perahunya. Khidir merupakan orang yang telah dikenal di daerah tersebut, keilmuan dan ketenarannya, maka nelayan tersebut pun membawa mereka tanpa bayaran. Maka naiklah mereka dengan perahu tersebut. Kemudian ditengah perjalanan, terdapat seekor burung yang mematuk paruhnya ke air lautan satu/dua kali (meminum air laut).

Maka Khidir mengingatkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam: “Wahai Musa tidaklah berkurang apabila digabungkan ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah ta’ala, melainkan dibandingkan dengan burung ausfur (kecil) ini meminum air lautan”

Kemudian Khidir melepaskan papan-papan perahunya. Melihat hal tersebut Nabi Musa dengan fitrahnya hal tersebut, berkata: ‘Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?’ Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

Dia (Khidhr) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’

Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku’.

Nabi Musa meminta penjelasan tentang hal tersebut, namun Khidir tidak menjawabnya karena apabila hal tersebut disampaikan maka Nabi Musa melanggar kesepakatan yang kedua (yakni tidak menanyakan alasannya). Faidah: Kisah ini tidak dapat dijadikan dalil untuk tidak meminta alasan/dalil tentang perkataan/perbuatan gurunya. Karena peristiwa ini terjadi diantara para Nabi yang berbeda syariatnya, sedangkan saat ini syariat telah sempurna dengan disempurnakannya Islam yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Membunuh Anak Kecil yang Belum Baligh

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak (kecil yang sedang bermain-main dengan yang lainnya), maka Khidhr (seketika, sekonyong-konyong tanpa sebab) membunuhnya (dengan mengambil lehernya kemudian dilepaskan dari badannya).

Musa berkata (dengan fitrahnya): ‘Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar’.

Khidhr berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?’

Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, janganlah kamu membolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku’.

Perkataan Nabi Musa kali ini lebih tegas karena hal tersebut menurutnya sangat melampaui batas.

Bekerja tanpa Meminta Upah

Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka,  (mereka pun tidak mendapatkan makanan untuk dimakan sehingga kelaparan, kemudian keduanya mencari pekerjaan agar mendapatkan upah), kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu.

(Melihat hal tersebut, maka) Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu’.

Yakni agar mereka mendapatkan upah untuk memperbaiki bekal tersebut. Maka sesuai perkataan terakhir diantara mereka,

(maka) Khidhr berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin (yang lemah dan tidak memiliki kekuatan) yang bekerja di laut (dengan menyeberangkan orang dan mengambil upahnya), dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap bahtera.

Hal ini dilakukan karena Raja hanya mengambil sampan yang bagus, sedangkan sampan yang jelek tidak dirampas. Kerusakan yang dilakukan Nabi Khidir untuk meminimalisir kerusakan yang lebih besar yaitu hilangnya sampan tersebut karena dirampas oleh sang raja.

Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia (pada usia baligh akan menjadi kafir dan anak tersebut) akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti anak lain bagi mereka, yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

Hal ini dilakukan karena Anak tersebut akan menjadi kafir pada usia baligh, sedangkan saat ini belum baligh dan masih dalam fitrah orang tuanya. Kerusakan yang dilakukan Khidir untuk meminimalisir kerusakan yang lebih besar yaitu kafirnya anak tersebut dan kafirnya kedua orangtuanya.

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak (yang belum baligh) yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda (yang melimpah) simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang shalih (yang ingin anaknya memanfaatkan harta tersebut dengan baik), maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan tidaklah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri.

Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya’.” (Al-Kahfi: 60-82)

Adapun yang diperbuat oleh Khidir merupakan hal yang tidak terjadi setelahnya pada saat ini, sehingga jika ada yang berkata/berbuat saat ini seperti apa yang dikatakan atau yang diperbuat oleh Nabi Musa maka ketahuilah orang tersebut adalah Wali Setan yang dengan hawa nafsunya dan perintah syetan-syetan sehingga tidak mengikuti bahkan melanggar syariat Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Semoga Allah merahmati Nabi Musa, alangkah ininya kami, maka Allah akan mengisahkan kepada kami perkara mereka berdua.” (HR. Bukhari, kitab al-ilmi)

Faidah:

1. Kisah ini sarat dengan berbagai keutamaan ilmu dan disyariatkannya rihlah (berkelana) mencari ilmu. Dan diterangkan pula dalam kisah ini bahwa ilmu adalah perkara yang sangat penting. Nabi Musa ‘alaihissalam melakukan perjalanan yang sangat jauh untuk menuntut ilmu dan merasakan keletihan. Beliau lebih suka meninggalkan Bani Israil agar nantinya dapat mengajar dan membimbing mereka, dan memilih berangkat mencari tambahan ilmu.

2. Diterangkan dalam kisah ini bahwa tahap awal dalam menuntut ilmu hendaknya dimulai dari yang paling utama kemudian berikutnya. Karena sesungguhnya seseorang yang menambah ilmu dengan usahanya sendiri lebih penting daripada dia meninggalkannya karena semata-mata sibuk mengajar. Hendaklah dia kerjakan keduanya sekaligus, mengajar sambil tetap belajar.

3. Bolehnya mengangkat seorang pelayan dalam perjalanan atau ketika bermukim (tidak bepergian) untuk memudahkan urusan dan ketenangan, sebagaimana dilakukan oleh Nabi Musa alaihissalam.

4. Seorang musafir yang menuntut ilmu, berjihad, ataupun untuk melaksanakan suatu ketaatan, apabila memang terdapat kemaslahatan yang nyata untuk disampaikan kepada yang lain, ke mana dan apa yang dicarinya, maka lebih baik menceritakannya daripada merahasiakannya.

Ini mengandung berbagai manfaat. Di samping untuk mempersiapkan diri, juga sebagai dorongan untuk mengerjakan amalan yang utama ini. Sebagaimana yang beliau katakan di dalam ayat tersebut:

لاَ أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

“Aku tidak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (Al-Kahfi: 60)

Dan tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa perang Tabuk, beliau mengabarkan banyak tujuannya kepada manusia. Padahal biasanya apabila ingin memerangi suatu kaum, beliau rahasiakan maksud dan tujuan beliau untuk suatu kemaslahatan.

5. Bolehnya menisbahkan suatu kejahatan, sebab-sebabnya dan kekurangan kepada setan. Dengan dalil perkataan pembantu Nabi Musa ‘alaihissalam kepadanya, sebagaimana difirmankan Allah ta’ala:

وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلاَّ الشَّيْطَانُ

“Dan tidaklah ada yang membuat saya lupa mengingatnya kecuali setan.” (Al-Kahfi: 63)

6. Boleh menceritakan apa yang dirasakan oleh diri sendiri kepada orang lain, seperti letih, lapar atau dahaga dan tabiat manusiawi lainnya. Dengan syarat, jujur dalam mengucapkannya dan bukan didorong oleh kejengkelan atau tidak suka terhadap semua keadaan tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala tentang perkataan Nabi Musa ‘alaihissalam:

لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا

“Sungguh kita telah merasa letih dengan perjalanan kita ini.” (Al-Kahfi: 62)

7. Diajarkan kepada kita dalam kisah ini untuk mengambil seorang pembantu yang cerdas dan rajin agar bisa menyempurnakan semua urusan yang diinginkan. Dan sangat dianjurkan untuk memberi makan seorang pembantu dari apa yang dimiliki atau memakannya bersama-sama. Karena lafadz ayat آتِنَا غَدَاءَنَا (bawalah kemari makanan kita), artinya (makanan) untuk semuanya. Diambil dari pengertian ayat ini bahwa pertolongan itu diperoleh seseorang sesuai dengan sejauh mana dia menjalankan hal-hal yang disyariatkan. Dan barangsiapa yang amalannya sesuai dengan apa yang diridhai oleh Allah k, niscaya dia akan ditolong dengan sesuatu yang belum tentu diterima oleh orang lain. Hal ini adalah karena firman Allah k tentang ucapan Nabi Musa p لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا (Sungguh kita telah merasa letih dengan perjalanan kita ini) menunjukkan perjalanan yang telah melampaui pertemuan dua buah laut itu. Sedangkan perjalanan yang pertama mereka tempuh, beliau belum mengeluhkannya meskipun sudah demikian jauhnya.

8. Hamba Allah yang ditemui oleh Nabi Musa ‘alaihissalam bukanlah seorang nabi. Khidhr hanyalah seorang hamba yang shalih yang mempunyai ilmu dan senantiasa mendapat ilham (dari Allah). Ini juga berdasarkan sebutan Allah dan pujian-Nya, di mana Allah menyebut Khidhr sebagai seorang hamba yang istimewa dan mempunyai ilmu, serta sifat-sifat yang baik lainnya. Allah tidak menyebutnya sebagai nabi atau rasul. Adapun perkataan Khidhr yang disebutkan Allah k di akhir kisah ini:

وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي

“Dan tidaklah aku melakukannya menurut kehendakku sendiri.” (Al-Kahfi: 82)

Ungkapan tersebut tidaklah menunjukkan bahwa beliau adalah seorang nabi. Kalimat tersebut tidak lain hanyalah menyatakan bahwa semua itu adalah ilham dan bimbingan dari Allah. Hal ini mungkin saja terjadi pada orang-orang yang kedudukannya bukan nabi. Sebagaimana Allah k berfirman:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ…

“Dan Rabbmu telah mewahyukan kepada lebah itu…” (An-Nahl: 68)

Dan:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى…

“Dan telah Kami wahyukan kepada ibu Musa…” (Al-Qashash: 7)

9. Dalam kisah ini diterangkan bahwa ilmu yang diajarkan kepada para hamba-Nya ada dua jenis: Pertama: Ilmu yang diusahakan, yang dapat difahami oleh seseorang dengan mempelajarinya dan bersungguh-sungguh mendapatkannya. Kedua: Ilmu yang berupa ilham laduni, sebagai hadiah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan dalil:

وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)

Dan Khidhr mendapat bagian sangat banyak dari ilmu jenis yang kedua ini.

10. Dalam kisah ini diterangkan kepada kita agar mempunyai adab sopan santun dan bersikap lemah lembut terhadap guru atau pendidik, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Musa. Firman Allah k:

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahfi: 66)

Dalam ayat itu disebutkan cara Nabi Musa p mengeluarkan tutur kata yang sangat santun dan seakan-akan sedang meminta pendapat. Seakan-akan beliau menyebutkan: “Apakah engkau bersedia memberi izin kepada saya, ataukah tidak?” Di sini beliau tampakkan betapa butuhnya beliau kepada (calon) gurunya tersebut. Beliau belajar dari Khidhr dan mempunyai keinginan besar untuk mendapatkan ilmu yang ada pada gurunya.

Hal ini berbeda dengan orang-orang yang sombong dan kasar, yang merasa tidak butuh kepada ilmu seorang guru atau pendidik. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang murid atau pencari ilmu, selain menunjukkan sangat butuhnya kepada ilmu yang ada pada gurunya dan berterima kasih atas bimbingan serta didikannya.

11. Dalam kisah ini, digambarkan sikap tawadhu’ (rendah hati). Seorang yang kedudukannya sangat mulia mau belajar menimba ilmu dari seorang yang kedudukannya berada di bawahnya. Tidak kita sangsikan lagi bahwa Nabi Musa  jauh lebih mulia dari Khidhr. Jadi, dari kisah ini (diambil pelajaran) bolehnya seorang yang berkedudukan tinggi menimba ilmu yang tidak dikuasainya kepada orang yang mahir dalam ilmu tersebut, meskipun orang yang mahir itu berada di bawahnya dalam ilmu.

Nabi Musa p adalah salah seorang Rasul Ulul ‘Azmi yang telah Allah berikan ujian dan ilmu yang tidak diberikan-Nya kepada yang lain. Namun dalam ilmu yang khusus ini, hanya Khidhr yang memilikinya. Oleh sebab itulah betapa besarnya antusiasme beliau untuk mempelajarinya dari Khidhr.

Dengan demikian, sangat jelas wajibnya kita sandarkan bahwa ilmu ini ataupun berbagai karunia dan keutamaan lainnya, semua adalah karunia dan rahmat Allah. Bahkan wajib mengakui dan bersyukur kepada Allah atas semua kenikmatan itu, sebagaimana diisyaratkan dalam perkataan Nabi Musa p kepada Khidhr dalam ayat tersebut: أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu).

12. Dijelaskan dalam kisah ini, bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membimbing pemiliknya kepada kebaikan. Demikian pula halnya ilmu-ilmu yang mengandung bimbingan dan hidayah atau petunjuk menuju jalan kebaikan dan mengingatkan agar menjauhi jalan yang buruk atau yang mengarah kepadanya, semuanya adalah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan yang selain itu, boleh jadi hanya akan menimbulkan madharat atau tidak berguna sama sekali. Inilah yang diisyaratkan dalam ayat tadi: أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu).

13. Diajarkan pula kepada kita dari kisah ini, bahwa seseorang yang tidak sanggup bersabar dalam menyertai guru atau pendidiknya, atau tidak memiliki kekuatan untuk tetap tsabat (teguh) dalam menempuh jalan mencari ilmu, maka dia bukanlah termasuk orang yang dikatakan pantas untuk menerima ilmu. Barangsiapa tidak mempunyai kesabaran untuk menuntut ilmu, niscaya dia tidak akan mendapatkannya. Sebaliknya, siapa yang sanggup bersabar dan membiasakan diri menghadapi suatu permasalahan, niscaya dia akan memperoleh semua yang ingin dicapainya. Dan Khidhr telah memberikan penjelasan kepada Nabi Musa p bahwa beliau tidak akan sanggup bersabar untuk mengetahui ilmu khusus yang ada padanya.

Adapun hal-hal yang dapat mendukung seseorang bersabar menghadapi sesuatu adalah pengetahuan terhadap permasalahan itu, manfaat, buah atau hasilnya. Barangsiapa tidak mengetahui beberapa perkara ini, akan sulit baginya untuk bersabar. Allah k berfirman menceritakan perkataan Khidhr kepada Nabi Musa p:

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Dan bagaimana kamu dapat bersabar terhadap sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” (Al-Kahfi: 68)

14. Dalam kisah ini, dianjurkan berhati-hati dan teliti serta tidak terburu-buru menghukumi suatu permasalahan sampai yang diinginkan atau yang dimaksud benar-benar jelas.
15. Dalam kisah ini terdapat dalil disyariatkannya menyandarkan suatu keadaan yang akan terjadi kepada kehendak Allah (masyi`atullah), seperti disebutkan dalam ayat:

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ صَابِرًا وَلاَ أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

“Insya Allah engkau akan dapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusanpun.” (Al-Kahfi: 69)

16. ‘Azam (keinginan yang kuat) untuk melaksanakan sesuatu tidaklah sama dengan pelaksanaannya. Dan Nabi Musa p memang berazam untuk sabar namun beliau tidak melaksanakannya.
17. Pelajaran lain dari kisah ini, apabila seorang pendidik melihat adanya kemaslahatan dengan menerangkan kepada muridnya agar tidak bertanya tentang suatu permasalahan hingga dia (pendidik itu) sendiri yang menerangkan masalah itu kepadanya (maka hendaknya dia lakukan). Dan sesungguhnya kemaslahatan itu senantiasa mengikuti. Sebagaimana halnya bila seorang murid mempunyai pemahaman kurang sempurna, hendaknya guru melarang muridnya memberatkan diri untuk meneliti suatu permasalahan sedemikian rupa dan bertanya tentang persoalan yang tidak ada kaitannya dengan topik yang diajarkan.
18. Bolehnya mengendarai sebuah kapal jika memang tidak membahayakan.
19. Diterangkan pula dalam kisah ini bahwa seorang yang lupa tidak pantas dihukum, baik terlupa (melanggar) hak Allah atau hak hamba-hamba-Nya. Kecuali apabila pelanggaran itu menimbulkan kerusakan atau kerugian harta benda. Maka dalam permasalahan ini perlu adanya dhiman (ganti rugi), termasuk orang yang lupa. Allah k berfirman tentang perkataan Nabi Musa p kepada Khidhr:

قَالَ لاَ تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيْتُ

“Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku.” (Al-Kahfi: 73)

20. Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, sepantasnya seseorang melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan sikap toleran dan pemaafan mereka. Janganlah membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak mampu melakukannya, sangat memberatkan, atau bahkan menghancurkan mereka. Kalau ini terjadi, tentu akan menjadi pemicu bagi mereka untuk menjauh. Bahkan hendaknya dia juga mempunyai sikap memudahkan (urusan orang), agar semua urusannya juga mudah.
21. Semua permasalahan itu terjadi berdasarkan kenyataan lahiriahnya. Dan berangkat dari hal ini pula ditegakkan hukum-hukum duniawi dalam berbagai persoalan. Dikatakan demikian, karena kita lihat sikap Nabi Musa p mengingkari tindakan Khidhr merusak kapal yang mereka tumpangi dan membunuh seorang remaja, berdasarkan ketentuan umum yang berlaku. Dan beliau tidak melihat kepada perjanjian yang disepakatinya bersama Khidhr untuk tidak bertanya dan membantah semua tindakannya sampai Khidhr sendiri yang memulai memberikan penjelasan.
22. Dalam kisah ini kita dapatkan juga keterangan yang jelas tentang kaidah penting dalam syariat Islam ini, yaitu bolehnya mencegah terjadinya kejahatan yang besar dengan melakukan kejahatan yang lebih ringan, dan keharusan menjaga kemaslahatan yang lebih besar meskipun akibatnya kehilangan kemaslahatan yang lebih kecil. Jadi, pembunuhan yang dilakukan Khidhr jelas kejahatan. Namun apabila anak itu tetap hidup sampai dewasa dan menyesatkan kedua ibu bapaknya, maka ini adalah kejahatan yang jauh lebih besar.
Bila anak itu dibiarkan tetap hidup meskipun kelihatan baik secara lahiriah, namun keberadaan ibu bapaknya dalam agama mereka jauh lebih baik lagi. Oleh karena itulah Khidhr membunuhnya sesudah Allah mengilhamkan kepadanya hakekat keadaan anak tersebut. Dengan demikian ilham batin yang diterima Khidhr mempunyai kedudukan yang sama seperti keterangan yang nyata bagi orang lain.
Kaidah lainnya adalah tentang tindakan manusia terhadap harta orang lain. Bila dilakukan dengan cara yang mengandung maslahat dan jauh dari kerusakan, maka hal ini dibolehkan meskipun tanpa izin. Meskipun perbuatannya itu merugikan, seperti perbuatan Khidhr yang merusak kapal yang ditumpanginya untuk menyelamatkan kapal itu dari rampasan seorang raja dzalim ketika itu. Dan masih banyak faedah lain yang berada di bawah kaidah-kaidah ini.
23. Bolehnya bekerja di lautan sebagaimana juga bolehnya bekerja di daratan, karena adanya ayat:

يَعْمَلُوْنَ فِي الْبَحْرِ

“Mereka bekerja di laut…” (Al-Kahfi: 79)

24. Faedah lainnya, membunuh termasuk dosa-dosa besar.

Kisah Qarun dan hartanya

Tersebutlah seorang pengikut Nabi Musa Alaihissalam yang sangat kaya, yang bernama Qarun. Meskipun sangat kaya, namun ia tidak mau menyedekahkan hartanya bagi fakir miskin. Nasihat-nasihat Nabi Musa Alaihissalam tidak dipedulikannya, bahkan ia mengejek dan memfitnah Nabi Musa Alaihissalam.

Guna memberi pelajaran pada Qarun dan memberi contoh pada kaumnya, Musa memanjatkan doa agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan azabnya pada diri hartawan itu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala lalu memberi azab dengan menguburkan semua harta kekayaan beserta diri Qarun melalui bencana tanah longsor yang dahsyat.

Kisah Qarun dan hartanya ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 76-82.

Larangan hari sabath

Sesuai dengan syariat dalam Taurat, Nabi Musa menentukan hari Sabtu sebagai hari untuk berkumpul dan beribadah. Pada hari itu kaum Bani Israil dilarang untuk melakukan usaha apa pun, termasuk berniaga dan mencari ikan. Namun pada hari Sabtu tsb justru ikan-ikan sangat banyak terlihat di laut.

Sesungguhnya ini merupakan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji keimanan dan ketaatan Bani Israil. Ternyata mereka tidak tahan dengan ujian ini dan melanggar larangan hari Sabath, oleh sebab itu Allah kemudian mengutuk sebagian mereka menjadi kera.

Hal ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah: 65 dan Al-A’râf: 166.

Pelajaran dan Hikmah dari kisah Nabi Musa ‘alaihissalam

Allah sebutkan kisah Nabi Musa ini secara rinci dan jelas dan bagaimana perubahan-perubahan keadaan yang dialami beliau. Dengan membaca surat ini saja sudah cukup menerangkan berbagai pengertian yang terkandung di dalamnya karena begitu jelas dan gamblang uraian kisah ini. Dan Allah Ta’ala tidaklah memperinci suatu permasalahan melainkan agar kita mengambil manfaat dan pelajaran dari masalah itu. Akan tetapi karena begitu banyak faidah dan pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini maka kami perlu memberikan sedikit keterangan terhadap sebagiannya.

Di antara pelajaran yang dapat dipetik, antara lain:

1. Maha Lembutnya Allah terhadap ibu Nabi Musa dengan memberikan ilham (agar menghanyutkan Nabi Musa) sehingga menyelamatkan beliau. Kemudian berita gembira dari Allah yang akan mengembalikan Nabi Musa kepadanya, yang kalau tidak demikian dia merasa akan mati karena kesedihan mendalam saat mengingat puteranya. Kemudian Allah mengembalikannya dengan mentakdirkan beliau menolak air susu yang ditawarkan oleh para wanita ketika itu.

Diketahui dari kisah ini bahwa sifat Maha Lembut Allah kepada para wali-Nya tidak akan tergambar dalam benak siapapun, bahkan tidak mungkin dapat diungkapkan dengan kalimat seindah apapun. Perhatikanlah bagaimana berita gembira ini terjadi: Dia (ibu Nabi Musa) didatangi oleh puteranya, menyusukannya secara terang-terangan, kemudian menerima upah, sehingga lengkaplah dia sebagai ibu secara syar’i dan juga berdasarkan taqdir Allah. Maka menjadi tenteramlah hatinya dan bertambah pula keimanannya. Dan kejadian ini menjadi pendukung bagi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu.” (Al-Baqarah: 216)

Dan memang tidak ada yang lebih dibenci oleh ibu Nabi Musa daripada jatuhnya Musa ke tangan Fir’aun, padahal ternyata kejadian berikutnya dan pengaruhnya sangat terpuji.

2. Ayat-ayat (tanda kekuasaan) Allah dan pelajaran yang terjadi pada umat-umat sebelumnya mengandung pelajaran berharga. Adapun yang dapat memetik pelajaran atau mengambil cahaya dari kisah tersebut hanyalah orang-orang yang beriman. Allah telah menguraikan kisah-kisah itu memang untuk mereka, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan dalam kisah ini:

نَتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوْسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.” (Al-Qashash: 3)

Kalau Allah menghendaki sesuatu, niscaya Dia mempersiapkan sebab-sebabnya dan memun-culkannya satu persatu secara berangsur-angsur, tidak sekaligus.

3. Kaum yang lemah dan tertindas sedemikian rupa, tidak sepantasnya mereka dikuasai oleh sikap malas, tidak mau berusaha memenuhi hak mereka, dan tidak pula sepantasnya berputus asa untuk menggapai kedudukan yang tinggi, terutama sekali apabila mereka adalah orang-orang yang didzalimi.

Sebagaimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kelemahan dan keadaan mereka menjadi budak-budak Fir’aun dan para pembesarnya, kemudian mengokohkan kedudukan mereka di muka bumi dan menyerahkan kekuasaan kepada mereka mengatur negeri Fir’aun.

Bangsa manapun juga, selama dia berada dalam keadaan terhina dan tertindas, tidak mungkin dapat menuntut hak-hak mereka. Bahkan tidak tegak urusan agama mereka, sebagaimana halnya urusan dunia mereka.

4. Rasa takut yang bersifat naluriah pada seseorang tidaklah menafikan dan melenyapkan keimanannya sebagaimana yang dialami ibu Nabi Musa terhadap Nabi Musa. Iman itu dapat bertambah dan berkurang, sebagaimana firman Allah:

لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Agar dia termasuk orang-orang yang beriman.” (Al-Qashash: 10)

Yang dimaksud dengan kata Al-Iman di sini adalah pertambahannya dan bertambah ketenangannya.

5. Di antara nikmat Allah yang paling besar terhadap seorang hamba adalah kekokohan yang Allah berikan kepadanya ketika menghadapi rasa takut dan gelisah. Karena sesungguhnya, sebagaimana bertambahnya keimanan dan pahala yang diperolehnya, maka semakin kuat dorongan untuk mengucapkan dan melakukan hal-hal yang benar. Tinggallah pendapat dan pemikirannya yang kokoh.

Adapun mereka yang tidak memperoleh keteguhan ini, maka kegelisahan dan ketakutannya akan membuatnya menyia-nyiakan akal pikiran sehingga tidak berguna baginya dalam keadaan demikian.

6. Seorang hamba apabila dia mengetahui bahwa qadha dan qadar adalah haq (pasti), dan janji Allah pasti terjadi, niscaya dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan usaha-usaha yang bemanfaat. Karena sesungguhnya suatu sebab dan upaya untuk menjalankannya termasuk bagian dari taqdir Allah. Allah telah berjanji kepada ibu Nabi Musa untuk mengembalikan puteranya kepadanya. Namun ketika Nabi Musa dipungut oleh Fir’aun, dia segera berupaya dengan mengutus saudara perempuan Nabi Musa untuk mengintai dan menjalankan upaya-upaya lain yang terkait dengan keadaan waktu itu.

7. Diizinkannya seorang wanita keluar dari rumah untuk suatu keperluan dan boleh pula mengajak bicara seorang laki-laki dengan syarat tidak ada perkara yang diharamkan, sebagaimana yang dilakukan oleh saudara perempuan Nabi Musa dan dua orang wanita yang dijumpai Nabi Musa di Madyan.

8. Diizinkannya mengambil upah dalam menjaga dan menyusukan anak, sebagaimana yang dilakukan oleh ibunda Nabi Musa. Dan syariat umat sebelum kita adalah juga syariat bagi kita selama tidak ada yang menghapusnya dalam syariat kita.

9. Tidak boleh membunuh orang kafir yang mempunyai ikatan perjanjian atau kesepakatan dengan kita. Ini terlihat dari penyesalan Nabi Musa setelah membunuh seorang bangsa Qibti dan beliau memohon ampun dan bertaubat kepada Allah atas perbuatan tersebut.

10. Orang yang membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar dikatakan sebagai jabbar yang berbuat kerusakan di muka bumi. Meskipun tujuannya adalah untuk menimbulkan rasa takut, dan menganggap dirinya sebagai orang yang mengadakan perbaikan, sampai jelas-jelas ada ketentuan syariat yang membolehkan membunuh.

11. Berita dari seseorang kepada orang lain dengan suatu nukilan tentang keadaan dirinya dalam bentuk peringatan dari kemungkinan buruk yang akan menimpanya bukanlah dianggap sebagai namimah. Bahkan boleh jadi merupakan suatu kewajiban, seperti yang diuraikan Allah dalam bentuk pujian, tentang seorang laki-laki dari dalam kota yang segera menemui Musa untuk mengingatkannya.

12. Apabila dikhawatirkan kebinasaan karena membunuh tanpa alasan yang benar dan akan diberlakukannya hukuman di suatu tempat, hendaknya jangan menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan atau menyerah. Tapi hendaklah jika dia sanggup melarikan diri dari tempat itu seperti yang diperbuat oleh Nabi Musa.

13. Apabila suatu ketika mau tidak mau seseorang dihadapkan kepada dua mafsadah (kerusakan), maka jelas baginya untuk mengambil yang paling ringan dan lebih selamat serta menolak mafsadah yang lebih berat dan berbahaya. Di sini ketika Nabi Musa berada di antara dua pilihan; tetap tinggal di Mesir tapi ditangkap dan dibunuh, atau melarikan diri ke negeri lain yang sama sekali belum diketahui arahnya. Dan beliau tidak mempunyai penunjuk jalan kecuali hanya mengharapkan bimbingan Rabbnya. Dan sebagaimana diketahui hal ini lebih dekat kepada keselamatan, maka beliau memilih yang kedua.

14. Dalam kisah ini terdapat penjelasan yang halus bagi orang yang mempelajari suatu masalah, yaitu di saat seseorang ingin beramal atau berfatwa, namun belum jelas baginya mana dari dua pendapat yang dihadapinya ini yang lebih kuat, maka hendaklah dia memohon hidayah kepada Rabb-nya dan memohon agar Dia membimbingnya kepada yang lebih mendekati kebenaran dari kedua pendapat tersebut. Dan ini tentunya sesudah dia bersungguh-sungguh mengadakan penelitian dan memang mempunyai niat yang tulus mencari kebenaran. Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan orang yang demikian keadaannya. Sebagaimana yang dialami Nabi Musa ketika dia mengarah ke negeri Madyan dalam keadaan belum tahu arah dan jalan mana yang harus ditempuhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّيْ أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيْلِ

“Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan ia berdoa: Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar.” (Al-Qashash: 22).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membimbingnya dan memberikan apa yang diharapkannya.

15. Rahmat dan limpahan kebaikan Allah terhadap hamba-hamba-Nya, ada yang mengetahuinya adapula yang tidak. Sebagian dari akhlak para Nabi dan perbuatan yang ihsan adalah membantu memberi minum hewan ternak. Terutama terhadap mereka yang lemah. Hal ini ditunjukkan oleh perbuatan Nabi Musa bersama dua anak perempuan salah seorang penduduk Madyan, di mana beliau melihat keduanya tidak dapat memberi minum ternak mereka sebelum para penggembala lain menjauh dari sumur itu.

16. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai apabila ada hamba-Nya yang berdoa dengan bertawassul kepada-Nya melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta nikmat-Nya yang umum maupun yang khusus. Dia juga menyukai apabila orang yang bedoa itu bertawassul kepada-Nya dengan (menyebutkan) kelemahan, kefakiran serta ketidakmampuannya dalam mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan dari dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Musa dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashash: 24)

Karena sikap yang demikian menunjukkan kerendahan dan ketundukan seseorang dan kefakirannya kepada Allah, di mana sesungguhnya hal inilah hakekat penghambaan seseorang di hadapan-Nya.

17. Hidup dan imbalan atas suatu kebaikan sudah merupakan tradisi atau kebiasaan orang-orang yang shalih sejak dulu. Seorang manusia apabila dia beramal ikhlas karena Allah kemudian memperoleh suatu imbalan tanpa dia mengharapkannya, maka tidaklah dia tercela dan tidak pula menghapus keikhlasan dan pahalanya. Sebagaimana Nabi Musa menerima upah atas kebaikannya yang beliau sendiri tidak menginginkan atau mengharapkan imbalan atas pertolongannya itu.

18. Bolehnya memberi upah atas suatu pekerjaan yang telah diketahui manfaatnya atau sudah diketahui berapa lama batas waktunya. Patokannya adalah kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat. Bahkan boleh pula memberi upah sebagai imbalan memperoleh manfaat berupa pernikahan. Sebagaimana yang disebutkan oleh orang Madyan itu dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنِّي أُرِيْدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ

“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini.” (Al-Qashash: 27)

Dari ayat ini dibolehkan seseorang menikahkan puterinya dengan seorang laki-laki bila dia adalah wali bagi perempuan tersebut dan hal itu bukanlah suatu cacat atau aib. Bahkan boleh jadi mengandung manfaat dan menunjukkan kemuliaan. Sebagaimana yang dilakukan orang tua yang shalih di Madyan itu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam.

19. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengisahkan ucapan salah seorang perempuan itu kepada ayahnya:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja pada kita ialah orang yang kuat lagi terpercaya.” (Al-Qashash: 26)

Dengan kedua sifat inilah sempurnanya suatu pekerjaan. Semua bentuk usaha baik perwalian, pelayan, perusahaan, atau pekerjaan yang membutuhkan pemeliharaan dan pengawasan terhadap para karyawan dan pekerjaan mereka, apabila kedua sifat ini yaitu kuat (kesanggupan) mengerjakannya sesuai dengan keadaan pekerjaan itu dan dapat dipercaya melaksanakannya, sempurnalah pekerjaan itu dan tercapailah hasil serta tujuan yang diharapkan. Sedangkan kesalahan dan kekurangan yang terjadi, sebabnya adalah karena ketiadaan kedua sifat ini pada diri seseorang atau salah satunya.

20. Termasuk akhlak yang mulia adalah memperbaiki sikap atau perilaku dengan semua yang berhubungan dengan kita. Apakah dia seorang pelayan, buruh, isteri, anak atau relasi atau yang lainnya. Di mana seseorang memberikan keringanan bagi seorang yang bekerja pada kita berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا أُرِيْدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شآءَ اللهُ مِنَ الصَّالِحِيْنَ

“Aku tidak ingin memberatkan kamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang saleh.” (Al-Qashash: 27)

21. Dalam kisah ini, diterangkan bolehnya memberikan semangat kepada relasi atau pegawai dengan imbalan dan upah dengan menerangkan keadaan dirinya sebagai orang yang baik dalam bermu’amalah. Akan tetapi tentunya dengan syarat dia jujur dalam menyebutkan hal itu.

22. Bolehnya pula melakukan akad suatu mu’amalah persewaan atau yang lainnya tanpa menghadirkan saksi, karena adanya dalil dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاللهُ عَلَى مَا تَقُوْلُ وَكِيْلٌ

“Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.” (Al-Qashash: 28)

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dengan adanya saksi akan memudahkan terjaganya hak-hak orang-orang yang bersangkutan, minimalnya (bila terjadi) persengketaan. Dan manusia dalam masalah ini bertingkat-tingkat, begitu pula hak mereka masing-masing.

23. Diterangkan di dalam kisah ini ayat-ayat (tanda kekuasaan) yang sangat jelas. Di mana dengan ayat-ayat itu Allah memperkuat kedudukan Nabi Musa. Seperti mengubah tongkatnya menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, lalu mengembalikannya seperti semula. Juga ketika dia memasukkan tangannya ke leher bajunya lalu mengeluarkannya dalam keadaan putih bercahaya bagi orang-orang yang melihatnya, dan bukan karena penyakit.

Disebutkan pula betapa besar rahmat dan pembelaan Allah terhadap Nabi Musa dan Harun dari Fir’aun dan para pembesarnya. Dia membelah lautan ketika Musa memukulkan tongkatnya ke laut hingga terbelah menjadi dua belas jalan yang dilalui oleh Musa beserta para pengikutnya dengan selamat. Sedangkan Fir’aun dan pasukannya yang mencoba menyusul, akhirnya binasa.
Demikian seterusnya ayat-ayat dan bukti-bukti yang berturut-turut Allah tunjukkan bagi mereka yang melihat dan menyaksikan kejadian tersebut atau bagi mereka yang hanya mendengar (ketika dibacakan kepada mereka). Karena sesungguhnya sumber penukilannya adalah kitab-kitab samawi dan dinukil turun temurun, generasi demi generasi. Dan tidaklah ada yang mengingkari ayat-ayat seperti ini melainkan orang yang bodoh, sombong, dan zindiq. Seperti itu pula ayat-ayat yang ada pada Nabi yang lainnya.

24. Ayat-ayat yang ada pada para Nabi dan karamah para wali atau ayat-ayat yang Allah jadikan sebagai sesuatu yang menakjubkan; seperti perubahan sebab akibat atau terhalangnya sesuatu menjadi sebab bagi suatu akibat, atau diperlukannya suatu sebab yang lain bagi suatu akibat, atau adanya penghalang yang merintangi pengaruh sebab itu terhadap suatu akibat, adalah bukti yang nyata tentang wahdaniyyah Allah (keesaan Allah). Dia adalah Dzat Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Di mana tidak satupun persoalan besar maupun kecil yang lepas dari kodrat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mukjizat dan karamah serta perubahan-perubahan ini tidaklah meniadakan semua sebab inderawi dan aturan baku yang telah Allah berlakukan pada makhluk ini. Kita tidak akan mendapati adanya ganti dan perubahan terhadap Sunnatullah ini. Dan sesungguhnya Sunnatullah pada semua makhluk yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi itu, terbagi dua:

a. Yang merupakan perkara yang baru (apa yang berhubungan dengan makhluk), kejadian alam, ketetapan hukum syariat atau kodrati, atau yang berkaitan dengan pembalasan, tidaklah akan berubah dan berganti dari semua yang telah diketahui manusia sebab-sebabnya.

Bagian ini juga berada di bawah qadha dan qadar Allah. Dari sini kita mengetahui betapa sempurnanya hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala pada ciptaan dan hukum-hukum syariat-Nya. Dan siapa saja yang menempuh semua sebab akibat dengan cara yang benar akan mendapatkan buah dan hasil yang baik. Sebaliknya, siapa yang menempuhnya tidak dengan cara yang benar, niscaya tidak akan memperoleh hasil sebagaimana yang telah ditetapkan pada amalan itu menurut kodrat dan syariat.
Ini mendorong seorang manusia agar bersungguh-sungguh dalam menjalankan sebab-sebab yang berkaitan dalam masalah agama dan dunia yang berguna bagi mereka, dengan diiringi doa memohon pertolongan kepada Allah dan memuji-Nya agar memudahkan sebab-sebab itu dan semua perangkatnya.

b. Kejadian yang berasal dari mu’jizat para Nabi yang berita kejadiannya dinukil oleh setiap generasi, juga kemuliaan yang Allah berikan kepada para hamba-Nya dengan dikabulkannya doa mereka, dilepaskannya mereka dari kesulitan, memperoleh apa yang diharapkan dan dijauhkannya semua kemudaratan yang dia tidak mampu melenyapkannya. Juga gerbang Rabbani dan ilham ilahi serta cahaya yang Allah letakkan ke dalam makhluk-makhluk pilihan-Nya sehingga menambah keyakinan dan ketenangan jiwa mereka serta ilmu pengetahuan yang belum tentu dapat diperoleh dengan hanya mempelajarinya atau melakukan sebab-sebab lainnya.

Dan juga merupakan pertolongan yang diberikan-Nya kepada para Rasul serta para pengikut mereka, bahkan kehinaan yang ditimpakan-Nya terhadap musuh-musuh-Nya adalah juga perkara yang dapat disaksikan pada sebagian besar perjalanan masa.
Pada bagian kedua ini sama sekali tidak ada peranan makhluk untuk mengetahui sebab-sebab semua kejadian ini. Tidak pula mereka dapat membuat suatu patokan untuk sampai pada hakekat dan kenyataannya. Hanya saja perkara yang baru ini (berupa mu’jizat dan seterusnya), sesungguhnya Allah Yang Maha Agung Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu telah menaqdirkan semua sebab-sebab, hukum dan sunnah-sunnah (ketetapan) yang tidak mungkin dapat dipahami makhluk manapun. Tidak pula dapat ditangkap dan diperkirakan oleh panca indera mereka sehingga bisa memahami hakekat kejadian tersebut. Namun para Rasul dan para pengikut mereka sejak dari yang pertama sampai kepada yang terakhir beriman kepadanya.

Dengan perkara ini pula semakin jelaslah keagungan Allah Yang Maha Pencipta. Seluruh ubun-ubun hamba-hamba-Nya ada di tangan-Nya. Apa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti tidak akan terjadi. Dengan demikian jelas pula kebenaran semua ajaran yang dibawa oleh para Rasul tersebut, sebagaimana juga dari bagian pertama tadi kita dapat pula mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak ada jalan bagi seorang hamba di dunia ini untuk memahami hakekat keadaan atau sifat Yaumil Akhir (hari kiamat), bahkan apa dan bagaimana hakekat al-jannah serta an-nar. Bahwa hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala itu mengetahui sebagian keadaan hari kiamat itu adalah dengan melalui apa yang telah diterangkan oleh para Rasul dan yang terdapat dalam Kitab-Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada jalan bagi penduduk bumi ini untuk sampai ke alam langit, dan tidak ada jalan bagi mereka untuk menghidupkan yang sudah mati, menciptakan ruh pada benda-benda padat. Begitupula halnya bagian terbesar dari kejadian ini. Dan kami paparkan panjang lebar masalah ini, karena dua hal:

a. Orang-orang zindiq masa kini yang mengingkari keberadaan (wujud) Allah Yang Maha Pencipta, juga mengingkari semua perkara ghaib yang dibawa oleh para Rasul dan Kitab-Kitab Samawi. Mereka menolak ilmu-ilmu itu kecuali yang dapat ditangkap oleh panca indera dan teori-teori dari percobaan mereka yang dangkal terhadap sebagian kejadian alam ini. Mereka mengingkari yang selain itu, yakni mengingkari semua yang tidak dapat dibuktikan secara eksperimental. Mereka menganggap bahwa alam ini dan gejala-gejala (hukum-hukum) alam yang ada di dalamnya, tidak mungkin dapat diubah atau mengubah suatu sebab. Menurut mereka juga, bahwa alam ini dengan semua perangkatnya terjadi secara tiba-tiba bukan karena adanya yang menciptakan. Alam ini berjalan dengan sendirinya, tidak ada Yang Mengatur, Pencipta atau Rabb (Pemilik atau Penguasa).

Padahal semua penganut agama yang ada mengakui betapa sombong dan angkuhnya mereka. Orang-orang zindiq (atheis) ini, di samping mengingkari ajaran agama, juga sesungguhnya telah kehilangan akalnya. Hal ini karena mereka telah menentang hakekat yang paling nyata dan jelas, bahkan bukti dan tanda kekuasaan Allah yang paling besar. Mereka tersesat dengan akal mereka yang sempit dan pemikiran mereka yang rusak. Urusan mereka sebetulnya sudah sangat jelas.

b. Sebagian ulama masa kini yang terlihat (seakan-akan) membela Islam, masuk bersama orang-orang zindiq ini dalam suatu perdebatan tentang masalah ini. Harapan mereka, bahwa dengan ijtihad atau ketertipuan mereka dapat menyesuaikan sunnah-sunnah ilahiyyah ke dalam permasalahan akhirat agar dapat dipahami manusia dengan panca indera dan teori-teori hasil eksperimen (percobaan) mereka. Melalui cara ini, mereka mencoba membelokkan pengertian mu’jizat, menolak ayat-ayat yang sangat jelas.

Namun mereka tidak mendapat manfaat sedikitpun kecuali mudharat yang akan menimpa diri mereka sendiri dan orang-orang yang membaca buku-buku mereka dalam masalah ini. Dan karena kelemahan iman mereka kepada Allah yang ditunjukkan dengan menolak adanya mu’jizat para Nabi ini, melalui tahrif yang membawa kepada keingkaran terhadap mu’jizat ini dan keingkaran bahwa semua itu adalah merupakan qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga karena lemahnya iman mereka yang membaca buku para tokoh filsafat (zindiq) ini, dan tidak adanya ilmu dan pengetahuan agama mereka untuk menolak bagian ini.

Dan ternyata mereka juga sama sekali tidak berhasil menarik orang-orang atheis materialis itu kembali kepada hidayah dan ajaran Islam. Bahkan semakin bertambah jauh mereka tenggelam dalam madzhab itu, ketika melihat orang-orang seperti itu berusaha memasukkan nash-nash (dalil dari ayat dan hadits) dan mu’jizat para Nabi ini ke dalam ilmu mereka yang dangkal yang hanya didasari hasil-hasil teori dan pengamatan panca indera.

Sungguh alangkah besarnya musibah ini, dan betapa kejinya kejahatan yang dihiasi. Akan tetapi memang, kelemahan ilmu serta kekaguman terhadap orang-orang zindiq atheis ini tentu akan mendorong seseorang untuk tunduk menerima ucapan-ucapan mereka. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

25. Pelajaran lain dari kisah ini, hukuman terbesar yang dialami seorang manusia adalah jika dia menjadi imam atau pemimpin suatu kejahatan dan juru dakwah yang mengajak kepada kejahatan tersebut. Sebagaimana dikatakan bahwa nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada seorang manusia adalah menjadikannya sebagai imam atau pelopor (pemimpin) dalam kebaikan, sebagai pemberi petunjuk sekaligus terbimbing. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Fir’aun dan orang-orang yang seperti dia:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُوْنَ إِلَى النَّارِ

“Dan Kami jadikan mereka imam-imam yang mengajak kepada neraka.” (Al-Qashash: 41)

Untuk yang kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا

“Dan Kami jadikan mereka sebagai imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” (Al-Anbiya: 73)

26. Dalam kisah ini terdapat sisi pendalilan benarnya risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah menerangkan kisah ini atau yang lainnya secara terperinci, sesuai dengan kenyataan untuk menjadi suatu patokan yang sesuai. Suatu kisah yang membenarkan para Rasul, dan dukungan terhadap kebenaran yang nyata. Padahal beliau tidak menyaksikan sedikitpun kejadian itu, dan tidak pula mempelajarinya sedikitpun sehingga mengetahui kejadian tersebut secara terperinci. Bahkan beliau tidak pernah duduk dan menimba ilmu dari seorang ulamapun.

Semua ini tidak lain adalah risalah dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, wahyu yang diturunkan kepadanya oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi anugerah agar beliau memberi peringatan kepada seluruh manusia dengan wahyu ini. Oleh karena itulah Allah menyebutkan pada bagian akhir kisah ini:

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّوْرِ

“Dan tidaklah kamu berada di dekat gunung Thur.” (Al-Qashash: 46)

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيْ إِذْ قَضَيْنَا إِلَى مُوْسَى

“Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa.” (Al-Qashash: 44)

وَمَا كُنْتَ ثَاوِيًا فِيْ أَهْلِ مَدْيَنَ

“Dan tiadalah kamu tinggal bersama-sama penduduk Madyan.” (Al-Qashash: 45)

Semua ini adalah satu dari bukti-bukti kebenaran risalah beliau.

27. Sebagian ulama menyebutkan pelajaran dari jawaban Nabi Musa ketika ditanya tentang tongkatnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِيْنِكَ يَا مُوْسَى قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي

“Dan apa yang di tangan kananmu itu, hai Musa? Berkata Musa:” Inilah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku…” (Thaha: 17-18)

Yaitu dianjurkan menggunakan tongkat karena ada manfaat tertentu dan untuk keperluan lain, seperti disebutkan dalam lanjutan ayat itu:

وَلِيَ فِيْهَا مَئَارِبُ أُخْرَى

“…dan bagiku ada lagi keperluan lain padanya.” (Thaha: 18)

28. Dari ayat-ayat ini dapat dipetik pelajaran adanya kasih sayang terhadap hewan ternak, berbuat kebaikan dan berusaha melepaskannya dari hal-hal yang menyusahkannya.

29. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي

“Tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

Ingatnya seorang hamba kepada Rabbnya itulah yang menjadi tujuan dia diciptakan dan di situlah kebaikan dan keberuntungannya. Tentunya tujuan menegakkan shalat itu adalah juga menegakkan tujuan utama ini. Kalau bukanlah karena shalat itu selalu berulang-ulang dikerjakan orang-orang mukmin dalam sehari semalam untuk mengingatkan mereka kepada Allah, di mana dalam shalat itu mereka terikat untuk selalu membaca Al Qur’an, memuji Allah, berdoa kepada-Nya, tunduk merendah kepada-Nya yang mana hal ini adalah ruh dari dzikir tersebut. Dan kalaulah bukan karena kenikmatan ini tentulah mereka termasuk orang-orang yang lalai.

Dzikir (mengingat Allah) itu adalah tujuan utama dari penciptaan makhluk. Dan seluruh peribadatan itu tidak lain adalah dzikrullah (mengingat Allah). Maka dzikir itu akan membantu seseorang melaksanakan ketaatan meskipun hal itu berat dirasakannya. Dzikir itu meringankan seseorang untuk menghadapi para penguasa yang sewenang-wenang, memudahkannya berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا وَنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا

“Supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau.” (Thaha: 33-34)

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوْكَ بِآيَاتِي وَلاَ تَنِيَا فِيْ ذِكْرِى

“Pergilah engkau dan saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku.” (Thaha: 42)

30. Kebaikan Nabi Musa ‘alaihissalam terhadap saudaranya Nabi Harun ‘alaihissalam, karena beliau memohon kepada Allah agar Harun juga menjadi Nabi bersamanya. Beliau juga mengharapkan adanya bantuan dan pertolongan dalam kebaikan ketika berdoa:

وَاجْعَلْ لِي وَزِيْرًا مِنْ أَهْلِي هَارُوْنَ أَخِي اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي وَأَشْرِكْهٌ فِيْ أَمْرِي

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.” (Thaha: 29-32)

31. Kefasihan dan keterangan yang jelas adalah hal-hal yang sangat membantu dalam memberikan pelajaran dan dakwah. Oleh sebab itulah Nabi Musa meminta agar Allah melepaskan kekakuan lidahnya supaya mereka mengerti perkataannya. Lidah yang celat (gagap) bukanlah suatu aib selama ucapan masih dapat dipahami. Dan salah satu adab Nabi Musa bersama Rabb-nya, beliau tidak meminta agar Allah menghilangkan secara keseluruhan celat dari lidahnya. Namun beliau hanya meminta agar dihilangkan apa-apa yang dengan hilangnya perkara tersebut tercapailah tujuan yang diinginkan.

32. Perlunya sikap dan kata-kata yang lemah lembut ketika berbicara dengan seorang raja, penguasa atau pemimpin dan mendakwahi atau menasehati mereka. Sehingga hal itu akan memberikan pemahaman kepada mereka tanpa harus menimbulkan keributan atau kekerasan. Dan ini sangat diperlukan dalam keadaan apapun juga. Akan tetapi sudah tentu hal ini sangat diperlukan dalam persoalan-persoalan penting seperti dakwah ini. Yaitu jika diperlukan dengan sikap ini tujuan yang diharapkan, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)

33. Barangsiapa yang berada dalam taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, selalu memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakin dengan kebenaran janji Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala bersamanya sehingga tidak ada lagi kekhawatiran padanya, karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (“Janganlah kamu berdua merasa takut”) diteruskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan:

إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى

“Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (Thaha 45)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا

“Di waktu dia berkata kepada temannya: ”Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” (At-Taubah: 40)

34. Sebab-sebab turunnya adzab Allah, adalah adanya dua keadaan ini:

إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَى مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى

“Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami, bahwa adzab itu akan ditimpakan atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” (Thaha: 48)

Yaitu mendustakan semua berita yang datang dari Allah dan para Rasul-Nya; berpaling dari ketaatan terhadap Allah dan para Rasul-Nya. Dan sama seperti ini juga adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لاَ يَصْلاَهَا إِلاَّ اْلأَشْقَى الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى

“Tidak ada yang masuk ke dalamnya (an-naar) kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan dan berpaling.” (Al-Lail 15-16)

35. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82)

Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengungkapkan semua sebab atau jalan yang mendatangkan ampunan dari Allah, yaitu:

Yang pertama: At-Taubah (bertaubat), yakni rujuk dari segala perkara yang dibenci Allah lahir dan batin, kepada semua yang dicintai oleh Allah lahir dan batin. Dan taubat ini akan memutuskan dosa-dosa sebelumnya, besar maupun kecil.

Yang kedua: Al-Iman (beriman), yaitu pernyataan keyakinan dan pembenaran yang pasti yang meliputi semua yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, yang menumbuhkan amalan dalam hati. Kemudian diikuti dengan amalan yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tidak diragukan lagi bahwa apa yang di dalam hati, berupa keimanan kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir (hari kiamat) merupakan landasan dan asas ketaatan yang paling utama.

Tidak disangsikan pula bahwa sesuai dengan tingkat kekuatan iman tersebut, dia akan menjauhkan keburukan-keburukan; menolak hal-hal yang belum terjadi sehingga menghalangi orang yang beriman itu agar tidak terjatuh pada keburukan itu. Iman itu juga akan menjauhkan apa yang sudah terjadi dengan mendatangkan perkara yang dapat menghapusnya dan tiak ada keinginan untuk terus-menerus melakukannya di dalam hati. Maka seorang mukmin yang didalam hatinya terdapat keimanan dan cahayanya, tidak akan mengumpulkan kemaksiatan.

Yang ketiga: Amal shalih, ini mencakup semua amalan hati, anggota badan dan perkataan. Dan kebaikan itu akan menghapus kejelekan.

Yang keempat: Terus-menerus di atas keimanan dan hidayah serta menambahnya. Maka barangsiapa yang menyempurnakan keempat sebab ini, hendaklah dia bergembira dengan maghfiratullah (ampunan Allah) yang menyeluruh. Oleh sebab inilah Allah menyebutkan sifat-Nya ini dalam bentuk mubalaghah (menunjukkan lebih):“dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun.”

Kami cukupkan sampai di sini kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dengan pelajaran berharga yang termuat dalam kisah tersebut bagi mereka yang mau memperhatikan.

(Diterjemahkan dari Taisir Al-Lathifil Mannan, hal. 180-187, karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah)

Wallahu ‘alam bish-shawab.

Sumber:

  1. Nabi Musa ‘alaihissalam. http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/15/musa-wa-harun/.
  2. Kisah Nabi Musa dan Nabi Harus ‘alaihimassalam. Penulis : Al Ustadz Abu Muhammad Harits. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=201.
  3. Adab Keluar Rumah. Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=197.
  4. Kisah Khidhr Bersama Nabi Musa. Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=332.
  5. Nabi Musa di Negeri Madyan. ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits. http://asysyariah.com/nabi-musa-di-negri-madyan-2.html.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: